Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
65. MHB BAB 65 - MELISSA


__ADS_3

Sedangkan Mahendra dan Garce berada di kamar mandi berduaan. Mulut Gadis itu dibekap pakai tangan dan dipeluk. Sehingga Garce dapat mendengar detak jantungnya Mahendra, jantungnya pun juga ikut berdebar - debar. Pipinya merona habis - habisan disertai wajah Mahendra juga memerah.


Mahendra malu karena ikut masuk, sementara Garce malu sebab di bawah sana ada yang nonjol dan mengenai perut bagian bawahnya.


"Pak... apa sudah aman?" tanya Garce tidak tahan.


"Ehhh, sepertinya sudah." Mahendra secepatnya keluar disusul Garce.


"Garce, soal ini jangan sampai bocor dan di sekolah nanti jangan jauh - jauh dari jangkauanku, mengerti?"


"Baik, Pak." Garca yang membelakangi Mahendra, ia pun mengangguk pelan. Ketika Mahendra mau keluar, Garce tiba - tibe menahan.


"Tunggu, Pak."


'Aduh, apa aku tanya atau tidak ya?' batin Garce penasaran dengan sesuatu.


"Kenapa?"


"Itu Pak, nama pisangnya apa ya? Kok besar banget?" tanya Garce sontak membuat Mahendra terkejut.


"Pisang? Pisang yang mana?" tanya Mahendra kikuk.


"Itu pisang di dalam saku," jawab Garce menunjuk polos ke celana Mahendra.


"Di dalam saku? Aku tidak punya pisang di dalam sini," ucap Mahendra memperlihatkan isi sakunya kosong.


Garce garuk - garuk kepala. 'Kalau bukan pisang terus apa?' pikir Garce pun menyipitkan matanya.


"Eh, kok pisangnya di tengah, Pak?" Tunjuk Garce ke tonjolan yang sedikit kelihatan.


"Ha? Pisang di tengah?" Tunduk Mahendra malah mengikuti arahan tunjukan Garce yang mengarah ke juniornya.


Eh? Eh? Eh? Ini pisang? Di matanya ini pisang? Wajah Mahendra langsung memerah seperti kepiting rebus.


Lah? Eh? Hah? Keknya ada yang salah nih. Garce menurunkan jari telunjuknya lalu menatap Mahendra. Pipinya ikut memerah tomat.


"Ahhhhhh astagaaaaa maaf Pak! Otak saya sepertinya jatuh di dalam, silahkan keluar Pak!" Pekik Garce masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Haduh, mataku ternodai." Garce salting di dalam sana. Sedangkan Mahendra keluar cepat, pergi ke kamarnya dan menggerutu ke diri sendiri.


"Aku benci pikiranku."


.


Tumben nih kayak Ezra, bertindak sebelum bepikir jadinya malu sendiri wkwk


.


Bipbipbiiiiip ...


Daffa yang bersiap mau pergi ke sekolah pakai motornya, ia menengok ke belakang. Alisnya terangkat ke atas ada dua mobil asing memberi klakson di depan rumahnya.


"Woy!" Daffa pun terkejut setelah jendela mobil diturunkan dan melihat Vano memanggilnya.


"Woy, Daffa! Masuk sono, nggak usah bengong lo!" teriak Ezra menurunkan jendelanya dan memanggil sepupunya itu.


"Hah? Masuk? Ngapain?" tanya Daffa terlihat ogah.


"Sudah nggak usah tanya - tanya, buruan masuk saja, ntar Melly yang jelaskan padamu," ucap Vano menunjuk ke belakangnya karena ia yang menyetir. Sedangkan di mobil satunya Mahendra yang membawa tiga orang.


"Terus Garce kemana? Kenapa dia tidak ikut bersama kita di mobil ini?" tanya Daffa.


"Cewek lu di mobil Pak Mahendra, kenapa? Mau ikut di mobil itu?" Lirik Vano.


"Idih, jangan sembarangan kamu bicara. Dia bukan cewek ku, hmp." Kesal Daffa membuang muka.


"Ya sih, kamu dan dia emang nggk cocok, syukur - syukur dia tidak berharap pada cowok lemah sepertimu." Vano masih saja tidak bisa menahan diri untuk mencibir Daffa membuat mantan ketos itu merasa Vano sudah ingat semuanya. Sifatnya sangat berbeda ketika tinggal di rumahnya.


"Sudah! Jangan berdebat. Kita tidak usah lagi saling memusuhi. Sekarang kita lebih baik bersatu dan berhenti menyimpan dendam. Kamu juga No, ingatan kamu belum pulih jangan lagi membuat musuh." Melly ikut kesal pagi - pagi sudah bahas cewek lain di depannya.


"Ya maaf, sayang." Cium Vano ke tangan Melly dan tidak melihat pacarnya itu karena Vano tidak mau kacamata pintarnya itu menganalisa kebohongannya.


Kekesalan Daffa bertambah melihat mereka berdua bermesraan di depan matanya. 'Mentang - mentang punya pacar, di depan jomblo sepertiku masih tidak tahu malu. Dasar taiik kalian berdua.' Umpat Daffa pun akhirnya merasakan apa yang dirasakan Mahendra. Sesak dan panas dingin. Sedangkan Garce yang duduk di sebelah Mahendra, terus menarik nafas dalam - dalam supaya gugupnya hilang. Tapi karena tadi pagi, ia tidak bisa menghilangkan rasa malunya.


Tidak lama kemudian, mereka sampai dan segera menuju ke parkiran. Gedung sekolah itu masih terlihat seperti Elipsean ll. Hanya saja ketika mereka turun dari mobil dan berdiri di pintu gerbang. Suasananya sepi dan hening diringin hembusan angin pagi yang sejuk tapi terasa menyeramkan. Tidak ada satu pun kehidupan. Tidak ada siswa yang terlihat dan aura di sekeliling menakutkan.

__ADS_1


"Ini jelas - jelas sekolah tapi entah kenapa seperti kita sedang berada di gerbang kematian," ucap Daffa tetap kalem tapi lumayan was - was.


"Aduh jangan - jangan mereka sedang merencanakan sesuatu?" Melly memeluk lengan Vano dan memegang perutnya. Gadis itu memang hamil tapi terlihat tidak hamil karena ada jaket Vano yang melindungi buah hatinya.


"Kita harus hati - hati nih, siapa tahu ada ranjau yang bisa meledak kapan saja." Nara merangkul Ezra, antara takut dan senang ada Ezra menjadi tamengnya.


"Ihh Nara, kamu ini jangan nakutin - nakutin aku dong, ini tuh sekolah bukan medan perang." Garce tidak mau diam saja, ia ikut memeluk lengan Mahendra, membuat pria dewasa itu terkejut lengannya menyentuh dada yang kenyal dan besar itu. Mahendra memalingkan wajah, sembunyikan rona pipinya.


Krik krik krik


Hanya Daffa yang berdiri sendiri di antara tiga pasangan itu. 'Sialan, situasi macam apa ini?' gerutu Daffa kesal. Berdiam diri tanpa pasangan.


Karena sudah jam tujuh, mereka perlahan memasuki halaman sekolah. Tiba - tiba ada lima drone terbang di atas mereka dan membawa sesuatu. Nereka membola ke drone itu yang menumpakkan cairan hitam dari atas.


"Ahhhhh!" Ketiga cewek memekik ditarik paksa untuk menghindari air kubangan yang baunya sangat - sangat busuk. Berkat anting canggih yang bisa mendengar obrolan siswa yang bersembunyi, Vano mengkode mereka untuk menghindar.


"Hahahahaha ...." Seketika semua murid berandalan muncul di balik jendela. Menertawai enam siswa baru dan kepala sekolah baru mereka. Mahendra yang dipindahkan, diberi tugas membenah sekolah itu dan mendisiplinkan mereka semua dengan bantuan organisasi yang akan dia bangun sendiri.


Awal babak baru pun dimulai dengan hadirnya Melissa. Elvan, trio biawak dan si kembar lima sangat syok setelah membuka pintu sky house, sang Mami tercinta sudah berdiri di hadapan mereka seraya tersenyum manis.


Manis dan cantik mematikan.


'Tamatlah sudah riwayat kita.'


Baby Alan yang merangkak di lantai, berhenti di dekat kaki Elvan, menengadah ke atas ada wanita yang mirip di foto besar.


Bukannya senang sambut nenek tersayang, bayi gemoy itu menangis kencang.


"Pappa huweeee...."


Melissa terkejut dan langsung melihat tajam semua anak laki - lakinya, kecuali Reyhan ada di ruangan menjaga Dokter cantik dan Samudra di Bulan.


"Papa? Siapa anak ini, Elvan?" Elvan yang ditanya tapi Zehan yang jatuh pingsan.


.


wkwk 11 anak mami dapat apa nih nanti?

__ADS_1


Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata dan alur cerita, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + favoritkan supaya aku semangat update sampai tamat.


__ADS_2