Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
71. BAB 71 - AHH ABANG!


__ADS_3

"Maaf... maafkan aku." Ezra meneteskan air mata. Kenan maju, ia menyeka air mata adiknya.


"Hiks... maaf -" putus Ezra mulutnya dibungkam dengan satu jari Kenan.


"Ezra, kalau mau nangis jangan sekarang dan kalau mau merengek bilang huwee..." Kenan memperagakan suaranya.


"Huwee?" ucap Ezra berhenti terisak.


"Ya... bilang huweee..." Mereka kompak ikutan juga.


"Sebentar, kok tiba - tiba bahas huwee? Apa maksudnya ini?" tanya Ezra curiga kalau cerita itu palsu dan cuma memancing air matanya keluar.


Elvan menepuk bahu Ezra dan tersenyum. "Ezra, tolong kali ini kamu kerjasama dengan kita." Yang lainnya setuju supaya Ezra menurut.


"Kerjasama buat apa?" tanya Ezra kembali menghisap dotnya.


"Luluhkan hati Mami kita." Semua serempak menjawab. "Hadeh, kenapa aku yang jadi korban sandiwara kalian?" tanya Ezra agak ragu rencana ini berhasil atau tidak.


"Yaiyalah, masalah ini datang karenamu! Coba saja kamu tidak embat Nara malam itu, kita juga tidak perlu repot - repot mengubahmu jadi bayi raksasa begini," ucap Elvan mendengkus.


"Tapi kan ini semua gara - gara Vano!" ujar Ezra marah disalahkan terus. Semuanya mau membentak, namun seketika diam mematung ketika suara Melissa memecah kericuhan di kamar itu.


"Vano? Siapa Vano?" tanya Melissa datang.


"Mami?" lirih Ezra membola wanita itu benar - benar pulang ke sky house bersama tongkatnya yang menyeramkan itu.


"Ezza?" Melissa terkejut ukuran si bungsu sudah kembali normal.


"EZZAAAAA!" Melissa masuk memeluknya. Ezra pun terkesiap, wajahnya mendarat di tengah belahan dada Ibunya yang masih montok itu. 'Ahh empuknya.' Batin Ezra dan tidak sengaja keceplosan panggil istrinya.


"Naraku..."


Deg


Semua saudaranya yang tadi lega langsung gelisah sebab nama itu keluar tiba - tiba. Sontak saja Melissa melepaskan Ezra, menatap curiga.

__ADS_1


"Naraku? Siapa itu?"


Ezra mengatup mulutnya lalu melirik kakak - kakaknya memberi kode.


"Huweee..... mammi." Mereka menahan tawa melihat Ezra merengek seperti baby Alan. Sedangkan Melissa cemas melihat anak kesayangannya tiba - tiba menangis.


"Kenapa kamu, nak?" tanya Melissa dengan suara keibuannya.


"Huweee.... susuh... mammi." Karena tidak bisa menahan tawa, Elvan dan semua adiknya keluar membiarkan Ezra bersama Melissa di kamar itu.


"Hahaha.... anak itu gampang sekali dikerjai." Mereka baru tertawa di depan ruangan introgasi Reyhan. Namun sesaat, tawanya sirna melihat Reyhan ambruk dan tidak berdaya.


"Kevin, apa yang terjadi padanya?" Mereka bertanya ke Kevin dan terkejut ke Reyhan yang mulutnya berbusa.


"Apa yang terjadi sampai mulutnya berbusa, Dokter?" Mereka pindah bertanya ke Dokter cantik. Takut kalau Melissa melakukan hal jahat.


"Tenanglah, dia cuma keracunan," ucap Kevin sembari memijat bahu saudaranya itu.


"Cuma? Kamu bilang cuma keracunan?" Mereka tercengang.


PLAK


Kevin menepis Devan, mendengus sebal.


"Hey sialan, Reyhan itu keracunan fakta! Keracunan fakta!" kata Kevin menunjuk Reyhan yang mengusap ilernya sampai kering.


"Dan bukan keracunan obat," sambung Dokter cantik yang berkeringat dingin diberi fakta juga tentang dirinya dari mulut pedasnya Melissa. Kalau ia tidak cocok seratus persen dengan Reyhan.


"Cih, mana mungkin Mami tega membunuh anaknya sendiri, buang jauh - jauh pikiran kalian itu." Kevin mencibir, sebab kesal cuma sendirian saja mengawasi Melissa.


"Syukurlah," hembus mereka lega lalu meneluk bahu si Dokter cantik supaya bersabar dari ucapan Melissa.


"Oh ya, kenapa kalian ada di sini? Siapa yang jagain, Ezra? Apa Mahendra sudah datang juga?" tanya Reyhan dan Kevin.


"Eh astaga!" Mereka terkejut baru ingat sudah lama meninggalkan adiknya itu. Mereka pun menatap cemas. Benar saja, sesuatu keributan terdengar dari luar dan teriakan Ezra memecah keheningan rumah.

__ADS_1


"Ahhhh ampun Mami!"


EZRA!


Mereka semua lari mencari Ezra. Sontak berpapasan dengan adiknya berpopok itu yang cuma pakai sarung dan jaket sahaja. Di belakangnya ada Melissa dengan mata berapi - api dan rambut melayang - layang ke udara. Di tangannya ada tongkat dan satunya ada sebuah foto.


"AHH ABANG! TOLONGIN GUE!" Ezra bersembunyi di belakang semua kakaknya. Ia ketakutan sebab Melissa sangat marah mendapati foto Nara bersama baby Alan dan surat pernikahan anak bungsunya itu.


"Ezraaaa! Sini kamu!" kelakar Melissa. Mengira mereka bisa menolongnya, Ezra malah ditarik turun ke bawah beserta si Dokter ditarik juga.


"Hey! Sini kalian! Jelaskan siapa gadis dan bayi yang mirip sama Ezra ini!" Melissa menuruni anak tangga dan melempar tongkatnya.


DUAK


Semua anak - anaknya membisu hampir mengenai tongkat Melissa yang tertancap ke tembok. Tongkat yang ujungnya terdapat mata pisau yang tajam. Si Dokter cantik menelan ludah bisa melihat watak asli calon mertuanya yang lebih galak dari singa afrika.


"Elvan, mami... mami sudah hilang kendali! Lakukan sesuatu!" Adik - adiknya merengek ke Elvan yang antara takut dan mau maju.


"Elvan, mana Mahendra?!" Melissa berhenti, ia mencari anak ketiganya itu. Ketika mau dijawab ada di sekolah, tiba - tiba yang dicari sudah ada di pintu utama.


"Mahendra di sini, Mami."


Mata Melissa beralih cepat ke satu anaknya itu. Dua - duanya saling bertatap dengan sinis tanpa adanya ketakutan. Tentu Mahendra sudah menyiapkan semuanya dari awal sampai sekarang dan sudah siap menerima tindakan Melissa.


"Woah, Mahendra." Mereka tersenyum lega sang penolong pulang tepat waktu. Namun setelah Mahendra berdiri di hadapan Ibunya, sontak saja wanita itu melayangkan satu tamparan.


PLAK


Ezra dan semua kakaknya terlonjak di tempat. Mahendra yang ditampar, mereka yang merasa kesakitan. 'Tamatlah riwayat kita.' Mereka sama - sama meneguk saliva. Sedangkan Garce di luar rumah, memeluk tubuhnya yang menggigil ketakutan mertua Nara amat sangat menyeramkan.


'Ya Tuhan, bagaimana nasib Nara nantinya?' pikir Garce mencemaskan Nara dan baby Alan yang juga sama - sama cemas di dalam mobil Vano.


....


😢

__ADS_1


__ADS_2