Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
104. EXTRAK PART (4) - TETAP DI BELAKANG PAPAH!


__ADS_3

Ezra meraih tangan kecil Kiano dan Kiara lalu tersenyum simpul. "Tidak usah dipikirkan itu lagi, mulai sekarang kalian hidup dengan bebas. Tapi berada dipengawasan papah." Senyum Kiano membentuk bulan sabit mendengar itu.


"Yeahh! Papah Kiano tidak payah!"


Kumi tepuk jidat tidak habis pikir Kiano bilang begitu bukan terima kasih dan Kiara cuma diam malu - malu saja.


"Yeyyy, ayo kita ke sana papah!" Alan memanjat punggung Ezra, kemudian merangkul leher papahnya dengan semangat membara.


"Okeh! Hari ini kalian harus bersenang - senang. Papah akan sewa seluruh wahana itu untuk kalian berempat! Bahkan papah bisa membeli tempat itu untuk kalian!" Ezra jalan menggandeng tangan mungil dua anaknya dan menggendong Alan di belakang.


"Main saja, om! Tidak usah dibeli!" sahut Kumi yang jalan di belakang melihat pria tinggi di depannya itu sangat kuat dan sabar bisa membawa tiga anak itu. Terutama Kumi sedikit tersenyum melihat Kiara tidak mau melepaskan genggamannya dari tangan Ezra. Meski Ezra merasa Kiara itu sombong, tapi anak perempuannya itu sudah sangat merindukannya.


"Haha... baiklah, baiklah!" Ezra pun ke Wahana dengan memakai mobilnya sendiri. Tak ketinggalan pengasuh Kiara dan Kiano ikut memakai mobil Kumi.


Sementara di tempat lain, Nara, Biyan, Zehan dan Julian kaget mendapati rumah Bu Mayang sudah terbakar hangus dan tidak menyisakan benda yang utuh. Semua rata dengan tanah. Beruntung Nara sudah mengambil album fotonya lebih awal sebelum meninggalkan rumah itu pada lima tahun lalu.


"Apa yang terjadi?" Tiga ipar saling menatap heran, sedangkan Nara mencari keberadaan Bu Mayang.


"WOY!"


"Apa yang kamu dapatkan, Julian?" Biyan, Zehan dan Nara menghampiri Julian yang menemukan sesuatu.


"Tidak salah lagi, ini ulah mereka!" Julian menunjukkan satu lencana yang tidak sengaja dilihat.


"Sial, pernikahan bang Kevin sudah dekat tapi mereka masih saja berani mengusik keluarga Van! Ini sudah tidak bisa dibiarkan!" geram Biyan. Walau Bu Mayang tidak memiliki hubungan dengan keluarga Van, tapi Biyan sudah menganggap Bu Mayang adalah Besan Ibunya.


"Sepertinya cuma kita bertiga yang perlu bereskan ini." Zehan mengepal tangan dengan sangat kesal. 


"Maaf kak, siapa yang kalian maksud?" tanya Nara.


"ZABERX, kelompok yang baru - baru ini suka bikin ulah dan anggotanya berkeliaran di mana - mana. Sepertinya kami harus ke tempat mereka, membawa Bu Mayang yang sudah diculik!"


'Bu Mayang dan ZABERX? Jangan-jangan Bu Mayang dan kelompok ini ada hubungannya dengan dua anak kembarku yang dijual?' pikir Nara.


"KAK! TOLONG BIARKAN AKU IKUT!" Nara memohon.


"Jangan, ini terlalu bahaya, Nara!" Julian melarang.


"Apalagi kamu sedang hamil," tambah Biyan dan Zehan tahu dari Melissa. Mengira ipar kecilnya itu menurut, Nara malah mengambil sepotong kayu dan mengarah ke lehernya.


"Kalau tidak mau, aku akan menusukkan ini di depan kalian." Zehan melompat kaget. 'Busset, ipar kecilku mengerikan juga.' Batinnya bergidik ngeri.


"Haih, baiklah. Tapi tetaplah di belakang kami."


"Yeah! Terima kasih, Kak!" Dengan terpaksa, mereka membawa Nara ke tempat ZABERX. Tempat para gangster yang seenak jidat menculik orang. Sudah banyak laporan masuk ke pihak berwajib, tapi mereka kerepotan menuntaskan setiap kasus. Pada akhirnya, keluarga Van kembali turun tangan.

__ADS_1


Sedangkan di tempat Wahana, permainan semakin seru dirasakan Kiara, Kiano dan Kumi. Beda lagi sama Alan dan Ezra yang mengacungkan tangan menyerah.


"Hey, kalian sudah cukup! Alan capek!" Alan duduk di tanah. Kakinya lemas ke sana sini.


"Kumi, om tidak bisa menemani kalian, Alan baru sembuh, tidak seperti kalian." Ezra roboh di dekat Alan. Kiara dan Kiano pun duduk di atas perut Ezra membuat Alan terbelalak sama tingkah duanya yang memaksa.


"Ayolah! Papah! Masih banyak yang perlu Kiara coba!"


"Kiano juga mau main itu! Papah jangan lemah semudah itu!"


Kumi berkacak pinggang melihat Kiara dan Kiano sulit mengerti kondisi Ezra dan Alan.


"Ihhh, Papah itu capek! Bukan lemah!" Ezra menangadah ke Alan yang duduk di atas kepalanya.


"Ya kami tahu! Yang lemah di sini cuma kamu!" Kiara menunjuk Alan.


"Akhh!" Kiano menjerit dihimpit oleh Kiara dan Alan di atas tubuh Ezra yang sekarang seperti mengalami sembelit akut. Perutnya diduduki dengan brutal.


"BERHENTI!" Kumi teriak dan menarik Alan berdiri. Kiano juga menarik Kiara berdiri dari Ezra. Dua anak yang hampir membuat isi perut Ezra serasa diblander.


"Haih, bisakah kalian akur sebentar?" Ezra berdiri juga, menatap Alan dan Kiara. 'Lama - lama kalau mereka tidak akrab, aku bisa jadi ayam geprek di tengah - tengah mereka!' Rupanya Alan dan Kiara tampak sulit berdamai.


"Lihat! Kemana orang - orang?" Kiano menunjuk sekeliling wahana sudah tidak ada siapa - siapa.


"Hm, memang papah sewa tempat ini gratis buat kalian, tapi tidak melarang orang lain untuk bermain," gumam Ezra.


"Sepertinya Alan benar, lihatlah, siapa mereka?" Kiara dan Kumi menunjuk pada kelompok gangster yang datang. Melihat Ezra dan empat anak itu terkepung di layar monitor, seseorang tertawa jahat di sebelah Direktur pemilik wahana, yang tidak lain dia adalah penyewa yang sudah memasang harga tinggi dan meminta para gangster menangkap empat anak itu..


"Anak - anak, tetap di belakang papah." Ezra maju dan menarik empat anak itu ke belakangnya.


"Om, ayo kita lapor polisi!" Kumi menarik baju Ezra.


"Tidak, menelpon polisi sudah tidak berguna lagi sekarang. Mereka pasti akan datang terlambat." Kiano menolak.


"Sebelum mereka bertambah banyak, lebih baik papah hentikan mereka semua!" Alan menunjuk.


"Tidak! Mereka terlihat kuat - kuat, papah tidak bisa mengalahkannya!" Kiara melarang tidak mau papahnya lecet.


"Tidak usah cemas, papah dulu pernah membantai 500 preman. Jadi dua puluh di depan kita ini hanya kerikil yang tidak ada apa - apanya." Ezra menyeringai.


"Om, serius?" tanya Kumi kurang percaya.


"Kalau tidak percaya, kalian semua balik badan dan tutup telinga. Jangan mengintip, mengerti?" Ezra membalikkan mereka, tidak mau anak - anak melihat perkelahiannya. Alan dan yang lainnya pun menurut dan membiarkan Ezra melawan sendirian. Meski telinga mereka sudah ditutup, suara bedebug terdengar jelas membabi buta di belakang mereka.


"Hey, Kiano!" Kumi, Alan dan Kiara terkejut Kiano berbalik badan saking penasarannya. Akhirnya keempatnya tercengang memandangi perkelahian Ezra yang sudah selesai. Dua puluh gangster itu tumbang hanya dalam hitungan dua menit saja.

__ADS_1


"Woah, papah! Papah keren!" sorak Kiara dan Kiano.


"Haih! Kenapa berbalik badan!" Ezra berjalan ke arah mereka tanpa lecet sedikit pun. 


"Om, awas!" Kumi teriak di belakang Ezra ada preman ingin memukul kepala Ezra tapi seketika tumbang ketika disetrum oleh seseorang pakai alat di tangannya. Ezra menunjuk Vano yang tiba - tiba muncul.


"Jangan - jangan ini ulah kamu ya, Vano!" Ezra menuduhnya sehingga Vano mencengkram kerah jaket Ezra. "Weh, gue datang cari istri dan anak gue, bukan ngerusuhin keluarga lo! Harusnya lo terima kasih gue sempat setrum preman ini!" oceh Vano datang karena mendapat kabar Melly dan Noel yang ke wahana tadi pagi tiba - tiba hilang. Semua anak buah Vano sudah tersebar kemana - mana tapi tidak ada petunjuk, bahkan rekaman cctv pun hilang.


Sontak saja Vano menengok ke bawah setelah dasi kantornya ditarik. Mata Vano membola yang menarik adalah anak perempuan yang persis dengan Ezra. Wajah sombongnya mirip sekali Ezra dulu.


"Woy, uncle pirang! Jangan sentuh papah Kiara." Bukan cuma ditarik, Kiara juga memberi tatapan sinis. 


"Yah! Lepaskan tanganmu itu dari papah Kiano!" Kiano dan Alan berdiri di sebelah Kiara.


"What? Kok ada tiga?" Vano shock berat. Ezra pun menarik tiga anaknya menjauhi Vano lalu menjawab.


"Mereka anak - anakku." Mulut Vano terbuka lebar.


"Serius?" 


"Ya om, mereka semua anaknya!" sahut Kumi.


"Bhahaha... astaga, sepertinya aku memang sedang bermimpi. Mana mungkin Nara melahirkan anak tiga sekaligus. Pasti adalah kesalahan program." Vano tertawa dan kemudian diberi satu dugem dari Ezra.


"Kepala kau yang salah!" pukul Ezra mendengus.


"Cih, Ezra! Berani sekali kamu!" Vano tidak terima dipukul di depan empat anak itu yang kini menertawai Vano. Namun saat Vano mau balas, tiba - tiba Kiara menjauh karena mendapat sesuatu dari pengasuhnya yang sekarang berada di tempat Direktur wahana di sekap oleh si penyewa tadi yang sudah keterlaluan.


"Apa?" Vano terkejut mendengar pengasuh itu berkata istri dan anaknya berada di tangan Bumi Angkasa. Ketua baru ZABERX saat ini. Ezra pun juga mendapat satu pesan dari Zehan untuk ke tempatnya segera demi membawa Bu Mayang yang ada di tangan ZABERX juga, sekalian Nara berada di sana juga.


"Nara? Istriku ada di sana?"


"Kenapa, papah?" tanya Alan. 


"Anak - anak, papah punya urusan sekarang, kalian berempat pulanglah bersama dia! Okeh?" Ezra menunjuk pengasuh Kiara dan segera pergi bersama Vano ke tempat ZABERX.


"Nona kecil, apa kalian mau pulang?" tanya pengasuh itu.


"Tidak, ikuti mobil papah," ucap Alan menolak.


"Benar, ayo bantu papah." 


Alan, Kiara, Kiano dan Kumi pun pergi menyusul mobil Ezra yang sudah dipasang pelacak oleh Kiara sendiri. Pertemuan besar akan segera tiba di markas ZABERX dengan para prajurit kecil EZRA. Organisasi yang dulu menginginkan sekolah Elipsean l dan ll itu dikuasai para gangster.


.

__ADS_1


MAAF YA JUDUL DAN GAMBARNYA BERUBAH🙏😅YANG PENTING ISI CERITA TIDAK BERUBAH😘LIKE DAN KOMEN YA SUPAYA AUTHOR UPDATE DOBEL. TERIMA KASIH READERSLOVE💕💕💕SEHAT SELALU.


__ADS_2