Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
57. BAB 57 - CEMBURU


__ADS_3

Usai mengetahui alasannya berada di rumah Ezra, Vano berniat membawa Melly bersamanya ingin meninggalkan rumah. Namun Mahendra mencegat anak didiknya itu keluar dari kamar.


"Pak, saya tidak mau merepotkan kalian jadi mohon beri kami jalan," ucap Vano.


"Mau kemana kamu?" tanya Ezra.


"Kami mau ke villaku." Ingin rasanya Vano bicara ketus tapi itu bisa membuat mereka curiga.


"Vano, kamu masih belum mengingat jelas masa lalumu dan ini sangat bahaya bagimu tinggal di luar terutama Melly sedang hamil." Kata Reyhan si Dokter yang perhatian.


"Kalian sudah tahu semuanya?" tanya Vano.


"Ya, Reyhan sudah mengatakan ini kemarin," ucap Mahendra.


"Kalau begitu biarkan saja kami berdua pergi daripada menyusahkan kalian di rumah ini." Vano ingin menerobos tapi triple twins menghalangi pintu.


"Enak saja mau main pergi, minta maaf dulu pada Nara dan Ezra!" Kata mereka sama - sama menunjuk Ezra.


"Dan juga pada kita semua di sini," sambung Kevin.


Vano menggertakkan rahangnya, antara gengsi dan kecewa pada mereka yang cuma menginginkan permintaan maaf darinya. Padahal bisa minta imbalan tapi ya mereka juga konglomerat sih. Melly pun menatap Vano, tatapannya menyuruh Vano minta maaf saja. 'Sial, kenapa jadi hancur begini,' batin Vano yang awalnya ingin menjadikan ELIPSEAN ll milik para gangster, tapi malah jadi kacau balau gara - gara dirinya sendiri. Dia pun pasrah terima nasib.


Dari sela - sela diantara bahu si trio, Nara yang sudah bangun dapat melihat Vano sedang membungkuk setengah badan dan meminta maaf setulus - tulusnya ke mereka agar tidak dikroyok satu keluarga baby Alan itu. "Maaf, saya minta maaf atas kesalahan di masa lalu."


Setelah meminta maaf, mata Vano pun lurus ke Nara yang berdiri di luar kamar. Dari arah matanya itupun,10 kakak ipar Nara menengok ke belakang.


"Mamma…" baby Alan merengek pada Nara. Ezra pun memberikan anaknya, bersamaan Vano berjalan ke arah pasutri itu.


"Mau apa kamu?" Hadang Ezra di depan anak dan istrinya.


"Maafkan aku." Vano menundukkan kepala. Sudah siap menerima tamparan dari Nara. "Gara - gara aku, tahun lalu kamu telat masuk sekolah dan melalui kesulitan selama ini."


Bukannya marah, Nara hanya tersenyum dan berkata. "Terima kasih."


"Terima kasih? Kamu tidak benci dia, Nara?" tanya Ezra heran pada istrinya yang malah senang, begitupula yang lain kebingungan adik iparnya itu tidak memberi tamparan.


"Tidak, aku senang dan tidak menyesal. Berkat ini semua, aku punya keluarga baru." Tak terasa air mata Nara menetes. "Membencimu hanya membuat masalah baru."


Mahendra dan Elvan yang melihat Nara dipeluk Ezra, keduanya merasa takjub adik iparnya yang punya hati lembut. Sedangkan si eight twins di sebelahnya tampak kepanasan karena adiknya sudah terbiasa peluk - pelukan di depan mereka yang masih jones.


"Dahlah, nggak seru," celetuk Kevin turun ke bawah.


"Tau ah, jadi nggak semangat hidup." Kenan ikut turun.


"Cih, jadi pengen makan orang," ketus Devan.

__ADS_1


"Makanya kalau hidup tuh jangan jadi jones!" susul Davin.


"Woy Davin, lu juga jones kali!" ujar Biyan dan Julian mengejar kakaknya. "Ahh… jangan tinggalin gue!" Zehan ikutan mengejar semua saudaranya yang mau sarapan pagi.


"Baiklah, kalian juga nanti turun, kita sarapan bersama - sama," ucap Elvan pada empat anak SMA itu lalu turun ke bawah.


"Cih, mereka itu berisik sekali." Gerutu Reyhan mau ke kamarnya.


"Sebentar, kamu nggak ikut sarapan?" tanya Mahendra.


"Mau sih, cuma kemarin aku capek banget di rumah sakit sampai nih kepala mulai cenat cenut kesakitan," jawab Reyhan butuh bodrex.


"Kalian duluan gih, ntar juga aku sarapan sendiri." Reyhan pun membuka pintu kamar, tapi berhenti ketika ada panggilan masuk dari hapenya Mahendra.


"Siapa itu? Apa itu Samudra?" Reyhan pun tidak jadi masuk kamar.


"Atau itu Kepsek?" tanya Nara, Ezra, Vano dan Melly. Sedangkan baby Alan menarik - narik baju Nara, mau sarapan lagi dari mommy langsung.


"Ini dari kakakmu Vano." Mahendra menatap Vano yang membuang muka. Reaksinya itu jelas kalau Vano tidak terlalu menyukai kakaknya. Ya semua itu karena sang Dokter sendiri tidak pernah peduli padanya yang dulu dipaksa - paksa.


"Tidak usah diangkat, aku lebih baik berada di sini dari pada tinggal bersamanya," ucap Vano pun menarik Melly turun ke bawah seraya membawa kantong infusnya.


Mahendra pun menolak panggilan itu. Dia juga tidak mau berurusan dengan Dokter cantik. "Ayo kita ke dapur bersama." Mahendra mengajak Ezra dan Nara. Sedangkan Reyhan masih berdiri di tempatnya, tidak tega pada kakak Vano.


"Apa aku ke rumah sakit dan katakan ke padanya kalau Vano ada di sini?" gumam Reyhan karena tidak punya nomornya si Dokter. "Benar, tidak ada salahnya dia tahu ini. Meski pun dia tidak suka Melly, tetap saja dia harus tahu anak di dalam perutnya Melly itu keponakannya." Reyhan mengambil kunci motor barunya, menuruni anak tangga, melewati dapur sehingga semua orang di dalam sana serentak menoleh.


"Mau ke rumah sakit," 


"Hah? Rumah sakit? Buat apa?"


"Aku ada urusan. Kalian lanjut sarapan saja." Reyhan berjalan terus ke pintu rumah. Setelah menutup pintu, langsung saja Dokter tampan itu terhenyak di belakangnya sudah ada si Dokter cantik yang datang meminta bantuan untuk mencari Vano.


"Reyhaaaan."


Si Dokter terisak - isak. Tangisnya membuat semua orang terkejut kemudian langsung mengintip satu - satu lewat jendela rumah. Mata mereka membulat sempurna melihat Reyhan dipeluk erat seorang wanita. Sedangkan Melly yang berdiri di dekat Nara mulai takut namun Vano menggapai tangannya dan tersenyum agar tidak usah cemas.


"Woaahh… siapa itu? Apa dia calon istrinya Reyhan?" Kagum ketiga biawak karena bentuk tubuh si Dokter sangat waw sekali. Dadanya menonjol bikin ularnya di dalam celana meronta - ronta ria pengen dijepit sekarang.


TAKTAKTAK


Tiga jitakan dari Mahendra mendarat ke kepala mereka yang punya mata keranjang. Emang playboy sih, kalau lihat yang semok - semok dan bening - bening pasti mulai naafsuan. Namanya juga saudara yang satu rahim dengan Ezra.


"Dasar, jangan perlihatkan reaksi menjijikan kalian itu." Tatap Mahendra dingin. Membuat empat kembaran Reyhan dan Elvan merasa heran.


'Loh kok marah? cemburu kah?' pikir Ezra karena ekspresi Mahendra mendadak merah padam. Sementara baby Alan senyum - senyum sendirian, hanya baby Alan yang tahu isi hati Mahendra.

__ADS_1


Di waktu yang sama, Daffa sedang bersiap ke sekolah dan sebelum membuka pintu, dia mendapat notif.


"Pagi, Pak Ketos." Sapa Garce dalam pesan teks dan ada stiker panda tersenyum. Daffa mendengkus pendek sahabat Nara itu yang seringkali menyapanya akhir - akhir ini.


Tampak pagi ini, dis juga sedih harus merelakan Nara untuk sepupunya karena dia tidak mau menjadi seperti Ibunya yang merebut milik orang lain. Namun teruntuk Pak Dirga sedang merenung di kamarnya, masih susah ikhlas anak sahabatnya menikah dengan keponakannya.


.


Cklik!


Pintu terbuka, Dokter yang tengah menangis itu menatap ke belakang Reyhan dan melihat Mahendra keluar.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Mahendra tanpa nada bicara.


Dokter mengalihkan matanya, memandangi Reyhan. Wanita itu kecewa pada Mahendra yang menolak panggilannya tadi. Padahal selama ini, dia sudah berusaha membantu masalah Ezra dan Nara.


"Rey, tolongin aku," mohon Dokter hanya ke Reyhan.


"Hey, aku yang tanya, kenapa kamu malah bicara padanya?" Mahendra menarik bahu Dokter cantik namun seketika. "PLAK" Tangannya ditampar dan diberi tatapan benci.


"Aku tidak sudi bicara pada pria berengsek sepertimu." Isaknya kemudian menarik Reyhan menjauhi Mahendra.


"Reyhan, ku mohon bantu aku, Vano tadi malam tiba - tiba hilang lagi, aku khawatir dia diculik orang jahat." Mohon Dokter cantik.


Reyhan menatap ke rumahnya, ingin rasanya dia katakan kalau adiknya ada di dalam. Tapi melihat Mahendra si pemilik rumah tampak tidak baik - baik saja hari ini, dia pun menarik tangan Dokter.


"Ya sudah, kita cari sekarang." Terpaksa Reyhan ingin membawanya keliling - keliling kota.


"Terima kasih, Rey. Cuma kamu saja yang baik padaku." Sekali lagi Dokter memeluknya membuat Mahendra mengepal tangannya. Terlihat geram.


"Okay, pakai ini." Reyhan memasangkan helmnya ke Dokter cantik yang tersenyum manis. Saat mau menaiki motor, tangannya ditahan oleh Mahendra.


Sekali lagi ditamparnya tangan itu. Reyhan tidak berkata, dia langsung membawa Dokter cantik pergi untuk dihibur dan membujuknya menerima Melly. Padahal Mahendra tadi berniat ingin katakan kalau Vano ada di dalam. Mahendra pun menatap telapak tangannya, dia sadar kakak Vano membencinya. Dari kejauhan, terlihat Garce menatapnya sedih. Gadis itu mengira Mahendra punya rasa pada Dokter itu. Membuatnya sakit hati dan berlari pergi, tidak jadi panggil Nara.


"Ihhh, aku kok jadi lebay begini sih." Gerutu Garce berhenti jalan dan menyeka terus air matanya yang berderai sendiri. Tiba - tiba menoleh ketika seseorang menyapanya.


"Hey Che, selamat pagi." Daffa yang mau berangkat sekolah pakai motornyan itu kebetulan berpapasan dengan sekertarisnya.


"Eh, kenapa kamu menangis?" Kaget Daffa. Garce tidak menjawab, dia berlari masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan kompleks elit itu. Daffa yang penasaran pun menoleh ke arah rumah Mahendra. Dia pun melaju pergi ketika Nara dan Ezra keluar ingin ke sekolah bersama. Dari pada sakit hati lagi, Daffa tidak mau melihat pasutri itu. Sedangkan Mahendra pergi ke sekolah pakai mobil bersama Vano dan Melly. Dua anak didiknya ini sepakat akan tinggal bersamanya. Sementara di rumah wakepsek itu. Si seven twins dan Elvan sedang berkumpul bersama baby Alan karena sang Mami Melissa yang tiba - tiba menelpon pagi ini.


Tatapan tajam mengarah ke Kenan yang sudah naif mengirim foto baby Alan. "Hehehe... Maaf, habisnya Mami juga berhak melihat cucunya." Senyum Kenan menyengir kuda.


"Kyahaha..." Tawa baby Alan mendadak riang. Tidak sabar mendengar suara Nenek Killernya.


.

__ADS_1


🤧❤Like


__ADS_2