Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
29. BAB 29 - MAU TAPI MALU


__ADS_3

Selesai adegan itu berlalu, Ezra pun duduk menonton dengan normal tanpa harus menutup matanya lagi.


"Hey, kamu tidak malu melihat adegan itu?" tanya Ezra mengira Nara itu punya sisi mesum juga.


"Kenapa harus malu? Aku pernah melakukan itu, jadi ya biasa - biasa saja," ucap Nara enteng.


"Hah? Sudah? Sama siapa?" tanya Ezra. Nara menoleh dan menunjuknya. "Ya sama kamu lah!" Kemudian kembali menonton film yang tidak lama lagi selesai.


"Aku? Tapi kok tidak ada di ingatanku," gumam Ezra pura - pura tidak ingat. Tapi sejujurnya, Ezra memang belum ingat apa - apa sampai sekarang. Beda dengan Nara masih ingat ada cowok yang memperkosanya meski wajahnya tidak terlihat karena mata Nara rabun saat itu, alias tidak pakai kacamata.


"Oh jadi mau aku bantu ingatkan?" Nara sedikit memajukan dirinya sehingga belahan dadanya agak terlihat jelas. Semakin Nara condong, Ezra sedikit lagi bisa melihat bebas dada istrinya.


"Tuan suami, apa kamu sedang amnesia? Apa aku harus jadi suster nakal malam ini untuk membantu ingatanmu kembali?" rayu Nara mulai lagi agresif seperti suster cantik di dalam film yang menggoda si cowok duluan.


"A…aku tidak amnesia kok," sela Ezra terbata - bata dan mundur sedikit. Tetapi Nara dengan sengaja mendorong Ezra berbaring ke sofa membuatnya membisu istrinya itu berada di atas dan mengunci di antara bahunya. Ezra juga merasa adik kecilnya di bawah sana benar - benar berhasil ditegakkan malam ini.


"Tuan suami, kasih tahu dong aku harus melakukan apa supaya kamu ingat malam itu, aku jadi sedih nih kalau kamu begini." Nara menyentuh dada Ezra yang berdebar - debar kemudian perlahan mengelus sampai ke junior. Nara sedikit terbelalak yang tegak itu cukup besar dipegang. Dua - duanya saling diam dalam posisi aneh itu. Sedang bertengkar antara naffsu dan egonya.


Namun seketika suara tangis baby Alan pun memecah kecanggungan Nara dan Ezra. Keduanya segera duduk normal dan Nara pun cepat - cepat naik ke kamarnya, menenangkan baby Alan. Sedangkan Ezra berdiri ingin mematikan televisi tetapi tiba - tiba lagi televisinya mati sendiri diiringi ada teriakan dari atas.


"Ahhh…. Ezra! Cepat ke sini!" panggil Nara di depan pintu kamar sambil menggendong baby Alan yang menangis ketakutan karena semua lampu padam.


"Ck, kenapa bisa mati lampu?" Karena cemas, Ezra naik ke atas hanya menggunakan senter dari hpnya lalu masuk setelah Nara menariknya ke dalam kamar. 


"Kamu takut gelap?" tanya Ezra meletakkan hp nya di atas meja dan menyinari ke arah ranjang tempat baby Alan dibaringkan.


"Ya, gara - gara penculikan tahun lalu, aku takut gelap dan sepertinya baby Alan juga sama sepertiku," jawab Nara melihat Ezra yang duduk di tepi bagian kanan ranjang.


"Ya itu sih wajar, kan kamu Ibunya," ucap Ezra membuat Nara tertegun.


"Hahaha… ya juga sih," tawa Nara agak gugup Ezra berada di dalam kamarnya dan berduaan saja menjaga Alan. Sedangkan Ezra cuma diam melihat Nara membelai kepala baby Alan yang mulai tenang. Namun spontan mulutnya menganga ketika Nara tanpa izinnya melepaskan baju sehingga bisa jelas melihat pucuk merah jambu kembar istrinya setelah bhnya dilepaskan juga.


"Na..nara! Kamu kenapa —" Ezra mau bertanya kenapa Nara begitu bebas memperlihatkan dadanya. Tapi Nara cuma tersenyum tipis dan mengambil baby Alan kemudian menyusui anaknya.

__ADS_1


"Tidak usah terkejut begitu, kamu sudah jadi suamiku jadi tidak apa - apa," ucap Nara santai saja menunjukkan dadanya. Tapi tidak bagi Ezra yang tidak tahan diberi pemandangan yang menggetarkan gairahnya.


"Oh ya, tadi … kamu lupa masukkan botol susu tadi di sekolah, jadi aku ambil saja." Ezra mulai basa - basi dan mencoba menjernihkan pikirannya serta menahan adik kecilnya untuk tidak meronta - ronta.


"Terus, mana botolnya?" tanya Nara tampak sudah yakin Ezra bisa diandalkan kalau ada sesuatu yang tertinggal.


"Ya botolnya sih ada di dalam tas, tapi isinya sudah habis,"


"Hah, habis? Kenapa bisa?" tanya Nara terkejut dan sedikit menggigit bibir bawahnya karena sensasi dari hisapan baby Alan yang rakus.


"Ya itu aku buang, takut sudah basi," bohong Ezra karena isinya dia minum semua. Cuma agak malu mengakuinya.


"Hem, terima kasih sudah membantuku," senyum Nara simpul. Ezra cuma mendehem saja dan melihat ke arah jendela yang gelap gulita. Tampak rumah di komplek itu mati lampu semua.


"Sudah jam sembilan, aku ke kamar dulu –"


"Jangan!" tahan Nara menangkap tangan Ezra sebelum suaminya itu berdiri.


"Itu, kamu di sini dulu sampai lampunya menyala, tidur sebentar di sini juga tidak apa - apa kok," mohon Nara takut sendirian. Ezra pun terpaksa rebahan, masih ingat pesan Mahendra untuk berjaga - jaga.


"Kalau begitu, bangunkan aku jika sudah menyala." Ezra tidur miring dan membelakangi Nara yang masih menyusui baby Alan di dekatnya.


"Hm, tenang saja." Angguk Nara pun mengelus dada lega karena Ezra hari ini tampak peduli ke baby Alan yang entah kenapa bayi kecil itu mengeluarkan suara - suara lagi dan membuat Ezra ingin sekali bertanya ke Nara soal rasa menyusui itu bagaimana.


Apa itu sakit? Atau enak? Geli?


….


 Rasanya gimana ya wkwkwk


Apa jangan - jangan Ezra ingin mencoba juga?


…..

__ADS_1


Karena tidak bisa tenang, Ezra pun membalikkan badannya, melihat punggung Nara yang sedang bersenandung kecil supaya baby Alan tertidur. Karena Nara punya tugas dari sekolah malam ini yang harus dikerjakan.


"Kenapa menatapku?" tanya Nara tahu Ezra belum tidur.


"Itu… kamu tidak kesakitan kalau begitu?" tanya Ezra sambil memeluk guling dan hanya menampakkan sedikit wajahnya karena pipinya agak memerah.


"Maksudnya menyusui baby Alan?" Nara menunjuk dadanya dan melihat suaminya itu malu - malu kucing.


"Ya, itu maksudku," ucap Ezra gugup.


"Oh, tidak sakit sih, tapi —"


"Tapi apa?" tanya Ezra.


"Sangat menggelikan," ucap Nara membuat Ezra bergidik ikut geli mendengarnya.


"Kenapa tanya itu?" tanya Nara menyusui baby Alan ke dada kanannya yang sering penuh setiap saat.


"Cuma tanya saja kok," ucap Ezra.


"Oh, cuma tanya atau mau ikut susu nih?" goda Nara menggoyangkan dada kirinya.


"Ihhh apaan sih! Aku mana ada niat begitu!" celetuk Ezra berbalik badan. "Hahaha… malu tapi mau tuh," ledek Nara.


"Terserah loh! Aku mau tidur!" Nara tertawa lagi melihat suaminya ngambek. Melihat Nara yang bahagia, baby Alan ikut tersenyum lebar, seperti punya rasa senang bisa kumpul dengan orang tuanya. Sedangkan Ezra tambah cemberut mendengar suara imut anaknya yang menertawainya. 'Cih, anak dan ibu sama - sama menyebalkan!' gerutu Ezra dalam hati merasa gemas. Esok paginya di jam lima subuh, Ezra bangun cepat karena suara rengekan baby Alan yang juga bangun lebuh awal. Ezra pun mencoba mengajaknya bicara sambil melirik Nara yang masih terlelap dan tidur menghadap ke arahnya. Sontak saja terpana melihat Nara yang menjepit poninya dan tanpa pakai kacamata. Parasnya manis sekarang tanpa riasan dan tanpa polesan, Ezra baru tahu istrinya ternyata cantik.


"Akhh... Ingatan apa ini?" Ezra memegang kepalanya yang sempat memperlihatkan ingatan dirinya yang melakukan cinta satu malam dengan seorang cewek asing. Wajah cewek itu mulai persis seperti Nara sekarang. Perlahan pipinya bersemu tidak habis pikir ingatan itu muncul pagi ini. Baby Alan yang rewel pun diam melihat ayah kecilnya resah dan malu - malu.


"Ahhh... Kenapa sih muncul sekarang!"


....


Ciee daddy Alan malu - malu tuh...

__ADS_1


__ADS_2