
Ezra pun sontak jatuh bersimpuh dan memohon seraya pura - pura menangis.
"Huwaa… jangan kakak, aku tidak mau hidup miskin dan jadi gelandangan, kasihanilah anak tanpa ayah sepertiku, hiks…." mohon Ezra mendongak ke kakaknya itu.
"Nasibku yang malang ini jangan kamu tambahin malangnya, hiks…." Ezra memang tidak berdaya kalau sudah menyangkut asetnya disita.
"Kamu minta dikasihani? Sedangkan istrimu tidak mau dikasihani? Dimana hati nuranimu, Ezra?" Mahendra berkacak pinggang.
"Aku salah, aku salah, mohon maafkan aku, Kak." Ezra berdiri, merengek minta dimaafkan.
"Boleh dimaafkan, tapi sebelum itu minta maaf ke istrimu dulu! Tenangkan dia dan sayangi dia." Suruh Mahendra tegas.
"Tapi –" putus Ezra nampak tidak mau karena sekarang benci banget sama Nara.
"Ya sudah kalau tidak mau, jangan harap aku bantu jelaskan masalahmu ini pada Mami dan kakak - kakakmu yang lain," ancam Mahendra menunjukkan riwayat panggilan dari Elvan kalau kakak pertamanya itu sudah ada di bandara hari ini dan tidak lama lagi menuju ke rumah.
"Baiklah! Aku akan minta maaf!" ucap Ezra terpaksa namun berhenti karena ditahan Mahendra lagi.
"Sebentar,"
"Apa lagi?"
"Putuskan Friska," titah Mahendra serius.
__ADS_1
"Tapi itu –"
"Kalau tidak mau putus, aku juga tidak mau bantu kamu jelaskan tentang Nara ke Elvan," ancam Mahendra.
"Ya deh! Besok aku putuskan, puas?" Mahendra mengangguk - bagus!
"Dan satu lagi," cegat Mahendra.
"Apa lagi sih?" desis Ezra.
"Kalau aku melihat Nara menangis lagi, saat itu juga aku telepon Mami."
Ezra tersenyum paksa tanda paham. 'Sial, kenapa hidupku penuh ancaman begini sih! Memangnya aku ini penjahat?!" decak Ezra ingin sekali pindah planet.
Tetapi suaminya itu malah duduk di hadapannya dan berucapkan satu kata.
"Maaf."
Entah sudah berapa kali kata itu didengar, tapi tetap saja Nara yang tersiksa sudah tidak mempan dengan kata itu. "Hiks… pergi." Tangis Nara dan melihat Ezra yang menatapnya juga.
"Ku mohon keluarlah, Ezra," lirih Nara dengan tetesan air matanya. Namun terhenyak setelah Ezra mencium bibirnya tiba - tiba dan cukup lama.
"Maaf, Nara." Tetapi Nara mendorong pelan dada Ezra dan menggelengkan kepala. "Keluar… ku mohon," pinta Nara terisak - isak. Ezra menatapnya dan menggenggam dua tangan istrinya yang masih bergetar. Ia kembali berkata, "Maaf, Nara."
__ADS_1
Sudah tiga kali kata itu keluar membuat tangis Nara pun kembali pecah. Ezra dengan lembut pun menariknya ke dalam pelukan. Memberi sandaran untuk istrinya itu dan lagi - lagi terkejut Nara yang bicara sungguh - sungguh. "Ezra, aku mencintaimu."
"Bisakah kamu balas mencintaiku?" Nara memeluk Ezra dengan erat. Ezra pun membelai kepala istrinya, menjawab pelan.
"Aku akan coba dan akan memutuskan Friska,"
Deg…
'Friska? Putus?' Nara mendongak, melihat Ezra yang tersenyum tipis. "Kamu serius?" tanya Nara tidak yakin. Ezra menyapu bibir seksi Nara dan menjawabnya dengan ciuman yang menuntut.
"Ya sayang."
Senyum Nara mengembang senang mendengarnya walau terasa seperti cuma kepalsuan. Sungguh?
Ezra yang melihatnya tidak menangis lagi, dia mengecup bibir Nara kembali dan mengajaknya bercumhbu mesra. 'Sial.' Umpat Ezra menyukai bibir istrinya yang candu itu.
"Ahh Ezra, jangan." Nara bergeser ketika Ezra tiba - tiba meremat dua semangkanya. Ezra tidak terkejut tetapi mendorong Nara jatuh ke kasur. Mata Nara terbelalak dikala Ezra menindihnya.
"Nara, tadi kamu bilang mencintaiku, kan?"
"Iii...iya," ucap Nara bersemu merah.
"Kalau begitu buktikan padaku, sayang." Senyum Ezra menggoda. "Bukti? Maksudnya?" tanya Nara deg - degan. Ezra mendekat ke telinga istrinya dan berbisik mesum. "Layani aku." Kemudian tangannya menyelip ke bawah sana dan mengusap nakal apem istrinya sehingga Nara menggeliat geli.
__ADS_1