
Sky House ll, rumah megah dan luas bak istana yang berdiri di wiliyah elit konglomerat, terdiri lima lantai, memiliki 20 kamar tidur dan beberapa kamar para pembantu. Taman bunga di belakang juga luas dan indah bagai berada di pulau matahari. Ya sih karena bunga - bunga kebanyakan bunga matahari yang mengharapkan kehidupan yang cerah untuk penghuni sky house.
Siang ini, tampak ART sky house berdiri di dekat telepon rumah dan mulai menghubungi 6 nama yang tertulis di dalam kertas. Tidak lama, panggilan pertama pun terhubung ke seorang pria tinggi 185 cm dan punya tahi lalat di dagu kirinya. Paras tampan sempurna nan memancarkan ketenangan hati. Bernama Elvandra, putra sulung berumur 29 tahun.
Ia tampak selesai rapat di perusahaannya dan ingin menghadiri kencan buta, namun tidak jadi karena dipanggil oleh sang Mami tercinta dan ratunya posesif.
"Baik, saya pulang sekarang."
Elvan pun menghubungi sekretarisnya untuk siapkan pesawat pribadinya yang harganya cuma milyaran juta.
Ia akan terbang dari China ke Belanda sekarang dan butuh beberapa jam sampai ke sky house ll.
.
Sedangkan siang ini di Jakarta, Daffa mulai terang - terangan memperlihatkan rasa cintanya ke Nara. Dari makan siang, dia sendiri yang menyuapi Nara yang masih di tempat tidur bersama baby Alan yang sibuk menatap - natap kelakuan Daffa. Terlihat cowok itu mengikat rambut mommy nya dan menjepitkan poni Nara pakai jepitan biasa. Karena jepitan emas Nara sedang disimpan di laci. Sedangkan Ezra lagi duduk menghadap ke Mahendra yang sudah stay ingin menceramahinya.
"Emh… ya maaf," ucap Ezra soal hinaannya ke Nara.
"Cih, Ezra, kamu harus tahu sekarang Daffa dan Nara sudah —"
"Mereka kenapa?" tanya Ezra cepat.
"Mereka sudah dijodohkan," jawab Mahendra berbisik.
"Apa? Dijodohkan? Tapi kan Nara itu istri –"
"Shhht… jangan bicara keras - keras. Kamu mau rahasiamu ini diketahuinya sekarang?!" Mahendra menjitak kepala adiknya yang terkejut itu pakai gulungan majalah.
"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ezra mengelus kepalanya.
"Mungkin saat ini kita masih bisa tenang,"
"Tenang kenapa?" tanya Ezra kembali.
"Karena pernikahannya akan diadakan setelah Daffa lulus sekolah nanti, dan artinya dua tahun kemudian istrimu sudah jadi istri orang," jelas Mahendra.
"Kalau begitu, tahun ini Daffa dibuat turun kelas saja."
__ADS_1
PELATAK!
Sekali lagi digetok bahunya pakai majalah. Mahendra sangat gemas melihat saran konyol adiknya itu.
"Hey bocah, Daffa itu cerdas daripada kamu, nilainya rata - rata lebih tinggi dari kamu yang cuma pintar di bidang bela diri. Kalau mau turun kelas, itu lebih sulit dari menggagalkan perjodohan ini," ucap Mahendra.
"Ya sudah, tinggal tabrak saja biar koid di rumah sakit selamanya," usul Ezra tambah konyol. Kali ini bukan majalah yang diangkat, tetapi kepalan tangan yang siap memukulnya.
"Ezra, kamu ketua Ozara, tidak seharusnya kamu berkata begitu, sini biar aku congkel otakmu sekarang biar ku modifikasi sekalian kepalamu." Mahendra mendengus tidak habis pikir pada pikiran - pikiran Ezra yang masih menyebalkan.
"Ya kalau begitu, apa rencana kita?"
"Sebelum aku katakan, apa kamu yakin ingin tetap mempertahankan pernikahan ini atau tidak?"
'Pertahankan? Artinya Nara akan selamanya jadi istriku?'
"Tidak, aku maunya setelah lulus nikah sama Friska!" tolak Ezra apa yang dia inginkan sejak awal pacaran.
"Oh kalau begitu, setelah kamu lulus, aku akan mengurus perceraianmu dan membiarkan Daffa menikahi Nara." Mahendra sedikit kecewa keputusan adiknya itu yang masih labil alias belum dewasa.
"Ehh jangan dong!"
"Ya bukan begitu, maksudku… Nara dan Daffa tidak cocok jadi ya kita harus hancurkan perjodohan ini." Ezra tampak bimbang sekali.
'Hadeeh, apa adikku sejahat ini sampai tidak mau melihat Nara bahagia? Dendam apa yang sebenarnya yang kamu simpan dari istrimu, Ezra?' batin Mahendra kecewa pola pikiran adiknya yang egois. Saat Mahendra mau bicara, keduanya menoleh ke arah tangga.
"Ezra dan Pak Mahendra, aku mau bicara sesuatu hari ini juga pada kalian," ucap Daffa menuruni anak tangga.
'Apa perjodohan itu?' batin dua bersaudara itu satu pikiran.
"Apa?" sentak dua - duanya bertanya. Benar, Daffa mengatakan tentang perjodohannya dan juga hal yang sangat mengagetkan Ezra dan Mahendra.
"Ayahku telah siuman dan sekarang kalian berdua tidak perlu lagi menjagaku di sini dan sudah bisa pulang ke rumah kalian."
'What? Daffa mengusir kami?' Ezra dan Mahendra saling bertatapan. Keduanya tidak habis pikir Daffa berani begitu, terutama Nara yang tadi mau panggil Ezra untuk menjaga baby Alan juga terkejut di dekat tangga lantai atas.
'Aku dan Daffa sudah dijodohkan? Dan sekarang dia mau Ezra dan Pak Mahendra pergi dari sini?'
__ADS_1
Perasaan Nara yang tadi membaik pun kembali berkecamuk. Antara marah karena Daffa ingin memisahkan anaknya dengan Ezra sekarang dan juga senang karena ada peluang untuknya bisa bersama Daffa apabila sudah bercerai setelah lulus sekolah.
Ezra ingin protes, namun Mahendra mengagetkannya dan Nara juga. "Baiklah, itu bagus sekali," ucap Mahendra setuju.
'Bagus sekali? Kamu ini sudah gila ya?' pikir Ezra marah pad kakaknya itu tapi kemudian diam mencerna kata - kata Mahendra lagi.
"Tapi Nara akan ikut bersamaku," lanjut Mahendra dari awal ingin pisahkan Nara dari Daffa.
"Loh kenapa harus ikut? Aku ini calon suaminya, dia tetap di sini saja! Aku bisa jaga dia kok!" protes Daffa. Mahendra pun maju menepuk bahu Daffa dan berkata serius.
"Aku tahu kamu calon suaminya, tapi sebelum kita pulang ke sini, ayahmu tadi berpesan padaku supaya Nara tetap bersamaku sampai kamu dapat mengusai bela dirimu dan kalau kamu memang bisa kalahkan Ezra sekarang, Nara tetap tinggal di sini," jelas Mahendra melirik Ezra dan Daffa yang mulai tatap - tatapan sinis.
"Okeh, ayo kita by one di luar sekarang!" tantang Daffa karena tidak mau Nara tinggal bersama Ezra yang suka hina - hina calon istrinya.
"Nggak usah sekarang deh, kamu sekali ditonjok, sudah koid di rumah sakit," tolak Ezra entengnya.
"Cih, baiklah, tapi mulai besok kamu harus latih aku! Dan setelah itu kita sparing di atas ring sekolah!" Sepakat Daffa ingin belajar dari Ezra sendiri. Ezra tersenyum tipis, terima.
"Dan kalau aku kalahkan kamu, Nara pindah ke sini," ucap Daffa serius. "Okeh, tidak masalah." Kata Ezra tidak akan biarkan sepupunya menang. Yakin?
Karena sudah sepakat, siang ini juga Nara dibawa ke rumah Mahendra yang berada tidak jauh dari rumah Daffa alias masih satu kompleks. Jadi Daffa bisa kapan saja mampir ke sana melihat calon istrinya. Setelah mengantar barang - barang Nara, Daffa kembali ke rumahnya untuk beres - beres kamar milik Mahendra karena kamar itu akan ditempati Pak Dirga. Sedangkan Nara yang barusan rebahan di kasurnya yang empuk itu dan menggeser tiang infusnya, mendadak terkejut dengan masuknya Ezra ke kamar membawa ayunan kayu baby Alan dan baju - bajunya juga. Mahendra pun juga masuk, tapi cuma meletakkan baby Alan ke dalam ayunannya dan bicara sesuatu ke Ezra kemudian pergi ke kamarnya sendiri.
"Terima kasih, Ezra," lirih Nara lega hari ini bisa istirahat tapi lagi - lagi terkejut Ezra yang tidur di sebelahnya.
"Eh, kenapa tidur di sini?" tanya Nara gelisah. Ezra menoleh dan kembali memejamkan mata.
"Ini kamar kita dan mulai hari ini kita bertiga tidur sekamar," ucap Ezra tampak lelah.
'Apaaa? Tidur sekamar? Artinya di tempat tidur ini aku dan Ezra tidur bersama?' batin Nara memegang dadanya yang berdebar - debar dan wajahnya memerah tomat. Membayangkan Ezra berbagi cinta dan kehangatan untuknya.
'Tidak… tidak, aku sudah sepakat tidak akan melayaninya, aku juga tidak mau kebobolan lagi seperti malam itu!' sentak Nara dalam hati membuang jauh - jauh pikirannya.
"Hey, jangan banyak bergerak, cepatlah istirahat supaya malam nanti kamu sembuh dan bisa ke pesta Melly," perintah Ezra tanpa membuka matanya kemudian tidur miring memeluk guling. "Baik." Nara pun tidur, miring ke arah lain.
Ezra tampak tidak bisa tidur karena tadi Mahendra berpesan jangan ajak bercinta istrimu karena baby Alan masih kecil dan Nara masih sekolah. Mahendra takut adiknya itu kelepasan dan benihnya kebobolan lagi. Apalagi rahim Nara itu subur seperti Ibunya. Tapi senyum Ezra melengkung punya ide.
'Kan bisa pakai kondoom, hehehe…' Seringai Ezra berpikir mesum membuat Nara agak merinding merasakan aura aneh dari belakangnya. Cowok yang mau enaknya saja setelah itu dibuang. Apa itu prinsip Ezra nantinya?
__ADS_1
.....
Cieee... Ada yang naffsuan nih🤭gimana tuh cerita cinta - cintaannya Ezra hihi....