Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
34. BAB 34 - MENCIUM


__ADS_3

"Emhh tunggu, jangan banyak - banyak." Tahan Nara yang duduk di tempat tidur sambil disuapin terus oleh Ezra. Sedangkan baby Alan sudah tidur nyenyak di sebelah mommy nya itu.


"Kamu harus banyak - banyak makan biar tenaga kamu kembali pulih dan bisa makan obat dari Dokter. Kalau kamu sakit sampai berhari - hari, anakku bisa ikutan sakit nanti," tegur Ezra memberi satu suapan lagi.


"Ayo, buku mulutnya …. aaaa…" 


Karena didesak, Nara pun menerima suapan suaminya yang tampak seperti pangeran yang sedang menyuapi sang putri cantik dengan romantis. Tanpa sadar, baby Alan yang terlelap tiba - tiba melukis senyum kecilnya. Sepertinya bayi itu memimpikan sesuatu yang indah malam ini. Apakah orang tuanya? Atau jangan - jangan ada saudara baru?


"Nih makan lagi," pinta Ezra menyodorkan satu sendok lagi. Dengan malu - malu, Nara pun melahapnya terus dan seterusnya sampai mulutnya dipenuhi bubur.


"Hahaha…." Ezra tertawa geli melihat dua pipi istrinya tembem. Tapi seketika diam, dia sadar harusnya tidak menertawai istrinya yang lagi sakit. Tetapi bagi Nara, dia cukup terhibur malam ini diperhatikan suaminya itu.


'Kalau saja waktu bisa berhenti, aku ingin dia tetap seperti ini.' Nara mulai sadar perasaannya sedikit menyukai Ezra. Sedikit lagi buburnya mau habis, tapi Nara sudah menggelengkan kepala.


"Su… sudah cukup, aku sudah kenyang." Nara memegang perutnya. "Hmm, ini tinggal lima sendok lagi nih," desak Ezra tetapi Nara mengatup mulut pakai dua tangan namun mulutnya terbuka lebar melihat Ezra memakan sisanya.


"Aihh… ya sudah aku yang habiskan saja."


"Ehh… kenapa kamu makan?" tanya Nara pada Ezra yang meletakkan mangkuk kosong itu di atas meja kemudian mengambil gelas untuk Nara.


"Nih minum dulu." Beri Ezra. Nara pun meneguknya dan menyisakan setengah saja. Lagi - lagi dia tercengang pada Ezra yang menghabiskan sisa airnya.


"Ezra! Kenapa kamu lakukan ini!" Nara merebutnya walau isi gelasnya itu sudah habis diminum.


"Apaan sih? Kenapa kamu marah?"


"Ya aneh saja, apa kamu tidak jijik memakan dan meminum sisa ku? Apalagi gelas dan sendok tadi itu sudah menyentuh lidahku." 

__ADS_1


Ezra diam beberapa saat, kemudian mematuk kening Nara dengan dua jarinya. "Kenapa harus jijik? Kamu kan istriku, apa yang kamu makan dan miliki adalah punyaku juga. Sama halnya apa yang aku dapatkan adalah milikmu juga."


Nara pun bepikir. 'Kenapa dia baik hari ini? Apa dia sudah berubah? Atau ada maunya?' Nara lalu melirik ke atas lemari. Nara baru sadar ada kresek lain di antara belanjaannya.


"Itu punya siapa?" tanya Nara menunjuk. "Punya baby Alan, aku belikan mainan dan baju - baju baru tadi di mall." Rupanya kepergian Ezra adalah kembali ke mall membeli barang untuk anaknya.


"Kenapa kamu belikan?" tanya Nara tampak mau menangis. "Hey, aku beli ini karena aku orang tuanya juga, harusnya kamu senang, kenapa malah sedih?" Ezra tidak tahu air mata Nara itu karena terharu suaminya terdengar menganggapnya dan baby Alan malam ini.


"Teri… terima kasih, Ezra." Nara menghapus sisa air matanya dan tersenyum semanis mungkin. Ezra mengangkat tangannya, menyikap poni istrinya ke atas kemudian menjepitkannya. Nara terkejut jepitan itu yang ingin dia beli tadi di mall, sekarang sudah ada di rambutnya.


"Mulai sekarang pakai ini, biar cantikmu kelihatan." 


Bagai mendapat hembusan angin sejuk mendengar kata - kata pujian keramat itu keluar dari mulut Ezra.


"Aku cantik?" Tunjuk Nara ke dirinya sendiri.


"Ta… tapi aku kan jelek," ucap Nara lesu masih ingat Ezra suka mengejeknya jelek.


"Siapa bilang?" tanya Ezra pura - pura tidak ingat.


"Kamu sendiri," jawab Nara menunjuknya.


"Enak saja, aku tidak pernah bilang begitu kok," celetuk Ezra. Nara menahan tawanya melihat gengsi suaminya itu setinggi langit karena sekarang berkata, "Maaf."


"Maaf untuk apa?" tanya Nara. 'Apa dia memang sudah berubah dan mau minta maaf atas perkataannya?' batin Nara.


"Ya maaf, tadi pulang mendadak, jadinya kita tidak bisa nonton film sampai selesai."

__ADS_1


Nara cemberut merasa kecewa kepada dirinya sendiri yang terlalu berharap Ezra berubah. "Hm… tidak apa - apa kok, tapi kenapa kamu mencium keningku di bawah tadi?" tanya Nara masih ingin tahu karena tindakan Ezra itu jarang terjadi.


Kali ini bukan Nara yang sedih, tapi Ezra yang murung. "Aku cuma mau seperti ayahku," ucap Ezra masih duduk di tepi ranjang dan memperbaiki bantal yang dipakai rebahan untuk menyandarkan punggung Nara.


"Ayahmu? Maksudnya?" tanya Nara merasa ada kesedihan yang terpendam di dalam mata suaminya itu. Terbesit kata untuk Nara seperti - 'kamu beruntung dari aku.'


"Lupakan saja, sekarang kamu minum obat terus tidur. Besok harus benar - benar sembuh supaya bisa ke pesta Melly. Ingat, Vano bisa merusak pesta Melly jika salah satu dari kita tidak hadir dan aku tidak mau hal itu terjadi."


Nara mengangguk dan sedih melihat Ezra kembali seperti dulu, dingin dan angkuh pergi dari kamarnya membawa baby Alan supaya demamnya tidak menular. Setelah menelan obatnya, Nara berdiri ke kresek belanjaannya Ezra. Benar saja isinya baju - baju untuk Alan dan mainan yang mahal - mahal. Nara cukup senang Ezra masih peduli ke anaknya. Sontak matanya pun menangkap dress merah membuat perasaan Nara sangat terguncang karena dress itu sangat mahal tapi Ezra sengaja membelinya.


"Apa baju ini nyasar atau memang untukku?" gumam Nara cemas kalau dress itu punya Friska. Tetapi kini dia yakin itu miliknya karena ada namanya tertulis di dalam lebel.


Nara yang sangat senang pun segera tidur. Ia tidak sabar memakai dress dan penjepit itu yang disimpan di atas meja.


Sedangkan Ezra masih duduk di meja belajarnya, sementara baby Alan diletakkan di atas ranjangnya. Ezra tampak sedih melihat foto kenangan keluarga di tangannya itu. Nampak ada wanita muda cantik menggendong bayi mungil dan duduk di antara 11 anak laki - laki yang berjejeran dengan pakaian serba hitam.


Foto yang cantik namun mengandung makna kesedihan bagi Ezra. Foto itu diabadikan setelah ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan ke dunia. Pemotretan itu diambil setelah sang ayah sekaligus pendiri SMA ELIPSEAN itu dimakamkan.


Itulah mengapa Ezra terima pernikahan ini karena tidak mau baby Alan hidup sepertinya yang lahir dan tumbuh tanpa dukungan dari sosok ayah. Sebab itu juga mengapa Mahendra sangat memperhatikan adik malangnya itu. Berharap bisa menggantikan ayahnya menjaga Ezra yang seringkali merenungkan penyebab ayahnya meninggal gara - gara kecelakaan saat ingin ke rumah sakit melihat adiknya itu lahir. Hari yang harusnya bahagia untuk Ibunya malah menjadi hari terakhirnya melihat sang suami tercinta.


Ezra memang dikelilingi banyak harta dan saudara, namun tidak mendapat satupun kasih sayang dari ayahnya dan melihatnya langsung pun tidak pernah. Karena itu juga, dia bikin kasih sayang versinya sendiri dengan cara memacari Friska yang sifatnya mirip seperti Ibunya. Namun apakah kasih sayang itu benar - benar Ezra dapatkan saat ini?


Ezra pun beranjak tidur di sebelah baby Alan yang dipagari oleh dua guling untuk melindunginya. Sebelum memejamkan mata, Ezra dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang mencium pipi tembem anaknya. Tidak lupa mengucapkan kata manis. "Selamat tidur, putraku sayang."


Cup....


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Beberapa part lagi sang Mami dan 10 saudara mulai bermunculan🤭kira - kira bagaimana reaksi mereka kalau anggota keluarganya bertambah satu cewek dan satu laki - laki? Kira - kira Nara bisa nggak ya hidup berdampingan dengan 11 saudara suaminya?Bisa nih bikin lapangan sepak bola juga buat baby Alan hihihi....


__ADS_2