
Datangnya semua ke rumah Bu Mayang, Samudra pun duduk bersama Elvan dan adik - adiknya sembari menunggu Bu Mayang sadar. Hembusan angin yang dari arah pintu terbuka terasa dingin. Sama seperti di ruang tamu terlihat masing - masing putra keluarga Van memberi ekspresi dingin. Sebab Samudra melarang Ezra dan Nara ikut bersama mereka pulang ke sky house.
"Aku maunya kalau Mami sendiri yang datang ke sini dan memohon ke Ezra," ucap Samudra merasa kecewa Ibunya itu egois. Dengan sendiri Melissa mengusir Ezra dan seharusnya Ibunya juga yang harus sendiri datang membawa adiknya itu kembali.
"Bang, mumpung Mami lagi baik malam ini, turuti saja kemauannya." Kenan membujuk Samudra.
"Baik? Kalian pikir Mami baik? Tidak, Kenan. Justru Mami egois. Dia tidak peduli pada perasaan Ezra dan Nara. Sama sekali dia tidak baik malam ini!" Samudra geram sudah tahu tujuan Melissa menyuruh mereka karena dengan alasan cucu keduanya yang sama sekali belum ada di perut Nara.
"Sam, aku tahu kamu mengerti bagaimana perasaan Ezra. Tapi coba pikirkan, dengan keputusan Mami saat ini ingin membawa Ezra kembali, hubungannya dan Mami bisa membaik lagi. Bahkan baby Alan bisa hidup enak di sky house." Elvan sedikit membujuk.
"Enak? Hidup Enak? Sama sekali sky house bukanlah tempat seperti itu," decih Samudra ingat bagaimana kerasnya Melissa terhadapnya dulu.
"Weh, Bang Sam!" Trio biawak berdiri.
"Sky house ini beda, tidak seperti di sana! Lagian sky house sudah dimodifikasi sama Elvan jadi keamanannya terjamin tinggi. Kamu jangan dulu menolak ajakan Mami. Siapa tahu kembalinya Ezra dan Nara bisa mengubah pendirian Mami." Julian maju mencengkram kerah Samudra.
"Bahkan saja kamu bisa kembali ke keluarga Van."
"Terserah kalian, aku sudah katakan penolakanku, tinggal Ezra saja mau ikut kalian atau tidak." Samudra menepis tangan adiknya itu lalu menunjuk Ezra yang berdiri di dekat pintu kamar.
"Ezra." Elvan dan sebagian menghampirinya.
"Ikutlah dengan kami, Za." Mohon mereka.
"Maaf, aku tidak mau." Samudra tersenyum tipis sudah yakin Ezra pasti tidak berminat.
__ADS_1
"Za, jangan ikuti langkah Bang Sam. Kamu masih muda dan masih memerlukan Mami membimbing hidupmu. Kalau Bang Sam kan sudah tua, tidak apa - apa dia salah jalan."
"Woy, Zehan! Jaga tuh mulut kamu!" ujar Samudra agak kesal.
"Kok aku? Ini yang bicara Biyan!" Sentak Zehan menunjuk Biyan di sebelahnya.
"Nah tuh, coba kamu lihat, adiknya sendiri tidak dia kenali. Bagaimana nanti sama jalan hidupnya?" cerca Julian.
"Maaf, aku tetap tidak mau." Elvan dan semua adiknya mulai gemas ke Ezra yang keras kepala seperti Samudra dulu. Namun Samudra pun mengernyit mendengar pengecualian adik kecilnya itu.
"Tapi kalau Bang Sam disuruh pulang, aku juga akan ikut pulang ke sky house."
Semuanya pun memandangi Samudra.
"Sam, kalau seandainya Mmai menyuruhmu pulang, apakah kamu serius mau nurut?" tanya Elvan tahu si Samudra anak yang keras kepala.
"Dasar! Ternyata ada udang dibalik batu!" gerutu mereka membuat Ezra sedikit lega melihat hubungan semua saudaranya tidak punya dendam satu sama lain. Seketika tangannya diraih oleh seseorang. Ia menoleh dan ternyata itu Nara.
"Kamu serius kamu kembali, Za?" tanya Nara tidak yakin.
"Hm, aku harap Bang Samudra bisa menjaga kita di sana nanti," ucap Ezra.
"Memangnya mereka semua mau kemana?" tanya Nara tunjuk Elvan yang lagi telepon ke sky house tentang niat Ezra mau pulang tapi harus membawa Samudra ikut pulang.
"Mereka sudah ingin kembali ke perusahaannya. Untuk saat ini hanyalah Bang Samudra yang bisa kita harapkan. Bang Mahendra masih sakit dan Bang Reyhan akhir - akhir ini pasti juga sibuk mengurus surat kepindahan tugasnya ke rumah sakit di kota ini," ucap Ezra ingin juga melihat Mahendra.
__ADS_1
"Tapi," lirih Nara.
"Kenapa, Ra?" tanya Ezra.
"Aku kan tidak hamil, kalau Mami tahu kondisiku yang haid, bisa - bisa Mami tambah membenci kita," jawab Nara.
"Hmm... kenapa harus memikirkan itu? Kita berdua kan bisa bikin lagi, sayang."
Nara tertegun, menunduk malu dibisik kalimat menggelikan itu. Kemudian ia pun mencubit pinggang Ezra.
"Ihh, jangan dulu. Kita sudah bersiap masuk ujian tengah semester. Kalau kamu hamili aku lagi, nanti istrimu ini tidak naik kelas!" celetuk Nara tidak mau tinggal kelas.
"Haha... Okeh, kita bikinnya setelah uts." Ezra mengacak - acak rambut Nara dan melirik baby Alan sedang duduk di dekat Bu Mayang yang lelah. Bayinya itu terlihat sibuk memperhatikan wajah Bu Mayang.
"YOSH! MAMI SETUJU!"
"Okeh, kita kembali malam ini." Samudra baru meninggalkan tempat duduknya, ingin mengambil baby Alan.
"Sebentar, Ibuku masih belum sadar, aku tidak mau meninggalkannya di sini sendirian, Kak," ucap Nara ke Samudra.
"Tenang saja, Ibumu boleh ikut ke rumah kita." Elvan mengangkat Bu Mayang dan berharap Reyhan bisa memeriksa kondisi Ibu angkatnya Nara itu.
"Terima kasih, Kak."
"Sama - sama, Nara."
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan rumah itu menuju ke sky house.
.