
Daffa dalam hati selalu berdoa untuk keselamatan gadis itu. Dia sendiri tidak tahu kelebihan apa yang dimilikinya hingga bisa terjerat oleh Yasna yang dia sendiri meragukan identitas yang diperolehnya mengenai gadis itu.
"Kenapa aku selalu kepikiran tentang dia?" Tanya Daffa dalam hati.
"Banyak gadis kota yang lebih cantik dari dia tapi kenapa?" Lanjutnya.
"Kalau dipikir-pikir tidak ada yang menarik darinya?" Lanjutnya lagi.
Seorang gadis sedang duduk di sebuah batang kayu yang cukup besar. Kayu itu memang menghalangi jalan.
Hafsa mulai merasa takut karena memang hari sudah mulai gelap sedangkan di tebing itu tidak tidak satu orang pun yang lewat di daerah tersebut. Dia teringat dengan Sang Bunda yang selalu melindungi dirinya setiap waktu.
"Kalaupun nyawa ku harus berakhir disini aku ikhlas." Batinnya.
"Dari pada aku harus menerima perjodohan dengan orang yang tidak aku kenal." Lanjutnya.
"Bunda maafkan putri mu yang belum bisa berbakti pada mu." Lanjutnya.
Rasa takut yang teramat sangat dia rasakan justru tidak membuatnya menitikkan air mata. Dia merasa menjadi anak yang tidak berguna untuk Sang Ibunda.
Daffa merasa semakin cemas dalam penantiannya sekarang ini. Mesin motor itu dinyalakan dengan segera.
Pemuda itu merasa sangat bertanggung jawab terhadap hilangnya gadis yang telah berhasil membuatnya kacau dalam segala hal. Rasa bersalah terhadap kejadian yang baru saja terjadi masih terngiang di pikirannya.
Daffa menjalankan motor itu sangat pelan dengan kepala yang selalu menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian dan perlahan. Dia mengambil ponsel yang ada di saku jaket yang dikenakannya setelah berhenti.
"Darurat seperti ini malah gak ada jaringan." Kata Daffa yang rasanya ingin membanting ponsel itu.
"Cahaya apa itu." Lanjutnya berjalan setapak demi setapak karena medan yang sangat buruk.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap Pemuda itu sebelum dia melangkah menuju cahaya itu.
Daffa berjalan menuju cahaya yang terlihat walaupun hanya samar-samar. Dia berharap itu adalah sebuah tanda dari Hafsa gadis yang sedang dicarinya.
"Maaf aku pergi tanpa sepengetahuan mu." Kata seorang gadis saat memeluk Daffa sambil menangis setelah berlari kecil.
"Sudahlah yang penting kamu baik-baik saja." Kata Daffa perlahan membalas pelukan gadis yang dicarinya dengan menepuk-nepuk punggung gadis itu perlahan.
__ADS_1
"Ayo kita kembali." Kata Daffa mengajak gadis itu setelah lebih tenang.
"Alhamdulillah kamu baik-baik saja." Ucap Daffa penuh syukur.
Hafsa mendengar semua yang diucapkan pemuda yang sekarang ini bersamanya terdengar sangat tulus. Keduanya berjalan beriringan menuju motor yang mereka bawa saat menuju ke tempat ini.
Kali ini Hafsa merasa sangat ketakutan hingga dia tidak melepaskan pegangan tangannya pada Daffa hingga tujuannya. Keduanya kini sudah berada di atas motor tanpa diminta pun gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Daffa sangat erat.
Daffa sangat bersyukur telah menemukan gadis yang berhasil mengambil hatinya. Kini dia sangat yakin dengan perasaannya.
Pemuda itu selalu tersenyum dalam perjalanan kembali menuju villa. Melihat ada warung makan yang sederhana dia menghentikan motornya.
"Makan malam dulu di sini tidak apa kan?" Tanya Daffa pada gadis yang membonceng dibelakangnya setelah menoleh.
"Hem." Jawab gadis itu sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya Daffa saat berjalan masuk menuju warung makan.
"Sudah lebih baik." Jawab gadis itu singkat.
"Makanya jangan pernah pergi sendirian." Kata Pemuda itu memberikan nasehat.
Mereka menuju tempat lesehan agar lebih nyaman untuk bergerak. Daffa melihat seluruh tubuh gadis itu ingin mengetahui keadaannya secara langsung.
"Aku tidak apa-apa, tidak ada luka sama sekali." Kata Hafsa setelah merasa diperhatikan oleh seorang pemuda yang bersamanya.
"Siapa juga yang tanya keadaan mu." Elak Daffa yang diikuti mengalihkan pandangannya.
Daffa memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan yang bisa mereka santap sebagai makan malam mereka berdua untuk pertama kali. Pelayan di sana tidak percaya dengan jumlah pesanan yang dimintanya.
Gadis yang bersamanya juga tidak percaya dengan jumlah pesanan itu. Mereka berdua saling mencuri pandang saat menunggu pesanan mereka siap semuanya.
"Memangnya kamu sangat lapar?" Tanya Hafsa setelah semua pesanan mereka ada dihadapan.
"Tidak, mana tahu kamu mau tambah." Jawab Daffa tanpa melihat pada gadis yang ada di sampingnya itu.
Pemuda itu tanpa bertanya mengambilkan beberapa menu dalam satu piring penuh diberikan pada Hafsa. Gadis itu tidak percaya melihat piringnya yang penuh dengan makanan tidak yakin bisa menghabiskannya.
__ADS_1
"Untuk ku?" Tanya Hafsa yang tidak percaya juga kalau dia dilayani oleh seorang pemuda.
"Makanlah." Kata Daffa singkat.
"Hah, mana habis aku sebanyak ini." Keluhnya karena terlalu banyak.
"Aku tidak mau kamu terlihat kurus." Kata Daffa.
"Tadi kamu nangis pasti energi mu sudah banyak terkuras dan sekarang pastinya lapar."
"Memangnya perut ku karung yang mampu menghabiskan semua ini?" Tanya Hafsa.
"Mana tahu." Jawab Daffa sambil mengendikkan bahunya.
"Sudah habiskan." Kata Daffa sambil mengacak rambut gadis itu perlahan.
"Apa'an sih." Kata Hafsa jengkel sambil mengibaskan tangan yang telah membuat semakin berantakan rambutnya.
"Cepat makan." Kata Daffa tanpa melihat gadis yang ada di sampingnya.
Pemuda itu tidak berani menatap Hafsa sejak tadi karena masih ada rasa bersalah dalam hatinya. Dia mulai mencoba berpaling dari perasaan yang dirasakan saat ini.
Daffa takut jika hatinya akan terluka untuk pertama kali jatuh cinta. Dia sebenarnya sudah tahu identitas gadis itu tapi tidak ingin mencampur adukkan dengan urusan hati.
Mereka berdua akhirnya makan dengan lahap karena rasa lapar yang memang dirasakan sejak tadi. Semua menu yang mereka pesan hampir habis, apalagi sepiring makanan penuh yang ada di atas piring Hafsa.
Pemuda itu senang semua makanan yang diambilkan untuk Hafsa habis. Daffa menyukai gadis yang apa adanya seperti itu.
Daffa membayar semua makanan yang dipesannya sebelum mereka pergi. Waktu memang begitu larut hingga mereka berhenti di sebuah taman tempat biasa dia bermain sepak bola.
"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Gadis itu saat motor yang ditumpanginya berhenti.
"Aku masih lapar." Jawab Daffa singkat saat turun dari motornya.
"Makanan sebanyak itu sudah hampir kamu habiskan masak masih lapar." Kata Hafsa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Makanan yang aku mau belum aku dapat." Kata Daffa dengan senyum jail.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju bawah pohon besar tanpa ada sebuah kata lagi. Keadaan yang cukup remang-remang walaupun banyak cahaya lampu yang menyala.
Rasa canggung ada diantara keduanya hingga sampailah mereka di tempat yang nyaman untuk merebahkan badan mereka yang sudah terasa sangat lelah. Daffa merebahkan tubuhnya di atas rerumputan di bawah sebuah pohon matanya menatap lurus melihat cerahnya langit yang bertaburan bintang.