Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
99. BAB 99 - ALAN KE NEW YORK


__ADS_3

"ALAN! SAYANG! ALAN! NARA!" Ezra menyusuri setiap kamar - kamar di sky house. Dia kini sampai ke tempat yang sudah lima tahun ini tidak pernah dia datangi.


"Kemana semua orang?" Bahkan di kamar Melissa pun kosong. Ezra pergi ke bagian belakang sky house. Semua yang ada di sana tidak ada yang berubah, semua masih seperti lima tahun lalu. Ezra diam sejenak, membayangkan malam tahun baru waktu bersama semua saudara - saudaranya.


"Apakah Nara dan Alan dibawa ke New York?" Ezra berpikir demikian, namun pandangannya pun beralih pada sebuah bangunan yang sedikit jauh di sana.


"Ouh, bangunan apa ini?" Ezra menangadah ke atas melihat bangunan itu seperti sebuah aula baru yang di bangun tahun ini.


"Jangan - jangan benar anak dan istriku di bawa ke sana?" Ezra menghubungi kembali kontak istrinya. Kali ini panggilannya tersambung. Ezra sedikit lega tetapi seketika dia menatap pintu di depannya. Suara nada dering istrinya berada di dalam sana.


"Mungkin kah semua orang menyekap istriku?" Ezra dengan panik dan gelisah membuka paksa pintu itu yang memang punya banyak celah - celah bolong.


"NARA!" Ezra dengan teriak memanggil istrinya sehingga suaranya menggema di dalam aula yang gelap dan hening mencekam itu. Karena tidak bisa melihat apapun, Ezra menyalakan senter hapenya dan seketika saja hampir jatuh ke belakang saat menyinari seseorang yang berdiri tepat di depannya.


"Ezra...." Tahan Nara meraih tangan suaminya itu. Ezra pun memeluk cepat Nara yang terlihat baik - baik saja kemudian celingukan kiri kanan mencari putra kecilnya. "Sayang, mana Alan? Kenapa dia tidak bersamamu?"


"Atau apa itu benar Alan dibawa sungguh ke New York bersama Bu Mayang? Katakan, sayang!" Ezra mendesak Nara berbicara. Istrinya itupun menunjuk ke belakang. Ezra dengan cepat dan dengan senter hape di tangannya berbalik badan.


"Papah..."


"Alan!" Ezra memeluk putranya yang duduk di kursi roda dengan sangat - sangat erat.


"Ahh... papah... Alan tidak bisa nafas!"


"Maaf, papah terlalu senang melihat kamu tidak dibawa pergi," ucap Ezra mencium kepala Alan.


"Papah, ini kita di mana?" tanya Alan yang memang dibawa oleh Nara dengan mata ditutup kain.


"Loh, Alan tidak tahu?" ulang Ezra.


"Tidak tahu, Mamah sama Dokter yang bawa Alan ke sini. Mata Alan ditutup pakai ini." Alan memberikan penutup mata bermotif kodok. Ezra menoleh ke Nara yang sedang berkeringat dingin.


"Apa maksudnya ini kamu bawa Alan ke sini, sayang?" Ezra menggendong Alan dan mengambil kantong infus putranya itu. Serta menatap kecewa pada Nara.


"Hehehe.... itu aku cuma mau kasih kejutan ke Alan, sayang. Kamu jangan marah ya." Nara membujuk suaminya supaya tidak pergi dari tempatnya.


"Cih, ini pasti ulah Reyhan yang sudah menghasutmu. Sekarang ayo kita pergi dari sini dan malam ini aku akan memindahkan Alan ke rumah sakit lain!" Ezra menarik tangan istrinya itu dengan paksa.


"Tunggu, Ezra!" Nara mencoba menghentikannya. Tapi Ezra sudah tidak bisa dibujuk lagi. Namun tiba - tiba kedua kakinya kaku di tempat setelah suara kecil mengagetkannya.


"MAMIH! HUWAAA! Abang - abang Ezza jahat!"


Perlahan Ezra menoleh ke sumber tangisan yang berasal dari sebuah video layar lebar di atas aula. Dua matanya lurus terpaku memandangi cuplikan masa kecilnya.


"Woah, itu siapa Mamah?" Alan terpukau di dalam video itu ada anak kecil cadel yang persis dengannya.


"Ada apa, Ezza?"


"Hik... hik... pohon cabey yang ezza tanam diinjak sama abang - abang ezza!"


Ezra membuang muka melihat anak kecil itu merengek manja dan menunjukkan pohon kecil di tangannya pada Melissa yang merah padam.


"Kaburrr ahhh! Mamihh marahhh!"


"Hahaha...." Alan tertawa lucu melihat cuplikan itu yang memperlihatkan Melissa mengejar semua anaknya yang nakal di taman luas. Anak kecil yang menangis di dalam video itu juga tertawa lepas.

__ADS_1


"Mamih itu siapa?" Alan menunjuk di antara 11 anak yang lagi kejar - kejaran, ada dua yang hampir mirip dengan bocil yang menangis tadi.


"Itu Mahendra dan Samudra," ucap Ezra mengepal tangan. Sedangkan Nara sedikit tersenyum pada suaminya itu yang akhirnya bicara.


"Siapa itu?"


"Paman kembarnya, Alan," jawab Nara memegang tangan mungil putranya.


"Woahhhh... Alan punya dua paman kembar, mah?" Senyum Alan mengembang indah membuat hati Ezra terenyuh.


"Bukan cuma dua paman saja, tapi Alan punya 11 uncle dan anak - anak di dalam video itu unclenya Alan. Mereka saudara kandung Papah mu dan juga sudah besar semua."


Mendengar Nara menjelaskan semuanya, Alan pun melihat ke Ezra. "Papah, apa itu benar?" tanya Alan sedikit sedih dan cemberut baru dikasih tahu.


"Benar...." lirih Ezra dan menunduk bersalah. Namun selanjutnya pandangannya terangkat ketika cuplikan lain diputar. Mulut Alan sedikit terbuka. Anak kecil itu terperangah menonton di dalam video ada banyak laki - laki dewasa sedang berkumpul dan diantara mereka ada Ezra yang dibantu pakai kostum kodok.


"Wehh, bang! Apa tidak ada kostum yang lain? Ini tidak cocok buat aku tahu!" protes Ezra yang dipaksa oleh Kenan dan Devan.


"Cerewet banget, pakai saja buat hibur anakmu! Ahaha..." Tawa Kevin yang memang suka lihat Ezra tertindas.


"Kyahahaha...." tawa Bayi gemoy yang melihat Ezra cemberut.


"Maaf, ini aku bawa jus, Kak." Nara membawa nampan berisi 8 gelas jus manis. Namun semua jus itu diserbu oleh Ezra. Nara membola kaget suaminya itu menghabiskan semua isi 8 gelas yang ingin diberikan pada Elvan, Mahendra, Kenan, Kevin, Devan, Davin dan Reyhan.


"EZRAAA!" marah semua iparnya itu tidak mendapat bagian dari jus buatan adik ipar cantiknya.


"Kyahahaha...." Bayi lima bulan itu lagi - lagi tertawa ria melihat uncle - unclenya merajuk. Cuplikan yang dulu pernah direkam oleh Mahendra. Video klip yang akhirnya membuat Ezra sedikit tertawa mengingat kelakuan jahilnya.


"Mamah, siapa anak itu, apa itu adiknya Alan?" tanya Alan yang dimaksud bayi di video itu.


"Hahaha... Alan tidak ingat tapi maaf, papah." Alan memeluk Ezra dan sedangkan Nara menyeka embun matanya yang sempat menetes, mengenang semua iparnya yang baik pada Alan.


"Mamah, Papah... apakah Dokter yang rawat Alan itu paman Alan juga?" tanya Alan.


"Ya, dia bernama Reyhan. Dokter baik tapi tengik!" kata Ezra.


"Haha... terus di mana mereka semua?" Alan bertanya lagi. Ezra diam dan meremat jari - jarinya.


"Sudahlah, kita pergi dari sini." Nara terkejut ke Ezra yang masih tidak bisa diluluhkan. Namun saat dia mau menggapai pintu di depannya, mendadak terbuka lebar - lebar.


"Ezra...." Melissa shock di depannya ada Ezra, Alan dan Nara.


"Mamih?" Nara sedikit lega dan sedikit takut. Sedangkan Ezra berdiri di hadapan Nara, tidak mau Melissa mendekati istri dan anaknya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Melissa.


"Cih, harusnya aku yang tanya, apa yang Mamih rencanakan?!" tanya Ezra dan sedikit heran melihat wanita setengah tua itu seperti tidak tahu apa - apa.


Sontak semua lampu menyala dan dari atas berjatuhan balon yang sangat banyak. Ezra sangat terkejut keseluruhan isi aula itu dihiasi balon dan banyak hal meriah lagi. Sedangkan Alan tersenyum sumringah.


Ezra seketika mundur saat semua saudaranya dan ipar - iparnya muncul di belakang pintu sembari membawa satu kue besar.


"Apa... apa ini?" tanya Ezra dan memeluk Alan. Nara meraih tangan Ezra dan tersenyum bahagia.


"Happy birthday, sayang." Tidak hanya itu, Nara mengusap embun yang jatuh ke pipi suaminya.

__ADS_1


"Hey, adik bodoh! Lama tidak jumpa!" Ezra menengok ke belakang dan tertegun si Julian meneriakinya. Namun kepala Julian segera dijitak oleh Biyan dan Zehan. Trio biawak yang selalu bersama.


"Ezra...." lirih Melissa tidak menyangka semua anaknya membawa Ezra, Nara, dan Alan ke aula. Rencana pertemuan yang sederhana tapi sangat berkesan untuknya. Wanita itu mengangkat tangannya dengan air mata yang berderai. Melissa mengusap pipih si bungsu tapi Ezra yang tidak mau melihatnya. Nara menatap suaminya, berharap Ezra berdamai dengan kebenciannya.


"Maafkan Mamih, jujur Mamih saat itu menyesal tidak menahanmu, mamih benar - benar minta maaf, Ezza."


"Maafkan Mamih, Nak." Melissa memohon dan meletakkan tangan Ezra ke pipih tirusnya. Merasakan tangan yang dulu lembut itu sudah berubah kasar sekarang. Tapi cintanya pada anak - anaknya tidak akan pernah terubah oleh apapun.


"Nenek, apa nenek itu Ibunya papah Alan?" tanya Alan sesegukan dari tadi diberi kejutan besar malam ini. Saat wanita itu ingin dijawab, Ezra lebih dulu memeluknya. Nara secepatnya merebut Alan sebelum lepas dari Ezra.


"Hik...hik... Ezra kangen, Mamih."


"Ezra sayang, Mamih."


"Ezra cinta, Mamih."


"Tapi tolong juga cintai anakku, Mih."


Semuanya terhenyak diam mendengar tangis Ezra pecah. Semua menantu wanita Melissa yang terharu pun memeluk suami mereka masing - masing. Sangat lega melihat anak dan Ibu itu saling memaafkan.


"Maafkan Mamih yang egois, Mamih janji akan selalu mencintai kalian semua." Melissa balas memeluk Ezra. Kepingan yang retak dalam hatinya selama lima tahun sudah kembali utuh malam ini. Bukan cuma pada Ezra saja, Melissa juga minta maaf ke Nara dan sangat minta maaf pada Alan.


"Jadi nenek itu, Neneknya Alan?" tanya Alan terisak. Nara memberikan Alan pada Melissa. Membiarkan Melissa memeluk cucunya.


"Maaf, Nak. Dulu Oma tidak menyayangimu." Meskipun sudah tahu Melissa jahat padanya, Alan tetap membalas pelukan Melissa, nenek kandungnya yang masih hidup.


Pesta yang harusnya meriah malah bercampur isak tangis Melissa dan Alan. Melissa pun bahagia, sangat bahagia memeluk tiga anggota keluarganya yang telah kembali ke sky house. Dua puluh menit kemudian, setelah pesta ultah meriah itu selesai, Alan kembali mimisan. Melissa sangat terkejut melihat cucunya yang baru kembali itu meluncurkan darah dari kedua lubang kecil hidungnya.


"REYHAN! SENA!" Dengan menggendong Alan yang pingsan di pundaknya, Melissa berlari memanggil Reyhan yang tengah bicara pada Ezra tentang niatnya untuk melakukan kemoterapi Alan di New York.


"Ya Allah, Alan!" Nara yang sedang berbaur pada istri - istri iparnya dan keponakan kecilnya pun shock berat. Begitupun saudara Ezra yang lain membola kaget.


"Sudah tidak ada waktu lagi, dia perlu dibawa ke New York malam ini, Ezra." Reyhan mengambil Alan.


"New York? Untuk apa?" tanya Melissa dan saudara Ezra yang lain. Terutama pada Elvan yang hadir cukup terkejut.


"Leukemia, aku dan temanku akan melakukan kemoterapi padanya dan secepatnya melakukan tranplansi sumsum tulang belakang. Temanku mendapat sebuah pendonor yang cocok dengannya."


"Kenapa tidak lakukan di sini? Kami juga bisa mendonorkan untuk Alan, Reyhan." Semua tidak mau Alan secepat itu berpisah dari mereka.


"Maaf, tapi aku sudah memeriksa kalian dan hasilnya tidak memungkinkan Alan sembuh total." Reyhan menolak dan yakin pendonor untuk Alan yang sudah disediakan adalah yang terbaik untuk saat ini.


"Apa kami boleh ikut?" mohon Nara dan Ezra. Reyhan mengangguk boleh.


"Dan aku juga mau ikut!" ujar Mahendra yang datang terlambat. Nara sedikit tersenyum lega mantan kepsek yang selalu membantunya itu muncul malam ini hadir di pesta ultah Alan dan Ezra.


"Baiklah, sekarang kemasi barang - barang yang diperlukan saja dan sekarang ikut ke mobil Mahendra." Reyhan membawa Alan duluan.


Melissa menangis di pelukan Kevin, harus ditinggal lagi keluarga kecil Ezra. "Sepertinya kita tunggu Alan sembuh baru menggelar pernikahan kita." Kenan sedikit sedih mendengar penuturan Devan soal pernikahan mereka yang ditunda.


Malam ini Ezra dan Nara benar - benar ke New York. Kota besar yang sudah lima tahun tidak didatangi oleh Reyhan selama ini.


.


Maaf kalau bab ini agak panjang🙏tembus 50 like🤭update lagi. Maaf kalau ada kata salah/typo.

__ADS_1


__ADS_2