Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
59. MHB BAB 59 - MAUNYA APA SIH?


__ADS_3

"Tenang dulu, kalian duduklah kembali," ucap Kepseknya.


"Tidak bisa, Pak. Anda ini sedang memulai perang tiga organisasi di sekolah ini, kami tidak bisa duduk diam dan menerima ini begitu saja." Ketiga cowok sama - sama dalam pendiriannya.


"Ya memang ini mendadak, tapi dengarkan dulu perkataan saya," ucap Kepseknya dalam hati menahan tawa melihat reaksi enam muridnya yang lucu. Terpaksa tiga ketua organisasi itu duduk lagi.


"Jadi apa alasan kita dikeluarkan, Pak?" tanya Garce.


"Karena kalian sudah berjasa di sekolah ini," jawab Kepsenya tersenyum manis. Jujur, nyebelin juga si kepsek ini.


"Pak, kalau sudah berjasa harusnya dikasih piala atau hadiah kek, ini kok malah dikasih berita buruk?" ketus Garce gemas pengen makan kepseknya.


"Karena yang kamu bilang itu tidak cukup mewakili rasa terima kasih dari sekolah ini untuk kalian yang sudah menentramkan SMA ELIPSEAN II ini." Jelas Kepseknya.


"Maksudnya?" tanya mereka belum mengerti. Kepsek pun berdiri, menunjuk sebuah lokasi yang tidak jauh dari ELIPSEAN II. Hanya beberapa km jarak antara dua sekolah di dalam peta.


"Kalian akan dipindahkan ke sekolah ini."


"What? Setelah dikeluarkan, sekarang dipindahkan? Ini bapak maunya apa sih?" tanya Ezra perasaannya mulai tidak enak, begitupun Vano dan Daffa.


"Bapak harap kalian bisa membubarkan organisasi blackwolf di ELIPSEAN I."


Semuanya berdiri, sangat terkejut. "Bapak tidak lagi bercanda kan? Sekolah itu sudah tidak tertolong lagi, kita ber - enam mana mungkin bisa membubarkannya!" ucap Garce tahu ELIPSEAN I itu sudah jadi sekolah preman - preman nakal dan bri ngas. Bahkan pihak dari dinas pendirikan sudah resmi menutup sekolah itu tetapi karena adanya si biang kerok di sana membuat sekolah masih beroperasi dan anak - anak kota yang bandel dan mesum berkumpul di sana. Beruntung ELIPSEAN II tidak hancur sepertinya karena adanya Ezra yang berhasil menjatuhkan Vano.


"Saya rasa kalian bisa," ucap Kepseknya yakin dengan senyuman lembut.


"Kenapa anda bisa seyakin ini, Pak?" tanya Nara baru bicara. Hatinya mulai was - was.


"Karena kalian berdua pasti bisa menghancurkan organisasi itu dan mengembalikan sekolah itu seperti semula," ucap kepseknya begitu tenang duduk di kursinya.


"Lagipula -" putusnya melihat Nara, Vano dan Daffa.


"Lagipula bapak yakin sekali saya bisa menghan tam mereka, begitu?" tebak Ezra.


"Ya saya yakin kamu bisa dan lagipula biang keroknya adalah sepupu Nara dan Vano," ucap kepseknya membuat Melly dan Garce berdiri. "Sepupu? Siapa?" tanya keduanya.


"Barra," ucap Daffa tahu yang dimaksud Pak Kepsek karena Barra adalah anak tiri Ibu kandungnya juga.


"Barra? Siapa itu?" tanya Garce dan Melly kembali. Daffa menunjukkan foto Barra.


"Barra adalah ketua tertinggi blackwolf, ia memegang wewenang sekolah itu karena kakeknya atau bisa dibilang kakeknya Vano yang membangun sekolah itu,"


"Terus bagaimana bisa Barra sepupuan dengan Nara?" tanya Ezra tidak terlalu peduli sama Barra.


"Karena Ibunya adalah Tante kandungnya Nara dan saat ini Ibuku yang menggantikan posisi Ibu kandungnya Barra." Jelas Daffa membuat Garce baru tahu mantan istri wakepsek dulu menikahi ayah Barra setelah istrinya yang pertama meninggal dunia. Padahal Ibunya Barra itu wanita baik - baik tapi anaknya malah jadi pengacau sekolah sekarang.


"Pak, saya rasa ini terlalu sulit. Biarkan Melly bersekolah di sini." Vano maju, tidak mau Melly ikut. Bahaya pada kehamilannya.


"Vano, ini sudah konsukuensi yang harus kamu terima. Kalian berdua sudah membuat kesalahan di sekolah ini. Daripada Melly yang hamil diketahui oleh murid di sini, lebih baik kalian lulus di sekolah itu dan demi nama baik sekolah ini tidak tercoreng." Jelas Kepseknya tegas.

__ADS_1


"Ha? Melly hamil?" Daffa dan Garce terlonjak dan sama - sama menatap ke perut Melly yang memang agak buncit. Kalau saja tidak pakai jaketnya Vano, pasti anak - anak sekolah dari tadi sudah menggosipkannya hamil diluar nikah.


"Ya, Mahendra sudah katakan ini pada saya, sekalian juga Nara dan Ezra yang sama halnya akan dikirim ke sekolah itu." Kepseknya pun membuat Nara dan Ezra terbelalak karena aibnya dibocorkan di depan Garce yang dijuluki ratunya gosip.


"Apa? Nara dan Ezra sama halnya? Tapi perut Nara kan tidak besar," ucap Garce sangat - sangat syok sampai mau pingsan.


"Memang tidak hamil seperti Melly karena Nara dan Ezra sudah punya anak sekarang," ucap Daffa terpaksa terus terang.


"What? Punya anak? Sejak kapan dan dimana anaknya, Kak Ketos?" tanya Garce memegang dadanya yang berdetak kencang.


Nara mendekati Garce, menggapai tangan sahabatnya itu. "Garce, maaf aku merahasiakan ini padamu, bukannya aku tidak percaya, hanya saja aku tidak mau kamu memikirkannya. Anak yang dimaksud Daffa adalah bayi yang sering kamu lihat."


"Jadi... jadi baby Alan itu bukan anaknya Bu Mayang, tapi anak kalian berdua?" tanya Garce dengan mulutnya yang bergetar hebat.


"Benar, maafkan aku -"


PLAK


Nara terkesiap tangannya ditampar, ia pun merasa bersalah ke Garce yang sedang menahan tangisnya sudah dibohongi.


"Kamu jahat, Nara! Persahabatan kita sudah terjalin lama, tapi aku tidak menyangka kabar besar ini kamu sembunyikan. Padahal aku sangat mempercayaimu dan sudah menganggapmu seperti saudaraku. Aku kecewa! Kecewa banget!" 


"Garce!" Nara ingin mengejar Garce tapi Daffa duluan mengejar Garce. Nara pun menangis, hancur sudah persahabatannya. Dia kembali kehilangan orang yang sangat disayangi. Serius?


"Biarkan Daffa yang bicara padanya, sekarang kita lanjut bicara lagi," ucap Pak Kepsek. Empat muridnya pun duduk kembali. 'Maafkan aku, Garce.' Batin Nara masih memikirkan sahabatnya.


"Pak, jika Daffa dan Nara pindah ke sana, siapa yang akan jadi ketua dan wakil ketua osis di sini?" tanya Vano dan Melly.


"Terus yang jadi waketos, siapa?" tanya Nara dan Ezra.


"Friska."


Deg


Rupa - rupanya mantan Ezra itu ditunjuk jadi waketos baru.


"Friska? Kenapa bapak pilih dia?" tanya Melly agak cemas karena sifat Friska itu seenaknya.


"Karena dia pantas jadi waketos, tegas dan bisa mendisiplinkan siswa pengacau di sekolah ini." Jelas Kepseknya.


"Tapi Pak, Friska itu suka semena - mena," ucap Ezra di depan Melly. Ya emang benar sih.


"Memang orangnya begitu, tapi bapak yakin dia bisa berubah seperti Nara. Hanya menunggu waktu kapan dia berubah total."


Keempatnya antara lega dan gelisah.


"Ada apa? Masih tidak yakin?" tanya Kepsenya.


"Bukan, kami ini sedang gelisah dan masih ragu apakah kami mampu mewujudkan keinginan Pak Kepsek," ucap mereka kompak.

__ADS_1


"Tidak usah ragu, kalian tidak akan datang ber - enam saja, ada satu orang yang akan ikut ke sekolah itu." Senyum kepseknya.


"Siapa yang mau ikut?" 


Cklik!


Empat siswa itu terbelalak yang masuk adalah Mahendra dan Pak Dirga. Nara pun menundukkan kepala, masih tidak enak menatap Pak Dirga.


"Mahendra akan ikut bersama kalian," ucap Pak Kepsek menunjuk Mahendra.


"What? Pak Mahendra?" Kaget Vano dan Melly.


"Kalau Pak Mahendra yang ikut, terus siapa yang jadi wakepsek di sini?" tanya Ezra.


"Pak Dirga yang akan kembali menjabat." Pak Kepsek menunjuk Pak Dirga yang duduk sangat jauh dari Nara. Masih ada rasa tidak ikhlas melihat Nara duduk bersama Ezra. Tapi hari ini, Mahendra dan Pak Dirga sudah saling memaafkan di balik layar.


"Sekarang semua sudah jelas, mulai besok lusa kalian sudah terdaftar sebagai siswa di sekolah ELIPSEAN I." Kata Mahendra ke Ezra dan Vano yang sudah punya anak. Jiwa irinya itu meronta - ronta kepengen juga. Tapi tidak ada wanita yang cocok baginya.


"Baik dan maaf atas semua kesalahan kami." Ucap keempatnya pun meninggalkan ruangan kepsek. Mahendra pun berdiri dari tempat duduknya untuk membereskan barang - barangnya, tiba - tiba saat mau melewati pintu, Pak Dirga bicara.


"Mahendra." Membuatnya berhenti.


"Tolong jaga Nara di sana demi Om." Mahendra hanya mengangguk tanpa menoleh. Setelah itu ia pun meninggalkan kepsek dan Pak Dirga yang belum merelakan Nara. Kepsek menepuk bahu Pak Dirga untuk bersabar dan coba diikhlaskan.


.


Esok paginya di sky house alias mansion Melissa. Terlihat Nara berlari ke kamar Pak Mahendra. Langkah kakinya yang cepat itu membangunkan semua penghuni kamar. Kecuali Ezra masih terlelap di sebelah baby Alan yang juga tidurnya amat nyenyak.


"Ada apa, Nara?" tanya si trio, si kembar lima kecuali Reyhan entah kemana masih tidak pulang dari kemarin.


"Kamu kenapa, Nara?" tanya Elvan keluar, disusul Vano dan Melly keluar juga karena kamar mereka semua berjejeran di dua sisi lorong rumah. Bisa dibayangkan sebesar apa itu sky house sampai muat 15 orang dan masih ada beberapa penghuni yang belum tinggal di rumah itu.


"Darurat!"


"Darurat kenapa, Nara?" tanya Mahendra baru keluar dan meihat adik iparnya itu panik di depan kamarnya.


"Garce... Garce sedang berada di bandara bersama ortunya, aku dapat pesan dari kepsek kalau Garce ingin pindahkan ke luar negeri," jawab Nara terbata - bata.


"Apa? Garce ke luar negeri? Tapi kan besok kita semua harus masuk ke sekolah itu!" Vano dan Melly terkejut.


"Pak, anda harus ke sana mencegahnya!" Desak Nara.


"Ya sudah, saya ke sana langsung." Mahendra tanpa mandi dan hanya cuci muka saja segera mengejar Garce sebelum anak didikannya itu terbang meninggalkannya, eh maksudnya meninggalkan sekolah. Tanpa makan dan tanpa izin ke semua orang, Mahendra dengan motornya mengebut ke arah bandara. Berharap masih sempat membujuk Garce kembali. 


"Tidak bisa dibiarkan, dia harus tetap di sisiku."


...


Bersambung.

__ADS_1


🤣🤣Ayo Pak, kejar calon istrinya, eh maksudnya calon iparnya🤭eh enaknya jadikan apa ya si Garce🤣🤣author pusing nih...


Like yaa❤🌹


__ADS_2