
"Maafkan saya, nyonya, Ezra, memang benar Nara dulu mengandung tiga bayi kembar." Bu Mayang menunduk takut. Nara yang hadir di sana pun mengalihkan matanya yang sedang menahan tangis. Ezra menarik pundak istrinya dan memeluknya, supaya tetap mendengarkan sampai habis penjelasan Bu Mayang.
"Lalu kenapa Ibu tidak katakan dari dulu pada kami? Kenapa... kenapa Ibu tega lakukan itu padanya?" tanya Ezra.
"Saya tidak berani dan hanya tidak sanggup melihat Nara nanti menderita dengan hadirnya tiga anak itu. Jadi _" Bu Mayang terus menjelaskan bahwa dia tidak mau Nara tambah depresi memikul dan merawat tiga anak karena satu anak saja sudah membuat Nara kesusahan. Terutama gadis itu sudah tidak punya apa - apa untuk memenuhi kebutuhan Kiara dan Kiano. Akhirnya, sebelum Nara melahirkan, Bu Mayang terpaksa memasang harga tinggi untuk Kiano dan Kiara dalam situs ilegal sehingga seseorang pun tertarik ingin membeli. Demi transaksi berjalan lancar, seorang Dokter laki - laki dari pihak pembeli menganjurkan Nara diberi obat - obatan untuk melumpuhkan ingatannya. Bukan itu saja, Dokter sekalian memberinya obat terlarang dengar dosis tinggi karena pada saat itu Nara yang menyadari sudah melahirkan tiga kali memberontak tak ingin Dokter wanita yang membantunya melahirkan itu merebut dua bayinya. Dari obat - obatan itu, Nara lumpuh seminggu dengan ingatan tidak sempurna sampai sekarang.
"Ibu... kau keterlaluan! Teganya kau lakukan itu padaku, Ibu!" ujar Nara pun tidak bisa membendung air matanya yang berlinang. Hatinya teramat sakit mendengar Bu Mayang yang seperti itu. "Huwaa.... " Ezra segera membawa Nara keluar sebelum istrinya itu jatuh pingsan dan berdampak pada janin di dalam perutnya.
Mahendra dan saudara lainnya pun cukup geram dengan perbuatan Bu Mayang yang benar - benar seram.
Bruk!
"Maafkan saya, nyonya! Saya salah dan patut dihukum, tapi sejujurnya saya hanya tidak ingin Nara melalui dan menderita. Terlebih lagi dia pada saat itu tidak tahu apa - apa. Saya pantas mati tapi tolong maafkan saya." Bu Mayang berlutut lalu menunduk dan menangis menyesal.
"Huft, saya jadi tidak enak melihat dan mendengar ini semua." Tuan Deivaro sekaligus orang pada saat itu berdiri dari tempat duduknya.
"Sekarang semua sudah jelas, jadi saya harap bisa membawa dua anak itu yang kalian bawa dari New York." Tuan Deivaro dengan fasih meminta Kiara dan Kiano.
Melissa berdiri dengan cepat. "Tidak akan." Menolak sangat tegas.
"Benar, dua anak itu bagian keluarga kami dan mereka sudah kembali pada rumah yang sebenarnya."
"Tuan Deivaro, jika anda merasa tidak terima atas penolakan ini, kami siap memberi dengan harga yang jauh tinggi." Elvan dan adiknya berdiri ikut membantu Melissa.Tidak mau dua anak Ezra dibawa pergi dari sky house dan keluarga Van.
"Ck, uang kalian tidak berarti bagiku. Serahkan saja dua anak itu sekarang juga!" tolak Tuan Deivaro marah.
__ADS_1
"TIDAK!" ujar seorang anak membuka pintu ruangan itu.
"Alan tidak mau berikan dua adik Alan!" Alan masuk sendirian. Berjalan dengan wajah dingin dengan hawa suram yang menyelimuti sekelilingnya sehingga terasa seperti diserang dari berbagai arah. Tekanan kuat dan menakutkan yang bisa dirasakan jelas oleh Tuan Deivaro dan yang lainnya.
"Dua adik? Jadi kau kakak yang tertua?" Tuan Deivaro menatap dingin lalu sontak terkejut disodorkan sebuah black card.
"Apa ini? Kau sedang mencoba membeli dua adikmu padaku?" tanya Tuan Deivaro menyinggung senyum seringai.
"Bukan, Alan mau ganti rugi. Ambil semua isi card ini,"
"Isinya ada banyak dan ini sudah cukup mengganti harga yang pernah dipakai nenekku dulu."
"Jika masih kurang, silahkan ambil satu bola mata Alan ini dan pergi dari hadapan Alan."
Melissa dan 11 anaknya tertegun melihat Alan dengan beraninya bicara pada Mafia besar itu. Bahkan menawarkan satu bola matanya dan black card berharga itu.
"Keluarga Alan lebih berharga dari apapun, Alan cinta mamah, sayang papah, dan sudah lama merindukan adik Alan. Alan juga cuma mau hidup bahagia bersama mereka." Alan masih menatap Deivaro tanpa kedipan. Meskipun dua matanya yang indah dan tajam itu sudah ingin menangis, tapi Alan harus tahan demi kebebasan Kiara dan Kiano. Anak lima tahun itu tak akan gentar meski diberi sorotan amarah Deivaro.
Huhhh...
Sorotan intimidasi itu melemah dengan hembusan nafas yang berat. Deivaro merasa sulit. Tiba - tiba Kiara dan Kiano masuk. "Kakek!" Mereka berdiri di sebelah Alan dengan mengulas senyum senang.
"Kakek! Kiara senang bisa tinggal sama kakek, tapi Kiara bahagia bisa hidup sama mamah dan papah di sini!" ujar Kiara.
"Benar! Kiano juga senang tapi Kiano tidak mau pisah sama Alan, sama mamah dan papah. Kakek jangan bawa kita kembali dulu, Kiano masih mau lama di sini sama mereka." Kiano merangkul leher Alan dan berdiri sejajar dengan dua kakaknya.
__ADS_1
Elvan ingin maju membujuk Tuan Deivaro, tetapi Samudra dan Mahendra menahannya. Terutama Melissa sekarang diam memperhatikan tiga anak mungil itu yang sedang memohon kebebasan juga. Rasanya ingin menangis dan memeluk tiga cucu kembarnya yang selama ini berpisah dari Nara dan Ezra.
Deivaro mengangkat dua tangan. Mengira pria tua itu ingin menarik paksa dua anak itu, ternyata Deivaro mengusap kepala Kiara dan Kiano. "Baiklah, malam ini kalian bebas dan tidak perlu kembali ke sana." Kiara dan Kiano melompat riang. "Yeahh! Kakek baik! Sayang kakek!" Mereka memeluk Deivaro untuk terakhir kalinya kemudian menatap ke atas. "Kakek, tidak usah sedih, Kiara akan sering - sering kirim surat!" ucap Kiara.
"Kiano juga akan kirim foto bela diri Kiano! Kita juga akan ke sana lihat kakek!" ujar Kiano. Dua - duanya sedikit sedih harus pisah pada pria yang telah memberi tempat tinggal untuk mereka selama enam tahun ini.
"Haha... jadi tidak sabar kapan kalian ke sana." Deivaro tertawa lalu melihat Alan. Tidak lupa menepuk pelan kepala bocah yang sangat berani padanya itu.
"Saya harap kamu bisa menjaga mereka dengan baik," ucap Deivaro. Alan mengangguk dan tersenyum.
"Serahkan saja pada Alan, ka... kakek!" ujar Alan sedikit malu - malu. Deivaro pun menyuruh bodyguardnya meninggalkan keluarga Van untuk kembali malam ini juga pada tempat asalnya tanpa mengambil card Alan. Kiara dan Kiano pun melambai pada Deivaro yang pergi dari kawasan sky house. Kini tinggal keputusan untuk Bu Mayang namun Alan memeluknya, tidak mau wanita yang sudah rela mengurus dan menjaganya dari embrio tanpa balasan, di penjara atau dihukum mati.
"Maaf tuan muda, anda tidak perlu melindungi orang jahat seperti saya." Perasaan Alan terguncang mendengar Bu Mayang seperti orang asing baginya.
"Tidak! Alan sayang, nenek!" Alan menggelengkan kepala tidak mau ditinggalkan.
"Nenek baik, sayang Alan, suka main sama Alan, sayang mamah juga, jangan pergi, Nek." Alan meminta dengan tangis kecilnya yang akhirnya pecah di depan semua orang.
"Kalau sayang Alan, tidak seharusnya begitu pada mamahmu," ucap Ezra datang bersama Nara yang sedikit tenang berkat Kiara dan Kiano tidak dibawa. Alan berlari pada Nara, memeluk erat Ibunya dan menengadah dengan tangisnya yang semakin dalam.
"Mamah! Alan tidak mau Nenek pergi. Jangan biarkan nenek pergi, Mah!" Tapi Nara cuma diam dan mengalihkan matanya dari Bu Mayang.
"Papah! Nenek itu tidak jahat! Nenek cuma terpaksa, papah." Alan memohon terus pada Ezra setelah sirena terdengar dari kejauhan. "Uwaaa…. jangan bawa nenek Alan." Alan pindah pada Melissa tapi tak ada jawaban. Alan pindah terus dan terus pada 11 unclenya. Memohon dengan tangis pilunya.
Pada akhirnya, keputusan pun keluar. Bu Mayang dimaafkan tetapi mulai sekarang akan terus hidup mengabdi pada keluarga Van dan menjaga anak - anak di keluarga Van. Kiara dan Kiano memeluk Bu Mayang. Meski sudah jahat, dua anak itu akan coba membuka hati untuknya. Nara pun juga minta maaf selama ini pasti merepotkan Bu Mayang sehingga melakulan hal itu. Mereka semua pun berdamai. Namun sirine masih terdengar mendekat membuat Alan merasa semua orang sedang berbohong dan cuma mengalihkan tangisnya.
__ADS_1
"Oma… jangan biarkan polisih bawa nenek pergi."