Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
60. MHB BAB 60 - BUKAN YANTI


__ADS_3

Cklik!


Nara masuk ke kamarnya, menatap ke bawah terus. Ia masih memikirkan Garce, sahabatnya yang mungkin sekarang ini tiba di bandara.


"Semoga saja Garce dan orang tuanya belum naik pesawat." Nara menutup kamarnya lalu terkejut putra kecilnya itu sudah bangun dan bebas tengkurap. Cucu Melissa Van Klaveren itu sesekali mengangkat satu tangannya, meminta digendong.


"Mammah..."


"Hmmm.... anak siapa sih kok pintar banget bisa tengkurap sendiri."


Nara duduk di pinggiran tempat tidur. Mengambil baby Alan dan mencium - cium gemas mulut mungil yang mirip seperti Ezra. Cup cup.


"Mammah...." Sekali lagi baby Alan bicara walau masih belum jelas.


"Mama ya? Kalau Papa tidak disebut nih?" Goda Nara mengajak putranya bicara. Senang sekali baby Alan sudah bisa bicara dan melakukan beberapa gerakan meski belum lincah. 


"Mammah...!" Baby Alan tersenyum ceria dan melahap hidung mancung Nara.


"Aduh jangan makan hidung Mama, baby,"


"Kalau hilang nanti Mama tidak bisa nafas,"


"Kyahaha...." Tawa baby Alan melihat Ibundanya cemberut.


"Shttt... jangan berisik, baby." Nara meletakkan jarinya di mulutnya sendiri, sehingga baby Alan mengatup mulutnya juga. Tingkahnya sangat menggemaskan bisa mengikuti tingkah lucu Ibundanya.


"Coba lihat Papa Ezra masih tidur, kita tidak boleh bicara, mengerti baby?" Senyum Nara pun menahan tawa melihat sang bayi tercinta mengedipkan mata. Sepertinya paham maksud ucapan dari Ibunya.


Baby, seandainya Nenek dan Kakek masih hidup, mungkin saja mereka senang mengajak bercanda cucunya yang manis ini.


Nara mencium kening baby Alan cukup lama. Setelah itu tersenyum bahagia lalu melihat suaminya yang terlentang dengan mulutnya yang terbuka. Kalau saja ada pisang raja, Nara ingin sekali mengerjainya.


"Ckckck, sudah jam sempuluh masih saja tiduran, mau jadi apa kamu nanti, Ezra?" Nara meletakkan baby Alan di kasur. Dua mata indah yang mirip Ezra itu mengamati Nara yang berdiri dan mengambil sesuatu di dalam laci.


Alis baby Alan terangkat ke atas melihat mommy cantiknya itu pergi ke sisi ranjang. Di tangannya pun terdapat sebuah spidol besar. Baby Alan kembali tengkurap, dengan dua lutut dan tangan kecilnya, ia bergerak lambat ke arah wajah daddy tampannya itu yang sedang diukir.

__ADS_1


Baby Alan pun terheran - heran melihat hidung papanya dibulatin pakai spidol. 


"Aduh jangan ganggu, Mama lagi kasih pelajaran dulu ke Papa tukang tidurmu ini, baby." Kata Nara ke putranya itu yang hampir memasukkan jari mungilnya ke lubang hidung Ezra.


"Pappah...." Dibilangin jangan ganggu, baby Alan malah mendaki ke leher Ezra. Tampaknya si bayi gemoy itu tidak mau diajak kerjasama dan sekarang ingin tertawa melihat wajah Papanya banyak garis hitam berbentuk kumis kucing.


Sebelum tawanya pecah dan Ezra dibuat bangun, Nara cepat - cepat meletakkan spidolnya di dada suaminya kemudian mengambil baby Alan. Menidurkan putra kecilnya di kasur yang cukup jauh dari Ezra.


"Tetap di sini dan jangan ke sana, okey?" kata Nara menghentakkan kakinya. Senyum baby Alan melebar. Nara pun secepatnya menyumbat mulut putranya pakai dot. Hingga tidak jadi tertawa dan asik menghisap. 


Sudah yakin tidak diganggu, Nara pun menatap wajah suaminya. Ukirannya itu cukup terlihat lucu namun masih belum terasa puas.


"Hm... seperti ada yang kurang." Nara berbalik badan diiringi tatapan baby Alan memandangi punggung Ibunya itu yang sedang mengambil alat make upnya.


Baby Alan menyipitkan matanya ke Nara yang berlutut di sisi ranjang dan memolesi sesuatu ke pipi ayahnya itu. Bayi gemoy itu pun memiringkan tubuhnya sembari menghisap dotnya dan asik memperhatikan Nara yang sibuk merias.


Alisnya pun mengkerut gara - gara mengikuti Nara yang juga sedang mengernyitkan dahi.


"Pufttt... ternyata dipoles begini lumayan juga dilihat tapi seperti apa ya?" gumam Nara menahan tawanya. Setelah puas, ia pun berdiri untuk menyimpan alat make upnya. Tanpa disadari, baby Alan membuang dotnya lalu merayap cepat ke Ezra. Bayi gemoy itu tersentak karena tidak ada kumis kucing melainkan ada wajah asing.


Seketika Nara menengok ke belakang ketika tangis putranya pecah. "Huwaa.... huweee...." Tangis baby Alan ketakutan.


"Huweee...." Tangis baby Alan lalu kembali menggigit hidung mancung Ezra.


"Aduh kenapa kamu, baby?" Kaget Ezra membuka mata, rasanya lumayan sakit karena gigi putranya sudah tumbuh satu biji.


Bukannya diam, tangisnya semakin kencang. Ezra beranjak duduk lalu memberikan baby Alan ke Nara.


"Kenapa dengannya?" tanya Ezra ke Nara yang sedang diam dan susah payah menahan tawanya.


"Ish, aku tanya harusnya dijawab bukan malah senyum - senyum begitu." Ezra lalu berdiri. Ia tidak tega baby Alan merengek jadi berniat mau memanggil Reyhan. Mengira putranya rewel pagi ini pasti sedang sakit, harus segera diperiksa sekarang.


"Kamu tidurkan dia dulu, aku mau panggil bang Reyhan," ucap Ezra membelai baby Alan yang tambah menangis. Takut sama rupa Ezra yang beda.


"Waduh, bisa gawat ini." Nara secepatnya menyusui baby Alan seraya memikirkan reaksi lucu semua iparnya ketika menjumpai Ezra.

__ADS_1


Benar saja, sekarang uncle - uncle baby Alan sedang berkumpul membicarakan niat Vano dan Melly yang meminta dinikahkan beserta membahas tentang sekolah ELIPSEAN I. Sekolah yang dulu pernah dimasuki oleh Devan, Kevin dan dua kakak kembarnya.


Hanya empat saja yang dulu bersekolah di sana dan sisanya di ELIPSEAN II. Ke empatnya dulu bukan cuma belajar di sana tetapi masing - masing punya kelompok dan saling memusuhi demi mencapai kasta tertinggi. Ada empat kubu serigala di dalam ELIPSEAN I. Ialah serigala barat, utara, selatan dan timur. 


Kevin yang mendapat informasi dari teman kubunya dulu, bahwa sekarang di sekolah itu hanya berdiri satu kubu dan itu blackwolf. Tiga kubu lainnya sudah dihancurkan dua tahun lalu.


"Kalau saja kita masih memimpin tiga kubu ini, mungkin blackwolf tidak mudah menghancurkannya," ucap Devan seingatkan blackwolf tidak bisa meruntuhkan kubunya, ketua serigala putih di kubu timur.


"Mungkin pemimpin ketiga kubu sekarang tidak sekuat kita dulu jadi gampang diserang," sahut Kevin pemimpin di kubu selatan, serigala merah.


"Memang cocok kalau Mahendra ikut ke sana, ia dulu pimpinan di kubu utara bersama Samudra." Sahut Elvan karena duo twin adiknya itu dulu berada di urutan paling atas. Kubunya ditakuti oleh blackwolf.


Namun setelah Samudra dan Mahendra lulus duluan, blackwolf yang sudah menahan diri pun bergembira karena tinggal menunggu lulusnya Kevin dan Devan juga. Setelah ke empat bersaudara itu sudah lulus semua, saatnya blackwolf kembali berulah karena pengganti ketua tiga kubu sangat lemah dan mudah dijatuhkan kakaknya Kendra. 


Setelah kakaknya lulus, Kendra pun masuk ke sekolah itu. Tidak ada anak Van Kleveren yang masuk ke ELIPSEAN I, sebab pada saat itu, trio biawak dimasukkan ke ELIPSEAN II untuk menghalau blackzak seperti blackwolf. Alias mereka mengganti Elvan dan Reyhan memimpin Ozara.


Vano dan Melly cuma berdiam diri, duduk menyimak saudara - saudara Ezra yang masing - masing punya pengaruh di ELIPSEAN I dan II. Ia masih ingat bagaimana si trio biawak mencoba menghancurkan blackzak namun dengan kegilaannya, trio biawak sulit menjatuhkan Vano karena si Zehan yang penakut jadi beban di Ozara. Setelah trio biawak lulus sekolah dan gagal hancurkan blackzak, saat itulah Vano berniat tinggal kelas menunggu Ezra yang katanya punya tenaga mirip Mahendra. Ia sudah menyediakan jebakan Ezra agar bisa mengancamnya dan mempertahankan blackzak sampai Ezra lulus. Tetapi sekarang jebakannya sia - sia akibat ulahnya sendiri yang bodoh jatuh cinta ke salah satu anggota musuhnya. Dengan bantuan Melly, Ezra berhasil hancurkan blackzak dan Vano sekarang jatuh ke tangan twelve brothers. 


Saat mau Vano bicara soal niatnya minta tolong ke mereka untuk jadi wali nikahnya, tiba - tiba Ezra datang.


"Woy! Reyhan mana? Kenapa di kamarnya masih kosong? Apa dia belum pulang?" tanya Ezra jalan sambil menguap panjang.


Sontak suasana yang tegang gara - gara membahas blackwolf, akhirnya sirna dengan tawa semua orang.


"Hahahahahahaa...." Si kembar lima terpingkal - pingkal.


"Wkwkwk, siapa ini?" Tunjuk si trio biawak.


"Lah, tante dari mana ini?"


Elvan tertawa juga. Sedangkan Vano dan Melly ikut menertawai riasan tebal di wajah Ezra yang nampak menggelikan.


"Hah? Tante? Woy! Gue ini cowok tulen! Enak saja panggil gue tante - tante! Emang gue terlahir sebagai Yanti? Nih, gue punya pusaka di dalam celana!" Sentak Ezra marah. Tapi semua orang masih tertawa dengan pose yang berbeda. Ada yang tampol kepala, guling - guling, jingkrak - jingkrak dan bahkan menggila.


"Wkwkwkwk, begini jadinya kalau bangun tidur tidak pergi cuci muka dulu, habis tidur mukanya kayak badut, hahahaha ...." Kekeh si trio memegang perut yang sakit, capek menertawai adik kecilnya. Mereka yakin ini ulah Nara atau baby Alan.

__ADS_1


.


🤣🙏Sorry Ezra.


__ADS_2