Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
74. BAB 74 - KONGLOMERAT


__ADS_3

Dua puluh menit yang lalu, sebelum Melissa jatuh pingsan. Di dalam mobil yang sedang menepi di sebuah kedai pinggir jalan, tampak Nara masih belum berhenti memikirkan Ezra.


"Hey, apa kamu masih cemas, Nara?” tanya Melly pindah duduk di dekatnya.


“Ya, aku cemas dan tidak tahu apakah Ezra dan Pak Mehendra bisa meluluhkan hati mertuaku atau tidak?" jawab Nara yang sedang menyusui baby Alan lewat pucuk dada kirinya. Sedangkan Vano masih di dalam kedai, dia sedang mencari cemilan ringan sembari menunggu kabar dari si trio biawak apakah sudah bisa pulang atau tidak.


"Sepertinya kita sama, Nara," ucap Melly menunduk sedih.


"Hm, sama? Maksudnya?" Nara mengernyit.


"Kamu tahu kan, keluarga Van dan Bastian itu keluarga konglomerat di sini. Ibunya Ezra saja disegani oleh 12 anaknya, apalagi kalau ibu mertuaku nanti pasti lebih parah darimu." Melly mengusap perutnya. Ia mengkawatirkan nasib bayi di dalam perutnya juga.


"Kamu jangan sedih, Melly. Masih ada kakaknya Vano yang bisa membantumu dan aku yakin Vano juga bakal ikut membelamu." Nara mengelus punggung tangan Melly.


"Ini salahku, harusnya aku lebih banyak makan tablet, tapi tetap saja sia - sia," keluh Melly.


"Bukan cuma makan tablet, tapi harusnya kamu larang Vano dan suruh dia berhenti menyentuhmu sampai kamu lahiran," terang Nara serius memberi nasehat. Ia kasihan karena Melly tampak sedikit kurus. Bisa - bisa, Melly tidak sempat ikut ujian tengah semester, apalagi waktu lahirannya juga sudah dekat.


"Ya, itu sudah aku usahakan, tapi kamu tahulah sendiri Vano itu bagaimana orangnya," hembus Melly.


"Meski kadang memaksa, aku sedikit lega ia tidak seperti dulu lagi, semoga saja dia amnesia selamanya supaya tidak ingat bagaimana kejamnya dia padamu, Nara." Melly memegang punggung tangan Nara.


"Maafkan Vano, Nara. Gara - gara dia, kamu terlibat dengan keluarga Van. Harusnya kamu menikahi Daffa tapi sekarang Ezra lah yang menjadi suamimu."


"Ya, itu semua sudah berlalu. Aku juga tidak bisa lama - lama membencinya," ucap Nara tersenyum.


"Mamma.... " rengek baby Alan sedikit menguap.


"Pfft, sepertinya anakmu sudah mengantuk, Nara." Tunjuk Melly ke baby Alan yang terpejam.


"Hmm... waktunya dia tidur siang," tawa Nara memperbaiki bh dan seragamnya.


"Kalau begitu kamu tunggu di sini, aku mau panggil Vano di dalam -" Putus Melly mau keluar tapi Vano tiba - tiba masuk mobil.

__ADS_1


"Kebetulan nih, bisakah kamu bawa kita kembali ke rumah, No?" mohon Melly yang juga mau istirahat, capek duduk terus.


"TIDAK," tolak Vano tegas, hampir membangunkan baby Alan.


"Tidak? Kenapa?" tanya Nara was - was. 'Apakah dia sudah ingat semua dan mulai ingin jahatin aku?' pikir Nara memegang tangan baby Alan dan memeluk putra kecilnya.


"Sial," umpat Vano menatap ke luar jendela.


"Sial? Sial kenapa, Vano?" tanya Melly.


"Tetaplah duduk di samping Nara, Melly." Vano menoleh ke calon istrinya.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Nara.


"Lihatlah, di luar sana ada anggota blackzak." Vano menunjuk beberapa siswa ELIPSEAN II yang sedang mencarinya karena Vano tidak sengaja dilihat oleh mereka. Melly dan Nara pun terkejut.


"Sekarang kalian diam saja di sini, aku perlu -"


"Tidak No, jangan ladeni mereka, lebih baik kita pergi saja, kasihan baby Alan yang lagi tidur mendengar perkelahian kalian," larang Melly sebelum Vano keluar mobil.


'Melly benar, bukan cuma anak kecil Nara yang terganggu, bayiku di dalam perut Melly juga bisa dalam bahaya.' Vano melirik Melly yang tampak resah di sebelah Nara.


Vano mengangguk paham, ia pun mengunci pintu dan jendela rapat - rapat ketika lima mantan anggotanya dulu berdiri di antara mobilnya dan mobil orang. Mereka tampak mencari - cari mantan ketuanya.


"Cih, gue yakin tadi Vano jalan ke sini,"


"Tapi dia kan sudah tidak punya apa - apa, bagaimana bisa dia datang ke sini? Lihatlah, ada banyak mobil terparkir dan tidak ada jejaknya di sini,"


"Memang dia sudah tidak punya apa - apa, tapi siapa yang bakal tahu kalau dia bersembunyi di antara mobil - mobil ini."


Nara pun dilanda keringat dingin melihat mereka mengintip ke dalam mobil lewat jendela dan salah satu dari mereka mengintip juga ke dalam mobil Vano. Bukan cuma mengintip, mereka juga menempelkan wajahnya ke jendela mobil sehingga baby Alan yang melek sebentar, ia terkejut.


Sebelum bayi itu merengek, Nara membungkam mulut bayinya pakai dot yang tadi dipakai Ezra meremat dadanya. Vano dan Melly mengelus dada lega. Tapi anggotanya itu tiba - tiba teriak.

__ADS_1


"Woy, coba ke sini, mobilnya keren banget, tapi agak aneh, jendela ini tidak tembus pandang."


Vano, Melly dan Nara pun sadar mereka sudah mulai curiga. Vano pun memegang stir dan siap menekan pedal gas.


"Tidak tembus? Maksudnya kita tidak bisa melihat ke dalam?" Lima anggota berkumpul, mengepung mobil Vano di sisi yang berbeda. Kalau saja tidak ada Melly dan Nara, ingin rasanya Vano keluar menghentikan mereka.


"Ya nih, kayaknya mobil ini mencurigakan," ucap salah satunya memukul - mukul jendela yang keras dan hitam itu.


"Sial, coba kita buka mobilnya, siapa tahu si brengseek itu ada di dalam." Situasi semakin menegang melihat mereka membawa satu - satu tang. Tapi tidak semudah itu mereka menangkap Vano.


Sebelum pintu mobil dicungkil, mobil itu mendadak maju, hingga kelima anggota blackzak itu cepat menghidar. "Bajingan, apa - apaan ini!" geram mereka.


Vano membuka jendela mobilnya, menatap dingin kemudian tersenyum remeh.


"Yosh, maaf kalau membuat kalian sedikit lecet," ucap Vano mengejek.


"WOY VANO!" Mereka yang awalnya takut, sekarang tidak gentar lagi, sebab mereka yakin Vano masih amnesia dan staminanya pasti menurun. Mereka ke motor masing - masing, mengejar mobil Vano yang pergi.


Setelah Vano mengambil jalan yang sepi, mendadak di depan sana sudah dikepung oleh ratusan siswa anggota blackzak.


"Vano, lebih baik kita putar arah," saran Melly tidak mau adanya perkelahian. Meski di sekitar sepi dan hening, tetap saja ini bahaya untuk baby Alan dan bayinya.


"Cih, tidak bisa." Vano berdecak.


"Kenapa?" tanya Nara.


"Lihat di belakang, kelimanya mengepung kita juga." Sontak Nara dan Melly menengok.


"Jalan satu - satunya, aku turun bicara ke mereka," ucap Vano siap membuka mobil.


"Tapi No, kamu masih tidak pulih." Tahan Melly takut Vano bakal tumbang dan tidak seperti dulu lagi.


"Tidak usah mencemaskan aku, cemaskan saja bayi kita, Melly." Vano terpaksa keluar sehingga mereka pun marah melihat ketua mereka memang ada di dalam mobil itu.

__ADS_1


.


😄hiyaaa likenya dong jangan ketinggalaaan🤸‍♀


__ADS_2