
"Kalau begitu tetap di sini, mama keluar dulu ambil sisa makanan yang tadi." Nara turun namun tangannya diraih oleh tangan kecil itu.
"Mama tidak mau pergi, kan?"
"Tidak dong, mama cuma ke dapur. Sebentar saja." Nara mengusap pelan kepala Alan kemudian keluar. Alan menunduk dan menatap sedih pada selimutnya. Sesaat ada tetesan merah segar jatuh menodai selimut putih itu.
"Apa ini?" Alan memegang hidungnya kemudian terkejut cairan itu sama persis yang ada di jari - jarinya. "Ini darah? Hidungku berdarah?" Alan keluar kamar cepat mencari Nara.
"Mamaaaa," panggil Alan menarik ujung baju Ibunya yang lagi memanaskan kuah.
"Sebentar sayang, ini sedikit lagi mau selesai," ucap Nara tanpa melihat putranya dan kemudian menuangkan kuah lezat itu ke dalam mangkuk. Selepas ingin mengangkat mangkuknya, Nara diam terkejut mendengar rintihan Alan dari belakang.
"Mama, hidung Alan berdarah." Reflek Nara berbalik badan. Dua mata yang sembab itu membulat sempurna.
"Kenapa bisa berdarah begini, sayang?" Nara mengambil tissu di atas meja, mengusap cepat darah yang terus menetes tanpa henti. "Alan tadi cuma lihat selimut terus ada yang jatuh, kepala Alan juga sakit." Mendengar keluhannya, Nara menggendong Alan dan mengetuk kamar Bu Mayang dengan panik.
"IBU! IBU!" panggil Nara setengah teriak.
"Ada apa -" Bu Mayang yang keluar pun shock.
"Ya Allah, apa yang terjadi?"
"Nanti Nara jelaskan, sekarang kita bawa Alan ke rumah sakit dulu, Bu." Nara berjalan cepat keluar rumah. Bu Mayang pun pergi meminta tolong ke tetangga namun sayang tidak ada kendaraan yang bisa dipakai. Taksi atau ojek juga tidak ada yang lewat. Alan semakin tidak bisa menegakkan kepalanya sehingga pingsan di pundak Ibunya. Darahnya pun mengenai baju Nara.
"Ibu tolong jaga Alan dulu, aku mau panggil Ezra ke sana." Nara menyerahkan Alan. Dia berlari untuk cepat memanggil Ezra sebelum terjadi sesuatu yang lebih besar pada malaikat kecilnya itu. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang ditempuhnya, Nara terus berlari tanpa alas kaki dengan panik.
"EZRA!"
Laki - laki muda yang sedang berkumpul dengan beberapa cowok yang seumurannya pun menoleh setelah namanya dipanggil.
"Wih, Za! Lihatlah, itu istrimu datang jauh - jauh ke sini. Pulang lah ke rumahmu, besok saja lanjutkan program game kita." Mereka menyuruh Ezra yang mengacuhkan Nara.
"EZRA! AYO PULANG!" Nara menarik lengan suaminya dan menunjuk motor.
"Sana pulang sendiri! Dan jangan ganggu aku malam ini," tolak Ezra.
"Za, Alan sakit lagi," tutur Nara.
"Weh, Za! Kasihan istrimu itu, dia sepertinya tidak bohong, pulang sana lihat anakmu." Mereka kasihan melihat Nara yang memohon dan membujuk Ezra yang sangat terkejut.
"Alan sakit lagi? Yang benar?" Ezra berdiri dari kursinya. Memakai dua sandal jepitnya.
__ADS_1
"Ya, sekarang kita pulang bawa motor itu." Ezra segera menarik Nara menaiki motornya. Teman - teman kerjasamanya itu mengelus dada karena mereka tahu Ezra itu berhati batu. Keras dan susah dihancurkan. Tapi jika menyangkut anaknya, Ezra tidak bisa mendiamkan saja.
Batu yang membungkus itu pun retak seketika setelah Ezra melihat Alan benar - benar tidak sadarkan diri dengan bibir yang setengah pucat dan tubuh yang dibungkus selimut.
"Ibu akan menyusul, kalian cepatlah bawa ke rumah sakit." Ezra tanpa babibu lagi meninggalkan kawasan itu. Menuju ke kota. Hari ini ada dua kabar baik yang membahagiakan suasana hatinyanya. Tadi pagi dapat pekerjaan baru dan kehadiran anak keduanya. Tapi malam ini Alan kembali membalikkan suasana hati itu.
"Za, lebih baik kita ke sana," mohon Nara karena tidak ada puskesmas yang terbuka. Dia menunjuk rumah sakit besar di sebrang jalan.
"Za, ayo kita ke sana!" Desak Nara. Ezra diam sebab rumah sakit itu dibangun khusus dari keluarga Van lima tahun lalu. Melissa yang sendiri mendirikannya dengan atas nama Alan. RS. KEYLAN IVANDRA. Sebagai ucapan minta maaf untuk cucunya itu.
Tidak mau terjadi apa - apa pada malaikat kecilnya, Ezra pun terpaksa memutar arah menuju ke RS. KEYLAN.
"DOKTER!" Ezra menggendong Alan masuk.
"Tolong anak saya, Dok." Dokter yang datang pun menuntun Ezra ke satu ruang rawat. Tidak lama, Bu Mayang datang. Dia sudah menarik uang dari ATM Ezra untuk membayar biaya ruang rawat Alan.
"Aku ke sana dulu, kamu tenang saja di sini!" Ezra berlari ke administrasi tempat Bu Mayang berada dan meninggalkan Nara yang dilanda kecemasan tinggi.
"Ada apa ini, Dok?" tanya Nara berdiri melihat Dokter membawa Alan keluar dari bansal. Dokter tidak menjawab, dia dan suster mendorong brankar Alan menuju ke sebuah ruangan yang tidak lain khusus pasien VIP. Nara pun sangat terkejut berpapasan dengan satu iparnya.
"Kak Reyhan?" Nara menunjuk pada pria berjas putih yang juga terkejut melihat di atas brankar tadi mirip Ezra versi kecil yang tidak salah lagi adalah baby Alan yang sudah tumbuh besar.
"Kak… tolong Alan. Tolong anak kita lagi, Kak." Nara memohon dengan suara tak berdaya.
"Pak Reyhan, cepat masuklah!" panggil mereka sudah memasang alat pernafasan pada bocah kecil itu yang perlahan membuka mata kemudian melihat sayu pada Nara yang menangis di depan Reyhan.
"Papa…." panggil Alan dengan nafas yang lemah dan kembali terpejam. Reyhan pun masuk segera memberi pertolongan pada keponakan kecilnya. Sedangkan Ezra sedang menelpon Kumi.
"Ya Kumi, om butuh uang sekarang, bisakah kirim lebih awal gaji om malam ini?" pinta Ezra dalam panggilan suara.
"Terima kasih, kamu sudah mau mengerti." Ezra tersenyum sedikit mendapat bantuan cepat.
"Bu, aku keluar dulu tarik uang itu,"
"Tidak Nak, kamu kembali saja ke Nara. Biarkan Ibu yang pergi mencairkannya,"
"Tapi Ibu tadi barusan ke sana," ucap Ezra tidak mau Bu Mayang juga jatuh sakit. "Tidak apa - apa, kamu pergila ke istrimu. Kamu lah yang sekarang dia butuhkan malam ini." Ezra mengangguk. "Terima kasih, Bu." Ezra pergi ke tempat Nara.
"Kenapa kamu di sini? Mana anak kita?" tanya Ezra pada Nara yang pindah ruangan ke bagian VIP. Nara menangadah lalu menerjang ke pelukan Ezra. "Dia sedang berada di dalam, Za."
"Di dalam sini?" Tunjuk Ezra dengan terkejut karena biayanya pasti lebih mahal dan tambah terkejut lagi setelah Nara kembali bicara. "Dia bersama Reyhan."
__ADS_1
"Za! Jangan!" tahan Nara dengan pelukan sebelum Ezra membuka paksa pintu itu. Raut wajah suaminya sangat merah padam. Batu yang retak mendadak perlahan ingin pulih. Kebenciannya terhadap Melissa itu berakibat juga membenci semua kakaknya.
"Lepaskan, dia tidak boleh menyentuh anakku lagi." Ezra memaksa Nara namun diam membisu ketika seseorang menyahut dari belakang.
"Sampai kapan kamu akan terus menghindar, Za?"
Suara yang familiar tapi jarang terdengar itu berasal dari kakak keduanya. "Bang Samudra?" Samudra tersenyum sedikit pada Ezra yang masih memanggil dengan sopan padanya.
"Ya, aku ke sini datang ingin membawa keluarga adik kesayangan ku pulang." Ezra tertegun cukup lama dan segera membuang muka dengan cepat. Dia sedikit bersalah sudah tidak hadir ke pernikahan Samudra, Reyhan, dan Elvan.
Melihat Ezra tidak balas ucapannya, Samudra pun menarik bahunya dan memeluk adik kecilnya. "Kamu sudah banyak melalui kehidupanmu lima tahun ini, sekarang waktunya kamu pulang, dik." Air mata Ezra luluh lantah mendengar itu. Nara pun tersenyum lega melihat Samudra mengusap rambut panjang Ezra, yang sedang sesugukan itu. "Maaf, Bang. Aku orang yang memang tidak berguna dan tidak bisa hidup sepertimu." Ezra menyadari setiap keputusannya yang salah itu berdampak buruk pada dirinya sendiri.
"Ya dari awal memang begitu, tapi malam ini aku bisa melihat jelas kecintaanmu padanya begitu besar. Aku salut padamu bisa setegar dan sesabar ini. Sekarang kalian berdua tenanglah, Reyhan pasti bisa menyembuhkan baby Alan." Ezra mengangguk kecil dan mengusap matanya dengan lengan bajunya.
"Untuk biaya, biar abang yang bayar." Samudra tersenyum senang bisa tenangkan Ezra yang hampir terpuruk malam ini.
"Terima kasih, Kak." Nara pun sedikit tenang.
"Kalau begitu, apa kita bisa bicara dua mata, Ezra?" tanya Samudra tapi Ezra diam dan berbalik badan mau ke tempat Bu Mayang. Nara menahan Samudra.
"Besok saja, Kak. Biarkan Ezra tenang total."
"Baiklah. Terima kasih kamu sudah setia padanya, Nara." Samudra mengangguk paham dan beruntung adik iparnya tidak meninggalkan Ezra.
"Sekarang aku mau ke sana dulu, kamu tetap di sini tunggu Reyhan keluar."
"Baik, Kak. Terima kasih." Samudra pun pergi untuk mengambil obat khusus istrinya ke apotek rumah sakit. Satu jam berlalu, Alan masih ditangani Reyhan. Nara yang sendirian pun masih setia menunggu, sedangkan Ezra sedang duduk sendirian di kursi lain, dia sedang merenungkan sesuatu yang merasa sulit baginya malam ini.
"Kak Reyhan! Bagaimana Alan? Dia cuma sakit biasa - biasa, 'kan? Cuma sakit biasa, 'kan?" tanya Nara bertubi - tubi karena cemas pada malaikat kecilnya.
"Dia terkena penyakit leukemia. Kondisi tubuhnya menurun drastis malam ini, Nara."
'Leukemia?'
Reyhan secepat menahan bahu Nara yang mau pingsan dan kembali tersedu - sedu. "Alan, kenapa harus kamu yang selalu menerima ini semua." Nara menutup wajahnya, menyembunyikan embun yang berjatuhan dari matanya. Tidak seharusnya anak sekecil itu harus merasakan kepedihan dari hidupnya sekarang.
.
Empat part lagi tamat💕like dan komennya.
Jangan pelit - pelit kasih dukungannya😘terima kasih.
__ADS_1