
"Selamat Nak Za, anda berhasil dipilih dari ratusan orang yang mendapaftar pada kami. Melihat potensi dan percaya dirimu kemarin, majikan kami langsung menunjukmu. Beruntungnya kamu bisa mendapat pekerjaan besar ini dan persiapkan dirimu untuk menemui anak yang akan kamu jaga selama bekerja sebagai bodyguard di keluarga ini."
"Anak? Saya bekerja hanya untuk seorang anak?" tanya Ezra yang berada di rumah besar keluarga kaya raya baru dan sekarang berjalan di samping asisten rumah.
"Memang terdengar konyol, tetapi anak yang kamu jaga bukanlah sembarangan anak biasa. Dia pewaris utama keluarga ini dan anak yang tidak ramah sekali."
"Mungkin sedikit akan mempersulitmu nanti." Asisten menjelaskan dan kemudian berhenti di depan taman rumah besar itu.
"Dia, Nona Kumize Yuu." Ezra mengalihkan arah matanya mengikuti telunjuk asisten. Seorang anak perempuan yang setinggi dengan Alan dan sedang duduk sendirian di atas ayunan di sana. Gadis kecil blasteran Indonesia - Jepang.
'Emh, cukup manis dan pendiam, seperti Nara cantiknya.'
"Sekarang saya harap hari ini anda bisa melaluinya dengan lancar. Tolong bantuannya." Asisten itu membungkkan setengah badan lalu pergi.
"Aku ke sana? Terus menyapanya? Hm... coba kuajak mengobrol sebentar." Ezra pun menghampirinya.
"Hey, nona." Ezra berdiri di depannya. Sedikitpun tidak dibalas olehnya. Anak itu tidak melihat Ezra dan lebih memilih baca buku di tangannya.
'Seperti yang dikatakan, dia tidak ramah dan sombong. Beda sama Istriku!'
"Hmmm, udara di sini segar dan sejuk. Memang nyaman sekali menyendiri dan membaca buku. Tapi mungkin lebih bagus jika ditemani oleh beberapa teman." Ezra bicara sendiri sembari memandangi sekeliling taman yang dipagari dengan tembok besar.
'Di sini terlihat aman, tapi kenapa memerlukan bodyguard? Apakah sering kali ada penjahat yang masuk dan mengancam nyawa anak ini?'
"Merepotkan." Ezra menoleh ke anak itu yang sempat bicara. Tingkahnya mirip sekali pada Alan yang dulu bicara satu kata saja.
'Merepotkan? Apa yang dimaksud itu aku atau ucapanku?' pikir Ezra lumayan kesal.
"Hey, apa boleh kita bicara sebentar?" Ezra pun membujuknya ingin berkenalan.
PAKH!
Bukunya itu ditutup kasar lalu bicara tanpa melihat Ezra yang sedikit terkejut. "Bisakah om pergi?"
'Pergi? Dia mengusirku? Aishh, dia tidak ada sopan - sopannya dengan yang tua!' batin Ezra menggerutu.
__ADS_1
"Maaf, tapi saya bodyguard anda, nona." Ezra tersenyum paksa padanya yang masih menundukkan kepala. 'Dan saya ini lebih hebat darimu.' Ingin rasanya Ezra berkata dari keluarga Van tapi lidahnya kaku tidak sudi.
"Kumi tahu, tapi sebagai bodyguard tidak juga selalu berada di sisi majikannya, om." Dia pun menangadah ke Ezra kemudian sejenak diam dengan mata yang membola.
"Siapa om?" tanya Kumi berdiri.
'Dia pasti kagum punya bodyguard tampan. Jadi anak cewek tidak usah jual mahal, haha.' Ezra berbangga diri dalam hati.
"Perkenalkan, nama Ryazza Jhonse, seorang pelajar yang dengan berbaik hati menjadi pengawalmu. Bukan mahasiswa biasa saja, saya juga sudah menikah." Ezra memakai nama palsu dan sedikit jujur tentang statusnya karena tidak mau anak kecil itu tergila - gila nanti. Daripada itu, Kumi lebih cocok menjadi teman putra kecilnya.
"Menikah? Sejak kapan om menikah?" tanya Kumi belum lepas memandangi Ezra.
"Sudah lama, kalau tidak salah disaat umur saya masih 17 tahun dan sekarang umur saya 22 tahun. Tapi beberapa hari kedepan ini saya mau masuk 23 tahun, tepat di hari ulang tahun putraku juga akan berusia lima tahun."
"Om, nikah muda?" tanya Kumi mudah sekali mencerna sebuah penjelasan.
"Hm, ketika masih di bangku SMA." Ezra jujur lagi. Itu tidak masalah baginya karena bukan lagi remaja SMA.
"Berarti menikah sama tante - tante ya, om?"
"Ehh! Salah besar! Istri saya itu seumuran dengan saya tahu! Bukan tante - tante! Namanya Naira, orangnya cantik dan lemah lembut." Ezra membantah dengan memakai nama palsu Nara.
"Karena om persis dengan seseorang."
Ezra terdiam mendengarnya. 'Seseorang? Apakah dia tahu keluarga Van? Dan yang dia maksud adalah Mahendra atau Samudra?' Ezra berpikir sedikit cemas. Dia sudah sedikit gondrong tapi anak kecil itu dapat mengenali wajahnya.
"Siapa yang kamu maksud itu?" tanya Ezra.
"Bukan siapa - siapa, sekarang Kumi mau keluar, tolong om siapkan mobil sebelum malam tiba." Kumi masuk ke dalam meninggalkan Ezra yang gelisah. 'Tidak, di dunia ini ada banyak orang dan bisa saja orang lain yang dia maksud! Anak sekecil itu juga tidak tahu siapa saja anggota keluarga Van!' Ezra pergi ke arah mobil memulai pekerjaannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Siapa nama anak om?" tanya Kumi yang jalan di sebelah Ezra yang seolah jadi pembantu bukan bodyguard. Sepertinya Ezra yang dulu pernah menganggap Nara pembantu sekarang karma itu menimpanya.
"Alan Jhonse." Ezra menjawab cepat meski di tangannya penuh belanjaan. Demi tetap hidup dan biaya sekolah Alan, Ezra tidak masalah susah malam ini. Apalagi gajinya lumayan sangat tinggi. Satu bulan bisa dapat 10 juta.
__ADS_1
Bagi di mata konglomerat, jumlah itu sangatlah kecil. Tapi untuk Ezra itu sudah lebih dari cukup memenuhi kebutuhan pokok keluarga kecilnya. Dia bukan Ezra yang sombong dulu. Sekarang dia adalah ayah yang hebat bagi anaknya.
"Lalu apa dia sudah sekolah?" tanya Kumi sudah dekat ke mobilnya untuk pulang sebelum orang tuanya pulang dari kerja.
"Ya, sepuluh hari lalu masuk ke sekolah TADIKA I."
"Woah, dia pasti pintar bisa sekolah di tempat itu. Kumi juga tidak lama lagi mau masuk ke sana." Kumi berhenti di dekat pintu. Mengamati Ezra yang tidak lelah sedikitpun. "Haha, dia memang cerdas seperti Ibunya." Ezra tertawa bangga.
"Hm, berarti om bodoh?"
"Ehh! Tidak! Saya pintar di sekolah kok." Ezra membantahnya lagi tapi itu memang benar.
Kumi bersungut - sungut paham sesuatu. "Om sepertinya orang yang baik dan sayang sekali pada istri anaknya. Kumi merasa tidak ada salahnya om jadi pengawal." Ezra tertegun diberi pujian. "Terima kasih kamu sudah jadi anak yang mudah mengerti. Kapan - kapan, saya akan mengajak Alan ke sini dan berharap bisa berteman baik denganmu." Ezra tersenyum sedikit kemudian mengantar Kumi pulang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Assalamu alaikum, Papa pulang." Ezra masuk ke rumahnya. Ia bersandar di kursi dan merasa lega hari pertamanya bekerja berhasil dilewati dengan lancar.
"Waalaikumsalam! Papa!" Alan memeluk perut Ezra dengan sangat erat. "Hm, ada apa?" tanya Ezra bingung pada Alan yang menyambutnya dengan tangisan.
"Papa, tadi ada yang datang bikin mama nangis,"
"Mama kamu nangis? Siapa yang berani seperti itu?" Ezra berdiri dengan wajah geram.
"Ibumu, Nak."
Ezra menoleh ke Bu Mayang yang menyahut.
"Ibuku? Dia datang ke sini? Bagaimana bisa, Bu? Apakah Ibu yang sudah menghubunginya?" Ezra menghadap ke Bu Mayang.
"Ibu juga tidak tahu, Nak. Tadi Ibu habis pulang, Nara sudah ada di kamarnya dan belum keluar - keluar. Tadi Alan sendiri yang bilang wanita itu bernama Melissa."
Ezra pun melihat Alan. "Al, katakan sama papa, apa namanya memang Melissa?" tanya Ezra pada putra kecilnya itu.
"Ya papa, mama tadi bicara sama nenek itu dan mama panggil namanya jadi Alan tahu. Siapa nenek itu, papa? Apakah itu nenek Alan juga?" Alan bertanya - tanya ingin tahu dari mulut Ezra siapa sebenarnya identitas papa dan mamanya itu.
__ADS_1
.
Kamu tuh cucu konglomerat Al😢