
Semenjak Alan jatuh pada malam itu, Nara dan Ezra keluar dari sky house. Membawa kabur Alan sejauh mungkin dari keluarga Van selama lima tahun ini. Uncle - uncle Alan pun sangat bersedih tidak mendapat jejek Nara dan Ezra. Adiknya itu sungguh tidak mau lagi berhubungan dengan mereka dan menyembunyikan Alan selama ini.
Perpisahan yang sangat menyakitkan harus kehilangan tiga anggota sekaligus pada malam itu. Melissa pun tidak kembali ke Belanda, wanita itu menghabiskan waktunya di sky house sembari merawat dan menyayangi dua cucu perempuannya dari Samudra dan Reyhan. Tidak ketinggalan Elvan juga sudah menikah dan istrinya sedang hamil kedua. Sedangkan empat suadara kembar Reyhan tidak lama lagi menggelar pernikahannya.
"Papaaa!" peluk Alan ke Ezra yang mau membawa mereka pulang ke rumah dengan motor bututnya yang juga habis dari kuliah bersama istrinya. Dia sendiri banting tulang menghidupi istri cantik dan anak gantengnya selama ini tanpa sepeserpun diterima dari Ibunya dan saudara - saudaranya. Bahkan rekening khusus Alan tidak pernah dipakai Ezra sehingga isinya sudah tidak bisa dihitung lagi. Yang jelas sudah bisa membeli sebuah saham besar.
"Woah, jagoan Papa tadi belajar apa?" tanya Ezra mengangkat bayi kecilnya yang sudah tumbuh besar itu.
"Olahraga!" jawab Alan. Muka datarnya tadi berubah ceria benderang.
"Oh ya, yuk kita pulang, nanti Mama kamu masak banyak - banyak." Ezra mendudukkan Alan di depan.
"Kenapa?" Alan menangadah ke atas melihat ayahnya yang sangat mirip pada wajahnya.
"Karena Papa dan Mama dapat pekerjaan lagi!" ujar Ezra. Alan cemberut lalu menangis.
"Huwaaa...."
"Ezra, ada apa?" tanya Nara baru sadar dari lamunannya yang tadi sudah jahat mengacuhkan Melly.
"Mammaaa! Jangan pergi!" Akhirnya anak gemoynya itu bisa bicara selain satu kata sekarang.
"Haha... tidak kok, kami tidak pergi kemana - mana, sekarang yuk pulang bersama." Nara naik motor dan menepuk bahu Ezra untuk jalan. Alan terisak - isak kecil, dia paham orang tuanya mau lagi pergi bekerja sehingga tidak bisa bermain bersama. Dari jauh, Melly masih memandangi kepergian mereka.
"Ayo, Pak. Ikuti mereka." Melly menyuruh supirnya.
"Tidak puyang, mami?" tanya Noel menyedot jempolnya pengen susu di rumahnya.
"Tidak sayang, Mami harus tahu di mana mereka tinggal." Setelah mengikuti diam - diam, Melly pun tahu alamat rumah Ezra yang sangat sederhana.
"Apa nyonya ingin ke sana?" tanya Pak Supir.
"Tidak, sekarang kita pulang." Melly tidak mau diam saja, dia akan katakan pada keluarga Van lokasi Ezra dan Nara. Noel yang duduk di samping Ibunya pun bingung melihat Melly meneteskan sekali - kali air matanya. Sangat - sangat sedih Nara dan Ezra keluar dari Elipsean l dan mengubah identitas mereka selama ini.
Sedangkan Nara sedang menyiapkan bumbu dan Ezra sibuk bakar ikan besar di luar rumah untuk makan siang. Sedangkan Alan ikut membantu Ibunya.
"Yeaah, ikan bakarnya sudah tiba nih." Nara meletakkannya di atas meja makan.
"Sekarang cuci tangan dulu!" Tunjuk Nara ke toilet pada Ezra dan Alan yang langsung mau makan saja.
"Baik, Ibu President!" Ezra dan Alan pun sama - sama masuk kamar kecil itu. Terlihat seperti kakak beradik saja tingkah suami dan anaknya itu.
"Hueek....hueek...."
"Kamu kenapa, sayang? Keracunan?" Ezra berdiri dari kursinya saat Nara berlari ke wastafel.
__ADS_1
"Hueekk...." Ezra memijat leher belakang istrinya yang mual - mual itu.
"Mama, sakit?" Alan berdiri di sebelahnya, khawatir dan tidak tega Ibunya susah payah muntah.
"Tidak sayang, Mama baik - baik saja." Nara mengecup kepala putra kecilnya supaya tidak menangis.
"Yakin? Atau kita ke rumah sakit?"
"Sepertinya bukan ke rumah sakit deh," ucap Nara menatap senang pada Ezra.
"Lalu?" tanya Ezra tiba - tiba deg - degan.
"Ihh, ini gara - gara kamu. Sudah kubilang jangan keluar di dalam, jadinya aku hamil nih," bisik Nara mencubit gemas suaminya yang sebulan lalu iseng - iseng buang di dalam. Padahal selama ini cuma keluarnya di luar karena dulu Ezra tidak mau Nara hamil dan melanjutkan KBnya.
'Apa yang Papa dan Mama bisikkan?' pikir Alan.
"Sekarang aku mau coba pergi beli tespeck, kamu di sini jagain Alan."
"Hm, jangan lama ya! Awas kalau sampai tergoda sama janda - janda di sebelah warung itu, kucincang burungmu nanti dan dua telornya kupecahkan!" pesan Nara membuat Ezra meneguk ludah pada istrinya yang entah kenapa mirip Melissa.
"Ya istriku yang baik hati dan suka menabung, suamimu yang tampan membahana ini cuma tergoda oleh dirimu saja. Apalagi kalau di dalam kamar, beeh, burungku tidak bisa lepas ke yang lain." Gemas Ezra mencubit hidung Nara yang mancung itu. Alan bergidik geli melihat orang tuanya lagi - lagi begitu.
'Orang dewasa memang aneh.' Alan melanjutkan makan siangnya bersama Nara, dan Ezra berangkat sebentar ke apotek terdekat. Tiba - tiba Nara terdesak air setelah putranya itu bertanya dengan polos.
"Mama, burung Papa ada berapa?"
"Karena Alan tidak pernah melihat Papa beli burung, jadi darimana Mama dapat mencincang burung Papa?"
"Haha.... itu cuma candaan kok, sayang. Sekarang makan dan jangan bicara lagi."
"Baik, Mama." Alan sangat menurut pada Mamanya dan kadang konyol bersama Papanya.
Setelah makan, pas sekali Ezra pulang. Dia memberi tespeck ke Nara sambil menunggunya dengan mengisi perutnya juga. Alan yang menunggu satu jam ini pun mulai jenuh pintu toiletnya itu belum terbuka.
"Papa, jangan - jangan Mama tidur di dalam, ayo buka pintunya!" rengek Alan ke Ezra yang selesai makan..
"Hm, sepertinya memang benar yang kamu katakan sayang, sekarang menjauhlah, biarkan Papa -"
Kreek
Ezra tidak jadi setelah Nara keluar dan menangis.
"Huwaa... mama kenapa?" tanya Alan reflek menangis juga. "Sayang, kamu baik - baik saja kan?" cemas Ezra. "Aku benar hamil, coba kamu lihat sendiri." Nara memberi hasil dua garis merah. Dia tidak menyangka satu kali meluncur di dalam menumbuhkan janin secepat itu. "Alhamdulillah!" syukur Ezra terharu dan memeluk istrinya. Tidak sabar menyambut tambahan anggota keluarga.
"Hamil itu apa, Ma? Pa?" tanya Alan polos. Hampir saja terlupakan satu bocah kecilnya itu.
__ADS_1
"Tahun depan, Alan punya adik baru." Ezra dan Nara menjawab bersama.
"Serius?" Alan memeluk Ibunya, menangadah ke atas.
"Hm, serius." Ezra mengangguk.
"Yeah! Alan mau adik laki - laki," rengek Alan.
"Kalau adik perempuan, gimana?"
"Kasih adik baru lagi." Ezra dan Nara terlonjak mendengar jawaban si sulung kecil. Memangnya semudah itu?
"Kita berdoa saja semoga adik barunya laki - laki," ucap Ezra mengusap poni anaknya itu dan tertegun melihat bekas luka di kepala kiri putranya.
"Alan mau minta 100 adik laki - laki."
Uhuk... Uhuk...
Ezra dan Nara terbatuk - batuk. Itu terlalu banyak dan perlu tempat yang sangat besar menampung anak sebanyak itu.
"Hahaha...." Alan tertawa dan segera masuk ke kamarnya. Sholat dan minta doa sungguh - sungguh.
"Dia memang anak kecil yang menggemaskan dan menjengkelkan." Ezra jadi teringat dengan 11 saudaranya dan Ibunya.
Jam 5 sore, Ezra keluar untuk menyerahkan berkas identitas palsunya. Dia sedang direkrut menjadi bodyguard dan Nara terpaksa membuka jasa loundri demi menjaga Alan di rumah.
Tiba - tiba pintu diketuk dari luar.
"Al sayang, tolong buka pintunya, itu pasti Nenek yang pulang," ucap Nara ke putranya yang lagi main busa di baskom.
"Siap." Alan segera lari membuka kunci pintu tanpa melihat dari jendela siapa itu.
"Nenek!"
Deg
Alan terkejut rupanya bukan Bu Mayang yang pulang tapi Melissa yang datang sendirian.
"Nenek siapa?" tanya Alan polos ke Melissa yang sedang menahan embun di pelupuk matanya.
"Sayang, siapa yang datang -"
'Mami?' Nara dan Melissa bertatap mata. Nara menatap benci dan Melissa merasa bersalah pada anak, menantu dan cucunya.
Gadis yang sangat dia tolak dulu sekarang sudah berumur 22 thn dan menjadi wanita dewasa yang tambah cantik. Terutama bayi yang dulu dia dorong pada malam itu sudah besar dan mirip sekali pada Ezra versi kecil. Hanya gaya rambutnya yang beda sehingga cucunya itu terlihat lebih tampan dan sehat bugar.
__ADS_1
"Apa tujuan anda datang ke sini, nyonya? Apa masih belum cukup pada malam itu menyakiti anak kami?" Nara menarik Alan ke dalam pelukannya dan menjauhi Melissa. 'Aku disakiti sama Nenek ini?' batin Alan memandang lekat - lekat Melissa yang seperti bukan wanita sembarangan.
'Apa dia nenekku?'