
Pagi harinya. Nara, Ezra, Vano dan Melly sudah tiba dan sekarang berdiri di depan sekolah. Tidak ketinggalan baby Alan ikut bersekolah lagi sebab Nara dan Ezra tidak berani menitipkan anak mereka ke orang lain.
"Btw, Daffa tidak ke sekolah?" tanya Nara dari tadi tidak melihat satu bocah itu.
"Pergi kok, Nara." Melly menjawab dengan senyuman.
"Terus mana dia?" tanya Ezra yang membawa baby Alan di dadanya. Bayi mungil itu datang memakai baju dan topi layaknya detektif kecil yang matanya juga mencari - cari satu unclenya itu.
BRUM!
Ezra tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara motor. Ternyata Daffa pergi memakai kendaraannya sendiri.
"Maaf datang sedikit lambat," ucap Daffa. Setelah memarkirkan motornya, ia bergabung dengan Melly dan Vano. Daffa tampak tidak mau melihat Ezra, masih kesal gara - gara dikasih tahu sama Vano kalau Ezra hampir menghamili Nara lagi. Beruntung cuma haidnya yang datang.
"Sekarang sudah kumpul di sini, tinggal tunggu Pak Mahendra dan Garce," hela Nara sedikit lega Daffa datang tanpa dihalang oleh preman jalanan. Melihat istrinya lirik - lirik Daffa, Ezra langsung memakaikan topinya ke kepala istrinya. Menghalangi mata Nara supaya tidak memandangi Daffa atau cowok lain di sekolah.
"Kyahaha...." tawa baby Alan melihat ayahnya cemburu buta.
"Jaga tuh matanya, Bu Ketos," celetuk Ezra.
"Haha, maaf ya." Nara mencubit - cubit pipi Ezra yang membulat. Vano dan Melly geleng - geleng kepala melihat satu keluarga kecil itu yang terlalu mencolok. Sedangkan Daffa jadi tambah galau melihat keharmonisan family baby Alan.
'Cih, mengganggu sekali.' Daffa ingin masuk saja namun seketika ada mobil yang datang. Mobil itu milik Mahendra. Mengira kepseknya dan Garce datang, rupanya yang turun cuma Garce.
Sontak Melly meremat tangan Vano, tidak berani ditatap oleh si Dokter cantik yang mengantar Garce ke sekolah. Tidak ada sapaan sehingga pada akhirnya si Dokter pergi meninggalkan Vano dan Melly. Dia masih sulit percaya Melly mengandung anak adiknya itu sekarang.
__ADS_1
"Garce, mana Pak Mahendra?" tanya Melly tidak takut lagi.
"Maaf, Pak Mahendra masih demam," jawab Garce lirih.
"APA?" Kaget semuanya kecuali baby Alan asik menghisap jempolnya dan kemudian merengek ke dada Ibunya. Namun seketika Ezra membungkam mulut anak kecilnya itu pakai dot. Membuat Garce sedikit tertawa bisa melihat bayi gemoy Nara lagi.
"Maaf, aku tidak kabarin kalian, aku takut nanti kalian tidak fokus ke tujuan kita datang ke sekolah ini," ucap Garce pun jalan masuk ke halaman sekolah bersama mereka.
"Kalau begini, tanpa arahan dari Pak Mahendra, sama saja kita tidak bisa melakukan apapun itu," ucap Daffa.
"Yang dikatakan Daffa itu memang benar, kita harus diberi bimbingan dulu," sambung Melly.
"Maaf Kak, aku juga sependapat, tapi mau bagaimana lagi, Pak Mahendra tidak bisa hadir ke sekolah hari ini," ucap Garce menunduk sedih sehingga bandonya menunjukkan warna suasana hatinya.
"Idih, jalan keluar untuk masalahmu saja kamu tidak bisa selesaikan. Tidak usah ajukan diri," tolak Vano.
"Hey, apa salahnya sih? Aku ini ketua twilight, punya wewenang juga!" protes Ezra. Tiga cewek SMA itu menahan tawa dan Baby Alan beserta Daffa yang gemas melihat Ezra begitu percaya diri.
"Wewenangmu tidak berarti bagiku," balas Vano sewot.
"Woy, berhenti! Ini sekolah, bukan tempat berkelahi!" ujar Daffa melerai Vano dan Ezra sebelum ada kericuhan. Namun sontak Daffa terdorong ke arah Ezra. Hampir saja dua cowok itu saling berciuman, untung ada tangannya segera membekap mulut sepupunya itu.
"Cih, siapa itu?" decak Daffa menoleh. Sedangkan Ezra meludah terus ke bawah. Sangat memalukan sekali dan hampir menjatuhkan harga dirinya.
"Hey, berhenti lo!" panggil Ezra ke satu siswi yang tadi lewat bersama gengnya dan sengaja mendorong Daffa. Setelah siswi itu menoleh, mata Daffa memicing tajam ke Pretty yang sombong lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
"Dia siapa?" tanya Nara dan Garce.
"Mantan Daffa," ucap Vano dan Ezra tahu masa lalu Daffa.
"Hah? Daffa punya mantan?" Kaget Nara dan Garce.
"Dan dia wakil ketua blackwolf," sambung Melly tahu dari Vano.
"Wakil ketua blackwolf?" Nara dan Garce terkejut kembali.
"Sekaligus adik kandung Kendra dan anak tiri Ibuku," ucap Daffa mengepal tangan.
"Pappa...." ujar baby Alan menengadah ke Ezra.
"Ya baby, cewek itu tantemu juga, adiknya si uncle Kendra mu. Cucu keluarga Son."
Ezra mengusap kepala Baby Alan yang tersenyum lebar. Ia senang sekali diantara puluhan uncle - unclenya, ada satu tante kandungnya yang bisa diajak main. Meski terlihat galak dan judes, pesona baby Alan pasti bisa menaklukkannya. Saatnya bayi Nara itu beraksi di Elipsean I.
"Utiii." Baby Alan merengek ingin turun dan mengejar tante cantiknya.
.
Ayo baby tebarkan pesonamu di blackwolf🔥jadilah wolf kecilnya Ezra dan Narađź¤tunjukkan kamu bisa mengubah hidup Ibumu dari babu jadi ratu eleganto di mata semua orang termasuk ke nenek tercinta.
🤸‍♀🤸‍♀
__ADS_1