Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
98. BAB 98 - KAU PEMBOHONG BESAR!


__ADS_3

"Mamih cari siapaaah?" 


"Cari teman Mamih yang kemarin lalu, sayang." Melly menjawab putri mungilnya sembari terus mencari keberadaan Nara dan Alan yang dua hari ini tidak terlihat.


"Maaf, nona Melly... sedang menunggu siapa?" Metha tiba - tiba datang dan merasa Melly butuh sesuatu.


"Itu Bu Meth, anak kecil yang bernama Alan dan Ibunya itu kemana ya? Apakah sudah pulang duluan?"


"Ouh ... Alan sudah dua hari tidak masuk sekolah."


"Kenapa dengannya?" tanya Melly cemas.


"Saya juga tidak tahu, Nona. Semenjak hari itu, tidak ada izin yang diberikan pada saya," tutur Metha juga cemas pada Alan.


"Apakah sudah pindah sekolah?" gumam Melly kemudian menoleh ke belakang ketika suaminya datang menyahut. "Yang kamu cari sedang berada di rumah sakit, hany."


Melihat Vano datang, Metha sedikit mundur. 


"Kalau begitu, sekarang kamu ada waktu, 'kan? Aku mau ke rumah sakit menjenguk Nara sekarang, antarkan kami berdua ya, honey," mohon Melly ke suami dan Pak Ceonya itu. Vano menggendong Noel dan mengangguk paham.


"Tunggu," 


"Hm, kenapa Bu Meth?" tanya Melly yang tangannya ditahan Metha. "Tolong biarkan saya ikut bersama kalian, sebagai guru dan wali kelasnya, saya perlu menjenguknya juga." 


"Hmm, yang kamu katakan itu memang benar, ikutlah naik ke mobilku," ajak Vano membuat Melly sedikit terperangah. Pasalnya, tidak ada seorang pun yang berani bicara ke Vano dan suaminya tidak pernah bicara sembarangan ke wanita lain. 


"Honey, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Melly yang jalan di sebelah Vano. Mereka sudah sampai di rumah sakit dan sekarang menuju ke ruangan Alan. Berkat informasi dari kakaknya, Vano bisa tahu apa yang terjadi pada Ezra selama ini. Dia cukup takjub pada Ezra yang hidup tanpa sepeser pun pergi dari sky house dan bisa menghidupi Nara dan Alan selama ini di luar sana.


"Kamu mencurigaiku gara - gara wanita itu?" Vano menunjuk Metha di depannya yang menggendong Noel. "Hmm...." Melly mendehem kecil. "Jangan cemburu begitu dong, hany. Aku dan wanita itu dulu cuma pernah satu kelas dan dia siswi yang dulu pernah ditindas oleh blackzak. Mengingat masa lalu, aku sedikit bersalah padanya."


Melly terkejut dan Vano membola. 'Eh astaga! Aku keceplosan!' Vano mengatup mulutnya karena selama ini dia masih berpura - pura amnesia.


"VANO! KAMU NYEBELIN! MALAM INI TIDUR DI LUAR!" Melly pergi merasa kecewa berat. Mentang - mentang sudah tidak pakai kacamata pintarnya, Vano masih bermain amnesia di depannya.


"Ahh Hany! Sebentar, aku bisa jelasin semua!" Vano menyusul istri tercinta yang merajuk. 

__ADS_1


Sesampainya di lantai tempat Alan dirawat, Metha dan Noel sedikit terkejut mendengar perdebatan di lorong itu. Vano yang sedang membujuk istrinya pun melihat Ezra yang emosi mencengkram kerah Reyhan. Cowok itu sudah lumayan berubah. 


"Apa yang terjadi?" Vano dan Melly menghampiri mereka, sedangkan Metha terpaksa membawa Noel dulu, tidak baik anak sekecil itu melihat pertengkaran orang dewasa.


"Leukemia? Jadi kamu bilang anakku terserang penyakit leukemia? Bukan tipes? Apakah ini salah satu rencana Mami supaya kalian memisahkan aku dengan putraku? Katakan sejujurnya!" Ezra merasa kecewa dan sangat sedih jagoannya menderita penyakit itu.


"Ezra, ini bukan rencana Mami dan Mami juga belum tahu Alan masuk rumah sakit," sungut Reyhan.


"BOHONG! KAU PEMBOHONG BESAR!" ujar Ezra membuat sebagian orang lain beralih padanya. 


"Hey, Ezra! Anakmu lagi sakit, seharusnya kamu pahami bodoh." Vano menarik kerah jaket Ezra tiba - tiba. Keduanya pun adu tatapan sinis di muka umum.


"Pahami? Cih, kamu yang tidak tahu apa yang aku alami selama ini, tidak usah banyak bacot! Diam lo, bngst!" Ezra mendorong Vano yang kesal diberi umpatan itu.


"Ah sial, selama lima tahun ini, baru kali ini ada orang yang berani padaku, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kamu pantas jadi rivalku." Dari dulu memang seperti dua kucing garong memperebutkan satu ikan goreng.


"Akh! Mau apa lo?" Ezra dibawa paksa meninggalkan tempatnya. "Dulu aku memang bangst, tapi sebangst - bangssatnya sifatku, aku masih bisa mengerti keadaan anakku. Sekarang biarkan aku yang bangsaat ini kasih tahu apa itu namanya bngsaat!"


"Woy, bang Rey! Selagi gue belum setuju, jangan berani bawa anak gue pindah dari tempat ini!" teriak Ezra pada Reyhan kemudian menepis Vano.


"Gak usah kasih tahu gue, gue juga paham apa itu bngsat! Minggir sana!" Ezra meninggalkan rumah sakit membuat hati Vano bergemuruh ingin sekali membuatnya babak belur. Tapi sekarang dia sadar ada yang perlu dibujuk dulu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ouh, kenapa om ada si sini?" tanya Kumi pada Ezra yang tiba - tiba masuk bekerja hari ini dan lebih memilih menyendiri di ayunan Kumi. Karena tidak dijawab, Kumi pun menyodorkan sebuah makanan ringan khas jepang dan salah satu makanan ringan dari Indonesia pada bodyguadnya yang terlihat lesu.


"Mau takoyaki, om?"


"Atau bakso bakar, om?"


Tetapi Ezra tidak melirik sedikitpun. Bukan karena tidak suka, tapi bodyguard Kumi sedang bersedih.


"Kalau tidak mau, Kumi makan semua." Meski begitu, Ezra masih tidak mau mengangkat pandangannya. Melirik Kumi juga tidak mau.


"Ayo om, temani Kumi jalan - jalan."

__ADS_1


Kumi menghentakkan kaki di depan Ezra yang akhirnya memandangnya dengan datar kemudian berdiri menuju ke arah mobil.


"Ihhh, om kenapa ya?" gumam Kumi mendengus terpaksa pergi meski terasa tidak menyenangkan.


"Hey om, bagaimana kabar anak om? Sudah sembuh?" tanya Kumi berjalan di pikir kota sembari melihat toko - toko mainanan dan makanan. Dia mencoba untuk menghibur suasana hati Ezra di sore hari.


"Masih sakit," jawab Ezra murung.


"Hmm, sakit apa, om?" tanya Kumi.


"Leukemia," lirih Ezra sedih. Kumi berhenti, sedikit terkejut anak itu mengalami kanker darah.


"Jadi itu yang om sedihkan hari ini?" Ezra mengangguk saja pada Kumi.


"Lalu, apa yang akan om lakukan?" 


"Tidak tahu, saya bingung." Ezra menjawab dengan tidak semangat.


"Pasti biaya kemoterapinya mahal dan butuh pendonor sumsum tulang belakang yang cocok." Ezra menoleh ke Kumi yang tahu tentang Leukemia.


"Bagaimana kamu tahu semua itu?" Ezra heran karena anak lima tahun itu sudah mengusai pengetahuan soal dunia kedokteran.


"Karena Kumi punya paman yang bekerja sebagai Dokter, jadi Kumi tahu semua itu." Kumi sedikit berbangga diri.


"Ouh, pantesan," ucap Ezra sedikit kagum.


"Sayang sekali, Kumi tidak bisa melihat anaknya om, padahal Kumi ingin sekali bertemu," lesu Kumi ingin memastikan sesuatu.


"Bagaimana kalau ikut om saja menjenguknya?" tawar Ezra tapi Kumi menggeleng cepat. "Tidak perlu, Kumi tidak suka rumah sakit." Dahi Ezra mengkerut mendengar itu.


"Tidak suka rumah sakit tapi punya paman Dokter dan tahu soal leukemia. Ternyata kamu ini memang anak yang aneh," tutur Ezra terus terang dan menahan tawa.


"Heem, sepertinya sudah mau malam, tolong bawa Kumi pulang om!" Celetuk Kumi sedikit jengkel. Ezra pun mengantarnya pulang dan merasa cukup lega bisa berbagi keluh kesah dengan anak kecil. 'Mungkin bagus juga kalau Nara melahirkan adik perempuan untuk Alan.' Ezra membatin dalam hati dan sudah sampai di ruangan Alan. Namun dia terkejut tidak melihat Alan di tempatnya dan bahkan ruangan itu kosong.


"REYHAN!" Ezra pergi ke motornya dan menancap gas. "Brngsek kau bang!" Ezra marah pada Reyhan yang membawa istri dan anaknya tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


.


Tembus 50 like😊update lagi hri ini. Maaf kmarin cuma 1 bab, kepala author agak pusing/sakit jdi kurang banyak🙏update babnya. Semoga kita semua sehat selalu🌹terima kasih.


__ADS_2