Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
80. BAB 80 - BAWA PULANG


__ADS_3

"Hm... begitu rupanya," gumam Samudra mangut - mangut mendengar semua penjelasan dari Ezra soal masalahnya selama ini.


"Ini memang agak sulit, bahkan aku sendiri lumayan pusing memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah kalian ini. Tapi syukurlah Elipsean II sudah diselamatkan."


Samudra yang tadi emosi pun akhirnya bisa tenang mengetahui sekolah yang dibangun ayahnya tidak dirusak oleh pengaruh dari luar yang tidak mau bertanggung jawab. Sekarang matanya itu menatap ke Vano, akar dari semua masalah yang datang.


"Maaf," ucap Melly kemudian mencubit Vano supaya ikut minta maaf.


"Ah maaf, saya menyesal." Vano terpaksa setengah membungkuk demi bayinya di dalam perut Melly tidak menanggung kemarahan Samudra.


"Aishhhh.... pantas saja Mahendra jatuh sakit, dia pasti selama ini banyak memikirkan nasib kalian," desis Samudra pun tahu saudaranya itu demam tinggi dari sebuah balasan saudaranya yang diterima tadi.


"Kira - kira, abang Sam bisa kan bujuk Tante Melissa?" tanya Daffa tidak tega Nara dan bayinya ditelantarkan dari keluarga Van.


"Hey Daffa, bisa tidak, kamu berhenti perhatian ke istriku? Aku kan suaminya, tidak perlu kamu mencemaskan Nara," ucap Ezra.


"Hey Za, aku ini unclenya baby Alan juga. Aku bicara begini artinya sayang sama baby Alan. Aku tidak tega melihat bayi Nara hidup seperti ini, kalau kamu sih tidak masalah bagiku. Mau jadi miskin di luar sana pun aku sudah tidak peduli lagi," timpal Daffa.


"Sudah dong, jangan bertengkar dulu," tahan Nara kepada dua cowok yang selalu saja berdebat hal sepele. "Memang tidak berguna kalian berdua." Cerca Vano. Daffa dan Ezra pun saling membuang muka di depan baby Alan yang ada pada Nara. 'Hadeh, lama - lama aku plaster kalian bertiga di dalam satu tempat,' batin Nara pun sedikit kesal. Kecuali Garce tidak ada sebab gadis itu masih sibuk mencari - cari informasi seputar blackwolf dari geng gosipnya yang sudah dibentuk kemarin.


"Aku bisa bantu, tapi sekarang belum saatnya," ucap Samudra bersandar di kursi Mahendra dan tersenyum tipis ke lima anak didik Mahendra beserta ia gemas melihat keponakan kecilnya itu. Memang Samudra itu killer, tapi kalau jiwanya balik lagi seperti sediakala, dia akan jadi lembut seperti marsmellow yang manis. Mereka semua mengingatkannya pada masa - masa sekolahnya dulu.


"Tidak usah, Bang. Aku tidak mau balik lagi ke sky house. Aku pasti bisa seperti bang Sam yang hidup tanpa bantuan Mami," tolak Ezra sudah tidak minat bertemu Ibunya.


Seketika kepalanya dijitak Daffa dan Vano.


"Hadeh, apaan sih lo?" ringis Ezra lumayan sakit.


"Cuma sedikit meluruskan sesuatu di dalam kepalamu," kata Vano mendengkus.


"Dan aku cemas otakmu geser hari ini," ucap Daffa menyindir Ezra yang masih tidak mau mengubah pendiriannya.


"Kejam banget sih kalian!" umpat Ezra melotot.


"Sudah, jangan bikin emosi saya meledak lagi, sekarang kembali ke kelas kalian, nanti pulang kita bicarakan ini," seloroh Samudra memerintah bagaikan Mahendra saja.

__ADS_1


"Cih, baik!" Daffa, Ezra dan Vano pergi duluan dari ruang kepsek. Melly pun juga menyusul mereka. Tinggal Nara dan baby Alan masih di hadapan Samudra.


"Ada apa, Nara?" tanya Samudra.


"Maaf, gara - gara saya melahirkan -"


"Jangan menyesal, semua sudah takdir. Lebih baik pergilah belajar dan berikan anakmu pada saya, biarkan saya yang menjaganya di sini. Bahaya jika blackwolf mencurigai baby Alan ada hubungannya dengan keluarga Van."


"Baik, terima kasih, kak." Nara memberikan baby Alan. Sebelum pergi, Nara sedikit tersenyum lega ke Samudra yang menerimanya tanpa pengecualian. Setelah Nara pergi, kini baby Alan menengadah ke Samudra, terkejut melihat satu unclenya itu menangis.


"Pappa...." lirih baby Alan toel dagunya.


"Astaga, aku tidak sengaja memperlihatkan ini padamu, baby." Samudra menyeka air matanya. Ia sedang menangisi adiknya yang sudah punya anak dan istri duluan.


"Mamma...." rengek baby Alan lagi.


"Ya baby, tenang saja, tunggu uncle nikah terus memberimu mama baru," cium Samudra ke pipi gemoy keponakan kecil itu. Namun baby Alan mendadak menangis, bukan itu maksud dari rengekannya itu.


"Huwaa.... huwee...."


"Kamu kenapa, baby?" Samudra berdiri, menepuk - nepuk lembut pundaknya.


"Tidak salah lagi, anak - anak ini pasti anggota blackwolf." Samudra diam - diam mengikuti kelompok siswa yang pergi ke lorong sekolah yang sepi sembari merelakan jari telunjuknya itu dilahap mulut kecil baby Alan. Ternyata bayi kecil itu merengek karena haus.


"Apa yang mereka lakukan di sana?" gumam Samudra melihat kelompok itu sedang mengepung seseorang.


"Ahhh!"


Baby Alan terkejut, ia mengenal suara jeritan cewek di sana yang tidak lain adalah Garce yang dibawa paksa oleh kelompok blackwolf. Garce yang tadi izin ke toilet tidak menyangka dicegah oleh mereka. Sepertinya blackwolf mulai bertindak diam - diam ke salah satu osis sekolah. Mereka mengincar Garce untuk mencari tahu informasi tentang twilight.


"HEY!" teriak Samudra begitu lantang sampai baby Alan sontak takut dan menangis.


"Pak Mahendra?" Garce menoleh ke Samudra yang merah padam. Tetapi blackwolf tidak gentar, mereka tidak takut kepada pria yang dikira kepseknya itu.


"Baby, tenanglah, jangan menangis," ucap Samudra jadi bersalah teriak tadi.

__ADS_1


"Huwee... mamma..." rengek baby Alan sampai menggigit jari Samudra.


Sebelum mereka menyeret Garce, Samudra pun terpaksa meletakkan baby Alan sebentar di dekat tembok kelas.


"Nak, kamu di sini dulu, jangan kemana - mana, okeh?" ucap Samudra tidak mau baby Alan terlimbat, ia pun bergegas menghampiri blackwolf.


"Sial, ayo cabut!" Mereka berlarian pergi.


"Hey, saya sudah tandai wajah kalian, tunggu laporan ke rumah kalian, dasar berandalan!" ujar Samudra ke mereka ingin mengejar tapi Garce menahan.


"Jangan, Pak."


Samudra pun mendengkus, jiwa masa mudanya meronta - ronta ingin sekali menertibkan anak - anak blackwolf.


"Kamu tidak apa - apa?" tanya Samudra melihat gadis bule itu yang masih ketakutan.


"Terima kasih, saya sudah tidak apa - apa, Pak. Tapi bagaimana dengan anda? Kenapa datang ke sekolah? Bukannya anda sedang sakit?" tanya Garce bertubi - tubi karena heran pujaan hatinya ada di sekolah.


"Nanti saya jawab itu, sekarang kamu perlu ke uks. Lihatlah lututmu berdarah, kamu pasti habis jatuh waktu dikejar mereka, kan?" tebak Samudra menunjuk ke bawah.


"Ya, Pak. Maaf jadi merepotkan anda."


"Tidak masalah." Samudra pun membantu Garce yang sedikit pincang itu ke uks dan tampak keduanya lupa pada sesuatu.


"Utiii...." panggil baby Alan ke Garce namun ada siswi yang menggendongnya dan langsung membekap mulut anak kecil itu dengan roti tawar.


"Hey bocil, lihat siapa yang sedang bersamamu," ucap siswi tersenyum smirk ke baby Alan yang menangadah. Mulut kecil baby Alan terbuka lebar - lebar sehingga roti tawar jatuh dari mulutnya. Baby Alan tidak sangka yang ingin dia cari sudah ada bersamanya.


"Hey Pret," panggil seorang siswa datang ke arahnya.


"Woy bang, bisa nggak panggilnya adek? Atau panggil Pretty kek! Bukan Pret!" celetuk Pretty ke kakaknya yang datang entah dari mana itu.


"Huaaamm, sorry mulut gue kadang keseleo jadi susah panggil nama lo, Pret," ucap Kendra sedikit mengusap kemudian mengernyit ada bayi gemoy. Kendra tampak baru bangun tidur dari tempat rahasianya yang sulit ditemukan oleh pihak sekolah dan anak twilight karena lokasinya tidak tertera di peta sekolah.


"Weh, anak dari mana lagi yang lo pungut ini?" tanya Kendra mendekati wajah Baby Alan yang sedikit tidak familiar. Baby Alan mengulas senyum lebarnya bisa melihat dekat uncle tampan dari Ibunya itu.

__ADS_1


"Tau ah, gue mau bawa dia pulang."


.


__ADS_2