
Dua hari berlalu dan hari ini sangat cocok bagi Daffa yang sudah tidak bermalam di rumah sakit bisa mengajak Nara keluar untuk membeli baju pesta yang diadakan besok malam, sekalian ingin membeli baju baru untuk baby Alan dan membawa Nara melihat kondisi ayahnya yang semakin membaik. Cowok tampan dan cukup menyukai Nara itu tanpa mengetuk pintu langsung masuk menghampiri Nara yang sedang belajar.
"Hey, Nara. Apa tugas sekolah hari ini belum selesai juga?" tanya Daffa berdiri di dekatnya dan melihat baby Alan tidak ada di tempat tidur karena bayi lucu itu sedang bersama ayahnya.
"Eh… Daffa, ini barusan kelar, ada apa?"
"Hari ini kamu ada waktu luang nggak?" Daffa sedikit malu mengajak waketosnya itu kencan pertama.
"Hm… sepertinya ada sih," ucap Nara yang memang sudah selesai cuci piring dan juga mumpung Ezra lagi nonton televisi sama baby Alan di bawah.
"Baguslah, kalau begitu apa kamu mau ikut belanja hari ini bersamaku?" Daffa berharap Nara mau.
"Hmm boleh, tapi… buat apa belanja?" tanya Nara agak ragu karena Ezra mungkin tidak setuju. Bukan Ezra sih, tapi Mahendra yang tidak sengaja menguping di luar pintu kamar yang sedikit terbuka itu tampak tidak terima adik iparnya mau pergi berduaan.
"Ya Allah, Nara! Sejak kapan kamu pikun? Haha…" Daffa tertawa karena bisa - bisanya Nara lupa undangan Melly.
"Ehhh astagfirullah! Aku baru ingat besok ulang tahun Melly, aku harus buruan beli hadiah nih." Nara berdiri cepat di hadapan Daffa yang berhenti tertawa.
'Ulang tahun Melly? Besok? Jangan - jangan mereka ingin pergi berduaan? Apa Ezra juga diajak?' pikir Mahendra mulai resah melihat hubungan Daffa dan Nara makin dekat saja.
"Nah, sekarang kita pergi belanja yuk." Daffa menggandeng Nara. Mahendra pun buru - buru masuk ke kamarnya sebelum tingkah intelnya itu dilihat. Setelah itu, Mahendra keluar dan pura - pura tidak melihat yang tadi lalu bertanya ke Nara dan Daffa yang baru keluar kamar.
"Kalian mau kemana?"
Daffa pun menjawab jujur. "Mau ke mall, beli beberapa baju dan hadiah ulang tahun untuk kakak kelas kami, Pak," ucap Daffa masih menggenggam tangan Nara. Melihat tatapan yang menghujam dari iparnya, Nara pun melepaskan gandengan Daffa. Nara sadar kalau Mahendra tidak suka dia pegang - pegangan dengan cowok lain. Demi hak asuh tidak diambil, Nara harus menjaga sikap di depan iparnya itu yang selalu dingin menatapnya.
"Kalau kalian mau pergi, ajak Ezra juga." Mahendra menunjuk Ezra yang naik membawa baby Alan untuk ditidurkan karena bayi menggemaskan itu mulai menguap panjang.
"Hah? Ajak aku? Ajak kemana?" Mahendra mengambil baby Alan dan menjawab cepat adiknya.
"Daffa dan Nara mau keluar, katanya buat beli hadiah ulang tahun, sekalian saja kamu ikut beli hadiah bersama Daffa dan Nara." Mahendra berharap Ezra peka dengan ucapannya untuk ikut bersama istrinya.
"Ezra ikut? Tidak usah deh," tolak Daffa tidak mau ada orang ketiga.
"Heh… aku juga tidak minat keluar, tapi sebagai cowok yang jago bela diri, aku wajib ikut menjaga kalian berdua, terutama kamu Daffa." Ezra menunjuk Daffa, namun matanya melihat Nara.
__ADS_1
"Kalau aku sih tidak masalah kalau Ezra ikut, Daffa." Karena Nara setuju, Daffa pun menyetujuinya.
"Okay, kamu ikut, tapi jangan buat ulah hari ini!" Daffa turun duluan. Sedangkan Mahendra memberi kunci mobilnya ke Ezra. Setelah Ezra turun ingin mengeluarkan mobil, Mahendra pun memberi teguran tegas ke Nara yang masih berdiri di hadapannya.
"Nara, sudah aku bilang kamu jangan terlalu dekat - dekat dengan Daffa, kamu harus sadar tentang statusmu yang sudah bersuami dan jangan pernah kamu berniat selingkuh. Serta pacaran dengan Daffa atau cowok lain di luar sana. Ingat baik - baik itu."
Setelah diberi anggukan dari Nara, Mahendra pun masuk dan membawa baby Alan ke kamarnya. Nara menatap lantai dengan ekspresi sedih. 'Dia melarangku dekat dengan Daffa, tapi dia tidak melarang adiknya berpacaran dengan cewek lain,' batin Nara merasa Mahendra tidak adil dalam memarahinya.
'Tapi apa mungkin Pak Mahendra belum sadar hubungan Ezra dan Friska?' Nara berpikir sambil jalan keluar rumah.
Ketika Nara mau buka pintu mobil tengah, Ezra yang duduk di kursi pengemudi pun memerintah.
"Hey, duduk di depan, babu!"
"Aku bukan supir yang mengantar kalian berdua," ketus Ezra pada Nara dan Daffa yang duduk di kursi tengah.
"Apaan sih kamu Ezra, kenapa kasar dan sembarangan perintah Nara?" timpal Daffa marah.
"Cih, tidak usah cerewet, ini mobil kakakku, suka - suka aku dong," ujar Ezra sok berkuasa.
"Daffa, aku duduk di depan saja," ucap Nara tidak mau dua cowok itu berdebat di dalam mobil.
'Rasakan, aku yakin kamu cemburu sekarang,' batin Ezra puas sebab Daffa menggerutu kecil di belakangnya. Sedangkan Nara cuma bisa menahan debaran di dalam hatinya karena jaraknya dengan Ezra tadi begitu dekat sampai - sampai rona pipinya tertangkap oleh mata suaminya.
Ketika mau menyalakan mesin, tiba - tiba saja dari arah belakang ada yang teriak panjang.
"EZRA! WAIT!"
"SAYANG! AKU JUGA IKUT!!"
Rupa - rupanya itu Friska yang barusan sampai ingin mengajak Ezra kencan dan menemaninya beli hadiah.
"Woy, culun, kenapa kamu duduk di sini? Minggir sana ke belakang! Tempatmu itu tidak cocok sama sekali!" Bentak Friska setelah membuka pintu dan terkejut Nara duduk di dekat Ezra. Senyum Daffa melengkung sedikit sebab ada bagusnya Friska datang hari ini.
Dengan terpaksa, Nara pindah duduk di dekat Daffa. Sementara Friska langsung saja bergelayut manja dan memajukan bibirnya ke Ezra lalu cium - cium udara tetapi tingkahnya itu agak menggelikan dan bikin Nara risih. Ditambah lagi, Ezra membelai - belai kepala Friska di depan matanya. Karena tidak tahan suaminya tebar kemesraan, Nara pun balas dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Daffa sehingga cowok itu terhenyak.
__ADS_1
"Daffa, aku pinjam bahumu sebentar ya, kepalaku agak berkunang - kunang, takutnya nanti aku pingsan di sana," lirih Nara menatap lembut Daffa membuat Ezra mengdengus sebal.
"Sayang, kita ke mall yuk, temani aku pilih - pilih hadiah," mohon Friska sebelum mobil melaju. Ezra pun dengan sengaja membalas Nara juga. "Okay, sayangku, kamu katakan saja mau kemana, nanti aku bawa kamu ke sana," ucap Ezra dengan perhatian memanggil mesra ke Friska dan tidak lupa mengecup singkat punggung tangan Friska.
Daffa yang melihat kemesraan mereka berdua itu mulai risih juga. Daffa pun tidak mau kalah dari Ezra sehingga menggenggam tangan Nara dan bicara lembut.
"Baiklah, kamu istrirahat dulu, Nara."
'Ishh, apaan sih Daffa itu?' desis Ezra jengkel melihat Daffa mengelus penuh kasih sayang ke rambut Nara di dalam pantulan kaca. Serta ditambah Daffa diam - diam memberi kecupan manis ke puncak kepala istrinya itu.
"Sayang, yuk buruan jalannya, nanti keburu malam nih," desak Friska. Terpaksa Ezra pun melaju dan tampak pura - pura saja tidak melihat istrinya diberi perhatian oleh Daffa. Entah kenapa hatinya terasa sakit sekarang.
"Hem… apa dia barusan cemburu?' batin Daffa sempat melihat ekspresi Ezra yang merah padam. Namun sejenak Daffa diam berpikir.
'Tidak deh, Ezra tidak suka Nara, yang dia sukai itu Friska. Aku tidak perlu mencemaskan cowok satu ini. Ezra pasti marah karena besok ada Vano di pesta Melly.' Daffa pun yakin Ezra tidak akan pernah terpincut oleh Nara dan tetap setia ke Friska yang suka bermanja - manja itu.
Serius nih marah ke Vano atau ke Daffa?
...
Sedangkan di rumah sakit, tampak satu pasien yang terbaring lemah di atas brankar mulai membuka matanya perlahan - lahan. Dokter yang melihat pasiennya siuman, langsung mengajaknya bicara. Sedangkan asistennya yang selalu ada di sampingnya itu merasa lega dan bersyukur.
"Alhamdulillah, anda sudah sadar Pak Dirga," ucap Dokter ramah.
"Dokter, di mana saya sekarang?" tanya Pak Dirga memijat keningnya yang lumayan pusing dan melihat pakaiannya adalah baju pasien di rumah sakit. Dokter pun mejelaskan kronologi kecelakaan hingga koma di rumah sakit.
"Sudah berapa hari saya di sini, Dok?" tanya Pak Dirga dengan perasaan mulai membaik.
"Anda sudah dirawat hampir sebulan dan sejak anda dibawa ke sini, putra anda sering datang menjaga anda," jawab Dokter. Pak Dirga pun melihat ke luar jendela yang menampakkan matahari mulai tenggelam.
"Anak itu, apa dia berhasil masuk?" tanya Pak Dirga ke asistennya. Yang dimaskud ialah Nara Kumaira.
"Benar, Pak Dirga. Anak itu sudah masuk tahun ini dan sekarang dia tinggal bersama Daffa sebab baru - baru ini blackzak berulah lagi. Jadi demi melindunginya, Daffa mengizinkan anak itu tinggal dengannya."
Pak Dirga menghela nafas lega dan melihat biodata Nara yang diterima dari asistennya itu. "Kerja bagus, sepertinya aku tidak perlu lagi susah - susah membujuk calon menantuku."
__ADS_1
Pak Dirga merasa senang putranya dekat dengan Nara yang sudah diniatkan untuk dijadikan istri putranya di masa depan. Tinggal membereskan Vano, maka setelah Daffa lulus sekolah, pernikahan putranya dan Nara bisa dilaksanakan seperti yang sudah ditentukan sejak dalam rahim sahabatnya itu, perjodohan yang pernah terucap dari mulut Ibu kandung Nara sendiri.
....