Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
64. MHB BAB 64 - NENEK DATANG


__ADS_3

Esok paginya, jam lima subuh. Hari yang ditunggu - tunggu pun tiba. Enam siswa baru ELIPSEAN l mulai satu - satu bersiap untuk ke sekolah. Nampak Mahendra memakai cincinnya dan sudah lengkap dengan jas hitamnya yang menawan.


Di kamar Vano dan Melly, pasangan satu ini juga sudah bangun. Keduanya kemarin telah sepakat akan menikah setelah mendapat restu dari si Dokter cantik yang belum siuman.


"Vano, aku sudah siapkan air di dalam, kamu masuk duluan mandinya," ucap Melly ke calon suaminya itu yang mengamati dua anting dan kacamata dari Mahendra.


"Kenapa? Kamu takut pakai itu?" tanya Melly berdiri di sebelah Vano.


Vano pun mengambil kacamata, memakaikan ke Melly. Sontak tertegun karena kacamatanya cocok sekali.


"Kamu cantik, sayang."


"Ih jangan tiba - tiba rayu aku." Cubit Melly ke pinggang Vano.


"Siapa yang rayu? Aku jujur kamu cantik." Kecup Vano ke kening Melly. Membuatnya bersemu merah.


"Terima kasih." Senyum Melly kemudian meletakkan kacamatanya ke atas meja.


"Ahhh." Kagetnya mendadak dirangkul.


"Ish Vano, jangan bikin orang jantungan." Ketus Melly sedikit berdebar-debar ditatap.


"Ayo kita mandi bersama, sayang," ajak Vano mencium beberapa helai rambut Melly.


"Mandi bersama?" Melly seketika merinding.


"Ya, aku mau kita mandi bersama, siapa tahu aku ingat semua kenangan kita," ucap Vano cari kesempatan dibalik pura - pura amnesianya.


"Baiklah, tapi jangan macam - macam." Melly terpaksa setuju sebab dia sudah terbiasa mandi bersama dengan mantan ketua blackzak itu. Ia awalnya cemas karena Vano seringkali mengajaknya ehem - ehem di dalam bahtubh tapi Melly yakin sekarang Vano tidak akan begitu. Namun mau bagaimana pun berharap, Vano tetap memohon dilayani. Ck, udah kebiasan jadi susah hilangnya. Melly lagi bunting, masih saja minta dipuaskan.


Sedangkan di kamar sebelah, Ezra mandi sendirian karena Nara sibuk urus baby Alan. Keluar masuk kamar akibat kerepotan baby Alan yang suka merayap ke luar kamar saat Nara berdiri membuatkan susu formula untuknya.


Cklik!


Ezra yang selesai mandi mengerutkan dahinya melihat putra kecilnya itu terlentang sendirian di lantai yang beralas kasur saja.


"Baby, mana Ibumu?" tanya Ezra berdiri di hadapan baby Alan yang lagi menghisap - hisap susunya. Tapi baby Alan berbaring tidak mau diajak bicara dulu.


"Lah, pintar sekali nih bocah gendut cuekin Bapaknya," kesal Ezra gemas kemudian berbalik badan mau pakai baju yang sudah disiapkan Nara di atas ranjang.


Cklik!


Nara masuk dan tanpa sadar tidak menutup pintu kamar. Ia mendekati Ezra dan membiarkan baby Alan yang asik menyedot susunya melirik ke pintu yang terbuka.


"Za," panggil Nara berdiri di sebelah Ezra yang masih pakai jubah mandi dan lagi meneteskan vitamin di rambutnya.


"Hmm... kamu dari mana saja?" tanya Ezra.


"Dari kamar Garce sih, tanya - tanya soal ELIPSEAN I," jawab Nara ambil handuk waktunya mandi.


"Kenapa tanya ke dia? Kan bisa tanya ke aku," ucap Ezra cemberut.

__ADS_1


"Kemarin mau tanya ke kamu, tapi kamu sibuk bicara sama saudara-saudara mu, terus tadi mau tanya, tapi kamu langsung pergi mandi." Nara tersenyum sedih karena Ezra mulai sekarang pasti sibuk ngurus blackwolf daripada luangkan waktu buat baby Alan.


"Hehe... maaf ya," ucap Ezra cengengesan dan garuk - garuk kepala.


"Ya, aku mengerti kok. Aku mandi dulu ya, tolong jagain baby Alan." Nara masuk ke kamar mandi tanpa melihat baby Alan yang sudah tidak berada di tempatnya.


"Yang!" panggil Ezra mengetuk pintu.


"Hmm... kenapa?" tanya Nara yang hampir selesai mandi. Sedikit teriak karena guyuran dari shower agak menutupi pendengerannya.


"Jaket sama senpak aku tidak kamu sediakan?"


"Sudah kok, semuanya sudah ada di atas ranjang kok, Za." Nara teriak.


"Kamu keluar deh, lihat sendiri tidak ada dua - duanya."


Cklik!


Nara keluar membuat Ezra terpana dengan istrinya yang segar menggairahkan. Jadi membangunkan si junior. Tapi seketika tersentak karena Nara tampak syok.


"Astagfirullah, Za! Baby Alan mana?"


Deg


Ezra menatap ke lantai, tidak ada putranya di atas kasur empuknya itu.


"Eh buset, aku baru sadar!" Ezra dan Nara pun cepat - cepat pakai baju dan celana dulu. Ezra juga pakai senpak yang lain. Keduanya keluar mencari si bayi kecil.


"Bang, bantuin kita cari baby Alan," pinta Ezra.


"Emang kenapa harus dicari?" tanya Julian.


"Baby Alan tiba - tiba hilang, Kak," jawab Nara.


"What? Hilang?" Biyan dan Julian terlonjak, sedangkan Zehan memeluk dirinya sendiri.


"Jangan - jangan diculik hantu," ucap Zehan.


"Mana ada hantu di rumah ini, sekarang bantuin aku cari bocah itu daripada mikir takhayul." Ezra mendesak. Trio pun berlari ke tempat yang berbeda. Mencari dari ujung selatan sampai utara dicari - cari tetap saja tidak ada jejak.


"Berisik sekali, ada apa sih?" Kevin keluar dari kamarnya, disusul empat pintu kamar terbuka dan keluarlah saudara kembarnya yang lain.


"Woy, ngantuk banget nih, jangan berisik dong," tegur Davin si tukang tidur dan terus menguap. Namun mulutnya pun mengatup akibat Nara memohon.


"Kakak, tolongin kita,"


"Kenapa kamu, Nara?" tanya mereka langsung menjadi ipar lemah lembut.


"Baby Alan hilang, sudah dicari - cari tapi tidak ada." Nara memasang muka sedihnya.


"Baiklah, kamu tenang dulu, kita semua bantu carikan." Kevin, Reyhan dan Kenan mencari. Sedangkan Davin dan Devan memanggil Mahendra dan Elvan untuk ikut mencari. Gara - gara bayi kecil itu, membuat penghuni satu rumah panik semua.

__ADS_1


"Coba kita cari lagi."


"Baik, Kak." Nara menurut saja dan kembali mencari dari utara ke selatan. Tiba - tiba Mahendra memikirkan sesuatu. Matanya mengarah ke kamar si bungsu.


Mahendra pun ke sana, tetapi ia masuk ke kamar sebelah tanpa sepengetahuan semua saudaranya dan Nara. Kamar itu kamar orang tua mereka. Benar saja, baby Alan ada di dalam kamar itu dan sedang duduk seraya menangadah ke sebuah foto besar di tembok. Foto pernikahan kakek dan neneknya.


"Pappa.... " Rengek baby Alan mengangkat tangannya ke foto itu membuat Mahendra tertegun dan hampir saja meneteskan air mata karena baby Alan seperti Ezra yang dulu duduk diam menatap ke Almarhum ayahnya. "Huwee.... " Tangis baby Alan mengira di dalam foto pernikahan itu adalah Ezra yang menikah dengan wanita lain, bukan Ibundanya.


Cepat - cepat Mahendra mengambilnya, menggendong dan membujuk baby Alan.


"Pappa.... huweee... " Isaknya merengek ke Mahendra. "Cup cup cup, uncle di sini sayang, jangan menangis. Itu foto kakek dan nenekmu, mereka berdua orang tua papamu juga. Jangan menangis ya, kami tidak akan meninggalkanmu." Mahendra mengelus punggung kecilnya sampai baby Alan pun diam ketika pintu kamar mandi terbuka.


"Eh? Pak Mahendra? Kok.... " Garce terkejut langsung memeluk tubuhnya.


Mahendra pun membola, ia baru sadar kamar ini dipakai Garce. Apalagi gadis itu baru selesai mandi dan hanya pakai handuk yang membalut tubuh segarnya. Ini pertama kalinya Garce dilihat langsung dan Mahendra terpana dengan lekuk tubuh Garce yang sangat - sangat beda dari yang dulu. Dulu gendut berlemak, sekarang ramping bak model cantik.


Cklik!


"Nah tuh sudah aku bilang, pasti dia ada si sini!" Tunjuk Zehan karena sempat dengar tangisan baby Alan. Nara pun masuk mengambil baby Alan yang tengkurap di lantai dan di dekatnya ada jaket Ezra yang tadi diseret - seret.


"Huwee... pappa... mamma.... "


"Cup cup cup, maaf ya sayang," hibur Nara ke baby Alan yang merengek.


"Sini coba aku yang gendong, tadi aku yang salah lupa sama anak sendiri," pinta Ezra tapi baby Alan memeluk Nara dan tambah rewel.


"Huweee.... " Tangis baby Alan tidak mau sama ayahnya.


"Astaga Ezra, kamu ini berdosa banget. Ckckck, anak sendiri dibegituin. Ckckck, memang tidak berguna kamu ini. Kembali saja deh ke dalam perutnya Mami." Trio biawak mengejek Ezra yang ditolak.


"Sudah - sudah, jangan bertengkar pagi - pagi begini. Sekarang kembali ke kamar dan bersiap ke sekolah." Elvan si sulung memerintah. Semuanya pun meninggalkan kamar itu kecuali Nara, Ezra dan Zehan masih di depan kamar.


"Terima kasih, Kak," ucap Nara tersenyum manis.


"Ya sama - sama, dek, lain kali tolong lebih diperhatikan ya, tadi itu bahaya lho. Untung saja tidak ke arah tangga. " Zehan balas tersenyum simpul.


"Ck, si penakut ternyata pintar juga menasehati." Ezra berdecak, pergi ke kamarnya mau pakai seragam.


"Dasar tidak tahu diuntung!" umpat Zehan kesal ke Ezra.


"Maaf, lain kali tidak akan terulang. Permisi, Kak." Nara pun bergegas cepat menyusul Ezra dan segera memandikan baby Alan sebelum berangkat sekolah. Sebelum pergi ke kamarnya, Zehan menatap kamar Ibunya.


"Apa tadi aku salah lihat ya?" Zehan memang sempat melihat sekilas Mahendra masuk ke dalam kamar. "Tapi tadi kayaknya tidak ada orang selain baby Alan. Apa jangan - jangan itu arwah Papi?"


"Ahhhh..... " Zehan lari terbirit - birit karena Papinya memang lumayan persis Mahendra tapi Ezra yang lebih mirip sama Papinya. Karena itulah Ezra jadi anak kesayangan Melissa yang sekarang wanita itu sudah ada di Bandara.


.


🤣😭huweee nenek datang nih🤭


Like ya supaya kusemangat terusā¤

__ADS_1


Terima kasih, selalu ikuti ya ...


__ADS_2