
"Ini serius rumahnya?" tanya Nara. Ia sudah sampai di wilayah keluarga Son yang luas dan megah seperti sky house. Ia sekarang bersembunyi seperti maling di balik pohon besar bersama Ezra dan Samudra.
"Ya, ini memang rumahnya," ucap Samudra tahu karena rivalnya alias kakak Kendra dulu sering keluar masuk dari mansion itu.
"Kalau begitu, kita tidak usah membuang waktu lagi, kita masuk ke sana sekarang," desis Ezra yang sudah dua jam menunggu aba - aba dari Samudra.
"Hey, Ezra! Kamu yang sabar dulu, tempat ini bukan sembarangan rumah. Ini mirip seperti sky house yang punya keamanan tingkat tinggi." Samudra menepuk pundak adiknya itu yang mau bertindak sembarangan. Khawatir ada sensor mematikan yang terpasang di setiap titik tersembunyi.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Kalau di sini terus, aku bisa jadi ayam panggang," celetuk Ezra tidak mau dihangusi matahari yang menyengat.
"Kita tunggu Daffa kembali, Za." Nara meraih tangan suaminya itu supaya tidak lepas dari rencana Samudra.
"Daffa kelamaan, Ra! Sebelum kita masuk, baby Alan pasti sudah dicincang di dalam sana," cetus Ezra.
"Woy, Za! Diam dong, jangan menakut - nakuti Nara." Samudra menjewer telinga adiknya yang tidak mau tenang.
"Sial, ya sudah aku ke sana dulu mau pipis," tepis Ezra lari ke semak - semak.
"Eh buset, rupanya kebelet kencing." Lempar Samudra pakai batu kecil ke arah Ezra yang pipis sembarangan. Nara cuma bisa tertawa kecil melihat suaminya itu.
Setelah menarik resleting celananya, Ezra pun menoleh ke Daffa yang datang.
"Bagaimana? Apakah aman?" tanya Samudra ke Daffa, sebab bocah satu ini pernah waktu kecil masuk ke sana menemui Ibu kandungnya jadi keamanan bisa mengenali Daffa bukanlah ancaman.
"Aman, aku sudah izin ke asisten rumah ini supaya kalian bisa diperbolehkan masuk," ucap Daffa yang habis menemui seseorang di rumah itu.
"Serius? Bagaimana kamu bisa percaya diri begitu?" tanya Ezra tidak yakin.
"Aku cuma beri alasan kedatangan kalian itu ingin belajar kelompok dengan Pretty," ucap Daffa.
"Ha? Kerja kelompok? Tapi kita kan beda kelas sama Pretty dan Bang Samudra juga bukan siswa sekolah lagi." Heran Ezra.
"Itu mudah, aku tinggal bilang Bang Samudra sepupuku yang lagi jagain adiknya, siapa tahu lepas tidak terkendali di rumah ini," ucap Daffa membuat Nara tertawa lagi.
__ADS_1
"Idih, memangnya aku ini dinosaurus yang setiap saat mengamuk?" ketus Ezra agak menyindir Samudra.
"Wey, bocah. Tidak usah sewot, kita segera ke sana dan ambil keponakanku," celetuk Samudra menyeret Ezra yang melotot terus ke Daffa. Nara cuma bisa menahan tawa diperlihatkan tingkah Ezra yang masih kekanak - kanakkan. Tidak seperti Daffa yang tidak peduli sama sepupunya itu.
"Permisi," ucap Nara masuk dan langsung disambut ramah oleh asisten rumah.
"Selamat datang, silahkan kalian duduk sebentar di sana, saya akan segera kembali setelah menyampaikan ini pada nona Pretty." Asisten itu pergi, ingin menelpon Pretty yang masih di jalan pulang bersama Kendra di dalam satu mobil yang sama.
Nara sedikit deg - degan bisa masuk ke rumah anak dari adik kandung Ibunya. Sedangkan Ezra dan Samudra yang duduk di sofa yang sama, ia memandangi langit - langit ruangan yang banyak cctv. Sedangkan Daffa duduk di sofa lain. Matanya terus menatap ke lantai.
"Daffa,"
"Hm, kenapa, Nara?" tanya Daffa yang diajak bicara.
"Kamu tidak masalah nih ada di sini?" tanya Nara sedikit tidak enak ke Daffa karena nyonya sekarang di rumah ini sudah jatuh ke tangan Ibu kandungnya Daffa.
"Tidak apa - apa, aku sudah tidak mau memikirkan masa laluku," ucap Daffa tersenyum sebentar saja kemudian menunduk cepat ketika ada seorang wanita menuruni atak tangga.
"Pak, siapa yang datang?"
"Memangnya mereka siapa?" Ia bertanya kembali setelah kakinya menginjak lantai bawah.
"Tuan Daffa dan teman - temannya."
DEG
Wanita yang memakai baju megah itu terkejut dan segera menoleh. Ia dengan cepat mengenali salah satu dari mereka ada putra kandungnya.
"Daffa? Kenapa kamu ada di sini bersama anak - anak keluarga Van?" tanya nyonya Son.
"Hanya ingin mengambil sesuatu yang diambil Pretty," jawab Daffa tanpa melihat Ibunya itu. Nara ingin berkata jujur tapi Samudra dan Ezra menahannya karena satu - satunya cara adalah biarkan Daffa yang mengatasinya sendiri.
"Daffa, sudah Mama katakan, jangan memperebutkan hal itu lagi, Pretty -"
__ADS_1
"Aku tidak membahas masa lalu dan aku tidak peduli dengan anda lagi, nyonya Son," ucap Daffa bicara dingin.
Nyonya Son meremat jarinya, agak kecewa dan sedih ke Daffa yang tampak masih membencinya. Ia juga yang salah sudah meninggalkan Daffa hanya karena tergiur harta dari keluarga Son untuk menjadi Ibu sambung anak - anak dari Tuan Son. Pada akhirnya suami keduanya meninggal akibat penyakit yang dideritanya, sehingga Tuan Son pun menyusul istri pertamanya dan menitipkan ketiga anak - anaknya di tangan Ibunya Daffa yang terkenal janda kaya di kota.
"Lalu apa yang direbut Pretty?"
"Keponakan saya," ucap Samudra yang jawab.
"Loh, bukannya tadi mau kerja kelompok ya?" ucap asisten terheran - heran.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud berbohong, saya ke sini ingin membantu keluarga Van mengambil bayi yang ada di tangan Pretty," jelas Daffa.
"BOHONG!" sahut seorang cewek di dekat pintu yang baru sampai ke rumahnya.
"Keluarga Van tidak pernah mengadakan pernikahan, dan pak kepsek tidak punya keponakan!" lanjut Pretty belum sadar kepseknya bukan Mahendra.
"Baby," lirih Nara terkejut putra kecilnya benar - benar ada pada Pretty dan Kendra.
"Woy, Kendra! Berikan dia pada kami," ujar Ezra berdiri setelah Kendra berdiri di dekat adiknya.
"Dia? Maksudnya bayi ini?" Kendra menunjuk baby Alan.
"Ya serahkan dia pada kita," ucap Daffa ikut berdiri.
"Enak saja langsung minta, bayi ini punya gue," tolak Pretty tidak mau memberikan baby Alan.
"Punya lo? Jangan mengada - ada lo, Pret." Ezra meninggalkan tempatnya ingin merebut putranya dari tangan Pretty tapi Kendra menarik adiknya ke belakang, ia yang berhadapan langsung dengan ketua twilight itu.
"Ihhh, nama gue itu Pretty, bukan Pret!" kesal Pretty melayangkan satu tinjunya namun segera ditahan oleh telapak tangan Nara yang berdiri di dekat Ezra.
"Tolong jangan perlihatkan kekerasan di dapan anak kecil di sini," ucap Nara tegas.
"Cih, ketos yang tidak lain adalah keponakan mama rupanya bisa berani datang ke sini, nyali lo besar juga, Nara," decak Pretty.
__ADS_1
"Dan tidak sangka lo rela jadi babu di keluarga Van," sambung Kendra ke adik sepupunya itu dan menurunkan tinju adiknya lepas dari cengkraman Nara.
"Babu? Jangan seenaknya lo hina istri gue!" Dorong Ezra ke Kendra menjauhi Nara.