
Namun yang dicium malah telapak tangan Devan. PLAK. Mulutnya ditepuk.
"Heh, bocah! Mentang - mentang kalian punya pasangan, hargai dikit dong kita - kita ini yang jomblo." Cerewet Devan ke Ezra yang mengusap - usap bibirnya.
"Hueek ... tanganmu bau terasi, huweek."
"Kyahaha..." Tawa baby Alan melihat Ezra yang sengaja mual - mual, membuat dua kakaknya makin jengkel.
"AHHH!" Pekik Ezra terkejut lehernya dirangkul Elvan dan tangannya diseret Devan. Dua pria itu mendadak kejam sebab Mahendra kirim pesan kalau mau pulang terlambat, maka lakukan sesuatu saja pada Ezra untuk mengulur waktu.
"Eh Ezra!" Nara yang menggendong baby Alan ingin menyusul, namun dicegah oleh trio biawak.
"Kenapa kalian menghalangi kita?" tanya Vano dingin. Trio biawak membuang muka, mereka beralih ke Nara dan baby Alan saja. Vano yang diabaikan sedikit kesal, ingin rasanya ia menonjok mereka tapi Melly mengelus dada Vano supaya sabar.
"Nara, kamu jangan masuk dulu,"
"Kenapa, kak?" tanya Nara ke tiga iparnya.
"Mertua kamu ada di dalam," jawab si trio menunjuk.
"Mertua?"
"Ya, ibu kami sudah pulang dari Belanda. Sekarang sedang -" Putus mereka karena Vano mau masuk.
"Hey, sebentar! Mau apa kamu?"
"Aku harus ke dalam, di sana ada kakakku!" ujar Vano cemas kakaknya diapa - apain oleh Melissa.
"Tenanglah, ada Reyhan yang jaga dia." Si trio tetap mencegah.
"Kalau begitu, baby Alan punya nenek dong?" Nara tersenyum lebar ingin bertemu Melissa dan menunjukkan baby Alan.
"Ya memang punya, tapi kalau mau ke dalam, kalian tunggu Mahendra pulang," ucap si trio menahan Nara masuk.
"Kenapa?" tanya Melly.
"Ibu kami ini terkenal killer, jadi biarkan kita tunggu Mahendra jelaskan ini semua." Nara pun tersadar. Setiap mertua yang killer itu memang tidak mudah dihadapi, tapi walau begitu Nara tetap hormati bagaimana pun watak Ibu mertuanya.
"Terus, apa yang akan kita lakukan?" tanya Melly kembali. Si trio menunjuk Vano.
__ADS_1
"Hey, kenapa kalian menunjukku?" tanya Vano, perasaannya tidak enak sekarang.
"Kamu bawa mereka berdua jalan - jalan sebentar, tapi ingat, kalau ada apa - apa, tinggal hubungi kita bertiga, paham?" ucap si trio tidak mau ketiganya mempengaruhi situasi yang semakin sulit ini. Mereka takut, jika Nara bertemu Melissa, gadis ini dan baby Alan akan dibuang ke pengasingan.
"Cih, baiklah. Ayo Melly, Nara, kita pergi sebentar dari rumah ini." Vano masuk disusul Melly. Nara yang cemas ke Ezra, ia pun terpaksa ikut pergi dari rumah.
Si trio pun bergegas masuk. Mereka berkumpul di kamar Ezra. Terlihat Elvan, Devan, Davin, Kenan dan si trio mengurung Ezra. Sedangkan Kevin masih setia di depan pintu ruangan khusus untuk melaporkan apabila Melissa keluar dari sana.
"Hey, apa - apaan ini? Kenapa kalian berdiri dan mengepungku?" tanya Ezra ke tujuh kakaknya yang tersenyum menyeringai.
"Waktunya balas dendam." Elvan dan enam adiknya maju mencekal dua tangan, dua kaki dan leher Ezra. Mereka mengunci tubuh anak SMA itu supaya tidak meronta.
"Ahhhhh ada apa ini!" Ezra berusaha memberontak tapi tenaga mereka sangat besar, ia teriak namun langsung mulutnya dibungkam pakai kain.
"Umhh... umhh..." Ezra membola saudara - saudaranya sudah gila dan mendadak kejam. Pasalnya semua seragam sekolah beserta baju dan boxer dalamnya dilepas. Hanya menyisakan senpak hitamnya. Tubuhnya polos seperti bayi yang baru lahir.
"Ah Mami! Anakmu mau dibunuh!" teriak Ezra dalam hati melihat Elvan memegang gunting.
"Saatnya memperbaiki dirimu, Ezra."
DEG
SREK
Ayah muda itu terhenyak gunting di tangan Elvan itu tidak menyunat burungnya malainkan merobek bungkus popok dari trio biawak. Ketiga anak kembar itu pun masing - masing memegang dua bedak bayi dan satu botol susu. Seketika Kenan pun tidak membungkan mulut adiknya, sehingga Ezra langsung bicara.
"Apa yang kalian lakukan padaku?" tanya Ezra meskipun dua tangan dan kakinya masih dicekal.
"Kami mau kamu menggantikan posisi baby Alan sampai Mahendra pulang ke sini."
AHHHH!
Mereka membabi buta mengerjai Ezra. Popok - popok bertebaran dan bedak - bedak yang menghujam ke tubuh Ezra berserakan mengisi kamar itu. Mereka mendekap mulut Ezra lagi supaya Melissa tidak mendengar jeritan anak kesayangannya yang sedang disiksa. Burung di dalam senpak ikut meronta - ronta didekap oleh popok besar itu.
"Hahaha... aduh, debay gede siapa sih ini?" Mereka tertawa lepas melihat penampilan Ezra seperti bayi yang menggemaskan.
Pantatnya cuma pakai popok, tubuhnya dipenuhi bedak, dua pipinya diberi rona merah dan rambutnya disisir rapih, serta tidak lupa rambutnya diikat pakai karet.
Ezra seperti bayi raksasa yang sedang menghisap isi susu botol di mulutnya.
__ADS_1
Ckrek!
Kenan mengambil foto adiknya, mengirim ke Nara. Membuat gadis itu yang duduk di dalam mobil pun ikut tertawa ke foto suaminya yang lucu dan kasihan. Melihat Baby Alan ikut tertawa, Vano dan Melly pun mengernyit heran ke anak dan ibu yang saling tertawa.
"Weeee, kenapa kalian lakukan ini padaku?" tanya Ezra yang duduk manis di atas ranjang. Ia sedang menghisap susunya karena lumayan enak diminum.
"Mami datang."
Dua kata itu pun sontak menjatuhkan botol susu di mulutnya. "Mami datang?" Kaget Ezra baru tahu.
"Ya, dan sekarang Mami sedang bicara ke Reyhan." Mereka kompak bicara.
"Kenapa cuma Reyhan? Kenapa kalian tidak ikut katakan sejujurnya?" tanya Ezra memungut dotnya, menghisap susunya lagi. 'Eh sial, susu bikinan Kenan lumayan juga.' Batin Ezra tidak masalah jadi bayi, asalkan ada susu penambah stamina.
Mereka saling bertatapan kemudian kompak bicara. "Kami takut."
"Hahaha... wkwkwk, takut? Kalian ada banyak di sini, tapi takut sama satu wanita saja? Lelaki macam apa kalian ini?" Ezra terbahak - bahak. Sontak saja satu popok dari trio biawak menghantam wajahnya.
"Enak banget lo ketawa - ketiwi, kita di sini takut bukan begitu bodoh, kami tidak berani karena Mami bisa mencoret nama kita. Kalau kita dicoret, tidak ada yang bakal jadi wali nikah kami nanti dan merestui pernikahan kita nanti." Mereka sewot.
"Dasar adik durhaka! Kita lagi bantuin kamu, tapi malah diketawain!" umpat Kenan tampol popok lagi ke sixpack Ezra. DUAK
"Harusnya lo jangan nikah duluan bego, cih." Davin ikutan lempar popok.
"Ezra, kuberi satu fakta di hari meninggalnya Papi kita. Setelah kamu lahir saat itu, Mami hampir membunuhmu."
DEG
"Membunuhku? Sungguh?" Syok Ezra mendengar Elvan ceritakan hari kelahirannya.
"Dan kamu harus tahu ini, Ezra. Jauh sebelum kamu lahir, Mami itu memang wanita tegas, disiplin dan mandiri. Namun setelah Papi meninggal dan lahirnya dirimu di keluarga ini, Mami tambah mengerikan. Sifatnya berubah killer dan mau melenyapkanmu. Bersyukurlah saat itu kami cepat menolongmu."
"Kalau saja kami diselimuti kebencian, kamu sudah tidak ada di dunia ini dan kami cuma membiarkanmu mati di dalam tong sampah."
Ezra menunduk, sedih dan merasa bersalah.
...
đŸ˜¢Sabar ya Ezra
__ADS_1