
"Hei, apa kau tidak bisa masuk saja?" tanya Alan pada Elia yang sedang berdiri di dekat jendela dan mengintip ke dalam rumahnya. Elia pun meninggalkan tempatnya dan berlari ke Alan.
"Maaf, sepertinya di rumahku tidak ada orang. Semua pintu dan jendela rumahku juga terkunci." Elia menjawab ragu - ragu dan sedikit bingung rumahnya mendadak sepi.
"Kalau begitu, kau naik ke motor lagi," ucap Alan memberi helmnya.
"Bu.... buat apa?" tanya Elia.
"Daripada kau di sini sendirian, lebih baik kubawa saja kau pulang," jawab Alan membelokkan motornya sebelum keluar dari halaman kediaman keluarga Bastian. Elia sedikit terkejut mendengar Alan yang lumayan mengerti keadaannya.
"Terima kasih, Kak." Elia menundukkan sedikit pandangannya. Menyembunyikan rona pipinya yang bersemu.
"Hmm."
Tidak makan waktu, dua remaja SMA itu sampai juga di sky house. Kebetulan sekali mereka bertemu Nara yang sedang bersiap menuju ke mobilnya bersama si dua cicaknya itu.
"Sore, Tante," sapa Elia sopan.
"Ehh, tumben El ke sini? Apalagi sama Alan. Kalian habis jalan berdua ya?" tebak Nara dengan tatapan curiga.
"Bukan, Mah. Aku barusan antar dia pulang kok, tapi karena rumahnya kosong jadi aku bawa ke sini." Alan dengan santainya menjawab, tidak seperti Elia yang sedikit merasa panik dikira habis kencang.
"Ouh ya! Mamah mau ke rumah tante mu dulu, kalau mau makan sudah disiapkan nenekmu di atas meja, mamah pergi dulu," ucap Nara seraya menunjuk ke dalam rumah.
"Mau Alan antar, mah?" tanya Alan.
"Tidak perlu, mamah bisa bawa mobil." Nara menolak.
"El, kalau mau sesuatu, minta sama neneknya Alan saja ya,"
"Baik, Tante. Maaf Elia jadi merepotkan Alan."
"Hmm... tidak apa - apa." Nara segera membawa dua cicaknya pergi dari sky house karena Garce memintanya datang membawa dua cicak - cicak menggemaskannya itu.
"Astaga, aku lupa!" Alan yang sudah masuk ingin mengejar Ibunya, tapi mobilnya sudah tidak ada.
"Apa yang kau lupakan?" tanya Elia masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Hmm tidak ada, kau duluan saja ke dapur." Alan menaiki anak tangga mencari Bu Mayang. Elia membuang nafas berat melihat Alan pergi. Ia pun menuju ke dapur mengisi perutnya duluan.
Baru juga mau duduk, cowok itu masuk ke dapur. Elia ingin bertanya apa yang membuat Alan tadi naik ke atas. Tapi melihat cowok itu makan siang, Elia tidak jadi bertanya, takut dia akan mengganggunya.
"Apa kau sudah menghubungi orang tuamu?" tanya Alan tiba - tiba di tengah makan siangnya.
"Su... sudah," ucap Elia.
"Terus?" Alan menatapnya. Elia cepat - cepat mengalihkan matanya sebelum cowok itu sadar ditatap terus olehnya dari tadi.
"Masih tidak diangkat, Kak." Alan mangut - mangut kemudian menatap Elia membuat gadis itu sedikit grogi dan malu - malu.
'Apa aku terlihat aneh ya?' pikir Elia tidak sanggup diamati oleh Alan.
"Itu, ada apa ya, Kak?" ucap Elia terpaksa bertanya.
"Hmm, cuma merasa aneh saja," gumam Alan sudah hampir selesai menghabiskan isi piringnya.
"Aneh? Apa yang aneh?" tanya Elia tambah gugup.
'Menyebalkan? Maksudnya?' batin Elia sedikit bingung.
"Menyebalkan bagaimana, kak?" tanya Elia sudah selesai dan cepat - cepat membawa piring kotornya ke wastafel.
"Apa kau sudah tidak ingat? Dulu kau terlihat tomboy seperti Mayra. Tapi sekarang kau terlihat feminim. Apa karena kau masuk Idol jadi tingkahmu itu berubah sekarang?" Alan melihat rok dan seragam Elia yang ketat sehingga postur tubuhnya tampak jelas.
Elia diam sejenak kemudian meletakkan piringnya. Setelah itu berbalik badan dan tersenyum kaku pada Alan. Saat mau membalas ucapan Alan itu, tiba - tiba Kiara dan Kiano masuk. Elia secepatnya memutar badan lagi dan pura - pura cuci piring.
"Wehh, kok ada El?" Kiano menunjuk Elia.
"Hmm, wah... jangan - jangan kalian langsung ke sini ya?" tanya Kiara duduk di sebelah Alan.
"Tidak, tadi itu aku terpaksa bawa dia," ucap Alan mengambil tissu dan mengelap sudut bibirnya.
"Ada apa sampai kau bawa ke sini?" tanya Kiara sembari melihat Kiano mendekati Elia dan tampak bicara juga pada gadis itu.
"Rumahnya kosong," ucap Alan berdiri namun segera ditahan oleh Kiara.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kemana mamah dan papah, Al?" tanya Kiara.
"Mamah ke rumah om Mahendra, kalau Papah tadi ke kantor bareng Mayra," jelas Alan dikasih tahu oleh Bu Mayang.
"Terus nenek mana?" tanya Kiara lagi.
"Di atas, tadi kulihat lagi lipat seprei." Alan menunjuk ke atas.
"Hmm, kalau begitu, nanti kita keluar bareng yuk,"
"Keluar? Untuk?" tanya Alan mengernyit.
"Itu lho, barusan kita dari studio terus dapat notif dari Kumi, katanya dia sakit," ucap Kiara ingin melihat sahabatnya itu.
"Kebetulan ada Elia, kau mau kan ikut, El?" tanya Kiano pada Elia yang sudah beres mencuci piring kotornya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum.
Setelah Kiara dan Kiano makan, mereka pun ke rumah Kumi memakai mobil pribadi Kiara, tetapi Alan yang tentunya menyetir. Setelah sampai di sana. Mereka disambut oleh Kumi sendiri.
"Ehhh, aku cuma panggil Kiara tapi tidak sangka kalian berempat dengan baik hati datang ke sini, terima kasih." Kumi tersenyum senang kemudian mengizinkan mereka masuk. Terlihat seperti biasa, Kiara dan Kumi selalu mengobrol dengan asiknya. Sedangkan Elia banyak diam berada di antara keduanya karena memang tidak terlalu akrab dengan Kumi. Tetapi gadis itu sedikit menyadari sesuatu saat Kumi melihat sekali - kali ke arah Kiano dan Alan.
'Apa mungkin Kumi punya rasa sama Kiano?' pikir Elia menatap Kiano yang mengobrol dengan Alan di dekat jendela. Sontak saja, Kiano menatapnya dan tersenyum membuat Elia dengan cepat balas tersenyum kaku. Alan yang melihat tingkah keduanya, merasa sedikit heran. Ketika mau bertanya, tiba - tiba Kiara berdiri dan merangkul lengan Kiano dan Alan.
"No, Al,"
"Hm, apa?"
"Kumi mau dibelikan kopi jahe, antarin aku keluar dong," mohon Kiara.
"Hah? Kopi jahe? Kumi yang mau minum atau kau yang mau?" tanya Alan dan Kiano sedikit kesal.
"Hehehe.... ayolah, antarin aku, nggk usah nolak atau bikin muka ketus gitu. Tempatnya tidak jauh kok," rengek Kiara.
"Ya sudah deh,"
"Yeah, makasih!" Kiara menarik cepat dua saudara kembarnya itu keluar dari kediaman keluarga Yuu. Meninggalkan Kumi dan Elia berdua di sana.
__ADS_1