
"Nara, mau kemana?" tanya Bu Mayang pada Nara yang sedang menuruni anak tangga.
"Mau jemput Mayra dan adiknya, Bu." Nara menunjukkan jam tangannya yang sudah waktunya tiga anak itu pulang sekolah.
"Tidak perlu kau yang jemput, biarkan Ibu saja."
"Tapi, Ibu kan baru selesai masak," ucap Nara tidak enak merepotkan Bu Mayang terus - terusan.
"Nara, hari ini kau baru pulang bersama Ezra, kalian berdua pasti capek, kembalilah istirahat, biarkan Ibu yang menjemput anak - anak itu." Karena didesak, Nara pun mengalah. "Baiklah, terima kasih, Bu." Usai Bu Mayang pergi memakai taksi, Nara pun menaiki anak tangga dan kebetulan berpapasan dengan suaminya itu.
"Lho, tadi aku suruh tunggu di mobil, kenapa balik ke kamar, sayang? Mau pijat suamimu lagi nih?" tanya Ezra dengan rayuan.
"Itu Ibu yang pergi," jawab Nara lesu.
"Hmm, terus kenapa mukanya begitu?" tanya Ezra mengangkat sedikit dagu istrinya.
"Sebenarnya tadi aku mau sekalian singgah ke supermarket." Nara menjawab dengan manyun.
"Bagaimana kalau aku antarkan kau ke sana? Aku juga ingin beli sesuatu di sana." Ezra meraih tangan Nara dan tersenyum dengan manis pada istrinya itu.
"Hmm, sesuatu? Apa itu?" tanya Nara yang kini di dalam mobil hitamnya bersama Ezra.
"Ya tau sendirilah, bahan ritual, sayang." Ezra menjawab dengan kedipan nakal.
"Pfft, hahaha..." Nara tertawa geli mengetahui artian dari ucapan suaminya.
"Kamu ini ya, tiada hari tanpa mikir ritual. Memang patut aku harus ikut denganmu setiap hari." Nara yang gemas pun mencubit lengan suaminya. "Lama - lama bahan ritualmu itu tidak akan berguna juga."
"Hah? Maksudnya?" Ezra sedikit terkejut dan kurang paham. "Sudah, ayo pergi ke sana cepat, sayang!" ucap Nara tidak mau bahas ritual - ritual suaminya.
"Okeh, Ibu Bos!"
Sampainya di tempat yang dipenuhi orang itu, tidak sangka mereka terlalu sibuk sehingga tidak menyadari Ezra dan Nara masuk ke tempat itu. Namun tiba - tiba, seseorang bersweater hitam menegur sapa dengan Nara dan Ezra.
"Siang, om!"
"Tante!"
"Lho, Kumi?" Ezra dan Nara mengenali gadis cantik itu yang sedang membeli beberapa cemilan.
"Kumi, kau tidak sekolah hari ini?"
"Hmm, iya Tante. Kumi sakit," ucap Kumi tersenyum pada Nara.
"Sakit? Tumben sakit? Karena apa?" tanya Ezra yang berdiri di sebelah istrinya.
__ADS_1
"Karena lihat konsernya Kiara dan Kiano, om," jawab Kumi.
"Hah? Apa hubungannya dengan konser?" tanya Nara.
"Kemarin itu, waktu pulang, Kumi hujan - hujanan. Untung saja ada Alan sama Mayra yang nawarin Kumi nebeng di mobil om yang warna putih itu. Gara - gara jalan sedikit becek, mobil om itu hampir saja nabrak tiang. Beruntung cuma lecet sedikit sih."
Ezra terkejut merasa kini semua sudah jelas. Mobilnya penyok pasti ulah antara Alan atau Mayra.
"Sayang, sabar ya. Jangan ngamuk di sini." Nara segera mengelus lengan suaminya berharap tidak terpancing emosi.
"Arggg, Mayra.... sekian banyaknya bibit yang aku besarkan, baru kali ini kau yang pertama kali membangkang sama papah." Ezra segera keluar dari tempat itu.
"Waduh, apa Kumi sudah salah bicara ya, Tante?" tanya Kumi sedikit takut melihat ekspresi Ezra itu.
"Tidak usah dipikirkan. Kau lebih baik cepat pulang. Tante pergi dulu, dah." Nara menyusul Ezra cepat. Dia tidak bisa menyalahkan Kumi yang memang selalu berkata jujur.
Benar saja, sesampainya di rumah, Ezra sudah menebak Mayra lari kocar - kacir ke kamar ketika bocah esde itu melihat papahnya pulang dengan mata berapi - api.
"Ahh, Nenek! Papah sepellti goliza (Gorilla)." Arsha dan Arshi memeluk Bu Mayang yang geleng - geleng kepala. Dari dulu memang cuma Mayra yang selalu bikin Ezra mengomel tiap hari.
"Ahhh, ampun papah! Mayra memang kemarin ke studio, tapi itu karena Alan yang ajak." Mayra berontak di dalam selimutnya sembari dua kakinya ditarik Ezra.
"Banyak alasan, bilang saja kemarin Mayra yang paksa kakakmu itu ke sana! Iya kan?" sentak Ezra pun berkacak pinggang.
"Serius, Pah. Mayra tidak paksa - paksa kak Alan." Mayra duduk manis di depan Ezra dan mengangkat dua jari kecilnya itu.
"Dua rius, Mah. Kak Alan yang kasih tiket." Mayra terus berusaha bicara jujur. Seketika Ezra memberikan sebuah kanebo kering.
"Apa ini, pah?" tanya Mayra mengambilnya.
"Sebagai hukuman, Mayra bantu papah cuci mobil."
"Hah? Cuci mobil? Kenapa tidak dibawa ke -"
"Jangan banyak bicara, cepat keluar terus cuciin mobil putih papah itu." Ezra menunjuk dengan tegas. Mayra cemberut dan segera keluar kamar, tidak lupa meledek Ezra dengan tingkah konyolnya.
"Mayra!"
"Ahhh, ampun papah!" Mayra secepatnya pergi membuat Nara menahan tawa melihat kelakuan suami dan satu putrinya itu yang kini cuci mobil bersama. Bercanda ria bersama si kembar mungil juga sembari menggoda Nara yang datang memanggil mereka makan siang. Sedangkan di sekolah, tiga anak kembar Nara baru pulang.
"Woi, Al!" panggil Kiara dan disusul Kiano.
"Hmm, apa?" tanya Alan tanpa menoleh pada dua adiknya yang jalan di sebelahnya itu.
"Tadi pagi, siapa cewek yang nebeng di motormu itu?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Pacar baru?" tebak Kiano dan dalam hatinya sedikit takjub pada Alan yang selalu ditempelin cewek - cewek. Tidak sepertinya yang belum pernah pacaran, karena di dalam kontraknya, Kiara dan Kiano dilarang memiliki hubungan dengan siapa pun demi reputasi dan nama perusahaan tidak tercemar.
Sebelum dijawab, cewek yang dimaksud tidak sengaja berpapasan dengan tiga anak kembar Ezra itu.
"Hei, El!" sapa Kiano tersenyum.
"Hai, Kak Kiano, Kak Kiara." Elia balas menyapa kakak kelasnya itu yang sudah kelas sebelas. Sedangkan Elia kelas sepuluh karena tahun lalu gadis itu menunda sekolahnya karena selama itu ia pergi ke luar negeri menemani Melly yang berobat, sehingga Elia dan Alan tidak sekelas saat ini.
"Kau mau pulang, kan?" tanya Kiara pada rivalnya itu.
"Hmm, iya kak." Elia mengangguk.
"Tapi, kemana supir jemputan mu?" tanya Kiano.
"Itu, tadi pagi mobilnya mogok, mungkin nanti sore bisa dipakai, kak," jawab Elia sedikit gugup berdiri di antara tiga anak kembar rival bisnis papahnya itu. Terutama siswa lainnya sedang heboh sendiri melihat mereka berkumpul. Membuat mantan - mantan Alan pun merasa risih Elia berhadapan dengan cowok mereka. Beda lagi sama siswa cowok tidak suka Elia dekat - dekat sama Alan yang terkenal playboy.
"Berarti, kau harus pakai taksi kan?"
"Hmm, tidak. Aku masih trauma, kak." Elia menggelengkan kepala, masih belum melupakan aksi penculikan yang dilakukan Zaberx waktu dulu dengan menyamar sebagai supir taksi.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku antar pulang?" tawar Kiano.
"Woi, No! Gue mau diapakan?" tanya Kiara menepuk pundak Kiano.
"Lo pulangnya sama Alan." Tunjuk Kiano pada Alan yang sudah stay di atas motornya.
"Tidak usah, biarkan aku yang antar dia pulang," ucap Alan.
"Tidak boleh begitu, boy! Gue duluan yang tawarin El, jadi gue yang antar dia pulang." Kiano menarik Elia tetapi Alan menangkap tasnya gadis itu.
"Tapi aku yang tadi pagi antar dia, jadi biarkan saja dia pulang bersamaku." Alan menarik paksa Elia.
'Jadi cewek tadi pagi yang dilihat nebeng itu, Elia?' batin Kiara dan Kiano sedikit terkejut.
"Maaf, sepertinya aku ikut Alan saja." Elia segera naik ke motor Alan daripada Kiano berdebat dengan kakak kembarnya itu.
"Bagus, pegangan yang erat."
"Baik, Kak!" Elia pun memegang tas Alan kemudian menundukkan kepala pada Kiara. Dalam hatinya, Elia sedikit senang bisa lagi diantar oleh Alan. Namun bagi cowok itu, dalam hatinya, dia merasa lega dapat menjadikan Elia sebagai perisai agar cewek - cewek di depan sekolah tidak lagi menghentikannya pulang.
"Sabar sabar, masih banyak cewek yang bisa kau antar pulang," ucap Kiara menepuk bahu adik kembarnya itu.
"Ck, nggak usah prihatin. Naik ke motor cepat!" perintah Kiano dengan muka tidak karuan.
"Ihhh, apa sih! Gue bicara baik - baik malah dibalas ketus! Dasar cowok bermuka dua!" Kiara segera menyusul Kiano sebelum penggemarnya berkumpul di depan sekolah.
__ADS_1
.
Kira² bahan ritual apa ya wkwk