
Tiga hari berlalu, di sky house.
"Ezra...." Nara yang habis buang air dari kamar mandi, ia mendekati suaminya yang lagi duduk sila di lantai sembari main game mobile.
"Hm, kenapa?" tanya Ezra tanpa menoleh. Nara mendengkus melihatnya yang amat fokus. Ia pun duduk di sebelahnya.
"Loh, kenapa mulutnya manyun begitu?" tanya Ezra lalu buru - buru kembali fokus.
"Aku mikirin Melly,"
"Hari ini dia sudah bisa keluar dari rumah sakit." Dari matanya, Nara tampak sedih tidak bisa lagi mengunjungi Melly dan bayinya.
"Bagus dong, sayang," kata Ezra lalu mendesah kesal mendapat pangkat kecil, Bronse ll. Ia pun menyimpan hapenya dan mendengarkan keluh kesah istrinya di sore ini.
"Ya bagus sih, tapi dia langsung dibawa ke tempat keluarga Bastian. Kamu tahu sendiri kan tempatnya itu jauh dari sini, aku jadi tidak bisa jenguk dia lagi," keluh Nara cemberut.
"Kan bisa pakai video call, sayang," usap Ezra ke rambut istrinya.
"Tapi itu tidak bikin aku puas," celetuk Nara. Ezra pun mengetuk - ngetuk lantai, sedang berpikir.
"Hm, kamu tenang saja, setelah kak Reyhan menikah, kita bisa ke sana dengan alasan ingin bertemu dia," senyum Ezra dapat ide.
"Tumben kamu pintar hari ini," ucap Nara.
"Hmm, ini pujian atau ejekan buat aku?" cubit Ezra.
"Hm, dua - duanya," tawa Nara melihat suaminya itu yang sekarang cemberut, lalu menunduk sedih.
"Kenapa lagi?"
"Za, aku gelisah,"
"Apa yang kamu gelisahkan?"
"Mami," ucap Nara pun mengusap perutnya.
"Kalau Mami tahu diperutku tidak ada bayi, kira - kira nasib kita bagaimana nantinya?"
Ezra menatap ke pintu kamarnya yang tertutup. Setelah itu ia memegang tangan Nara.
"Mumpung rumah lumayan sepi, bagaimana kalau kita buat sekarang?" usul Ezra pengen itu.
__ADS_1
"Ihhh, katanya tidak mau aku hamil dulu, tapi mendadak hari ini mau, bilang saja kamu mau itu doang," cetus Nara kesal.
"Hehe... " Ezra cengengesan kemudian menghembus nafas pendek. "Ya sih, aku tidak mau kamu merasakan kedua kalinya seperti Melly, tapi kalau kita tidak buat sekarang, aku cemas Mami mengusirmu dan baby Alan dari rumah ini. Apalagi hartaku belum diberikan," ucap Ezra yang aset - aset kekayaannya masih disita Melissa.
"Ya sudah, kita berdua jujur saja ke Mami. Kita minta Kak Mahendra atau Kak Samudra yang bantu bicara ke Mami. Kalau kita begini terus, cepat atau lambat kebohongan ini pasti bakal terbongkar," saran Nara.
"Baiklah. Kita cari mereka berdua."
Ezra dan Nara pun keluar kamar. Kebetulan berpapasan dengan Samudra yang baru masuk dari luar.
"Bang, habis dari mana?" tanya Ezra.
"Habis ngurus surat - surat pergusuran sekolah," jawab Samudra duduk istirahat ke sofa. Memang setelah ujian sekolah selesai, gedung itu berakhir diruntuhkan bulan ini karena di hari awal tahun baru, sekolah itu dibangun kembali.
"Kalau sekolah digusur, siswa ELIPSEAN l belajar di mana, Bang?" tanya Ezra ikut duduk bersama Nara.
"Itu sih gampang, kalian belajar di ELIPSEAN ll tapi di waktu siang sampai malam," ucap Samudra.
"Serius? Sampai malam, Kak?" Nara sedikit terkejut.
"Kalau sampai malam, Nara tidak bisa menyusui baby Alan dong," ucap Ezra cemas.
"Memangnya masih susu ke Nara?" tanya Samudra dan diberi anggukan oleh adik ipar kecilnya itu.
"Emang Ezra dulu berhenti di umur berapa, Kak?" tanya Nara penasaran dan melirik Ezra yang sebal.
"Umur empat tahun, dia masih nyusu ke Mami," tawa Samudra. Pasalnya adiknya itu lama minum ASI tapi hasilnya tetap tidak cerdas. Memang otak adiknya itu sedikit beda dari yang lain.
"Bang! Jangan buka aib aku dong!" sentak Ezra melempar bantal sofa. Nara pun tertawa kecil melihat Samudra dengan cepat menghindari bantal - bantal dari Ezra.
"Sudah, Za. Kita tanya yang itu yuk." Nara menghentikan suaminya.
"Apa yang mau kalian tanyakan?" Samudra berhenti menghindar, alhasil satu bantal kena wajahnya.
"Hahaha.... makan tuh roti gabus," tawa Ezra puas mendengar suara tampolannya. Samudra tidak mau diam saja dipermalukan, ia pun balas balik.
PLAK
"Ahaha," tawa Samudra melihat bantalnya meledak di wajah adik kecilnya itu.
"SUDAH!" pekik Nara sehingga Ezra dan Samudra benar - benar menyudahi kelakuan mereka.
__ADS_1
"Aku mau serius, tolong jangan main - main dulu," marah Nara membuat kakak beradik itu diam.
"Kak Samudra, maaf. Bisakah Kakak bantu kita bicara ke Mami tentang ini?" Tunjuk Nara ke perutnya. Tanpa dijelaskan, Samudra pun paham.
"Yakin nih kalian mau jujur?" tanya Samudra.
"Ya Bang, bohong itu dosa, jadi kita mau jujur saja." Ezra bangkit dari tempat duduknya.
"Dipikir - pikir memang harus jujur, kalau Nara dipaksa hamil lagi, ini sangat mempengaruhi sekolahnya dan baby Alan juga masih kecil," gumam Samudra paham.
"Karena itulah, abang bantu kita," mohon Ezra dan Nara karena selain Mahendra, cuma Samudra lebih terlihat dewasa di rumah ini.
"Aku sih mau bantu, tapi dari kemarin, Mami tidak pernah mau bicara padaku," keluh Samudra sedih dan membuatnya bimbang mengutarakan niatnya ingin meminang Chila dari keluarga Son.
"Abang tenang saja, kita semua akan bantu di sini," ucap Ezra juga tidak tega melihat kakak keduanya itu.
"Oke, kalau begitu atur hari yang tepat, aku dan Mahendra akan diskusikan ini nantinya, siapa tahu Mahendra juga bisa bantu kalian,"
"Terima kasih, Bang! Cuma kamu yang memang bisa mengerti aku tanpa dikasih imbalan uang," riang Ezra memeluk Samudra.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Kalau Mami dan Mahendra pulang, kalian panggil aku."
"Baik, Kak. Terima kasih." Nara berdiri, tersenyum ke Samudra yang menaiki anak tangga.
"Syukurlah," hembus Nara kemudian menoleh ke Ezra yang menaik turunkan kedua alisnya.
"Kamu kenapa?" tanya Nara.
"Kita ke kamar yuk, sayang. Adikku di dalam sini pengen makan kamu," jawab Ezra menunjuk celananya. Nara merona lalu menggelengkan kepala.
"Ntar malam ya, Za," tolak Nara halus.
"Ayolah, sekarang ajah," rengek Ezra manja.
"Tidak Za, aku sekarang mau ke kamar Ibu lihat baby Alan, dari tadi tidak dengar suaranya, aku cemas Ibu kerepotan ngurus baby kita," ucap Nara menunjuk ke kamar Bu Mayang.
"Ayolah sayang, mumpung rumah sepi," mohon Ezra mengikuti istrinya itu yang mau ke kamar Bu Mayang.
Setelah sampai di depan kamar, Nara menghela nafas ringan kemudian tersenyum. Ezra mengerjap - erjapkan matanya, berharap Nara putar balik ke kamar mereka. Tapi Nara cuma mengecup pipinya dan berbisik. "Nanti malam, suamiku." Senyumnya pudar namun pipinya merona ketika Nara membisikan sesuatu.
.
__ADS_1
🤭Mulai nih si babang Ezra manja.