Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
46. BAB 46 - PAK SUAMI


__ADS_3

"Kakinya jangan lembek begini, lurus dan usahakan beri dorongan supaya hasilnya keras dan kokoh."


"Keseimbangan tubuh juga pertahankan."


"Ba… baik, Ezra." Paham Nara yang sedang diajarkan bela diri oleh suaminya. Gadis yang awalnya berpikir akan dibanting, entah kenapa setelah dicium, suaminya mendadak jadi pembimbing taekwondo.


Latihan demi latihan diajarkan siang ini sehingga Nara merasa canggung dengan jarak Ezra yang dekat ke wajahnya. Bahkan jelas Nara bisa melihat keringat suaminya itu masih bercucuran setelah melampiaskan emosinya barusan. Pesona tampannya pun kelihatan luar biasa.


"Mulai sekarang kamu belajar bersamaku, ini penting untukmu jika suatu saat aku tidak ada." Ezra memegang dua sisi pinggang Nara kemudian menggeser sedikit posisinya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Nara berdebar - debar pinggangnya diraba - raba dan membayangkan dua tangan itu merangkak masuk ke dalam bajunya dan menangkap semangka favoritnya. Aduh, kenapa mikir begitu Nara! Ckckck.


'Apa jangan - jangan setelah ini, Ezra mau bunuh diri?' pikir Nara khawatir. Namun ketakutannya itu dipatahkan oleh jawaban Ezra.


"Aku tidak akan kemana - mana. Cuma siapa tahu aku tidak ada di sisimu dikala ada preman atau orang jahat mencegatmu di jalan."


"Terima … terima kasih." Nara sedikit senang Ezra yang mau mengkhawatirkannya. Niatnya yang tadi ciut karena takut, sekarang Nara betah dan ingin lama - lama di ruang latihan suaminya.


"Ezra…" lirih Nara ingin bicara soal Ozara.


"Hmm… kenapa?" tanya Ezra tanpa nada.


"Tidak jadi," jawab Nara takut bahas itu.


"Tidak jadi? Kenapa?" Ezra berdiri normal disusul Nara pun berhenti dilatih.


"Itu…."


"Tentang Daffa? Kamu sedang memikirkan ucapannya di rumah sakit? Atau mau ke rumahnya sekarang? Begitu?"


"Bukan!" Nara menggeleng cepat sebelum suaminya dibakar cemburu.


"Terus apa?" Nada suara yang tadi datar, langsung setengah membentak.


"Ka … kapan kamu putusin Friska?"


Huuuh...

__ADS_1


Ezra membuang nafas pendek, memegang kepalanya yang sudah tertumpuk banyak masalah. Pikirannya penuh dengan baby Alan, Vano, Ozara, pernikahan, nasib asetnya dan sekarang Friska. Lha, nasib istrinya tidak dipikirkan juga?


"Soal itu, biarkan aku yang memikirkannya, kamu tak perlu urus masalahku." 


Ezra jalan melewati Nara yang menatap sedih ke bawah. Tetapi tubuhnya tersentak saat dua tangan memeluknya dari belakang dan dagu yang mendarat di atas bahunya.


Pipi Nara sedikit merona dan tersenyum senang Ezra yang berbalik dan mendekapnya ke pelukan yang nyaman dan parfum yang sudah jadi candunya. 


Nara tak mau diam saja, dia memutar badan, balas memeluk suaminya. Sekali lagi berkata dengan setulus hati. "Aku mencintaimu, Ezra." Sambil mendengar detak jantung suami perfecknya itu.


Namun tak ada balasan, Ezra cuma membelai rambutnya dan berkata, "Aku mau mandi, siapkan kebutuhanku." Mulut Nara manyun 10 centi, merasa kecewa tetapi wajahnya berseri dikala Ezra berbisik.


"Cepatlah, sayang."


Dengan senangnya, Nara hormat, patuh ke suami dan membuat Ezra sedikit tersipu saat Nara membalas.


"Siap laksanakan, pak suami."


Nara berjalan ria, hatinya berbunga - bunga. Benar - benar ABG yang sedang jatuh cinta. Tapi tidak untuk Ezra, perasaannya masih ragu dan bimbang.


💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋


Sudah tiga bulan lewat, umur baby Alan genap berusia tujuh bulan. Bayi yang pertama kali dilihat kurus itu, sekarang gemuk dan sehat. Tawanya selalu pecah dikala enam uncle - uncle twinsnya mengajak bercanda.


Tangisnya yang dulu pilu, saat ini hanya ada tangis merengek karena dijahili uncle twinnya. Kurang empat unclenya yang belum muncul.


Kebahagiaan yang hampir tercipta untuk baby Alan dan Nara, bukan? Tapi tidak untuk Daffa yang tiga bulan ini gusar karena Mahendra tidak mau menyerahkan Nara kalau belum kalahkan Ezra. Jadi selama tiga bulan penuh ini, dia banyak menghabiskan waktu di tempat bela diri.


Sedangkan Ezra perlahan merelakan Ozara walaupun terasa sulit dilepaskan. Apalagi Bumi Angkasa kecewa berat dengan kabar amnesianya Vano. Ia tak bisa membangun Blackzak lagi jika Vano tidak membantunya juga.


Sekarang tinggal ketetapan Ezra tentang perasaannya yang belum jelas harus memilih antara pacarnya atau istrinya. Ck, dasar cowok yang satu ini tak punya pendirian emang!


.


Malam hari di luar rumah. Mahendra, Elvan dan lima uncle twins sedang bersiap makan bersama di restoran bintang lima yang sudah disewanya. Membuat Nara yang menggendong baby Alan di dadanya itu dilanda rasa grogi luar biasa karena cuma dikelilingi tujuh pria dewasa yang penuh sejuta pesona yang menggoyahkan iman. Kalau saja Nara gadis nakal, sudah pasti salah satunya diembat.


"Hey, kemana Ezra? Kenapa belum sampai?" tanya Kenan sudah dari tadi lapar. Cacingnya mulai berkicau di dalam perut.

__ADS_1


'Apa mungkin lagi bersama dia?' pikir Nara sedih kalau Ezra masih berhubungan dengan Friska. Jika itu benar, begitu tersiksanya Nara yang banyak berharap bisa memiliki Ezra sepenuhnya.


"Sudahlah, kita mulai saja, aku sudah tak tahan nih." Kenan merengek tak mau menunggu Ezra.


"Dasar, sabar sedikit dong. Ini hari ulang tahun kita, harus kumpul bersama terus foto barengan," cetus Devan karena jarang - jarang mereka kumpul begini.


"Ya tuh, kayak orang cacingan saja," sahut Reyhan.


"Ck, malam ini juga kita harus kirim fotonya ke Mami, supaya tidak mengomel nanti," ucap Kevin yang mulutnya selalu tajam.


Sudah 4 kakak ipar Nara yang berceloteh, kemana yang satu saudara kembarnya? Sontak, semuanya menengok ke Davin yang terkantuk - kantuk dan sudah tumbang di atas meja.


"Woy! Davin! Bangun sialan, ilermu tumpah tuh!" Jijik empatnya melihat Davin ngiler. Mereka tanpa kelembutan, menjitak keras kepala Davin, sang CEO yang memang tukang tidur di kantor.


PLAK!


Davin reflek bangkit dari kursi, meracau tidak jelas. "Apa itu? Siapa yang pukul? Mami?" Ada ketakutan di matanya.


"Haha… dasar bodoh, kalau tidak kuat nggak usah ikut," tawa Reyhan disusul Kenan dan Devan menertawainya. Sedangkan Nara dan baby Alan menahan tawanya melihat mereka kompak dan rukun. Beda dari Mahendra dan Elvan yang mukanya ditekuk sebal karena si bungsu belum hadir.


"Cih… kalian ini yang bodoh. Menertawaiku sama saja menertawai diri kalian sendiri." Gerutu Davin duduk dan ngambek.


"Idih, nggak gitu juga konsepnya." Celetuk mereka mau menampol tetapi Davin kembali tumbang alias bobo lagi. Namun sesaat bangun ketika pintu dibuka oleh adiknya. Yang ditunggu - tunggu datang juga sebelum waktu ultah mereka tiba.


'Papa… papa….' 


Baby Alan mengulur tangan, dalam hati ingin ke sang Papa yang sudah melekat di hatinya. Tapi Ezra langsung duduk dan tak sadar keinginan anaknya. Bayi gemuk nan tampan itu memanyunkan bibir kecilnya. Paham kecewa.


"Maaf, tadi macet di jalan, sekarang mari kita rayakan ultah kakak - kakak bujang tua di sini." Senyum Ezra tak lupa menyindir semuanya. Tch, sakit itu! Nara pun ikut serta mengucapkan selamat, tapi di hatinya mengganjal satu pertanyaan.


'Macet? Malam begini masih macet?' Nara sadar ada yang disembunyikan Ezra. Karena sudah jam 10 malam tak ada kemacetan yang terjadi. Dia jelas berbohong.


Uncle twins pun telah berusia 26 tahun. Usia yang cocok membangun rumah tangga. Sudah mapan segala hal, tapi jika belum jodoh, mereka masih bisa bersabar. Sebenarnya, bisa sih menikah, tapi semua yang dijumpai tak ada yang tulus. Memang benar kata sang Mami, yang tulus itu susah didapatkan. Seperti jarum diantara tumpukan jerami. Susah tapi jika berhasil pasti memuaskan. Mereka juga tak lupa menghibur baby Alan dengan candaan dan diam - diam Kenan mengambil gambar baby Alan. Ia mengirimnya ke sang Mami, Melissa Van Kleveran.


….


Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata dan alurnya, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + vote + favoritkan supaya aku semangat melanjutkannya.

__ADS_1


__ADS_2