
"Ya ... ya... Mamih, bayi itu bukan anak Kenan kok, bayi yang kukirim itu anak orang, Kenan cuma iseng - iseng doang supaya Mamih doakan Kenan cepat - cepat menikah."
Elvan, trio dan tiga kembaran Kenan itu menahan tawa. Berusaha agar sang Mamih tidak mendengar suara mereka dan sekalian menjepit mulut kecil baby Alan supaya tidak tertawa juga. Bayi tujuh tahun itu sedang duduk di pangkuan Elvan dan merengek mau bicara juga.
"Awas ya, kalau sampai Mamih dengar salah satu di antara kalian buat anak tanpa sepengetahuan Mamih, tunggu akibatnya." Kata Melissa dengan suara yang tegas dan menakutkan. Tetapi di telinga baby Alan, suara neneknya itu menggemaskan sekali.
Kalau saja Melissa tidak killer, Kenan sudah mau jujur tapi demi jantungnya tidak ditembak dan hidupnya tidak berakhir, terpaksa bohong dulu. Dia yakin hanya Mahendra yang mampu jelaskan ini pada Ibunya karena anak ketiga itu lancar soal berdebat.
"Sudah nih ngobrolnya?" tanya si trio ke Kenan yang cemberut sudah diomelin sampai dua jam.
"Cih, sudah." Kenan duduk setelah panggilan berakhir. Kini uncle - uncle tampan baby Alan mulai merundingkan sesuatu.
Di depan mereka sudah ada 16 tombol dengan warna yang berbeda. Hanya ada warna merah dan biru. Alat segi empat itu disediakan oleh Elvan si CEO yang mengusai bidang Teknologi. Masing - masing harus memilih satu warna untuk memutuskan apakah Vano tinggal bersama mereka dan memilih tetap di rumah Mahendra atau di rumah Melissa yang tidak lain berada tidak jauh dari kawasan elit. Rumah Melissa itu persis sekali dengan sky house. Mula - mula mereka bersama - sama memilih. Kecuali baby Alan ikut tepuk - tepuk tangan dengan riang mendengar uncle - unclenya bernyanyi.
"Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup!"
Trenggg...
"Kyahahaha..." Baby Alan tertawa melihat tombol - tombol dipukul. Tangannya merengek ingin ikut menekan juga. Tapi si Elvan mencegahnya tidak bergerak.
12 bersaudara itu saling menatap karena empat biru dan empat merah mendandakan perundingan seri. Trio dan Elvan setuju Vano tinggal bersama mereka dan tinggal di rumah Mamih, sedangkan si kembar lima lebih memilih tinggal di rumah Mahendra, tidak mau Vano menginjakkan kaki di mansion mereka yang sesungguhnya.
"Sekarang seri, jadi keputusannya tetap kita tinggal di sini dari pada di mansion Mamih."
Karena ini darurat, Elvan melepaskan baby Alan. Satu - satunya harapannya adalah baby Alan.
"Hahaha... dasar kamu, anak sekecil itu kamu kira bisa memihakmu?" Tawa si kembar lima. Namun kali ini Elvan tersenyum senang dan si trio terbelalak keponakannya memilih warna biru, itu keputusan yang tepat.
TREEENGGG...
"Kyahahaha...."
__ADS_1
TREEENGGG...
"What?" Si kembar tak habis pikir anak Ezra itu genius, beda sama bapaknya yang gendeng. Baby Alan sangat cerdas memilih keputusan dan sekarang asik pencet - pencet tombol.
Karena sudah diputuskan, mereka pun berkemas - kemas untuk pindah ke rumah Melissa. Baby Alan di umurnya yang ke tujuh bulan pertama kalinya melihat awan di langit cerah dan senang bisa bepergian bersama uncle - unclenya. Tangan - tangan pendeknya selalu bertepuk tangan bikin uncle - unclenya gemas pengen rasanya memakan bulat - bulat keponakannya siang ini.
Sedangkan di Belanda, Melissa tidak yakin. Akhir - akhir ini firasatnya selalu gundah. Khawatir anak - anaknya dalam masalah atau mulai bermasalah, alias keluar jalur dari jalan yang benar.
Melissa menelpon seseorang, meminta tiga hari ini disediakan tiket untuk ke Indonesia.
'Firasatku tidak pernah meleset, aku harus melihat mereka dengan mataku sendiri.' Melissa pergi ke kamarnya, menyiapkan apa saja yang perlu dibawa. Sekalian tongkat suaminya dibawa juga. Karena itu senjata penghukum untuk anak - anaknya yang jika sedang bermasalah. Terlihat biasa - biasa saja, tapi aslinya tongkat itu menyeramkan.
Sementara di sekolah, kepala sekolah mengumpulkan enam muridnya. Nara, Ezra, Vano, Melly dan Daffa dikumpulkan dalam satu ruangannya.
"Pak, saya ke sini cuma mau protes soal keputusan saya yang dikeluarkan, tapi kenapa Nara, Vano, Melly dan Daffa dipanggil juga?" tanya Ezra pada Kepseknya dan duduk di sebelah Nara. Sedangkan Vano duduk di dekat pacarnya. Hanya Daffa duduk sendirian dan masih tidak mau melihat mereka. Membuat Nara merasa sedih ketosnya mulai acuh. Padahal waktu itu Nara sudah minta maaf.
Cklik!
Mereka menoleh pada pintu ruangan dibuka, rupanya itu Garce lalu duduk di sebelah Daffa dan kebingungan karena dipanggil tiba - tiba.
"Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya ini penting." Nara mengulas senyum. Seketika Daffa berdecih karena Nara sangat mudah tersenyum pada Garce yang belum tahu rahasianya. Ezra mengkerutkan dahinya, merasa Daffa tampak membenci Istrinya. Tapi itu bagus juga sih karena istrinya tidak dikejar - kejar oleh cowok lain.
"Sejak kapan dia kurus?" gumam Vano baru sadar cewek yang ramping itu adalah si gendut Garce. Tiba - tiba pahanya dicubit.
"Aduh, sakit Melly!" Jerit Vano walau sebenarnya tidak sakit.
"Mata tuh dijaga!" cetus Melly mendengkus. Vano mencubit gemes pipinya yang sedang cemburu. "Ya sayang, aku jagain."
"Uhuk... uhuk... panas banget ya," batuk Ezra risih melihat mantan musuhnya itu bermesraan.
Sedangkan Daffa dan Garce mengernyit. 'Sejak kapan Vano akrab sama Melly?' pikir dua - duanya.
__ADS_1
Seketika pun, Kepsek mendehem.
"Ehem, apa semua sudah berkumpul?" tanya Kepsek.
"Memang semua ada berapa, Pak?" tanya Ezra.
"Ada enam orang yang perlu bapak sampaikan hari ini."
"Itu artinya ... adalah kami?" Daffa menunjuk diri sendiri. Kepsek mengangguk dan kembali bicara.
"Dari semua yang terjadi di sini, bapak ingin mengatakan setulus hati meminta maaf pada kalian," ucap Kepsek membuat enam murid kebingungan.
"Minta maaf soal apa?" tanya mereka.
"Kalian semua dikeluarkan."
Ha? Dikeluarkan?
Vano dan Ezra beserta Daffa berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan tiga cewek masih duduk dan sama - sama memegang dada karena syok dikeluarkan serempak.
"Pak, tolong ya kalau mau bicara itu diperjelas! Kemarin saya dinyatakan keluar, kenapa tiba - tiba mereka berlima ikut dikeluarkan? Ini tidak semestinya, Pak!" protes Ezra.
"Benar, saya tidak terima. Selama ini saya tidak pernah melakukan kesalahan, Pak," sambung Daffa juga protes.
"Pak, kalau dipikir - pikir lagi, saya yang harusnya dikeluarkan. Gara - gara ulah saya sekolah ini amburadul dan sudah banyak kesalahan yang saya lakukan. Bukan Daffa dan Ezra yang mestinya dikeluarkan, ini tidak adil bagi mereka, Pak!" lanjut Vano ikutan protes dan mencoba membela dua mantan musuhnya.
Melly cuma diam, karena berpikir kepsek sudah tahu dirinya hamil jadi bisa saja itu alasannya. Sedangkan Nara tidak masalah kalau dikeluarkan. Dia sudah terima itu. Sementara Garce malah berpikir, apakah gara - gara ambil suara untuk bubarkan blackzak saat itu adalah alasannya dikeluarkan. Tapi itu alasan yang bodoh, bukan?
.
Kasian ya mereka
__ADS_1
Awokawok
❤Like yuh