Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
24. BAB 24 - ADIK IPAR


__ADS_3

Setelah menjemur pakaian suaminya, Nara yang berdiri di dekat jemuran pinggir pagar pun menoleh pada Ezra yang bersiap keluar. "Mau kemana kamu, Ezra?" tanya Nara. Seperti sifatnya yang arogan, Ezra menaiki motor tanpa menjawab istrinya.


"Ezra, kalau ditanya, kamu jawab dong." Nara manarik jaketnya, tetapi cowok itu menepisnya. "Terserah gue!" kata Ezra melaju pergi meninggalkan Istrinya yang sedih. Sedih sekali harus menjadi istri dari cowok sombong dan pemarah itu.


"Dia pasti mau ke tempat Friska, aisshhh… kenapa sih aku juga harus mikirin mereka berdua." Nara merasa sedikit menyesal dengan kata - katanya tadi. Saat mau masuk, mobil Mahendra masuk ke dalam parkiran. Nara berdiri di dekat pintu dan menunggu Mahendra keluar dari mobil.


"Nara? Baju siapa yang habis kamu cuci?" tanya Mahendra sedikit terkejut di tiang jemuran yang selalu kosong itu dipenuhi jemuran baju. Padahal di rumah ini, baju kotor tinggal dikirim ke tempat londri. Nara yang berdiri di dekat kakak iparnya itu pun bicara jujur.


"Itu… itu bajunya Ezra, tadi disuruh cuci."


Mahendra kembali melihat baju Ezra, mukanya yang galak tambah menyeramkan. Pasalnya, baju - baju itu sudah bersih tidak bernoda.


'Anak itu, sudah aku bilangin jangan menyusahkan Nara, tapi tetap saja sesukanya,' batin Mahendra tidak mau Nara kecapeaan. Karena itu bisa berdampak bagi asinya nanti dan baby Alan.


"Ya sudah, ini kamu ambil." Mahendra memberi kresek belanjaannya.


"Apa ini?" tanya Nara mulai ragu mengambilnya karena takut ada niat terselubung dari pemberian Mahendra.


"Ini untuk baby Alan, aku yakin kamu membutuhkannya," jawab Pak Mahendra. Nara masih diam, cemas tentang hak asuh baby Alan.


"Nara, apa yang kamu pikirkan sampai mengabaikanku?" tanya Mahendra. Nara menatap kresek berisi peralatan baby Alan, seperti botol susu dan alat pompa. Sebagian ada pampers baru juga.


'Duuuh… bisa saja dia baik padaku cuma mau bantu Ezra mengambil hak asuh Alan, aku… aku tidak mau_' batin Nara berhenti saat Daffa terlihat menuruni anak tangga. Nara terpaksa ambil, tidak mau Daffa melihat isi kresek itu.


"Terima kasih, Pak." Nara pergi melewati Daffa, berjalan terus ke kamarnya.


"Eh, apa yang kamu berikan ke Nara?" tanya Daffa karena pemberiannya ditolak mentah - mentah, sedangkan Mahendra diterima suka rela. Membuatnya sedikit kesal pada Mahendra.


"Cuma pampers," jawab Mahendra ingin naik ke kamarnya juga tapi Daffa berdiri di hadapannya.


"Sebentar, aku mau bicara empat mata," tahan Daffa serius. Mahendra sedikit tersentak karena Daffa jarang - jarang bicara seperti itu.


"Apa?" tanya Mahendra.

__ADS_1


"Itu kamu darimana? Terus bagaimana dengan Vano yang hadir kemarin ke sekolah?" 


Mahendra pun menjawab setengah jujur.


"Dari rumah kepala sekolah, bicarakan permohonan Vano yang kemarin."


"Permohonan? Apa yang Vano inginkan?" tanya Daffa.


"Permintaan maaf. Vano minta maaf atas penculikan baby Alan yang kemarin lalu," ucap Mahendra mulai jalan lagi ke arah tangga.


"Minta maaf doang? Ini jelas - jelas kasus penculikan, harusnya Vano dilaporkan ke polisi, Pak." Daffa berharap Mahendra ke rumah kepsek ingin memproses ulah Vano, tapi hasilnya sekarang sangat mengecewakan. Mahendra pun berhenti dan menatapnya datar.


"Daffa, aku tahu ini kasus penculikan, tapi Vano sudah minta maaf dan lagian juga tidak ada yang terluka dari insiden kemarin itu." Seperti yang sudah disepakati bersama Vano, Mahendra tidak boleh melapor ke polisi. Bahkan jika Daffa yang pergi melapor, Mahendra harus hentikan.


"Pak, minta maaf saja tidak cukup mengobati trauma Nara dan adiknya, pikirkan perasaan mereka berdua dan pikirkan –" putus Daffa karena ekspresi Mahendra yang masam dan menakutkan.


"Daffa, aku tahu ini juga bagus untuk sekolah, tapi kamu juga harus pikirkan nama baik sekolah kita. Sudah banyak kasus kecil terjadi tapi sekolah masih bisa menanganinya sedangkan kasus penculikan ini lebih berat dari kasus yang dibuat anggota blackzak lain, jangan gegabah bertindak, Daffa." Mahendra menepuk bahu Daffa, kemudian menaiki anak tangga.


'Ishh, kenapa Pak Mahendra jadi begini?' pikir Daffa merasa wakepseknya itu berubah seperti tidak mau berurusan dengan Vano. Ditambah Nara yang turun mengagetkannya.


"Nara, ini satu - satunya jalan kita menghentikan blackzak. Dengan dipenjaranya Vano, organisasi ini bisa dibubarkan," ucap Daffa ingin sekali Vano dipenjara. 'Tidak, Daffa. Belum saatnya kamu penjarakan Vano,' batin Nara pun mengambil dua tangannya, menggenggamnya dengan lembut dan tersenyum semanis mungkin.


"Aku tahu, Daffa. Tapi yang dikatakan Pak Mahendra ada benarnya juga, kita harus pikirkan nama baik sekolah."


"Aku yakin, pasti ada cara lain membubarkan blackzak tanpa harus melewati jalur hukum," ucap Nara. Daffa pun sejenak diam dan menatap mata Nara yang berbinar - binar.


"Tapi apa kamu yakin penculikan itu tidak mengganggumu?" tanya Daffa cemas Nara punya trauma dan membuat adik kelasnya itu tidak bisa tidur tenang.


"Hmm… tidak sama sekali." Daffa yang masih belum percaya, Nara segera merangkul lengan Daffa, membuat cowok itu tersentak karena lengannya hampir dijepit di tengah - tengah dada cewek itu.


"Daffa, kemarin kamu beli mainan, 'kan? Yuk ke atas, bawakan mainan itu ke baby Alan. Pasti baby Alan senang mendapat mainan baru darimu," bujuk Nara. Seketika saja perasaan Daffa yang tadi sedih berubah senang.


"Baiklah." Daffa pun naik ke atas bersama Nara. Melihat Daffa yang ada di kamar adik iparnya membawa mainan dan bercanda gurau bersama keponakannya, Mahendra yang diam - diam berdiri di dekat pintu sedikit tidak suka. Seharusnya Nara jangan terlalu dekat dengan Daffa karena Mahendra tidak mau kedua - duanya saling cinta. Itu sama saja melukai adiknya dan keluarganya. Apalagi sebagai menantu dan adik ipar pertama, Nara harus menjaga jarak dari cowok lain.

__ADS_1


Sebagai kakak ipar, Mahendra pun masuk.


"Daffa," panggil Mahendra membuat Nara yang duduk di sisi kanan baby Alan tersentak kaget.


"Oh, ada apa?" tanya Daffa yang di atas tempat tidur sambil main - main dengan baby Alan di sisi kirinya.


"Ke kamarmu!" 


"Kamarku? Kenapa sama kamarku?" tanya Daffa belum beranjak dari tempatnya.


"Belajar sana! Dan kamu Nara, cepat tidurkan adikmu dan belajar juga!" Tunjuk Mahendra ke meja belajar.


"Tapi kan–" putus Daffa.


"Besok hari senis, kalian sekolah, harus belajar sekarang!" kata Mahendra tegas. Daffa mendengus sebal lalu dengan hati tidak karuan masuk ke kamarnya sendiri. 'Kenapa sih Ezra dan Pak Mahendra jadi menyebalkan hari ini?' pikir Daffa yang duduk di meja belajarnya sambil menggigit gemas polpen di tangannya.


'Cih, apa aku suruh saja dua bersaudara ini keluar dari rumahku?' batin Daffa merasa Ezra dan Mahendra pengganggu di rumahnya.


Kini tinggal Nara yang takut berhadapan sama paman anaknya itu. Tiba - tiba Mahendra mendekat, mengambil baby Alan.


"Biar aku saja yang tidurkan, kamu belajar juga, Nara," ucap Mahendra kembali menunjuk meja belajar.


"Tapi," ucap Nara berhenti, takut dipelotot tajam. Baru juga satu saudara Ezra dihadapi, Nara sudah tidak berdaya. Bagaimana kalau nanti yang ke 10 saudara Ezra? Bisa - bisa Nara mati kutu di tengah - tengah 11 saudara suaminya itu.


Dengan terpaksa, Nara pun patuh dan membiarkan Pak Mahendra membawa baby Alan ke kamarnya. Nara belajar dengan perasaan gelisah dan resah hak asuh baby Alan jatuh ke tangan Ezra.


'Tidak! Aku tidak boleh pikirkan lagi, aku harus yakin mereka tidak sejahat itu! Dan mulai sekarang aku harus kumpulkan banyak uang! Buktikan pada Ezra kalau aku ini Ibu yang pantas menghidupi Alan tanpa dikasih uang sepeserpun darinya!' Nara pun semangat belajar, kejar cita - citanya yang mau jadi Dokter seperti Ibunya dulu.


'Kalau tidak bisa jadi Dokter, jadi peran pembantu juga tidak masalah.' Nara pun berniat masuk ekskul teater besok. Nara mau belajar drama walau harus setiap waktu ketemu suami angkuhnya di sana.


....


Angkuh sih, tapi nanti klepek - klepek wkwk

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2