
Semua orang di luar menoleh ke pintu. Suara yang ditunggu - tunggu pun memecah isi ruangan itu. Meski terlahir prematur, bayi yang sangat kecil itu menangis kencang. Ezra memegang tangan istrinya yang ingin menangis. Ia tersenyum lega dan ikut terharu. Sedangkan di dalam, Vano tertegun melihat buah hatinya yang kemerah - merahan itu di tangani oleh semua Dokter, terutama Sena senang melihat anggota keluarga barunya malam ini.
"Vano, lihatlah... anak kalian -"
BRUK
Sena tersentak melihat adiknya jatuh pingsan. "VANO!" Melly dengan sisa suaranya, memekik terkejut cowok yang kuat itu mendadak pingsan.
"REYHAN!" Sena keluar memanggil Reyhan.
"Loh, apa yang terjadi?" tanya Reyhan melihat Sena memapah Vano.
"Bawa dia ke ruangan lain, sepertinya Vano terlalu memaksakan diri tadi," ucap Sena sadar adiknya itu kelelahan berdiri. Reyhan dan Daffa pun membawanya pergi.
"Dok, bagaimana keadaan Melly dan bayinya?" tanya Nara dan Ezra.
"Sepupu saya baik - baik saja, kan?" tanya Friska ingin melihat Melly.
"Maaf," ucap Sena.
__ADS_1
"Maaf kenapa?" tanya tiga anak remaja itu. Sedangkan ayahnya Friska mengernyit saja.
"Maafkan adik saya, Friska." Sena meraih tangan Friska. "Cih, ternyata cuma itu. Bikin orang panik saja." Decak ayahnya Friska.
"Itu kalau saja Vano tidak amnesia, saya tidak sudi maafkan dia, tapi sekarang saya tidak mau mempermasalahkannya lagi, yang penting Melly selamat," ucap Friska sedikit menepis tangan Sena.
"Terima kasih," lirih Sena sedikit lega.
"Kalau begitu, kondisi Melly dan bayinya bagaimana?" tanya Friska.
"Melly baik - baik saja, Fris. Bayinya perempuan dan juga sehat," sahut Ibunya keluar dan tersenyum kecil.
Setelah membereskan persalinan Melly dan memeriksa kesehatan Ibu dan si kecil, Friska dan Ibunya itupun sudah boleh kembali masuk. Sedangkan Sena ingin bicara empat mata dengan ayahnya Friska, tapi pria itu tiba - tiba tidak ada di tempatnya. Ia pun bertanya ke pasutri yang masih berdiri di dekat jendela sambil melihat Melly menangis senang di pelukan Ibunya Friska.
"Nara, Ezra, apa kalian lihat kemana omnya Melly pergi?" tanya Sena sudah melepas jubah medisnya.
"Itu sepertinya tadi ke arah sana," ucap Ezra dan Nara.
"Kalau begitu saya mau ke sana dulu dan kalian berdua bisakah ke ruangan Vano sekarang?"
__ADS_1
"Untuk apa, Dok?" tanya Nara.
"Suruh Vano menyusul saya, hari ini juga saya mau anak itu meminta maaf kepadanya," ucap Sena namun sontak dikagetkan dengan penolakan ayahnya Friska.
"Tidak usah minta maaf, kami tetap tidak ingin menjalin hubungan dengan keluarga Bastian,"
"Lalu, apa yang anda inginkan, Pak?" tanya Sena. Ayahnya Friska pun menujuk ke ruangan Melly. "Saya akan membawa Melly pulang bersama kami dan silahkan bayi itu diambil saja."
"Loh, Pak! Melly dan Vano itu sudah berniat ingin menikah tahun depan. Vano tidak lagi seperti dulu dan dia serius ingin bertanggung jawab. Bayi itu memerlukan asi dari Ibunya juga." Ezra protes, tidak mau melihat bayi itu berpisah dari Melly.
"Soal asi tidak usah dicemaskan, keluarga Bastian itu kaya raya. Mereka tinggal sewa Ibu susu untuknya." Ayah Friska tetap ngotot.
"Bagaimana kalau saya tidak mau menyewakan hal itu?"
Deg
Ayahnya Friska membalikkan badannya ke sumber suara. Nara sedikit bersembunyi di belakang Ezra, takut pada dua orangtua Vano yang datang, aura kekuasaan mereka mirip sekali pada Melissa. Friska cuma diam dan berdiri di samping ayahnya yang sedang ketakutan. Sedangkan Sena tersenyum bahagia melihat orang tuanya yang super sibuk itu datang ke rumah sakit tengah malam ini.
"Za, apa itu orang tua Vano?" bisik Nara merasa mereka juga killer.
__ADS_1
"Ya, mereka Tuan Bastian, rival Papi dulu."