Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
112. TAMBAHAN (1) - PAPAH PUNYA MUSUH?


__ADS_3

Pukul 11.23 siang. Alan, Kiara dan Kiano sudah pulang dari sekolahnya setelah dijemput oleh supir pribadi keluarga Van. Tiga anak itu berlarian menaiki anak tangga dan segera ke kamar mereka. Setelah mengganti pakaian, tiga anak itu menuju ke kamar orang tuanya namun mereka tidak ada.


"Nenek!" Kiara menghampiri Bu Mayang yang ada di kamar adik kecilnya bersama Alan dan Kiano. Mereka mencium tangan Bu Mayang kemudian melihat bayi cantik dan sudah berumur tiga bulan itu sedang tidur siang. "Oh, kalian sudah pulang?" tanya wanita itu menyelimuti si bungsu.


"Iya, Nek. Kami sudah pulang. Sekarang di mana Papah dan mamah? Kenapa kamarnya kosong?" tanya Kiara.


"Kamar oma juga kosong dan kamar om Biyan, om Julian dan om Zehan kosong semua. Dimana semua orang, Nek?" tanya Kiano juga.


"Apa semua lagi keluar bersama, Nek?" tanya Alan.


"Oma Melissa dan tiga paman kalian lagi keluar beli kebutuhan adik Mayra," ucap Bu Mayang menunjuk bayi kecil itu.


"Dari tadi ya, Nek?" tanya Alan sedikit kecewa sudah terlambat pulang.


"Sudah sekitar lima menit yang lalu," ucap Bu Mayang menunjuk jam dinding.


"Yahhh, tidak bisa ikut sama oma deh," keluh Kiara dan Kiano.


"Oh ya, mamah dan papah kemana, Nek?" tanya mereka lagi.


"Orang tua kalian sedang kuliah hari ini, mungkin pulangnya nanti sore," ucap Bu Mayang dan lagi - lagi ketiganya menunduk lesu, merasa tidak ada bedanya di New York.


"Sekarang mari ikut nenek, kita makan siang duluan."


"Baik, Nek." Alan, Kiara dan Kiano pun meninggalkan kamar Mayra. Mereka makan siang dengan perasaan tidak karuan.


Sedangkan di kampus, ayah mereka lagi bersembunyi di balik pohon dan memantau gerak - gerik seseorang. Yang tidak lain adalah Nara yang sedang jalan dengan seorang cowok lumayan tampan.


"Woy! Dari pada stalkerin istri sendiri, lebih baik ke sana." Ezra menoleh ke Daffa yang datang. Sepupu Yang satu universitas dengannya, tapi Daffa sekarang adalah seniornya di kampus.


"Bodoh, kalau aku ke sana, motif cowok itu tidak akan pernah kuketahui!" kata Ezra lalu mengacuhkan Daffa dan melihat Nara kembali. Tampak cowok di sebelahnya itu lumayan akrab dengan Nara, sampai - sampai Istrinya itu kadang tertawa kecil.


"Ish, mereka lagi ngobrolin apa sih!" cetus Ezra melihat cowok itu pergi setelah Garce datang menghampiri Nara.


"Jangan - jangan mau ngajak Nara selingkuh, tuh," ucap Daffa masih berdiri di sebelah Ezra.


"Wah, jangan mancing emosi kau!" ujar Ezra melotot pada Daffa yang sengaja bicara begitu.

__ADS_1


"Ya terus apalagi? Semua orang tahu Nara itu istrimu, tapi cowok itu sangat berani jalan bareng sama dia. Coba kau pikirkan dulu maksud dari pergerakannya yang aneh dan misterius itu," ucap Daffa tersenyum tipis.


"Ck, ini tidak bisa aku biarkan. Cowok itu harus dikasih tahu dengan sangat jelas kalau Nara adalah istriku!" decak Ezra mengepal tangan.


"Ehem, kamu kenapa di sini, Za?"


"Ehh?" Ezra dan Daffa menoleh cepat pada Nara dan Garce yang baru saja menghampirinya.


"Mungkin kalian berdua lagi melirik cewek lain ya? Hayo, ngaku kalian berdua!" Tunjuk Garce dengan mata selidiknya itu.


"Tidak, kok!" bantah Ezra. Nara menyipitkan mata merasa Ezra bohong. Kalau saja ada kacamata pintarnya, pasti sangat mudah memahami kelakuan suaminya itu.


"Masa sih?" kata Garce kurang percaya.


"Terserah! Ayo Nara, kita pulang! Anak - anak kita sudah pasti menunggu di rumah." Ezra menarik pergi istrinya untuk pulang sore ini.


"Btw, siapa cowok yang tadi di dekat Nara, Ce?" tanya Daffa ke mantan sekretaris osis itu karena tadi kurang jelas melihat wajahnya.


"Oh itu, cowok yang satu kelompok sama Nara dan aku." Garce menunjukkan fotonya, membuat Daffa membola karena cowok itu rupanya salah satu putra dari pengusaha kaya raya.


"Siapa itu?" tanya seseorang datang. Garce tersentak kaget dan menoleh ke belakang.


"Pantas dicari - cari Ibu anakku, ternyata di sini lagi berduaan sama cowok lain." Mahendra tersenyum kesal.


"Ehhh, bukan! Kami tidak berduaan. Tadi itu ada Nara dan Ezra juga ada kok, suerrr sayang!" ucap Garce secepatnya memeluk lengan Mahendra. Suami yang perhatian dan selalu datang menjemputnya pulang.


"Terus mana orangnya?" tanya Mahendra kurang percaya. 'Ck, menggelikan!' batin Daffa lalu pergi dan tidak mau jadi kacang.


"Ya mereka sudah pulang barusan!" jawab Garce menunjuk ke parkiran tempat motor Ezra tadi. Mahendra mencubit gemas pipi istri kecilnya itu kemudian langsung saja mengangkatnya ke arah mobil.


"Ahhh, turunin! Malu dilihat orang!" pekik Garce menutup wajahnya yang memerah dan tidak habis pikir suaminya itu membawa dengan cara seperti itu di depan mahasiswa lain yang kini menahan tawa. Seperti kakak yang lagi membawa paksa sang adiknya pulang.


"Mamah, selamat datang!" Kiara menyambut cepat orang tuanya.


"Hey, sayang." Nara memeluk putrinya itu. Sedangkan Alan dan Kiano mengernyit heran melihat papahnya sedang banyak pikiran.


"Mamah, ayo lanjutkan game hitungan yang kemarin itu!" rengek Kiara.

__ADS_1


"Hahaha, okeh. Tapi mamah mau lihat Mayra dulu, sini kita ke adikmu, sayang!" Nara menggandeng tangan Kiara. Membawa putrinya itu ke kamar sang adik.


"Papah! Apa yang sedang papah pikirkan?" tanya Alan dan Kiano pada Ezra yang duduk sejenak di kursi tamu.


"Papah lagi berpikir siapa laki - laki itu yang tadi jalan sama Ibu kalian," ucap Ezra menyentuh dagu karena jika dipikir - pikir memang lumayan familiar.


"Wah, papah punya musuh ya?" Kiano duduk cepat di dekat Ezra.


"Kalau papah ingin tahu, minta tolong saja sama Kiara! Biar Kiara cari tahu identitasnya!" usul Kiano.


"Benar, papah tidak boleh biarkan mamah dekat - dekat sama pria lain! Itu bahaya, pah!" sahut Alan duduk di sebelah Ezra juga.


"Tidak, kalian tidak perlu terlibat. Papah yang akan sendiri tanyakan ini pada Ibu kalian!" Ezra berdiri, pergi menemui Nara. Kiano dan Alan ingin menyusul, namun laki - laki itu sudah ada di depan pintu sky house yang memang sistem keamanannya sudah tidak berfungsi lagi demi menjaga anak - anak tidak terkena bahaya dari sistem.


'Siapa pria ini?!' pikir Alan dan Kiano.


'Jangan - jangan musuh papah yang datang cari mamah?' Dua anak itu langsung menyambut pria itu dengan tatapan menghujam tajam.


"Siapa om? Dan apa tujuan anda, om?"


Pria itu sedikit terkejut pada Alan dan Kiano yang mirip sekali dengan Ezra. 'Hm, sepertinya dua anak ini memang anaknya,' batin pria itu.


"Kalau mau cari mamah kita, om salah tempat!" kata Alan dan Kiano ketus.


"Hahaha, maaf, saya ke sini bukan cari mamah kalian, tapi papah kalian."


Alan dan Kiano tercengang sudah salah sangka. "Papah? Buat apa, om?" tanya mereka lagi. Pria itu menunjukkan kartu namanya pada Alan.


"Saya datang ke sini ingin mengajukan beberapa ide kerjasama untuk papah kalian." Pria itu tersenyum manis. "Jadi tolong, boleh panggilkan papah kalian?" mohon pria itu lalu masuk saja dan duduk santai.


"Baiklah!" Kiano segera memanggil Ezra. Sedangkan Alan masih berdiri dan menatap lurus pria itu yang sedikit risih ditatap terus seperti penjahat.


'Orang ini perlu diselidiki! Mencurigakan!' batin Alan melipat kedua tangannya di depan dada.


'Hm, anak ini lumayan menarik. Tingkat kewaspadaannya lebih tinggi dari bocah yang tadi.' batin pria itu sedikit tersenyum ke Alan tapi putra sulung Ezra itu cuma memasang muka datarnya.


.

__ADS_1


Author kasih tambahan ya🤭soalnya ada kaitannya nanti sama sakuelnya hehehe🙏terima kasih buat yang sudah memberi dukungan untuk author💕💕💕sehat selalu.


__ADS_2