Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
97. BAB 97 - ALAN ADA DI MANA?


__ADS_3

Jam 4 subuh di kamar VIP Alan, Nara terbangun. Dia menginap di ruang rawat Alan bersama Ezra dan Bu Mayang. Nara melihat di dekat tempat tidur Alan ada Ezra yang terlelap sembari memegang tangan mungil putranya. 


"Nara, kenapa tidak tidur, Nak?" Nara menoleh pada Bu Mayang yang juga terbangun di sofa.


"Sudah tidur tadi Bu, ini barusan aku bangun gara - gara haus," ucap Nara lalu meneguk isi botol air meneral, menyegarkan tenggorokannya.


"Hmm, tadi bagaimana dengan Ezra? Apa dia sudah tahu tentang penyakit Alan?" tanya Bu Mayang beranjak duduk.


"Belum, Bu. Aku tidak berani bilang." Nara Kemudian berdiri lalu menyisir rambut Ezra, suaminya itu yang bersandar di dekat tangan Alan.


"Malam ini dia sudah banyak melakukan yang terbaik untuk Alan, aku tidak mau mengganggu suasana hatinya dulu, biarkan Kak Reyhan yang sendiri katakan padanya nanti, Bu," tambah Nara pindah mengusap pipi kiri Alan. Putranya yang belum sadar dari tadi.


"Bu, aku ingin tanyakan sesuatu padamu," ucap Nara seraya memberi selimut pada suaminya.


"Apa, Nak?" tanya Bu Mayang mengambil botol di atas meja.


"Di mana aku lahiran dulu?" Nara melihat Bu Mayang yang terbatuk - batuk.


"Lahiran di rumah sakit, Nak." Bu Mayang menjawab cepat.


"Rumah sakit mana?" Seingat Nara, dia yang mau melahirkan dibawa oleh seseorang ke suatu tempat asing dan kemudian sadar di rumah Bu Mayang dengan bayi kecil di sebelahnya yang baru lahir.


"Dan siapa laki - laki yang waktu itu membawa ku?" tanya Nara mendekati Bu Mayang.


"Dokter keluargamu, Nak Nara," ucap Bu Mayang sedikit ragu - ragu.


"Dia juga Dokter yang merawatmu," lanjutnya tersenyum kaku.


"Tapi seingatku, Dokter yang terus merawatku adalah Dokter perempuan," ucap Nara dengan mimik curiga.


"Kamu salah, itu Dokter yang membantu mu melahirkan," timpal Bu Mayang mengelak.


"Ibu, apa selama ini kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Nara menyipitkan kedua matanya pada Ibu angkat dan mantan pembantu keluarganya itu.


"Kenapa tiba - tiba mencurigai Ibu? Apa Ibu sudah buat salah sampai kamu tega begitu pada Ibu?" Bu Mayang menatap kecewa. Nara mengepal tangan lalu duduk di sebelahnya.


"Maaf, Bu. Aku terlalu bingung dan bimbang," ucap Nara menunduk murung.


"Apa yang kamu bingungkan, Nak?" 


"Akhi - akhir ini aku bermimpi dan barusan memimpikan dua anak kembar dalam gendongan seorang laki - laki yang tidak jelas wajahnya. Aku bingung apakah ini mimpi atau serpihan ingatanku di masa lalu?" 


"Aku sulit mempercainya," tutur Nara tertunduk dengan bimbang karena selama mengandung Alan dia tidak pernah tahu kondisi bayi di dalam perutnya karena setiap periksa janinnya hanya Bu Mayang yang diberi tahu hasil pemeriksaan dan selalu berkata padanya kalau semua baik - baik saja. 


Bu Mayang meraih tangan Nara dan mengelus lembut perutnya. "Mungkin itu pertanda adik Alan nanti sepasang anak kembar. Kamu jangan terlalu pikirkan itu, doakan saja itu hanya mimpi yang bagus untuk mu, Nak."


"Tapi Bu, aku merasa ada yang hilang," ucap Nara menatap Bu Mayang yang berhenti mengelus perutnya.

__ADS_1


"Hilang? Apa yang hilang?" tanya Bu Mayang melihat Nara menghampiri Alan.


"Ingatanku ketika sedang melahirkan Alan. Aneh saja rasanya, aku tidak ingat apapun saat itu." 


"Aku tidak ingat bagaimana aku berjuang melahirkan Alan dan proses akhir persalinan. Apa jangan - jangan Ibu sudah memberiku obat terlarang untuk melupakan semua waktu itu?" Nara kembali curiga.


"Nara, teganya kamu menuduh Ibu seperti itu tanpa bukti!" Bu Mayang berdiri dan marah.


"Uhhh, mama...." Alan terbangun setelah mendengar suara keributan.


"Maaf sudah membuatmu terganggu, sayang." Nara mencium keningnya dan mengabaikan Bu Mayang yang duduk. Dia tampak kecewa dan sedih sudah dicurigai.


"Papah mana?" 


"Papa kamu lagi tidur, sayang. Mau mama bangunkan?" tanya Nara memperbaiki selimut Alan yang dibalas dengan gelengan kepala lalu menunduk kan pandangannya ke bawah ada papanya yang memang lagi tidur. Sudut bibirnya sedikit terangkat merasakan kehangatan dari tangan papanya.


"Nenek mana?" tanya Alan dengan suara lemah. Nara menoleh pada Bu Mayang yang lebih memilih tidur.


"Nenek juga tidur, sayang."


"Terus Alan ada di mana?" 


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, besok mama ceritakan kita ada di mana ini," ucap Nara tidak mau Alan memaksakan diri.


"Tapi Alan tidak bisa tidur, mama." Mendengar putranya yang merintih itu, terpaksa Nara membangunkan Ezra.


"Eh, jagoan papa sudah bangun ternyata, ayo katakan Alan mau apa? Martabak? Bakso bakar? Mi goreng? Nasi goreng? Biar papa belikan di luar sekarang," 


"Eheemm, sayang, di luar masih gelap, belum ada warung yang terbuka dan masih jam setengah lima subuh," dehem Nara sedikit lega Ezra begitu cepat membalikkan suasana hatinya.


"Oh ya, hehehe.... baru sadar nih," ucap Ezra cengengesan. Alan mengulas senyum kecil melihat ayah dan Ibunya kembali akur.


"Hmmm, aku mau sholat dulu, jagain Alan di sini, paham kan bapak Alan?" 


"Asiap, Ibu Alan." Hormat Ezra sengaja bercanda supaya Alan tidak cemas dirawat di RS. 


"Papa," cicit Alan pada Ezra yang berbaring di sampingnya dan tidak lupa memberi pelukan yang nyaman.


"Hmm, kenapa? Mau pipis?" tanya Ezra menatap mata yang sama dengannya.


"Jangan marah - marah lagi." Ezra tertegun dan kemudian tertawa kecil. "Hahaha, itu cuma drama kampus kok." Namun segera tangan kecil itu mencubit hidungnya. "Papa jangan bohong, nanti seperti pinokio! Hidung papa nanti tambah mancung dan jelek."


"Ouh jadi sekarang papa ganteng banget dong?"


"Tidak,"


"Hah tidak? Berarti papa jelek dong?"

__ADS_1


"Tidak juga,"


"Terus apa dong?" tanya Ezra gemas sendiri.


"Sedang - sedang," jawab Alan dan menahan tawa melihat papanya yang manyun.


"Hihi.... Alan canda, Papa." Alan memeluk Ezra. "Lain kali jangan bikin mama nangis," tambahnya lirih.


"Hm, kalau papa tidak sengaja, gimana?" Lirik Ezra. 


"Mau sengaja atau tidak, Alan yang balas Papa!" katanya dengan kepalan kecil yang terdapat jarum infus. Nara yang selesai ibadah pun tertawa lucu melihat Ezra dan Alan seperti adik kakak yang sedang adu tantang.


"Waduh, takut ah," ucap Ezra memeluk dirinya sendiri. "Hahaha...." Alan tertawa sampai selang pernapasan di hidungnya hampir copot. 


"Ehem, ayo ibadah dulu sana, Za." Nara menghampiri mereka. Ezra mengangguk kemudian melaksanakan ibadah. Sedangkan Nara duduk di dekat Alan yang mulai mengantuk.


"Mama, Alan mau tidur. Mama di sini ya dan jangan pergi." Nara tersenyum dan mengecup dahi putranya yang kembali terpejam kemudian melihat Ezra yang sudah selesai ibadah.


"Ehem.... ehem." Ezra mendehem dan mengelus lehernya sembari melirik - lirik Nara.


"Kenapa, Za? Tenggorokan kamu sakit?" tanya Nara pindah duduk di sebelah Ezra dan mencium singkat punggung tangan yang selalu kerja keras untuknya dan baby Alan.


"Bukan, itu.... tadi," ucap Ezra sedikit grogi.


"Tadi yang mana?" tanya Nara pada suaminya yang senyum - senyum tidak jelas.


"Itu..." Jari - jarinya bergerak lambat ke tangan Nara.


"Mau aku pijit bahunya?" tebak Nara. Ezra secepatnya mengangguk. "Pfft, kamu ini... bilang saja, tidak usah malu - malu," tawa Nara. Ezra tersipu sedikit, dia sedang grogi mau minta maaf.


"Hmm... tidur kamu tadi nyenyak, 'kan sayang?" tanya Ezra tiba - tiba. "Hm, lumayan," jawab Nara sedang bimbang mengatakan penyakit Alan yang sebenarnya.


"Pe... perut kamu pasti sakit ya?" Ezra berbalik badan. "Maaf ya, kemarin aku sudah jahat sama anak kedua kita." Ezra pun minta maaf dengan gugup.


"Tidak kok, anak kita baik - baik saja, kamu tenang saja, okeh?" Nara memegang dua pipi Ezra dan menatap dalam - dalam mata suaminya itu yang sungguh merasa bersalah. "Terima kasih, sayang." Ezra pun mencium telapak tangan istrinya dengan penuh cinta.


"Eh, mau ngapain?" Nara terkejut pada Ezra yang memijat kedua betisnya itu. "Sudah, diam saja. Biarkan aku pijat sebentar." Ezra melakukan itu sebab Nara yang kemarin berlari memanggilnya tanpa alas kaki. Dia tidak mau Nara juga sampai jatuh sakit.


'Terima kasih, Za.' Batin Nara senang suaminya yang perhatian itu sudah mengolesi balsem pada kedua betisnya yang memang cukup pegal. Namun bukan cuma itu, Nara juga sedikit risih karena Ezra melirik - lirik ke dadanya.


"Kamu kenapa, Za?" Ezra pun terkejut tindakannya disadari Nara. "Ouh itu... nanti setelah kamu lahiran, apakah asimu ada lagi?" Ezra tersenyum - senyum mesum pada istrinya.


"Hmmm.... kamu ya! Anak lagi sakit masih ajah mikir begitu, memang menjengkelkan bapak anak dua ini."


"Aduh, cuma tanya kok, hahaha...." Ezra tertawa kecil melihatnya kesal dan Nara jengkel punya suami yang menggemaskan sekali. Keduanya yang sudah berbaikkan pun membuat orang yang diam - diam berdiri diluar merasa lega. Kemudian dia menatap sebuah berkas anjuran di tangannya. Reyhan sedang mempersiapkan diri untuk bicara pada si bungsunya itu yang ingin membawa Alan ke New York. 


Di tempat lain, secarik foto anak yang sombong tergeletak di atas meja Kumi yang sama persis dengan Alan dan Ezra. 

__ADS_1


__ADS_2