Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
50. BAB 50 - SAYANGKU


__ADS_3

#Flasback


Setelah pulang dari sekolah, Elvan tanpa babibu lagi mendesak Nara dan Ezra ke wahana. Ia sendiri sudah siap menjaga baby Alan yang sedang tidur. Sesampainya di wahana yang besar dan ramai itu, Nara sendirian saja di depan pintu masuk dan menunggu Ezra memarkirkan motornya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sudah siap masuk ke sana?" tanya Ezra berdiri di dekat Nara yang menunduk malu - malu karena sweaternya couple dan berwarna merah darah yang bergaris putih.


"Su… sudah siap."


Ezra terkesiap ketika Nara menggapai tangannya. Istrinya tampak ingin digandeng seperti layaknya berpacaran. Mungkin terasa malu, tapi Ezra terpaksa demi Nara tidak mengadukan apa - apa ke Elvan nanti.


"Ya sudah kita coba ke sana dulu," ajak Ezra membawa Nara masuk dan mulai jalan - jalan mencari wahana yang cocok dinaiki. Tapi tampaknya setiap wahana dipenuhi banyak anak - anak dan remaja abg sepertinya.


"Ezra, kita ke sana dulu yuk, beli cemilan." Nara menunjuk ke penjual cemilan enak - enak.


"Kamu lapar?" tanya Ezra.


"Ya lapar sedikit," jawab Nara mengelus perutnya dan cengengesan.


"Kalau begitu, kita makan di luar wahana, bagaimana?"


"Jangan, kita belinya di sana saja." Nara tetap ingin ke penjual di pinggiran sana. 'Mulai nih dia merengek seperti baby Alan.' Batin Ezra lumayan gemas istrinya bisa juga merengek - rengek.


"Hahaha… ya sudah kita ke sana." Ezra tertawa menuruti istrinya.


'Yeahh, dia mau juga.' Batin Nara senang.


Sampai di sana. Nara pun membeli beberapa krupuk dan permen kapas, ada banyak cemilan sampai - sampai penuh di dadanya. Melihat istrinya sulit memeluk cemilan itu, Ezra mengambil sebagian.


"Eh, biar aku saja," ucap Nara tak mau merepotkan Ezra.


Tuk


"Aishh kenapa disentil?" ringisnya ingin mengelus dahi tapi kedua tangannya memeluk cemilan.


"Pertolongan itu harus dihargai, suami kalau begini artinya nggak mau istrinya kesusahan. Jadi jangan menolak," tegur Ezra membuat Nara terkesima.


"Ba…baik, terima kasih, sayang."


Ezra lagi - lagi terkejut panggilan itu keluar untuknya. Padahal dulu - dulu cuma Pak suami.


"Tadi kamu panggil sayang?" tanya Ezra menunjuk diri sendiri.

__ADS_1


"Iya, sayang," jawab Nara mengangguk.


"Sayangnya ke aku?" tanya Ezra kembali.


"Iya, kamu sayangku," ucap Nara menunduk, benar - benar tersipu dan grogi.


"Serius nih? Aku atau Daffa?" 


Nara segera menggelengkan kepala.


"Bukan Daffa, tapi kamu." Nara menunjuknya.


"Masa sih?" Tatap Ezra mendekatinya.


"Ya! Kamu sayangku!" pekik Nara lantang dan sontak dibungkam mulutnya pakai keripik. Nara terbelalak mencium kemasan keripik bukan bibir suaminya.


"Astaga, jangan teriak - teriak, kamu sengaja ya?"


"Ah maaf, aku salah." Nara tambah grogi dan malu dilihat banyak orang.


"Hha… dasar!" Tawa Ezra pun mengambil sebagian cemilan Nara lagi, kemudian menggandeng satu tangan istrinya. Lanjut jalan - jalan.


"Kita mau kemana lagi?" Nara seraya makan permen kapas dan duduk di sebelah Ezra yang lagi memperhatikan semua orang.


"Ah itu, aku cari wahana yang lumayan bagus untukmu," jawab Ezra jelas bohong karena matanya tidak pernah mengarah ke wahana.


"Kalau begitu, kita naik ke sana, bagaimana?" Usul Nara menunjuk ke atas. Wahana yang mengerikan dan menguji nyali. Nara mengira pasti Ezra suka yang menantang. Tetapi suaminya menolak. "Tidak, itu bahaya buatmu."


"Terus kita mau naik apa?" Nara mulai jenuh tak ada satupun yang dicoba. 'Apa Ezra malu ya? Tapi kan aku tidak pakai kacamata dan sekarang pakai jepitan emasnya.' Nara menunduk sedih. Merasa percuma tampil cantik jika hati suaminya bukan untuknya.


"Hey, kamu kenapa menangis? Apa aku buat salah?" tanya Ezra memegang tangan Nara yang tiba - tiba lemah.


"Menangis? Tidak kok, aku ini cuma kelilipan," elak Nara tidak mau Ezra menyadari kesedihannya.


"Kalau begitu, sini coba aku lihat." Ezra mendekati wajah Nara, melihat dekat mata istrinya yang basah.


"Rasanya perih nggak?" tanya Ezra mulai meniup mata kanan.


"Ya perih banget," jawab Nara tertuju pada hatinya.


"Sakit atau tidak yang ini?" tanya Ezra pindah ke mata kiri.

__ADS_1


"Iyaaa lumayan sakit," lirih Nara yang perasaannya sakit tidak dibalas tulus. Membuat Nara berdiri, sudah tidak tahan. "Loh kenapa berdiri? Sini duduk dulu." Ezra menepuk bangku yang terdapat sisa cemilan Nara.


"Aku … aku minta maaf," 


"Loh, kenapa?" Ezra pun berdiri.


"Soal kemarin yang aku tolak keinginanmu," lirih Nara meremat tangannya. Ezra meraihnya, mencium punggung tangan Nara. "Tidak apa - apa, aku akan coba mengerti."


"Terima kasih, aku ke sana dulu beli tissu," senyum Nara sedikit lega. "Mau aku temani?" tawar Ezra.


"Tidak usah, kamu duduk sini jagain cemilan aku." Nara menunjuk ke cemilannya.


"Ya sudah, jangan sampai hilang, okay?"


"Okay, pak suami!" Hormat Nara.


"Loh, sayangnya mana?" tanya Ezra kurang puas.


"Eh maaf, Pak suami tersayang!"


"Hahaha… sana pergilah, nanti tissunya keburu habis." Tawa Ezra mencubit gemas pipi istrinya. Nara bergegas pergi membeli tissu, sedangkan Ezra duduk lagi dan melihat jauh istrinya. Saat melihat jam digitalnya sudah pukul satu siang, tiba - tiba seseorang memanggil namanya.


"Ezra? Ngapain kamu di sini?" tanya Friska tampak sendirian saja. Kemudian duduk di dekat Ezra. Namun mantan ketua Ozara itu bergeser dan menjauhinya.


"Lagi jalan - jalan doang sih, rileks pikiran," jawab Ezra sudah tidak lagi perhatikan Nara.


"Sama dong, aku juga ke sini cuma buat itu, refreshing pikiran gara - gara Melly yang sikapnya makin aneh," ucap Friska pun memeluk lengan Ezra. Namun sontak dilepaskan.


"Maaf, mulai sekarang kita tidak usah begini lagi, Friska, kita sudah putus," ucap Ezra yang sudah putus bulan lalu. Berusaha menegaskan pendiriannya.


"Ezra, jangan begitu dong! Kamu yang ajak aku pacaran, terus kamu yang putusin aku dengan alasan mau fokus ujian, tapi kemarin kamu bersedia datang ke rumah aku," celetuk Friska masih kecewa dan sekarang kebetulan hari ini ia ingin mengajak Ezra balikan, tapi tampaknya mantannya itu tidak minat.


"Aku ke rumah kamu hanya ingin tahu kabar Melly," ucap Ezra jujur.


"Bohong, kamu pasti datang untukku." Timpal Friska.


"Sudahlah Friska, kamu menerimaku saat itu hanya karena Ozara dan biar popularitas kamu meningkat. Kamu tidak tulus mencintaiku," jelas Ezra sadar hubungannya cuma berdasarkan Ozara dan sekarang perasaannya ke Friska hanyalah obsesi semata.


"Benar, aku dari awal memang cuma ingin bergabung ke Ozara. Kamu memang bodoh sudah mengajak aku pacaran, tapi sekarang aku sungguh - sungguh mencintaimu," ungkap Friska sejujurnya.


"Tapi aku tidak lagi menaruh rasa padamu, kita temenan saja atau anggap kita tidak pernah akrab." Demi menjaga hati untuk Nara, Ezra pun berdiri segera berjalan pergi.

__ADS_1


"Ezra! 


__ADS_2