
Dengan kedatangan Melissa yang mendadak itu. Sembilan saudara Ezra itu sudah berkumpul dan sedang gelisah - resah di dalam ruangan khusus mereka. Pasalnya baby Alan tengah bersama Melissa hanya berdua saja di dalam kamar Ibunya itu. Nenek dan cucu itu sama - sama menangis karena alasan yang berbeda.
"Huwee... pappa..." Rengek baby Alan dipeluk Melissa dan memandangi foto besar pernikahan neneknya. Bayi itu belum sadar kalau wanita di depannya itu adalah neneknya, bukan pelakor.
"Hiks... Ezza, kenapa nasibmu jadi seperti ini, Nak." Melissa tersedu - sedu karena Elvan bilang kalau baby Alan adalah Ezra. Untuk sementara waktu, ia biarkan sandiwara ini berjalan supaya baby Alan mengenali Melissa dan Melissa akrab dengan cucunya itu tanpa adanya kemurkaan di rumahnya.
"Hiks... hiks... Mami tahu kamu ini emang sedikit durhaka, tapi kenapa dikutuk jadi bayi?" Isak Melissa antara senang dan marah karena Ezra tidak pernah menelpon.
"Kalau jadi bayi kan Mami harus mengurus kamu lagi dan bikin susu lagi tiap malam untukmu. Tapi Mami tidak masalah sih, ada kakak - kakakmu yang jadi pembantu di rumah ini."
Deg
Sembilan anak Melissa di luar terlonjak. "Kita dijadikan pembantu lagi?" Elvan menatap trio biawak yang duduk menekuk lutut di dekat tembok kamar.
"Sungguh tega, tampan - tampan begini kita dianggap pembantu." Keluh si trio biawak menunduk murung.
"Mami tidak sayang kita, ini tidak adil." Si kembar lima pun berbaris di sebelah tiga adiknya. Ikut menekuk lutut dan menunduk sedih. Sudah dari dulu memang begitu nasib adik - adiknya Elvan. Emang sih semuanya tampan mempesona, tapi di mata Melissa, mereka cuma tempan pas - pasan. Hanya Ezra dan duo twinsnya yang masuk kriterianya.
Berharap Elvan masuk ke dalam dan bicara jujur ke Melissa, kakaknya itu malah ikut duduk di sebelah Kevin. Membuat mata delapan adiknya itu mengarah ke Elvan yang mengeluh.
"Apa aku kirim robot pembantu ke sini supaya mewakili kita bicara ke Mami?" Elvan menatap adik - adiknya. Tapi serempak menunduk lesu. Mereka tidak yakin karena, robot itu pasti dihancurkan sebelum bicara. Bayangkan saja bagaimana killernya Melissa. Ke robot saja tidak berperasaan.
Kreek!
Semuanya berdiri tegak setelah pintu terdengar digeser lebar - lebar. Mereka yang berdiri di depan pintu kamar Ezra, saling meneguk ludah berhadapan dengan Ibu mereka. Tersenyum manis ke Melissa yang cuma menatap anak - anaknya dengan tampang datar.
"Mami, kita ...." lirih mereka berhenti sebab disodorkan beberapa lembar uang merah.
"Beli susu."
Dua kata itu membuat mereka tercengang. Mulut mereka kaku semua. 'Susu?' Batin mereka ingin tampol jidat tapi sebegai anak yang terlahir dari rahim wanita elegan dan berkelas, mereka harus berdiri dengan tampilan yang berwibawa. Emang repot harus satu rumah dengan Melissa.
"Kalian cari susu yang bergizi, yang bagus dan berkualitas di luar sana." Melissa memberi satu - satu uangnya ke tangan sembilan putranya.
__ADS_1
"Bawakan semua merek susu ke rumah ini dan kalau sampai Mami tidak menemukan yang pas untuknya -" Henti Melissa menunjuk baby Alan di dalam kamarnya yang lagi diam - diam mau turun ranjang melewati seprai.
"Kalian harus cari di belahan dunia." Tatap Melissa seraya menghentakkan tongkatnya.
Mentang - mentang semua anaknya tinggal di negera yang berbeda, ia gampang sekali memerintah. Sedangkan trio biawak yang masih kuliah di Indonesia cuma bisa gigit - gigit kuku. Inilah kenapa mereka tidak pulang ke Belanda karena capek jadi babu.
Elvan sudah tidak tahan, ingin segera ungkap semua sandiwaranya. Tapi semua adiknya membekap Elvan. Bukan cuma mulut ditutup, tapi mata dan telinga Elvan dibekap ramai - ramai. Kalau saja ada karung, mereka akan memasukkan Elvan ke dalam karena belum berani melihat kemarahan Melissa kalau tahu baby Alan cucu dari anak kesayangannya. Bayangkan saja seperti biju berekor sembilan yang mengamuk di Desa Konoha.
"Baik, Mami. Kita laksanakan!" Mereka menyeret Elvan keluar dari sky house. Melissa menghembus nafas. Sejenak diam melihat rumahnya sepi dan kemudian galak tawanya pecah. "Hahahaha... mereka lucu - lucu sekali." Di mata Melissa, sembilan putranya itu hanyalah bocil - bocilnya. Di hatinya sedang merindukan waktu - waktu bersama dengan 12 anaknya dan beserta suami tercinta. Kenangan yang begitu sulit dilupakan.
Namun sontak tawanya sirna setelah ada pergerakan di belakangnya. Matanya pun menatap nyalang ke baby Alan yang diam - diam merayap keluar kamar.
"Oh tidak sangka, kamu sudah cerdas ya, Ezza." Senyum Melissa berkacak pinggang.
"Huwee... mamma...." Baby Alan merangkak cepat mencari Nara.
"Ezza, jangan kabur ke sana, ini mami ada di sini sayang." Melissa kalang kabut berusaha menangkap cucunya yang pindah - pindah. Gerakannya begitu cepat dan gesit. Kadang di bawah kursi, meja, telivisi, bahkan bayi sekecil itu berani naik ke atas lemari, kalau saja baby Alan spiderman, ingin sekali keluar cari orang tuanya. Jantung Melissa terus berdetak kencang, takut bayi itu jatuh dan terluka.
Akhirnya Melissa menangkap cucunya. Tersenyum manis tapi bagi baby Alan senyuman itu menakutkan.
"Huwaa... mamma..." Tangis baby Alan panggil - panggil Nara. Isi rumah pecah gara - gara tangisnya itu. Langsung saja mulut kecilnya dibungkam pakai mulutnya Melissa. Membuat baby Alan membola. Tangisnya pun semakin keras, sedih sudah dinodai neneknya sendiri yang gemas padanya.
"Huwaa... huwee... mamma..." Namun seketika berhenti ketika kepalanya diusap - usap oleh tangan yang lumayan sudah keriput itu. Seperti diberi kekuatan dahsyat dari sang nenek.
"Ezza, panggilnya harus mami bukan mamma, nak." Kata Melissa lembut. Mengerti bayi sekecil itu memang rumit ditenangkan.
"Mamma..." ucap baby Alan tidak mau.
"Mammi, nak." Melissa tersenyum.
"Mamma...." Geleng baby Alan.
"Mammi, sayang..." protes Melissa.
__ADS_1
"Mamma....!" bentak baby Alan.
"Mammi, Ezza ..." Gemas Melissa ingin sekali melahap mulut kecil baby Alan yang selalu panggil - mamma - itu. Ya jelaslah, itu adalah panggilan sayang buat Nara, markonah.
Dua - duanya terus seperti itu di depan televisi. Bicara mamma atau mammi sampai satu jam berlalu pun keduanya tetap begitu. Pada akhirnya berhenti ketika seseorang mendekat. Mata Melissa nyalang ada perempuan lain di rumahnya, yang tidak lain adalah si Dokter Cantik yang baru siuman. Terutama si debay merengek kepadanya.
"Mamma...." Pinta baby Alan mau ke Dokter.
"Apa? Mama? Kamu panggil dia Mama?" Kaget Melissa menatap tajam ke baby Alan. Debay Ezra pun mendengus, balas menatap ke neneknya yang killer itu. Si Dokter Cantik pun menggaruk kepala, bingung kenapa bisa ada di rumah Van Klaveran.
Tapi itu tidak penting, Melissa berjalan mendekati si Dokter dan menunjuknya pakai tongkat. Ingin mengusirnya dari rumah, namun sontak dihadang oleh anak kedelapannya. Reyhan tiba - tiba sudah datang membawa satu kotak susu formula.
Ia merentangkan tangannya supaya tongkat itu tidak melukai si Dokter Cantik.
"Mami, jangan sakiti calon istriku."
DUAR!
Hati Melissa seperti meledak. Salah satu putranya sudah menyediakan calon menantu untuknya di rumah ini. Perkataan Reyhan itu pun membuat Elvan dan yang lainnya baru datang langsung menganga. Mulut mereka terbuka sangat lebar. Selebar lubang parasit.
Mereka syok, Reyhan yang mendadak mau menikah.
"Kyahaha...." Baby Alan tertawa riang melihat semua ekspresi keluarganya yang berbeda - beda.
.
🤣🤭👍
Ayo panggil Mahendra pulang😂biar meledak tuh sky house🤣🤣baby Alan mulai berani nih sama nenek cantiknya🤭hihihi....
Novel barunya sudah update ya, silahkan mampir baca, like komen dan favoritkan😍⭐⭐⭐⭐
__ADS_1