
"Jadi itu tidak benar, Nara?" tanya semua iparnya yang sudah sampai di rumah sakit.
'Tidak benar apanya?' pikir Daffa belum tahu yang dimaksud mereka. Melihatnya yang kebingungan, Vano pun menarik kerah Daffa lalu menyeretnya keluar ruangan. Ia yang sendiri akan jelaskan pada patnernya itu.
"Ya, sepertinya Ezra salah paham, aku tidak hamil," ucap Nara yang sudah mengganti pembalut dan sekarang mendadak grogi.
Pasalnya, ekspresi tujuh kakak iparnya sekarang sudah tidak ada imut - imutnya. Mata mereka mengarah ke Ezra yang sedang berdiri di dekatnya sembari cengengesan.
"EZRA!" ujar mereka menghentakkan kaki. Kalau saja tidak ada baby Alan, sudah pasti mereka beramai - ramai menggiring adiknya itu ke sungai amazon.
"Hehehe, sorry." Ezra segera mengambil baby Alan dari tangan Melly supaya mereka tidak melakukan apa - apa padanya. Licik sekali menjadikan anaknya sebagai tameng. Berbagai komentar dari mereka pun terlontarkan ke Ezra.
"Cih, kami kira Nara pendarahan karena keguguran, ternyata cuma haidnya yang datang."
"Tapi syukurlah Nara tidak hamil lagi," ucap Zehan tersenyum lega.
"Yeah, satu anak saja sudah bikin kita hampir gila, bagaimana kalau tambah dua?"
"Pasti sebelum kita kembali ke perusahaan, kita sudah jadi gelandangan,"
"Ihh kalau itu terjadi, ketampananku ini tiada artinya,"
"Hahaha... kalian memang jahat, pantas saja jomblo," umpat Zehan yang menertawai saudaranya yang menggerutu.
"Jahat? Apa maksudmu?" tanya Kenan dan lima adiknya ke Zehan.
"Harusnya kita banyak - banyak bersyukur, anak banyak itu pembawa rezeki lho," ucap Zehan dan diberi anggukan oleh Ezra.
"Dari mana kamu mengutipnya?" tanya mereka mendengkus.
"Buktinya kan ada di depan mata kalian," sahut Nara tersenyum sumringah.
Semuanya diam, hening. Mereka berpikir dan saling bertatap muka. Baby Alan tertawa ria melihat uncle - unclenya baru sadar mereka yang dimaksud Zehan.
"Haha, kalian yang duluan lahir dari baby Alan, tapi anakku yang genius lebih dulu mengerti ucapan Zehan." Ezra ikut menertawai mereka.
"DIAM KAMU!" kata mereka menunjuk Ezra. Baby Alan semakin terbahak - bahak dan langsung memeluk Ezra ketika mata uncle - unclenya mau menerkamnya. Anak dan bapak sama - sama menjengkelkan.
"Sudah, sudah, kita kembali ke sky house," ucap Kevin mau melihat kondisi Melissa dan Mahendra. Namun ketika Nara mau ikut keluar, Ezra menahannya.
"Kamu kenapa, Za?" tanya Nara.
"Kita tidak usah ikut pulang," ucap Ezra.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Vano berdiri di samping Daffa yang tampak ingin menonjok Ezra.
__ADS_1
"Hey, tidak usah pikirkan ucapan Mami, kamu pulang saja bersama kami," ucap Kenan disusul lainnya mengangguk.
"Tapi Mami sudah membuangku," lirih Ezra.
'Buang?' batin Nara, Daffa, Vano dan Melly.
"Ezra ...." Kevin maju ingin menepuk bahu adik bungsunya tetapi secepat ditepis Ezra.
"Tidak usah membawaku pulang,"
"Tapi Ezra...." Zehan ingin membujuk namun tertegun melihat Ezra tersenyum.
"Tidak apa - apa, tidak usah cemas, aku bisa hidup tanpa bantuan Mami. Kalian pulanglah saja dan titip salam buat Bang Mahendra," ucap Ezra lalu menarik Nara pergi meninggalkan mereka.
"Jika Ezra dibuang, sepertinya kita juga tidak bisa kembali bersama kalian." Vano menarik Melly menyusul Ezra.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Daffa ke tujuh anak keluarga Van.
"Mami kami datang dan sudah mengetahui rahasia Ezra, kamu tahu sendiri dampak yang diterima Ezra saat ini," ucap Kevin.
"Tante Melissa kembali?" Kaget Daffa dan segera berlari mengejar Ezra dan Vano.
"Kevin, ayo kita pulang dan bujuk Mami." Kenan pergi ke arah lain bersama yang lainnya. Kevin memandang sedih kelima anak remaja itu. Ia pun menyusul Kenan, pulang membawa helikopternya lagi. Sedangkan Vano masih membawa mobilnya, ia mengantar Daffa pulang bersama Ezra, Nara dan baby Alan. Tidak ada obrolan di dalam mobil, hanya rengekan baby Alan yang sedih berpisah dari 10 unclenya.
"Mamma...." rengek baby Alan.
"Hey, kalian tidak punya tempat tinggal malam ini, bagaimana kalau tinggal sementara di rumahku?" tawar Daffa.
"Tidak usah, kami tidak mau merepotkanmu," tolak Vano. Ia masih bersalah ke Pak Dirga karena sudah membuatnya koma di rumah sakit.
"Kalau kamu tidak mau ya tidak masalah," ucap Daffa tahu Vano masih punya tabungannya sendiri.
"Kalau Ezra, kamu -" Belum juga selesai bicara, Ezra menolak.
"Tidak perlu, kamu sudah banyak membantuku," ucap Ezra ke Daffa yang sudah berdiri di depan rumahnya.
"Tapi dimana kalian bertiga tinggal malam ini?" tanya Melly sebelum Vano meninggalkan rumah Daffa.
"Kita bertiga akan tinggal di rumah Ibu angkatku," jawab Nara sambil mengusap pundak baby Alan.
"Baiklah, kalau begitu kamu tidak usah cemas Daffa. Nara dan Ezra berada di rumahnya. Kita juga akan menjemput mereka pergi ke sekolah." Vano mulai menyalakan mesin.
"Ya sudah, hati - hati di jalan. Jangan sampai dilihat oleh blackzak dan Ozara."
Setelah dinasehati Daffa, Vano pun membawa Ezra dan Nara. Ia sudah tahu letak rumah yang dulu Nara tempati.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak Vano." Usai diantar, Vano pun pergi membawa Melly.
"Ezra, yuk kita masuk," ajak Nara menggandeng tangan Ezra masuk ke rumahnya. Setelah pintu dibuka, isi rumah masih sama sebelum ia pindah ke rumah Daffa.
"Za, aku ke kamar dulu bawa baby Alan tidur. Kamu kalau mau minum, ke dapur saja, nanti aku masak buat kamu," ucap Nara tapi Ezra cuma berjalan ke dapur.
'Ezra pasti sangat sedih harus tinggal di rumah kecil ini.'
"Kalau saja harta orang tuaku masih ada, aku pasti bisa membantu Ezra." Nara pun membawa baby Alan ke kamarnya. Menidurkan bayi tujuh bulan itu yang sudah terlelap di perjalan tadi. Yakin baby Alan tidak rewel, Nara pun pergi melihat suaminya.
"Ezra..." panggil Nara ke Ezra yang sedang memasak sesuatu.
"Kamu lagi masak apa?" tanya Nara pun memeluknya dari belakang. Berharap suasana hati Ezra sedikit membaik.
"Mi instan, malam ini sepertinya kita berdua cuma makan ini," jawab Ezra tersenyum lalu menunduk sedih.
"Tidak apa - apa, walau mi instan itu makanan biasa, tapi kalau dimasak oleh suamiku yang tampan ini, rasanya pasti luar biasa," goda Nara membuat Ezra diam kemudian tersipu.
"Terima kasih, sudah mengerti, Ra." Ezra balas memeluk istrinya.
"Eh Ezra! Mi kamu bisa gosong tuh!"
"Astagfirullah!"
Ezra buruan mematikan kompor. Setelah itu keduanya tertawa bersama.
'Alhamdulillah, Ezra bisa melaluinya malam ini.' Syukur Nara dalam hati melihat Ezra makan dengan lahap. Ia pun makan dengan tenang.
"Besok pulang sekolah, kita belanja bersama, kamu mau ikut nggak, Za?" tanya Nara yang kini berbaring di ranjang dan melihat punggung Ezra yang sedang membelakanginya.
Tidak ada jawaban membuat Nara cemas. Ia pun beranjak duduk dan mengusap dahi suaminya. Sontak terkejut melihat Ezra sedang menangis diam - diam.
"Za, kamu kenapa? Hey, tenanglah, Za."
Tidak mau melihat Nara khawatir, Ezra pun duduk dan tersenyum.
"Tadi cuma kelilipan kok," ucap Ezra namun seketika keningnya diketuk pakai dua jari Nara. Sejenak membuatnya terpaku.
"Za, ada aku dan baby Alan yang tetap selalu bersamamu. Jadi yuk bisa yuk, semangat suamiku!"
Ezra tertawa kemudian mengacak rambut istrinya yang menggemaskan. Memang indah punya istri, bisa menjadi teman dan penyemangat hidup.
"Terima kasih, sayang." Bukan cuma itu, Ezra mengecup sangat lembut bibir istrinya. Nara menunduk malu - malu. Kalau saja tidak haid, ingin rasanya menyerahkan dirinya malam ini. Ia pun tidur sambil memeluk Ezra yang masih susah terpejam.
Sama halnya di sky house, Melissa juga tidak bisa tidur, ia gundah memikirkan nasib anak - anaknya dan baby Alan. Terutama Mahendra masih demam tinggi di kamarnya. Si Dokter cantik yang ada di sky house juga gelisah memikirkan takdir Vano dan Melly. Begitupun Garce sedih dan resah tidak melihat Nara pulang ke sky house malam ini.
__ADS_1
.
Yuk bisa yuk berdamaaiii🤸‍♀