
Siang ini Mahendra pergi ke rumah kepala sekolah untuk membicarakan keputusan Ezra dan Nara yang sudah menikah. Pernikahan yang dirahasiakan sampai keduanya lulus sekolah. Sedangkan Ezra sedang menulis sesuatu. Setelah itu keluar dari kamar, mengintip keadaan di luar tidak ada orang. Karena Daffa tidak menampakkan dirinya, Ezra pun bergegas ke kamar Nara.
Nara yang sedang memasang popok baby Alan pun menoleh ke pintu kamarnya yang terbuka.
"Ez…Ezra, kenapa kamu masuk ke sini?" Nara sedikit terkejut. Setelah menutup pintu, dengan muka dinginnya, Ezra menyerahkan selembar surat itu.
"Nih, baca!"
"Apa itu?"
"Kalau mau tahu, ya baca saja!" kata Ezra angkuh sambil melirik baby Alan yang terkantuk - kantuk. Nara pun mengambil. Membaca dari kata awal sampai akhir.
"Aturan dalam pernikahan? Apa kamu yang buat ini?" tanya Nara masih membaca ulang.
"Ya, itu aturan - aturan yang harus kamu hapal dan taati sebagai pihak kedua dalam pernikahan ini," jawab Ezra.
"Pihak kedua? Apa maksudnya?" Nara benar - benar tidak paham.
"Itu bukan cuma aturan saja, itu adalah kontrak!" Ezra melihat ke luar jendela dan masih tidak mau menatap Nara.
"Hah? Kontrak? Apa lagi itu?" Nara pun berdiri. Sontak Ezra merebut surat itu kemudian menjelaskan sambil bicara tajam.
"Setelah anak itu_" Ezra menunjuk baby Alan.
"Setelah anak itu berumur tiga tahun, pernikahan ini berakhir dan kamu boleh lanjut kuliah ke luar negeri," sambung Ezra berhenti sejenak.
__ADS_1
"Artinya cerai?" ucap Nara mulai mencerna. Ezra menganggukkan kepala. 'Baiklah, ini juga bagus dan aku masih sanggup bertahan tiga tahun dan setelah itu aku akan bawa Alan ikut denganku,' batin Nara tersenyum lega. Tetapi seketika senyumnya hilang saat Ezra mengambil baby Alan dan menjauhi Nara.
"Ya kita cerai dan hak asuh anak ini jatuh padaku,"
"Hak asuh? Kamu mau mengambil Alan dariku? Tidak! Aku tidak akan memberikannya!" Nara merebut Alan dari Ezra.
"Apa - apaan kamu ini, Nara! Aku ayah kandungnya, punya banyak harta yang mampu membesarkan, tidak sepertimu yang tidak punya apa - apa lagi. Aku tidak mau anak itu tumbuh di lingkungan miskin sepertimu," ucap Ezra tidak lupa menghina.
"Lagian kamu tidak cocok jadi Ibunya, sudah dekil dan selalu pakai kacamata tebal. Kalau saja anak itu bisa bicara, aku yakin dia juga tidak mau bersama Ibu yang jelek sepertimu."
Nara meremat jemarinya, maju perlahan dan kemudian dengan satu tangan mendorong Ezra ke belakang.
"Dari awal, aku yang berjuang mati - matian, menjaga, melahirkan dan merawatnya sampai sekarang. Aku yang tahu apa yang terbaik untuk anakku, bukan kamu yang cuma menanam. Kamu lah yang tidak cocok jadi orang tua baby Alan! Kamu tidak tahu apa - apa harusnya diam saja!" Nara membentak membuat baby Alan menangis kencang.
"Diam? Kamu suruh aku diam? Okeh, coba lihat siapa yang perlu didiamkan di sini." Ezra menunjuk baby Alan.
"Sepertinya aku memang perlu melakukan sesuatu supaya kamu mau taati aturan itu," decak Ezra.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan berikan hak asuh Alan!" balas Nara mendecak dan masih dalam pendiriannya. Ezra menyipitkan kedua mata, sangat kesal melihat Nara yang tidak gentar sedikitpun. Saat Ezra mau mengambil Alan, tiba - tiba Daffa di luar mengetuk pintu.
"Nara, aku boleh masuk 'kan?"
Cklk! Ezra secepatnya mundur memberi jarak cukup jauh dan terdiam saja melihat Daffa masuk. Sedangkan Nara ke sisi tempat tidur memeluk Alan.
"Loh, Ezra? Buat apa kamu di sini?" tanya Daffa sepertinya tidak sempat mendengar perdebatan Ezra dan Nara.
__ADS_1
"Cih, aku cuma mau gendong bayi itu, tapi dia tidak mau memberikannya. Lihat tuh, baby Alan menangis gara - gara Nara sendiri." Ezra berbohong dan menunjuk Nara.
"Woy, Ezra. Memang pantas Nara tidak berikan, kamu ini belum tahu cara menggendong, jadi Nara lebih baik menolaknya dari pada leher adiknya nanti kamu patahkan," ucap Daffa mendekati Nara, membelai kepala baby Alan yang menangis.
"Nara, coba sini aku gendong, siapa tahu bisa tenang," sambung Daffa kemudian mengambil baby Alan. Ezra dalam hati tambah kesal melihat Nara memberikan anaknya ke Daffa. 'Ishhh, kenapa sih Daffa masuk ke sini!' desis Ezra membatin.
Melihat baby Alan yang sudah tenang, Daffa pun melirik sinis ke Ezra kemudian menggandeng tangan Nara.
"Woy, apa - apaan kamu ini, Daffa? Kenapa main pegang - pegang, Nara!" Ezra maju memutuskan gandengan keduanya.
"Cih, mau aku pegang atau lebih dari itu, Nara bukan urusanmu, kamu pergilah keluar bersama Friska, jangan ganggu Nara dan adiknya!" ucap Daffa kembali menarik Nara dan membawa baby Alan keluar kamar.
"Daffa, kamu mau kemana bawa mereka?" Ezra menuruni anak tangga lalu berdiri di hadapan Nara dan Daffa yang menggendong baby Alan.
"Dari pada di sini terus melihatmu kurang ajar padanya, aku mau bawa Nara dan adiknya berbelanja," ucap Daffa menarik Nara ke belakangnya.
"Belanja? Belanja apa?" tanya Nara.
"Nara, aku tahu kamu pasti kesusahan jadi aku harap kamu mau ikut bersamaku belanja baju - baju baru untuk adikmu," jawab Daffa melihat baby Alan yang kembali terkantuk - kantuk.
"Baju baru?" ulang Nara dan disusul Ezra juga.
"Ya Nara, kamu tidak usah cemas soal uang karena hari ini kamu dapat gaji pertama." Daffa memberi amplop. Ezra pun membulatkan matanya, sedikit terkejut Daffa sangat perhatian ke Nara sampai memberi gaji lebih cepat. Ditambah Nara yang tersenyum untuk Daffa membuatnya kepanasan.
'Tidak boleh! Mereka berdua tidak boleh pergi!' Gerutu Ezra naik ke atas. Daffa dan Nara melihatnya begitu terdiam. 'Apa Ezra mau ikut?' pikir Nara.
__ADS_1
....
Kenapa si Ezra yang kalangkabut wkwk