
"Jadi pacarku siapa?" tanya Vano.
"Kamu nggak punya pacar!" timpal Daffa.
"Tapi aku merasa punya pacar!" Vano menggapai tangan Nara lagi.
"Sudah dibilangi nggak usah ngotot, Nara dan kamu tidak pernah pacaran. Malahan kamu selalu mengganggu –" Daffa melepaskan tangan Vano dan berhenti karena dibungkam mulutnya oleh tangan Dokter.
"Hahaha... ya Vano, kamu ini nggak punya pacar, kalian berdua ini cuma teman sekolah," ucap Dokter tampak tak mau Vano memikirkan sesuatu dulu.
"Vano? Apa itu sungguh namaku?" tanya Vano memegang kepalanya yang nyeri.
"Ya itu nama kamu," ucap Nara yang jawab.
"Terus Nono siapa?"
'Nono?' Kening semua orang mengkerut.
"Dari mana kamu dapatkan nama itu?" tanya Pak Dirga maju, mengira ada orang jahat dibalik kelakuan Vano selama ini. Atau orang yang mengancam Vano untuk merusak sekolah.
"Pacarku," jawab Vano karena nama itu teringiang - ngiang di memorinya.
'Pacar? Apa dia benar - benar punya pacar?' batin semua orang seolah tak percaya Vano yang jahat ada yang mencintainya. Tidak seperti kembar lima dan Elvan yang ganteng dan cukup baik hati masih jomblo. Yakin nih baik hati? Wkwk
Dokter pun menepuk dua lengan Vano, bicara lemah lembut. "Vano, selama ini kamu itu fokus belajar di sekolah, untuk berpacaran saja kamu tak punya waktu. Jadi lupakan soal pacar dan istirahatlah." Kata - kata yang menenangkan tapi semuanya kebohongan. Daffa yang mendengarnya seolah muak karena tak sesuai kenyataan.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Pak Dirga berdiri di dekat Nara yang tampak canggung.
"Maaf, sepertinya Vano amnesia," jawab Dokter menyeka sisa genangan air matanya. "Idiih, sok sedih tapi aslinya dia senang adiknya lupa ingatan," sahut Kevin sebal karena mau nyalahin Vano tapi si bocah mendadak amnesia.
Pak Dirga pun bergeser, menepuk bahu Vano pelan dan tersenyum ramah. "Vano, mungkin kamu juga tidak ingat saya, tapi sejujurnya saya senang kamu selamat, saya harap mulai sekarang kamu bisa memperbaiki sikap dan kesalahanmu."
"Memangnya dulu aku jahat?" tanya Vano polos tanpa muka berdosanya.
'Ya iyalah, gara - gara kamu, ayahku kecelakaan!' Daffa menggerutu dalam hati.
'Lebih jahat dari penjahat!' Umpat Nara masih belum melupakan penculikannya.
"Mungkin dulu begitu, tapi sekarang cobalah hidup dengan benar dan bertemanlah dengan anak saya." Pak Dirga menunjuk Daffa yang menganga.
'Hah? Temenan? Ayah lagi ngapain sih?' Daffa tak habis pikir ayahnya masih baik ke Vano. 'Amit - amit bergaul sama dia.' Kemudian keluar dari ruangan dan sontak berhadapan dengan Ezra yang begitu marah.
"Baik dan maaf, Pak." Nara tersenyum sedikit cowok jahat itu akhirnya tampak menyesal dalam keraguan. Sedangkan Elvan, ini saatnya dia membicarakan pernikahan rahasia Ezra dan Nara. "Om Dirga —" Tetapi berhenti saat Nara meninggalkan tempatnya, menuju ke Daffa dan Ezra.
__ADS_1
'Ada apa lagi ini anak?' pikir Elvan dan saudaranya yang lain. Begitupun Pak Dirga heran melihat Ezra yang melotot ke arah Vano.
"Ezra, ada apa marah seperti itu?" tanya Nara khawatir.
"Cari saja sendiri di hapemu!" Jawab Ezra judes kemudian pergi tanpa pamit. Seketika saja ada notif masuk ke hapenya Nara dan Daffa. "Dibubarkan?" Keduanya pun bergegas menyusul Ezra sebelum emosi cowok satu ini terlampiaskan ke orang lain.
"Pasti ada masalah di sekolah." Pak Dirga sudah menebak dari kepergian putranya dan Nara.
"Oh ya, apa yang ingin kamu katakan, Elvan?" tanya Pak Dirga ke Elvan.
"Maaf, sepertinya saya ada urusan, kapan - kapan saya bicara sama Om, saya pergi dulu melihat Ezra, permisi."
'Kenapa dia pergi? Bukan kah dia mau bicara ke Om Dirga soal pernikahan Ezra hari ini juga.' Batin kembar lima masih berdiri di tempatnya dan tidak menyusul Elvan. Mereka berlima menetap ingin bicara soal kabar Pak Dirga, mereka tidak akan bicara tentang Ezra karena Elvan sendiri yang akan bicarakan itu.
"Ezra! Mau kemana kamu?" Daffa menggapai kerah lengan Ezra sebelum keluar dari pintu rumah sakit.
PLAK!
Nara berhenti, sedikit takut Ezra yang dikuasai emosi sampai menampar tangan Daffa. "Ezra, tenanglah, kita bicara ini baik - baik dulu." Nara mencoba menenangkan suaminya namun yang didapat cuma bentakan.
"Kalian berdua -" geram Ezra putus tak jadi memaki karena Elvan datang. "Ezra kita pulang, bicarakan ini pada Mahendra." Elvan baru tahu dari Mahendra kalau Ozara yang diketuai adiknya itu bubar. Ia yang juga mantan ketua Ozara dulu amat sedih organisasi itu berakhir di tahun ini.
"Arghhh...." Ezra menendang udara, pergi mengabaikan Daffa dan Istrinya, masuk ke dalam mobil.
"Nara tetap pulang bersama kami," ucap Elvan.
"Maaf, tapi Nara adalah calon istriku, dia lebih aman tinggal di rumahku," terang Daffa ingin menggapai tangan Nara, tapi Elvan duluan menarik Nara menjauh.
'Dia memang calon istrimu, tapi sekarang dia sudah jadi bagian keluarga kami,' batin Elvan mau melontarkan itu tapi belum waktunya.
"Kalau kamu mau membawanya, izin dulu ke Mahendra," ucap Elvan. 'Semoga Mahendra juga tak memberikan Nara.' Harap Elvan dalam hati.
"Betul itu, kalau mau bawa dia, harus minta ke Mahendra. Dia yang bawa ke rumah maka dia sendiri yang lepaskan." Sahut kevin datang bersama saudaranya yang lain dan Pak Dirga yang sudah diperbolehkan pulang. Tampak pria tua itu sehat bugar, berjalan dengan baik dan terus mengulas senyumnya.
"Ayah, tapi -" ucap Daffa terputus.
"Hey, tenang saja, kita tidak punya niat mau menggilirnya beramai - ramai kok," sahut Kenan ceplas - ceplos. Sengaja memanasi Daffa.
"Daffa, biarkan Nara tinggal bersama mereka, ayah yang akan sendiri bicara ke Mahendra, sabarlah." Pak Dirga menepuk pundak Daffa.
"Ck, terserah." Daffa pergi ke arah mobil ayahnya. Marah dan kecewa ayahnya tak mengerti perasaannya yang gelisah ke Nara yang cuma sendirian di rumah Ezra.
"Terima kasih, kalian sudah datang jauh - jauh ke sini hanya mengunjungi lelaki tua sepertiku," ucap Om Dirga merasa senang dan sedih ke Ezra yang jabatannya dicabut. Ia tahu dari leporan asistennya.
__ADS_1
"Ya Om, kami juga berterima kasih sudah mempercayai dan membantu kami selama ini." Mereka ikut senang karena Pak Dirga sosok orang tua yang bijaksana.
"Kalau begitu, Nara," ucap Pak Dirga menatap Nara. "Jaga dirimu baik - baik dan Om harap kamu memberi Om jawaban yang tepat." Kemudian menepuk bahu Nara pelan dan berharap gadis itu setuju mau dinikahkan dengan putranya. Nara cuma mengangguk kecil, tidak berani bilang - iya.
Setelah kepergian mobil Pak Dirga, sontak saja mereka dikejutkan teriakan Ezra. "WOY!!"
"Sialan nih anak, ini rumah sakit tapi masih kurang ajar teriak - teriak." Kevin bergegas masuk ke mobilnya disusul beberapa saudaranya. Sedangkan Nara duduk berdekatan dengan Ezra dan pulang memakai mobil Elvan.
Sampai rumah, Ezra tidak bicara satu katapun, suaminya itu menerobos masuk, mengabaikan saudara - saudaranya dan Nara.
PAKH!
BUGH!
Nara dan ke enam iparnya tersentak - sentak mendengar hantaman bertubi - tubi dari pukulan Ezra yang kejam dan berasal dari kamar latihannya.
"Anu ...." lirih Nara mau bicara tapi si kembar lima keluar dari rumah. Mereka pergi mencari udara segar daripada mendengar suara bedebug yang berisik itu.
"Kenapa, Nara?" tanya Elvan masih berdiri di dekatnya. "Itu, baby Alan dan Mahendra kapan pulangnya?" tanya Nara sudah rindu anaknya.
"Mungkin setengah jam lagi pulang," jawab Elvan melihat jam tangan digitalnya menunjukkan pukul 12 siang. Memang waktunya sang bayi tidur siang.
"Daripada menunggunya, cobalah naik ke atas dan bujuk Ezra," saran Elvan yakin. Ia sejujurnya tak bisa menenangkan Ezra, karena adiknya itu seperti banteng kalau sudah marah. Mau dikeras pun, Ezra lebih keras darinya.
Jangankan Elvan, apalagi Nara takut berhadapan suaminya itu yang jago berkelahi. Bisa - bisa ia keluar dengan tulang - tulang yang sudah diremukkan. Tapi sebagai istri, pasti bisa membujuk sang suami. Karena mau bagaimana pun kemarahan Ezra, pasti ada cara meluluhkannya.
"Baiklah." Nara pun naik dengan kaki bergetar ketakutan. Bahkan terasa kakinya diikat rantai dan menarik beban yang sangat berat.
Nara membuka perlahan pintu bercak putih itu. Kemudian memandangi Ezra yang masih melayangkan tinjunya dan tidak menoleh sedikitpun. 'Aduh bagaimana ini?' Mau rasanya Nara berbalik badan, tetapi netra coklat madunya itu menangkap air meniral di atas meja.
"Ezra.... " panggil Nara berdiri seraya memegang botol mineral di tangannya.
"Ez... Ezra, minum dulu nih," senyum Nara gugup dan berkeringat dingin. Sontak saja, tinju terakhir tak jadi memukul, Ezra menatap datar istrinya.
"Ma...maaf, aku rasa kamu pasti haus jadi minumlah dulu." Mulut Nara terasa ngilu. Seketika saja tangan Ezra terangkat ke atas. Mata Nara terpejam takut melihat tangan itu menamparnya.
Pak! Botol di tangan Nara terjatuh ke lantai bersamaan Elvan terkesiap tak ada suara dari atas lagi. 'Apa gadis itu berhasil?' batin Elvan agak cemas. Ia jalan cepat ke atas, membuka lebar - lebar pintu dan terhenyak melihat Ezra dan Nara berciuman. Elvan pun pergi sebelum mereka terganggu. Ternyata adiknya itu menarik Nara ke dalam pelukan dan menyambar dengan ganas bibir seksi Nara.
"Sialan, awas kamu Ezra!" Elvan kesal karena melihat adiknya bermesraan.
"Ezra... Umh..." Nafas Nara sesak dan pipinya bersemu merah, tetapi Ezra mengeratkan pelukannya, melu mat tanpa ampun istrinya.
....
__ADS_1
Emang gitu ya kalau suami marah hasratnya ningkat?🤣😅maaf author gak paham sih cara meredahkan Ezra. Habisnya kalau dia marah main tonjok orang, lah ini malah cum bu - cum buan wkwk...