
Alan menunduk sedih tidak dijawab karena papanya itu melewatinya dan membuka pintu kamar, masuk ke dalam menghampiri Nara yang sudah tidak menangis tapi matanya masih sembab. Ezra duduk di dekat istrinya lalu mengusap pelan pipi yang terasa dingin akibat dibasahi oleh air matanya.
"Apa tadi dia datang ke sini?" tanya Ezra. Nara meraih tangan Ezra lalu menggenggamnya.
"Memang tadi ada, dia sudah tahu rumah kita dan sudah melihat Alan kita, Za." Nara menjawab terbata - bata karena suaranya masih serak.
"Apa dia menyakitimu? Bilang padaku, apa dia menyakitimu atau anak kita lagi? Atau datang mengancammu?" Nara menggelengkan kepala lalu mengeratkan genggamannya. Terasa berat mengatakan sesuatu yang diinginkan Melissa.
"Lalu apa yang dia lakukan padamu, sayang?"
Nara menangis dan mengusapkan air matanya ke kerah lengannya. Dia teramat sedih dan bingung.
"Hey, ayo katakan, jangan buat aku cemas, Ra." Ezra mendesak Nara, tidak tega melihatnya begitu.
"Ezraa.... Mami minta kita semua pulang ke sana." Nara tersedu - sedu.
"Apa? Pulang ke sana? Setelah apa yang dia lakukan pada Alan malam itu, dia datang ke sini hanya itu saja?" Ezra berdiri dengan setengah emosi. Nara mengecilkan tangisnya, inilah yang dia cemaskan dan membuatnya sangat sedih. Kebencian Ezra yang sangat besar itu masih terkubur dalam hatinya.
"Bukan itu saja, Mami datang minta maaf juga, Za." Nara menggapai tangan Ezra yang terkepal.
"Za, maaf. Aku yang salah tidak seharusnya malam itu memaksamu pergi dari sana. Harusnya kita dengar dulu penjelasan Mami."
"Mami? Jangan kamu sebut dia dengan panggilan itu. Dia tidak layak! Dan ini semua bukan salahmu," ketus Ezra.
"Tidak Za, dari awal akulah yang merusak hidupmu. Gara - gara aku, kamu mendapat masalah dari keluargamu. Mungkin seharusnya aku dan Alan saja yang keluar dari sana. Harusnya aku tau diri."
"CUKUP NARA! JANGAN UNGKIT ITU LAGI!" bentak Ezra marah melihat istrinya itu selalu saja merasa bersalah padanya.
"Nenek, papa sama mama kenapa?" Alan memeluk Bu Mayang. Takut mendengar kemarahan Ezra yang terdengar sampai ke luar kamar.
"Tidak apa - apa, papa dan mama Alan lagi main drama, itu tugas dari kampus." Bu Mayang terpaksa bohong demi Alan tidak mendapat pengaruh dari pertengkaran Nara dan Ezra itu.
"Tapi malam ini beda, Nek." Alan bukanlah anak bodoh, dia pintar membendakan mana asli dan palsu.
"Papa harusnya tidak boleh begitu sama mama, Nek." Alan tersedu - sedu dan sekali - kali terguncang mendengar perdebatan orang tuanya. Bu Mayang menambah volume televisi dan memberi penutup telinga ke Alan. Namun tetap saja suara Ezra masih didengar dan bahkan anak kecil itu menoleh terkejut mendengar suara jeritan Nara.
"EZRA! EZRA! JANGAN!"
__ADS_1
Bu Mayang berlari menuju ke depan kamar. Mengetuk bertubi - tubi dan memanggil Ezra untuk membuka pintu. Bu Mayang cemas mendengar Nara sedang menghalangi Ezra yang lepas kendali.
"EZRA! HENTIKAN! KAMU BISA MEMBUNUH ANAK KITA!" Nara menepis - nepis tangan Ezra yang mau menekan perutnya.
"Tidak Nara, sekarang aku tahu, Mami datang ke sini pasti mau anak ini. Daripada dia mengambilnya, lebih baik tidak usah dilahirkan."
"Kau harus tahu Nara, aku sakit! Semua kata - kata Mami lontarkan pada Alan dulu itu menyakitkan. Dia terus menganggapnya haram! Haram! Haram!"
"Aku sakit, Nara. Aku sakit mendengarnya! Aku punya hati yang bisa merasakan betapa kejamnya kata - kata itu pada darah dagingku sendiri. Dia hanya datang untuk menipumu dengan air mata palsunya. Dia tidak tulus pada Alan, dan dia hanya ingin bayi kedua kita. Setelah itu, membuang kembali Alan."
Bu Mayang berhenti mengetuk. Dia terdiam mendengar Ezra marah dan menangis sejadi - jadinya di dalam sana. Lima tahun menahannya, genangan yang tertumpuk itu runtuh malam ini. Secara fisik dia memang kuat, tetapi hatinya rapuh jika menyangkut tentang anak sulungnya itu.
Nara menggapai kepala Ezra, mendekapnya ke dalam pelukannya. Memberi tempat untuk menyembunyikan air mata suaminya. "Mami tidak akan pernah bisa berubah, Ra." Ezra balas merangkul perut istrinya dengan gerakan lembut. Dia sadar sudah bersalah pada janin di dalam sana.
"Tapi Ezra, aku tidak pernah bilang ke Mami tentang anak ke dua kita. Tolong tenanglah, Za. Jangan emosi seperti ini lagi. Anak kedua kita tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan Mami." Nara menatap mata Ezra lekat - lekat. "Za, Mami juga tidak datang sendirian ke sini, ada Pak Dirga yang menemaninya dan Mami sungguh minta maaf. Aku yakin Mami sudah berubah juga. Kamu harus tahu, yang dikatakan Pak Dirga padaku tadi itu benar. Kita jangan terlalu egois."
"Kita tidak usah lagi menyembunyikan Alan terus dari Mami dan ke 11 saudaramu, kasihan anak kita, Za. Dia punya masa depan yang cerah. Ayo kita sama - sama malam ini belajar menerima Mami dan memikirkan masa depan Alan." Nara memohon dengan isak tangisnya.
Ezra secepatnya bangkit dan menjauhi Nara yang sedikit takut melihat mata suaminya yang nyalang.
"Tidak Za, bukan begitu maksudku," ucap Nara turun dari ranjang dan ingin meraih tangan suaminya tetapi ditepis dengan cepat.
"Nenek, Alan takut." Alan berlari memeluk Bu Mayang yang pusing mendengar perdebatan itu berlanjut.
"Sudah, aku paham kamu pasti capek hidup miskin seperti ini bersamaku. Sekarang berkemaslah, kembali saja sendirian ke rumah itu!" Kecewa Ezra.
"Ezra!" Nara menahan Ezra yang mau keluar kamar namun tangannya dihempaskan. Ayah Alan itu melewati putranya lalu keluar dari rumah.
"EZRA! DENGARKAN AKU DULU!" Nara mengejar suaminya namun Bu Mayang meraih tangannya.
"Nak, sudah malam. Tidak baik melanjutkan ini, kasihan Alan dan kasihan tetangga yang terganggu."
"Hiks, maaf Bu." Bu Mayang memeluk Nara yang gagal membujuk Ezra untuk mengerti.
"Mama, papa pergi kemana?" tanya Alan menangadah. Nara bersimpuh di depan Alan, memeluk malaikat kecilnya yang tidak tahu apa - apa. "Papa lagi keluar cari makanan saji, nanti juga pulang. Maaf ya, Alan jadi dengar yang tadi."
"Mama, Alan mau tidur sama mama," rengek Alan.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kita tidur bersama." Nara membawa Alan masuk ke dalam kamar. Bu Mayang mengelus dada melihat rumah kembali tenang. Dia pun masuk ke kamar istirahat juga.
"Mama," lirih Alan yang dipeluk Nara.
"Hm, kenapa sayang?" tanya Nara menatap malaikat kecilnya itu yang mendongak ke padanya.
"Mama sama papa jangan bertengkar," mohon Alan menghapus sisa embun di pipi Ibunya.
"Ini cuma drama kampus kok, sayang." Nara tahu meski dia berdusta di depan Alan, putra kecilnya mengerti sekali isi hatinya.
"Dulu mama sama papa kamu satu ekskul teater di sekolah jadi bisa akting. Mama dan papa pintar, kan? Bisa jadi bintang film di televisi - televisi itu," tutur Nara menceritakan masa lalunya untuk menenangkan Alan.
"Ya, mama pintar bohong." Alan terus terang saja membuat Nara menunduk diam.
"Mama dan papa jangan marah seperti itu," mohon Alan dan diberi anggukan kecil dari Ibunya.
"Alan sedih lihat mama nangis," tambahnya memeluk.
"Maaf sayang, kamu jadi melihat ayahmu marah barusan." Nara mengecup tiga kali ubun - ubun malaikat kecilnya kemudian terpejam.
"Mama," lirih Alan belum tidur karena merasa kepala pusing.
"Hmm...?"
"Sudah jam sepuluh, papa kenapa belum pulang?"
"Mungkin lagi sama teman - temannya," ucap Nara juga mencemaskan Ezra yang tidak kunjung masuk rumah.
"Hiks, mama.... Alan takut papa pergi," tangis Alan.
"Pergi? Hei sayang, papa kamu tidak akan lakukan itu. Dia sayang mama dan cinta sama Alan." Nara mengusap buih - buih kecil yang menetes itu dan memegang tangan kecil Alan.
"Loh, kamu kenapa sayang?" Nara beranjak duduk setelah merasakan tangan Alan yang dingin.
"Alan lapar, mah."
.
__ADS_1