
"Apa kamu sudah dengar kabar itu, Vano?" tanya wakil blackzak berada di tempat barnya bersama Vano malam ini dan beberapa gadis - gadis malam sewaannya. Ia bernama, Bumi Angkasa berumur 18 tahun.
"Soal wakepsek sialan itu?" Yang dimaksud Vano adalah Pak Dirga.
"Ya, dia sudah siuman dan mungkin sudah menyiapkan laporan untuk memenjarakanmu," ucap Bumi meletakkan gelas birnya ke atas meja dan memeluk pinggang ramping dua gadis malamnya di depan Vano yang juga dikelilingi gadis - gadis malam.
"Aku tidak takut hal itu," ucapnya yakin.
"Hah? Serius? Kamu tidak khwatir akan ada polisi mencarimu?" Bumi sedikit terkejut. Vano mengangkat gelas allkoholnya, menggoyakan pelan isi gelas itu.
"Untuk apa aku harus khwatir? Toh sekarang ada dua - tiga catur dalam genggamanku." Seringai Vano.
"Wihhh… siapa saja itu?" tanya Bumi penasaran. Vano berdiri, menjawab sambil keluar ingin pulang. "Kamu hanya wakil biasa, tidak pantas tahu semua hal ini." Sebelum pergi, tatapan Vano itu dingin menyebalkan, seakan Bumi yang tidak punya derajat sepertinya hanyalah kerikil yang kapan saja bisa diinjak - injak. Bumi cuma tersenyum tipis mendengar itu. Sedangkan Vano yang sebenarnya, tidak begitu mempercayai anggota dan wakil blackzak. Dia berdiri sendiri tanpa meminta bantuan Bumi lagi.
Pasalnya, perlakuan yang dialami Nara dan baby Alan dalam penculikan yang kemarin itu tidak termasuk dalam rencananya. Vano ingin mengambil baby Alan, tetapi Bumi mengusulkan untuk Nara dan baby Alan dalam satu ruangan serta Nara diikat pakai rantai. Bukan kah ini tampak seperti jebakan untuk mengambil alih jabatan Vano 'kan? Dan semua itu pun memperkuat Vano adalah pelaku kriminal yang pantas dibasmi.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Alhamdulillah, aku senang ayah sudah siuman," ucap Daffa pada ayahnya.
"Ya Daffa, ayah juga senang melihatmu hari ini." Pak Dirga tersenyum ke Daffa kemudian pada Mahendra yang berdiri di sebelah putranya.
"Bagaimana kabar SMA ELIPSEAN, Mahendra?" tanya Pak Dirga pada keponakannya itu, karena Pak Dirga dan ayah Mahendra sepupuan.
"Alhamdulillah semua siswa belajar dengan baik dan pelajaran kami berjalan lancar," jelas Mahendra bicara sopan.
"Lalu bagaimana dengan blackzak? Apa mereka berulah lagi atau tambah parah?" tanya Pak Dirga kembali.
"Soal itu —" potong Daffa karena Mahendra memutuskannya.
"Tentang organisasi itu, mereka sudah tidak lagi berulah akhir - akhir ini." Daffa mengernyitkan dahinya karena Mahendra tiba - tiba berbohong. 'Kenapa dia berkata lain?' pikir Daffa.
"Syukurlah, kalau begitu bagaimana kabar gadis itu?" tanya Pak Dirga ingin tahu perkembangan Nara. Lagi - lagi Daffa yang mau menjawab tetapi Mahendra lebih cepat.
__ADS_1
"Gadis itu tidak ragukan lagi, dia memang cerdas dalam hal bidang manapun, anda harus bersyukur kehadirannya tahun ini bisa mengubah anak - anak blackzak menjauhi Vano," ucap Mahendra berkata benar karena 200 siswa yang mau menghajar Daffa saat itu sudah insyaf ke jalan benar alias tidak kriminal dan keluar dari blackzak.
"Syukurlah, pilihanku memang tidak salah lagi." Pak Dirga tersenyum lega memandang ke luar jendela. Matanya mengarah ke tempat sekolah SMA ELIPSEAN.
"Kalau begitu, saya keluar dulu sebentar." Izin Mahendra jalan ke pintu. Namun saat berbelok, Mahendra berhenti dan seperti kebiasaannya suka menguping di balik tembok.
"Ayah, aku tahu maksud Pak Mahendra baik, tapi aku tidak setuju perkataannya itu." Daffa mulai ingin jujur membuat Mahendra resah di luar.
"Apa maksudmu, Daffa?" tanya Pak Dirga.
"Ayah, sebenarnya bulan ini blackzak kembali berulah, bahkan bukan lagi menculik kendaraan tetapi lebih parah lagi dari itu," lirih Daffa teringat penculikan Nara dan baby Alan.
"Maksudnya?" Pak Dirga belum paham dan seketika memegang dadanya karena terkejut Daffa benar - benar menjelaskan kalau blackzak sudah membahayakan nyawa Nara.
"Ayah maaf, maafkan aku karena lemah ini yang tidak berguna bagimu dan untuk orang lain," lirih Daffa menyesal sudah membuat satu - satunya keluarganya itu terluka sekarang. Tampilan dari luarnya yang selalu tegar itu, malam ini melunturkan semua air matanya.
Pak Dirga pun menepuk bahu putranya yang sedari kecil sudah ditinggal oleh Ibunya yang tega berselingkuh. Dia mengukir senyum yang menyejukkan kalbu anaknya. "Daffa, semua ini tidak ada hubungan denganmu, Nak," kata Pak Dirga lembut.
"Tapi aku ini memang lemah, tidak bisa berbuat apa - apa dan membela Nara ketika Ezra yang selalu menghina Nara adalah Babu rendahan. Padahal Nara itu baik, pekerja keras dan giat belajar, tapi aku benar - benar heran mengapa Ezra selalu berkata jahat seperti itu. Aku yakin perasaan Nara pasti terluka," ucap Daffa meremat tangannya. Kecewa terlahir dengan fisik yang lemah dan tidak mampu menyatukan Ibu dan ayahnya lagi.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus berusaha lebih kuat. Daffa, ayah katakan ini karena suatu saat nanti Nara akan menjadi istrimu. Giatlah mengasah bela dirimu demi menjaga calon menantu ayah."
Bukan cuma Mahendra yang terkejut, Daffa juga telonjat mendengarnya. "Serius? Ayah mau aku dan Nara dinikahkan?" tanya Daffa berbunga - bunga, tidak seperti Mahendra yang diam membisu karena ucapan Pak Dirga lagi.
"Ya, kalian sudah dijodohkan sebelum Nara dilahirkan, ayah masih ingat, saat itu kamu sudah lahir beberapa bulan dari Nara yang masih di dalam kandungan Ibunya. Ayah pernah bicara tentang jalan hidup kalian berdua bersama orang tua Nara," tutur Pak Dirga senang melihat reaksi putranya.
Bukan kecewa yang dirasakan Daffa, tapi rasa bahagia karena ayahnya sudah merestui Nara menjadi miliknya. Tapi tidak bagi Mahendra tidak akan membiarkan itu terjadi.
.
Pukul sepuluh malam. Karena hawa dingin yang menghembus dari celah - celah kecil jendela yang masuk menerpa Nara, gadis itu terbangun dan menggeliat kedinginan. Matanya yang terpejam pun terbuka perlahan - lahan. Menatap kosong langit - langit kamarnya kemudian mengalihkannya ke samping.
Oh apa ini?
__ADS_1
Apa yang terjadi padaku?
Nara beranjak duduk, melihat tangannya ditusuk jarum infus kemudian menoleh ke tiang penyangga kantong infusnya.
"Apa aku sedang sakit?" Nara berpikir sambil mengamati di atas meja ada baskom dan handuk kecil dan kresek kecil berisi obat dari Dokter. Kemudian dia pun memegang dahinya yang masih panas. Nara pun sadar malam ini dia sedang demam.
Karena tidak melihat baby Alan, dia pun berdiri, membawa kantong infusnya itu keluar kamar. Matanya melihat kemana - mana, tetapi rumah Daffa terlihat hening. Namun perlahan menoleh ketika ada suara -Klik- dari dapur. Terlihat Ezra berada di dapur dan menggendong baby Alan di dadanya lalu mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Ezra…." Nara memanggil dan menghampirinya dengan langkah yang masih tidak seimbang karena pusing. Untung saja ada tiang penyangga di tangannya sehingga mampu turun ke bawah.
"Nara, kenapa kamu jalan ke sini? Harusnya –" putus Ezra karena suaranya agak keras. Ia pun bicara lembut supaya baby Alan yang lagi menghisap jempolnya dan terkantuk - katuk tidak membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nara dengan suara yang sangat lemah dan kecil.
"Aku sedang masak bubur, jadi naiklah lagi ke atas, biarkan aku nanti membawanya kepadamu." Ezra menunjuk ke atas.
"Tidak usah repot —" potong Nara karena bibirnya dibungkam dengan jari telunjuk suaminya. "Kamu itu lagi sakit, nggak usah bawel dulu, nurut saja kata suami." Nara diam, agak tersipu mendengarnya.
"Ba - baiklah." Nara pun berbalik badan tetapi bahunya ditahan. "Sebentar,"
"Ada apa?" tanya Nara kemudian tertegun.
Cup..
Kecupan lembut mendarat di keningnya, sangat - sangat lembut sampai menyentuh ke dalam hatinya yang sedang bersedih hari ini. 'Apa dia sedang mengobatiku?' pikir Nara dengan embun matanya yang entah kenapa mengalir sendiri malam ini.
"Kenapa … kenapa kamu lakukan ini untukku?" tanya Nara mengusap cepat air matanya dan menunggu Ezra yang menunduk diam.
"Karena..." lirih Ezra masih tidak berani mengangkat wajahnya.
….
Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + favoritkan supaya aku semangat melanjutkannya. Sayonara minna...
__ADS_1
Boleh juga lemparkan bunga🌹atau kopinya☕