
"Kita ikut nonton yuk, Daffa."
"Ya sudah deh, mumpung juga kita berdua dapat supir gratis hari ini," ucap Daffa sengaja mengejek Ezra.
"Woy Daffa, jangan seenaknya lo hina - hina pacar gue supir kalian! Kalian tuh yang numpang gratis jangan banyak tingkah." Timpal Friska marah.
"Sudah! Buruan kita ke bioskop sebelum ditutup!" Ujar Ezra pun pergi duluan. Friska mencibikkan bibirnya ke Nara kemudian menyusulnya.
"Nara, kamu serius mau ikut?" tanya Daffa karena Nara tampak setengah pucat. "Ya, aku sudah lama tidak masuk bioskop, terakhir kali aku datang nonton itu di dua tahun lalu pas orang tuaku masih hidup."
Setelah sampai di bioskop, mereka duduk berdekatan. Ezra duduk di sebelah Friska, sedangkan Nara duduk di dekat Daffa yang duduk di sebelah suaminya itu. Yang tidak diinginkan Nara pun tetap terjadi di depan matanya. Ezra dan Friska begitu menikmati film horor yang lagi trending bulan ini dan nampak Friska yang ketakutan selalu menjerit sambil memeluk Ezra. Tingkah dan tindakan Friska yang terang - terangan itu sangat - sangat menyakitkan di mata Nara.
Seandainya saja baby Alan sudah dapat bicara, mungkin bayi menggemaskan itu akan bertanya - tanya ke Ibunya yang cuma bisa diam memendam amarah dan kesedihannya melihat sang Daddy berduaan dengan cewek lain. Mungkin saja baby Alan juga sedih melihat keberadaan Ibunya tidak dianggap.
Tiba - tiba suasana yang histeris dari penonton pun hening karena adegan berciuman para pemain yang berhasil membulatkan semua mata mereka, termasuk Ezra langsung teringat dengan nobarnya bersama Nara. Cowok angkuh itu pun menoleh ke kanan dan terkejut melihat kepala Nara bersandar ke bahu Daffa dengan mata terpejam. Tampaknya mommy Alan itu tidak sengaja tertidur.
Daffa dan Friska mendadak bersama - sama mendongak melihat Ezra berdiri dari kursinya.
"Kamu kenapa, Ezra?" tanya Friska.
"Aku mau pulang sekarang, ada tugas dari sekolah." Ezra tiba - tiba mau pulang.
"Sebentar dulu, filmnya belum selesai," tahan Friska.
"Friska, film ini memang seru, tapi bagiku sekarang lebih penting adalah belajar!" tegas Ezra setengah membentak pada Friska.
"Ya aku setuju, lebih baik kita pulang sekarang," susul Daffa pun membangunkan Nara.
__ADS_1
"Umhh… apa filmnya sudah selesai?" tanya Nara mengucek matanya dan ikut berdiri agak linglung.
"Tidak Nara, Ezra mau pulang belajar jadi sekalian saja kita ikut pulang juga, lagian kamu sepertinya harus istirahat sekarang, kalau kamu sampai sakit, hadiah yang kamu beli hari ini pasti sia - sia," jelas Daffa tidak jadi mengajak Nara berkunjung ke rumah sakit.
"Friska, kalau kamu mau lihat sampai akhir, kamu pulang pakai taksi," lanjutnya ke Friska.
"Sialan, ya sudah deh, aku ikut pulang juga." Friska pergi menyusul Ezra. Sedangkan Daffa menggandeng tangan Nara supaya tidak terjatuh.
Sesampainya di rumah, Daffa dan Nara masuk membawa belanjaannya ke dalam rumah dan Ezra mengantar Friska pulang karena dipaksa pakai motornya. Daffa masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sedangkan Nara masuk ke dalam kamarnya sendiri dan meletakkan tiga kresek belanjaannya ke atas tempat tidur.
Setelah itu, dia ke kamar Mahendra untuk melihat baby Alan. Tanpa mengetuk, dia masuk saja dan sedikit terkejut melihat kakak iparnya itu tidur di sebelah anaknya. Nara diam, membayangkan Ezra bisa selembut itu ke baby Alan seperti Mahendra yang perhatian ke anaknya, meski sikapnya dingin kepadanya. Tiba - tiba mata Mahendra perlahan terbuka.
"Oh, Nara? Kalian sudah pulang?" tanya Mahendra beranjak duduk. "Ya, Pak." Nara mengangguk pelan.
"Bagus, sekarang ambillah anakmu." Mahendra berdiri mengambil jasnya.
"Hari ini ada kabar dari rumah sakit kalau Pak Dirga sudah bangun dari komanya, jadi malam ini aku dan Daffa ingin pergi ke sana."
Pas sekali ketika Mahendra melewati pintu kamarnya yang terbuka, Daffa sudah bersiap ingin pergi karena barusan mengecek pesan masuk dari hapenya. Keduanya pun pergi memakai mobil. Meninggalkan Nara dan baby Alan di rumah hanya berdua.
Sudah pukul tujuh malam, Ezra masih belum pulang karena cowok itu entah pergi kemana setelah mengantar Friska. Sekarang Nara baru selesai mengganti popok anaknya yang masih terlelap di atas kasurnya. Setelah itu memakaikan baju tidurnya Alan dan memberi minyak telon, dia pun duduk di tepi ranjang, membuka satu - satu isi kresek belanjaannya.
"Alhamdulillah, dari gaji pertamaku, masih cukup membeli lima pasang baju untuk Alan." Nara sangat bersyukur bisa membelikan baju untuk anaknya sendiri. Setelah melipatnya, dia membuka satu kresek lagi dan melihat dress biasa yang akan dia pakai ke pesta Melly. Nara sedikit menyesal sudah menolak dress merah yang ingin Daffa belikan untuknya.
"Tidak apa - apa, dress ini juga cocok, aku tidak boleh menyesal, aku harus banyak - banyak bersyukur." Nara mengusap air matanya yang tidak sengaja jatuh. Namun lama - lama air matanya berlinang deras dari pelupuk matanya yang dari tadi berusaha ditahan. Tangis Nara perlahan pecah. Menangis diam - diam di belakang baby Alan karena merindukan Almarhum ayah dan Ibunya. Nara merasa tidak punya arah dan jalan setelah orang tuanya meninggal.
Tetapi saat ini, Nara bersyukur ada baby Alan yang membuatnya punya tujuan hidup hingga bisa bertahan sampai sekarang.
__ADS_1
Selepas mengenang orang tuanya, Nara beranjak ingin mandi, namun kepalanya kembali terasa sakit. Sontak saja ia menoleh ke pintu kamarnya yang dibuka oleh Ezra yang baru pulang. Seketika itupun Ezra terbelalak melihat Nara jatuh pingsan ke lantai. Kresek - kresek belanjaannya pun dijatuhkan dan segera menghampiri Nara.
"Hey, Nara! Nara! Kamu kenapa?!"
"Woy, jangan bikin orang panik dong!"
"Nara! Bangun!! NARA!!"
Tetap saja gadis itu tidak sadarkan diri. Gara - gara teriakan Ezra yang tinggi itu pun baby Alan terkejut dan menangis. Ezra bergegas mengangkat Nara ke sebelah baby Alan yang tambah menangis kencang.
Huwaa… huwaa…huweee....
Ezra yang panik pun mengambil anaknya, membujuknya untuk tenang sambil menelpon Dokter dan memandangi Nara yang sudah setengah pucat karena demam tinggi.
"Mama… papa…." Ezra terkesiap melihat Nara mengigau dan memanggil orang tuanya sambil meneteskan air mata hingga hati Ezra pun mendadak bergetar. Antara kasihan dan sedikit bersalah ke istrinya yang sudah yatim piatu itu. 'Apa aku memang sudah keterlaluan tadi?' batin Ezra bingung sendiri.
...
Lebih dari keterlaluan bambang😑dihina + ancaman memang pantas Nara jatuh sakit karena banyak pikiran dan capek berjuang melahirkan baby Alan🤧tanpa kehadiran orang tuanya😞dan kamu tidak menghargainya, dan tidak menganggapnya hidup untuk anakmu.
Sabar ya Nara, suatu saat ada pangeran yang tulus untukmu😘bilang saja ke author kalau mau ganti suami hehehe...
Canda.
Bersambung....
Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + favoritkan supaya aku semangat melanjutkannya. Sayonara minna...
__ADS_1