
Sejak kepungan yang dilakukan Bumi tiga hari lalu, Vano masih terbaring lemah di rumah sakit. Beruntung, dengan bantuan Reyhan dan kakaknya, Vano bisa melewati masa kritis dan berhasil menghilangkan bahaya racun itu. Namun sayangnya, Vano tidak bisa hadir ke sekolah menghadiri pengumuman osis yang diselenggarakan kepala sekolah. Ia hanya bisa duduk diam menatap ke jendela. Pandangannya kosong, memikirkan sesuatu.
Satu persatu anggota osis dipanggil, semua siswa pun terperangah sudah mengetahui osis yang lain. Mereka luar biasa, terutama Garce yang sering bersama waketos adalah osis juga.
"Eh, Garce? Kamu osis?" Kaget Nara yang berdiri di sebelah Garce.
"Hehehe… maaf ya nggak bilang - bilang,"
"Kapan kamu diangkat?" tanya Nara ingin tahu.
"Emh… di hari pertama, setelah kamu dipanggil ke ruang kepsek, aku juga dipanggil," jawab Garce ingat Mahendra juga datang memanggilnya.
"Kamu nggak marah kan?" tanya Garce was - was bakal dibenci.
"Kenapa harus marah? Aku malah senang bisa satu organisasi sama sahabatku," senyum Nara senang.
"Kyaa… Nara, kamu the best!" Peluk Garce di depan semua orang membuat Nara terkejut karena mendadak begitu.
"Kamu juga the best, bisa sekurus ini, jadi tambah cantik," puji Nara melepaskan pelukannya sebelum siswa mengira aneh - aneh.
"Hehehe…. makasih." Senyum Garce kemudian melirik malu - malu ke Mahendra yang berdiri di sebelah Pak Kepsek. Membuat Nara mengerutkan kening melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Namun tiba - tiba Daffa yang dipanggil ke atas aula pun membuatnya menunduk. Pasalnya Nara merasa bersalah ke Daffa. Kali ini Garce yang merasa aneh dengan Nara dan Daffa yang tidak saling menegur sapa. 'Apa mereka bertengkar?' pikir Garce.
Usai membenah osis, Pak Kepsek pun mengumumkan beberapa siswa yang dikeluarkan dari sekolah. Nara dan Garce diam membisu mendengar nama yang terdapat di dalam daftar siswa bermasalah. Nama - nama itu tidak lain adalah anak - anak blackzak yang ikut serta dalam pengepungan minggu lalu, tak terkecuali Bumi Angkasa dan Ezra Givandra ikut dikeluarkan dari sekolah.
"Ezra?"
"Mantan Ozara itu kan?"
"Kenapa dia dikeluarkan?"
Semua siswa heboh, pasalnya semenjak Ozara bubar, Ezra tidak pernah melakukan kekerasan lagi. Jadi alasan apa dia dikeluarkan?
Pulang sekolah, di rumah Daffa.
"Daffa, ayah dengar hari ini osis dibenah, apakah semua lancar jaya?" tanya Pak Dirga menghampiri putranya yang ingin menaiki anak tangga. Daffa berhenti, melihat sedih ke ayahnya yang belum tahu soal Nara dan Daffa.
"Semua baik - baik, kan?" tanya Pak Dirga kembali. Daffa mengepal tangan dan membuang muka. "Ayah, tentang pernikahanku dengan Nara, tidak usah dibahas," ucap Daffa begitu berat menerima kenyataan.
"Daffa, Ayah bertanya soal osis sekolah, bukan tentang perjodohan kalian berdua," ucap Pak Dirga tak paham maksud anaknya.
"Sudahlah, ayah berhenti mengharapkan Nara, lagipula Nara tidak mencintaiku. Lupakan saja perjodohan itu, orang tua Nara juga sudah meninggal," jelas Daffa tak mau hatinya tambah sakit.
"Justru karena orang tuanya meninggal, ayah ingin kamu menikahinya, menjaganya dan mencintainya." Pak Dirga maju selangkah.
"Percuma membangun pernikahan ini, Nara sudah menikah!" Terang Daffa tahu dari Ezra tiga hari yang lalu setelah menangkap calon istrinya yang dicium.
"Apa? Sudah menikah?" Pak Dirga memegang dadanya.
Daffa menampilkan foto baby Alan di layar hapenya. "Ayah, lihatlah, bayi yang aku kira adiknya ini ternyata anak Nara dari Ezra! Mereka sudah hampir setengah tahun menikah diam - diam dan karena itulah Mahendra bersikeras aku mengalahkan Ezra supaya Nara tetap tinggal di rumahnya bersama anaknya itu."
Mata Pak Dirga terbuka lebar, baru tahu ada bayi di rumah Mahendra. Daffa yang tiga hari ini menahan untuk tidak bercerita, sudah puas mengatakan semuanya hari ini walau hatinya terasa perih sudah mencintai gadis seperti Nara.
"Sekarang, tolong jangan lagi memaksakan perjodohan ini." Daffa lari ke atas, masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Pak Dirga jatuh ke kursi, teramat syok. Tiba - tiba pintunya terbuka.
"Permisi, selamat siang, Om." Pak Dirga tidak bicara, ia langsung berdiri di hadapan Mahendra yang datang.
PLAK
__ADS_1
Mahendra terkesiap dilayangkan tamparan. Ia pun menunduk, merasa Pak Dirga sudah tahu kesalahannya.
"Mahendra, Om tidak menyangka kamu berbohong selama ini pada Daffa. Kenapa kamu tidak memberitahu kami lebih awal?!"
"Om benar - benar kecewa padamu."
PLAK
Mahendra cuma diam saja, membiarkan Pak Dirga memarahinya. Tamparan ketiga ingin dilayangkan lagi, tapi Pak Dirga sudah tidak sanggup menyakiti anak sepupunya itu yang tega menyembunyikan pernikahan Ezra dan Nara.
"Maaf, Om. Saya terpaksa dan tidak berani katakan ini, saya takut kondisi Om akan lebih parah." Mahendra berkata jujur.
"Pergilah, Om tidak mau melihatmu lagi."
Bukan Mahendra yang salah sepenuhnya, tapi di mata Pak Dirga, ialah yang paling dibenci pamannya itu sekarang. Tapi Mahendra dapat menerimanya dan itu tidak masalah baginya. Sudah resikonya yang tidak mau jujur dari awal.
"Maaf, Om." Mahendra pergi. Pak Dirga menutup pintu, menunduk merasa dirinya sangat buruk sudah melukai Mahendra. Satu - satunya anak sepupunya yang selalu menurut, tapi sekarang membuatnya kecewa.
Pak Dirga naik ke atas, mendengar dari dalam kamar tidak ada suara Daffa. Pria itu tahu putranya sedang bersedih dan sama halnya kecewa. Niat Pak Dirga yang mau menjenguk Vano pun tidak jadi hari ini.
Sedangkan Nara yang baru pulang, ia langsung menerobos naik ke atas membuat lima iparnya yang lagi mengajak baby Alan bicara terkejut dilewati begitu saja.
"Kenapa dia?" tanya Elvan.
"Apa ada masalah lagi?" tebak Davin yang terlentang di atas karpet dan perutnya diduduki baby Alan.
"Jangan - jangan Bumi habis mencegatnya di jalan?" Bangkit Kevin dari kursinya.
"Mungkin kah lupa sesuatu?" gumam Devan.
"Bukan, semua yang kalian katakan itu salah, Nara ke atas cuma mau melihat Ezra." Sahut Mahendra baru sampai rumah dan mengelus pipinya yang merah.
"Ehhh… kenapa tuh pipi?" tanya mereka.
"Bukan urusan kalian!" Cetus Mahendra tidak sudi bilang habis ditampar Pak Dirga. "Idih, dasar." Cibir mereka kesal membuat baby Alan tertawa riang melihat ekspresi - ekspresi lucu enam unclenya.
Cklik!
"Ezra." Nara menghampiri Ezra yang memang tidak ke sekolah dan sedang main game di ranjangnya. Nara melempar asal tasnya, naik ke ranjang juga kemudian duduk di sebelah suaminya yang sibuk rebahan.
"Ezra!" panggil Nara karena tidak didengar.
"Aduh, kalau sudah pulang harusnya ucap salam, bukannya teriak," desis Ezra mencolek telinga dan berhenti main game.
"Hiks… hiks… hiks…" Isak Nara tiba - tiba.
"lahhhh? Kenapa kamu nangis?" Ezra langsung duduk, menyikap rambut istrinya ke belakang telinga sehingga jelas air mata menetes deras dari pelupuk matanya.
"Jahat, hiks…." Tangis Nara.
"Jahat? Kamu dijahatin orang? Apa itu Friska? Orang lain? Ayo bilang sini!" Desak Ezra tidak tega istrinya terisak - isak.
"Hiks… Pak Kepsek," ucap Nara lirih.
"Apa? Pak Kepsek? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Ezra lalu berdiri, mengambil jaket. "Katakan saja, biar aku ke rumahnya terus bicara kepadanya langsung!" Geram Ezra. Sekalipun itu Kepseknya, Ezra tidak akan biarkan istrinya dilukai.
"Ezra, Pak Kepsek tidak melakukan apa - apa padaku," ucap Nara menarik ingusnya masuk sebelum jatuh ke selimut.
__ADS_1
"Hah? Terus ngapain kamu nangis, sayang?" tanya Ezra lemah lembut dan duduk kembali di sebelah Nara. Nara pun memeluk Ezra dan menangis lagi. "Hiks… kamu dikeluarkan dari sekolah. Aku sudah komplain tadi, tapi Pak Kepsek bilang itu resiko kamu yang sudah lecehkan aku tahun lalu, padahalkan aku sudah tidak keberatan pernah hamil. Kepsek kita jahat, katanya mau adil tapi Vano tidak ikut dikeluarkan. Hiks…" Nara merasa bersalah ke Ezra.
Ezra menghembus nafas pendek, balas memeluk Nara. "Tidak apa - apa, aku sudah ikhlas." Nara tersentak, bergeser sedikit.
"Ikhlas? Kamu tidak sedih?" Isak Nara sesegukan.
"Ngapain sedih? Aku kan bisa sekolah di SMA lain," ucap Ezra tersenyum pepsodent.
"Tapi sekolah ini kan dibangun oleh ayahmu," lirih Nara. Ezra mengacak - acak rambut Nara.
"Emang sih, tapi kan masih ada ELIPSEAN I, sayang."
Deg
"Hah? Elipsean satu? Maksudnya?" Tangis Nara berhenti sekejap.
"Hahaha…. " Ezra tertawa terpingkal - pingkal lalu mengetuk dua jarinya ke kening Nara.
"Makanya jangan cuma sibuk belajar, ngurusin aku dan baby Alan, sekali - kali perhatikan sekolahmu."
"Ihhh Ezra! Kamu nyebelin!"
Bug bug bug….
"Hahaha…. jangan marah dong, ntar cepat nenek - nenek," tawa Ezra mengejek.
"Ihhh…. aku nggak setuju kamu pindah ke sana! Aku maunya kita tetap satu sekolah! Kalau kamu pindah kesana, aku bakal putus sekolah." Ancam Nara berhenti menimpuk suaminya pakai bantal.
"Eh jangan dong! Aku nggak mau itu terjadi," cubit Ezra ke pinggang Nara membuat istrinya marah.
"Ya sudah, besok datang ke sekolah terus protes!" Kata Nara berkacak pinggang.
'Kok istriku jadi galak begini ya?' pikir Ezra.
Kemudian membola setelah didorong dan ditindih oleh istrinya. Glug. Ezra meneguk ludahnya susah payah melihat semangka empuk Nara yang ketat itu bergelantung di depannya.
"Nara, kamu ngapain?" tanya Ezra dagdigdug dan seharusnya di posisi istrinya itu. "Aku nggak mau kamu dimiliki cewek lain," ucap Nara menggoda.
"Maksudnya?" Ezra bertanya, membalikkan posisinya. Ia sekarang yang di atas Nara dan mencekal dua tangan istrinya ke atas. Nara malu - malu dan melepaskan cekalan Ezra. Ia merangkul leher suaminya dan kemudian mencu mbu lembut bibir Ezra yang tipis.
"Hanya aku yang boleh memilikimu."
Pipi Ezra memerah tiba - tiba dirayu sore ini, apalagi istrinya inisiatif menciumnya dan sekarang tangannya agresif meraba kemana - mana. Membuat si adik kecil yang berpuasa langsung tegak siap siaga.
"Ezra, aku mencintaimu." Cium Nara.
'Ah sial, aku tidak tahan lagi.' Batin Ezra balas mengullum bibir seksi istrinya. Memeluk mesra tubuh yang semampai itu. Udara kamar yang tadinya sejuk perlahan - lahan panas membara dipenuhi ******* yang bergairah. Tampak seragam sekolah Nara juga berserakan di lantai.
….
Awas jangan sampe kebobolan ya 🙈
Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata dan alur, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + vote dan favoritkan supaya aku semangat update sampai tamat.
Sesekali berikan boncapnya 🌹🌹🌹
Lope - lope sekebon cabe😘
__ADS_1