Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
61. MHB BAB 61 - NGIDAM?


__ADS_3

"Wkwkwkwk, begini jadinya kalau bangun tidur tidak pergi cuci muka dulu, habis tidur mukanya kayak badut - badut sirkus, hahahaha ...." Kekeh si trio memegang perut yang sakit, capek menertawai adik kecilnya yang sedang kebingungan.


"Nih kamu bercermin dulu, Ezra." Elvan memberi hapenya.


"Ck, kenapa sih aku harus bercermin?" 


"Tidak usah ngoceh, lakukan saja apa yang dikatakan Elvan, hahaha..." Ucap Kevin tidak bisa berhenti tertawa. Sontak saja hape di tangannya itu dilempar. Elvan secepatnya menangkap hapenya dan melihat Ezra yang syok berat.


"Hahahaha dasar bodoh!" Mereka tertawa lagi ke Ezra yang lari terbirit - birit ke kamarnya. 'Emang gobllok nih bocah.' Batin Vano tidak lupa sifat Ezra yang bertindak tanpa berpikir dulu apakah penampilannya sudah bagus atau tidak.


"SAYANG!" 


Deg


Nara terkejut dan langsung meminta Ezra diam. "Shht, jangan teriak, baby kita lagi tidur." Nara tidak mau putra kecilnya menangis melihat wajah Ezra yang beda seperti wanita yang suka genit - genitan.


"Sayang ini ulah kamu, kan?" Tunjuk Ezra ke bibirnya yang pakai lipstik. Tebal dan jelek seperti badut.


Setelah meletakkan baby Alan ke dalam ayunan, Nara pun mendekati suaminya yang lagi marah - marah. Ia menunduk bukan karena takut tapi sedang menyembunyikan tawanya.


"Maaf, entah kenapa aku jadi pengen saja coret - coret wajahmu." Nara yang malu - malu pun memainkan dua jarinya.


"Hah? Pengen?" 


'Jangan - jangan ...' Ezra mulai merasa ada yang tidak beres dari gerakan tubuh istrinya.


"Maafkan aku ya." Nara memeluk Ezra dan memohon dengan manja. Ia pun mendongak mau persembahkan bibirnya dicium, namun Nara terkesiap melihat Ezra yang tidak marah lagi.


"Kamu kenapa?" tanya Nara karena mulut Ezra yang bergerak - gerak tampak sedang menjumlah hari.


'Apa mungkin malam kedua kita kebobolan?' pikir Ezra mengira Nara lagi masuk ngidam keduanya. Maka jika itu benar, baby Alan kemungkinan punya adik baru tahun depan.


'Tidak... tidak, aku yakin Nara makan tabletnya dan bibit - bibitku tidak ada yang jebol.'


Ezra mencoba menangkis jauh - jauh namun pikirannya balik lagi sebab Nara memohon kembali.


"Ezra, nanti sore kita semua jalan - jalan bersama yuk," rengek Nara merangkul leher Ezra. Ia menjinjit lalu mencium - cium singkat bibir suaminya yang bikin candu itu.


"Jalan bersama?" ulang Ezra.


"Ya, aku pengen," ucap Nara mengangguk - angguk.


Waduh, jangan - jangan Nara hamil beneran nih?


Ezra pun dengan dua tangannya menutupi si adik kecil yang goyang kiri kanan sudah menghamili istrinya lagi. Si burung takut dipotong lagi oleh Reyhan.


Saat mau bertanya tentang jadwal haid Nara, seketika ayah kecil itu terkesiap di tempatnya setelah pintu kamar dibuka oleh mereka.


"Woy Ezra! Tadi kita dengar tangisan baby Alan, ada apa dengannya?" tanya si trio tadi mau bertanya tapi baru ingat.

__ADS_1


"Kenapa juga kamu cari - cari Reyhan?" tanya empat kembaran Reyhan.


"Apa terjadi sesuatu pada baby Alan sampai kamu mencari Reyhan? Atau Nara?" Elvan menunjuk Nara. Ezra pun berdiri di hadapan Nara, menghalangi pandangan mereka ke perut Nara.


Melly dan Vano saling bertatapan, merasa tindakan Ezra agak aneh dan mencurigakan.


"Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Vano dengan mata curiga.


"Aku tadi panggil Reyhan mau suruh dia periksa baby Alan, iya kan istriku?" tanya Ezra mencium pelipis Nara dan sengaja pamer kemesraan di depan mereka. Supaya tidak curiga sih.


"Ya, tadi baby Alan nangis dan cuma mau diperiksa saja," ucap Nara tersenyum kikuk ke delapan iparnya yang lagi pasang muka masam.


"Cih, kirain ada apa." Vano menarik Melly untuk istirahat. Delapan iparnya Nara pun juga berbalik mau bahas soal Mami mereka. Mencari alasan kuat untuk membantu Mahendra melawan Melissa. Namun mereka berhenti dan menoleh ke Nara yang menahan langkahnya.


"Sebentar," ucap Nara.


'Eh, apa lagi yang diinginkan istriku?' pikir Ezra tambah was - was, takut kalau Nara berkhianat mau bocorkan dirinya pernah tembak - tembakan.


"Kenapa, Nara?" tanya Elvan.


"Itu aku mau minta sesuatu," ucap Nara ragu - ragu bakal dituruti atau tidak. 'Aduh, sepertinya Nara memang ngidam.' Batin Ezra gelisah masa depannya akan berakhir di atas meja operasi.


"Minta apa? Robot canggih?" tanya Elvan.


"Wih, tumben nih, mau minta apa, dik?" tanya si trio berharap adik iparnya minta barang - barang mahal.


"Katakan saja, kami pasti bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Mau oppa - oppa korea? Atau mau dibuatkan film romantis?" Tawar Davin dan Kenan.


"Atau mau hewan peliharaan? Ayo katakan padaku, mau Singa? Jerapah? Gajah? Badak? Harimau? Gorilla? Rusa? Zebra? Atau Buaya?" Kevin sang Mafia yang dikelilingi hewan ternak ikut menawarkannya ke Nara.


Nara tercengang, itu bukan hewan peliharaan melainkan hewan yang dilindungi. Kalau Sapi dan Kuda ya itu wajar kalau diternakkan.


'Eh buset, mulai pamer nih mereka.' Batin Ezra sedikit jengkel saudaranya mau bagi - bagi gratis. Padahal dulu waktu kecil, ia yang merengek - rengek sampai guling - guling di tanah tidak mau dikasih semua itu.


"Bukan itu," ucap Nara menolak cepat.


"Terus?" tanya semuanya serempak.


"Kalau Garce berhasil dibawa pulang ke sini, aku pengen kita semua nanti sore jalan - jalan bersama. Mungkin lebih baik kita refreshing dulu sebelum masuk ke sekolah besok."


Semuanya diam, hening.


Pengen?


Mereka bertatapan gara - gara kata itu yang identik dengan masa ngidam. Semua mata pun mengarah ke Ezra yang meneguk ludahnya susah payah. Kalau saja di bawahnya ada lubang ke dimensi lain, ingin rasanya Ezra kabur menyelamatkan burungnya dulu.


'Oh Mami, cepatlah ke sini supaya anak kesayanganmu tidak lenyap hari ini.' Batin Ezra malah lebih memilih Ibunya datang daripada pilih Mahendra. Karena dari dulu, Ibunya itu penolong jika semua kakaknya keluar jalur. Tapi entah kalau sang Mami tahu dirinya sudah punya anak, apakah masih jadi penolong? Atau sebaliknya?


.

__ADS_1


"GARCE!!!" Panggil Mahendra yang berteriak di Bandara. Putra ketiga Van Klaveren itu berlari sana sini mencari - cari keberadaan anak muridnya.


"GARCE!" Sekali lagi Mahendra teriak dengan lantang. Nafasnya terengah - engah, lelah berlari dan memanggil - manggil satu nama itu.


Dari kejauhan, terlihat Garce berjalan sembari menarik kopernya di sebelah orang tuanya yang mau ke Paris karena ada urusan pekerjaan. Ia memakai airphone dan memutar lagu sedih, sehingga tidak mendengar teriakan Mahendra.


"Cey, gadgetnya dilepas nak, nanti kamu tidak dengar persiapan penerbangan kita," tegur ayahnya.


"Oh sorry, Dad." Garce pun menyimpannya. Sayang sekali Mahendra sudah tidak teriak sehingga Garce pun tidak mendengar apa - apa selain kebisingan para penumpang yang duduk di sebelahnya dan menunggu informasi jadwal penerbangan ke Paris.


"Cey, kenapa kamu tiba - tiba mau ikut? Bukan kah kamu dipindahkan ke ELIPSEAN I? Apa sekolah itu terlalu rumit untukmu, sayang?" tanya Ibunya yang tahu dari teman - teman di ekskul memasak Garce.


Bukannya dijawab, Garce hanya berdiri dan meminta izin. "Aku cari toilet dulu, kalau sudah waktunya, Mom kabarin aku ya," ucap Garce tidak mau bahas alasan sesungguhnya karena masih kecewa pada Nara meski Daffa sudah katakan semuanya kemarin.


Orang tua Garce menghembus nafas kasihan ke putrinya yang murung dan tidak seperti dulu yang selalu ceria.


"Maafkan aku, Nara. Aku sebenarnya tidak mau meninggalkanmu dan baby Alan tapi aku berdosa sekali sudah membentakmu kemarin." Tanpa disadari orang - orang, Garce berjalan dengan isak tangisnya. Ia tidak ke toilet, melainkan jalan - jalan cari udara segar sembari memandangi fotonya bersama Nara dan Baby Alan di dalam hapenya. Foto yang memiliki banyak kenangan. Dari awal masuk sekolah sampai sekarang, kenangan selama empat bulan itu tersimpan di galerinya.


Asik menggeser - geser foto baby Alan, tidak sengaja jarinya menggeser sampai ke satu foto lain. Terpampang jelas foto pria dewasa yang masih menempati hatinya. Ialah pria yang suaranya samar - samar terdengar memanggilnya. Suara seperti angin yang terhembus jauh dan lama - lama semakin jelas.


"GARCEEE!"


Deg.


Hapenya hampir lepas dari tangannya ketika Garce mengangkat wajahnya ke depan dan melihat di kejauhan sana Mahendra melambai tangan meminta Garce tetap di tempatnya.


Apa aku sedang bermimpi?


Awalnya Garce senang, namun rasa itu ia tangkis. Mengira halusinasi.


Tidak, mana mungkin Pak Mahendra mengejarku.


Tubuhnya perlahan ingin berbalik namun mau bagaimana pun ia menolak suara itu, tetap saja ia tidak bisa membohongi perasaannya.


"GARCEE!" Sekali lagi namanya dipanggil. Tubuhnya terguncang sudah ada Mahendra di depannya dengan jarak sekitar lima meter. Terlihat dekat, namun terasa jauh sekali. Udara yang awalnya serasa menyesakkan dada, entah dari mana tiba - tiba angin sejuk menghembus ke arah mereka berdua sehingga rambutnya yang panjang dan pirang itu terhembus indah diiringin rambut hitam Mahendra juga.


"Pak Mahendra...." lirih Garce terenyuh ke Mahendra yang tersenyum lega. Menunjukkan paras tampan dan karisma yang menawan.


"Syukurlah, aku datang tepat waktu." Hela Mahendra mulai berjalan menghampirinya. Garce mengepal tangan, ingin berbalik pergi tetapi kedua kakinya dengan sendiri melangkah ke depan. Namun mendadak berhenti ketika seseorang menarik tangannya dari samping.


"Daffa?" Garce dan Mahendra terkejut ada Daffa di Bandara juga dan tampak mengharapkan sesuatu.


'Kenapa dia ada di sini?' pikir Mahendra menatap mereka yang saling berpegangan tangan. Tiba - tiba saja sesuatu menusuk ke dalam hatinya.


'Agh, rasa sakit apa ini?'


.


Apa ya?🤭

__ADS_1


Tinggalkan jejak yaaa ...


Klik Like, komen, vote, favoritkan. Sesekali lemparkan boncap🌹supaya author semangat update tiap hari. Terima kasih dan sehat selalu😘.


__ADS_2