
Gadis itu berjalan lunglai menuju ruangan yang tadi digunakan oleh mereka untuk shalat. Dia tidak tahu harus menghadapi pemuda itu dengan cara apa untuk menutupi rasa malunya.
Mendekat
Mendekat
Mendekat
Dag Dig Dug Der
Suara detak jantung gadis itu semakin terasa nyata. Yasna semakin memperlambat langkah kakinya.
"Apa dia sedang mengaji?" Tanya gadis itu dalam hati ketika mendengar lantunan ayat suci itu dilantunkan dengan indah.
"Suara membuat ku nyaman." Lanjutnya.
"Aku kira dia itu sangat tidak berperasaan sama seperti wajahnya yang selalu dingin." Lanjutnya lagi.
Gadis itu duduk di depan ruangan menunggu Garda selasai mengaji. Dia mendengarkan setiap ayat dangan baik.
Wanita Paruh Baya yang menunggu kedua orang pemuda yang tidak kunjung datang akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka berdua. Bunda melihat Yasna dari jauh hanya duduk di luar ruangan tanpa masuk memutuskan untuk menghampirinya.
Kakek pulang dari mushola langsung menata juga buah-buahan di atas meja dan membuat beberapa gelas jus. Makanan itu tidak pernah lupa disajikan setiap kali mereka makan.
"Semoga saja tumbuh rasa suka diantara mereka." Kata Bunda Azka dalam hati mendoakan keduanya.
Wanita itu perlahan berjalan mendekati Sang Putri yang sedang khusuk mendengar ayat-ayat suci dibaca. Bunda Azka juga tidak menyangka kalau pemuda itu pandai membaca ayat-ayat suci.
"Indah ya baca'an Al-Qur'an nya?" Tanya Sang Bunda pada Yasna.
"Ya." Jawab Sang Putri singkat melihat kedatangan Sang Bunda.
"Tunggu saja si ganteng selesai membacanya." Pinta Sang Bunda sambil berbalik kembali ke ruang makan.
Gadis itu membulatkan mata sempurna tatkala Sang Bunda memujinya. Dia tidak percaya Sang Bunda akan mengatakan dia ganteng.
Garda memang selalu berusaha meluangkan waktunya untuk membaca ayat suci Al-Qur'an dan juga shalat tahajud di sepertiga malam akhir. Dia memang seperti Sang Papa yang selalu mengajarinya berbuat seperti itu.
Di keluarga Adrean semuanya berbuat seperti itu. Termasuk ke dua saudara kembarnya itu.
Gadis itu cukup lama menunggu di luar hingga seluruh badannya terasa dingin. Garda yang sudah mengakhiri bacaannya itu keluar dengan membawa jaket yang diletakkan tadi di dekat pintu.
"Kenapa di sini?" Tanya Pemuda itu dengan ekspresi yang datar setelah menyampirkan jaket kulit di badan Yasna.
"Angin disini cukup kencang kamu bisa masuk angin." Lanjutnya dengan penuh perhatian.
"Aku sengaja mencari angin segar untuk mengurangi rasa lelah ku seharian." Kata Yasna yang secara tidak langsung menyinggung pemuda itu.
__ADS_1
"Jangan dilepas dulu." Pinta Pemuda itu saat tahu badan Yasna masih terasa dingin dan gadis itu mau mengembalikan pada pemiliknya.
"Pakailah saat kamu keluar rumah atau kamu merasa dingin." Lanjutnya.
Kata-kata gadis itu tadi sebenarnya untuk meyakinkan dirinya agar tidak jatuh kedalam perangkap seorang laki-laki. Dia beranggapan semua laki-laki memang suka mempermainkan wanita.
Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah bersama-sama. Bunda Azka yang melihat semua perlakuan pemuda itu pada putrinya tersenyum.
"Ayo segera makan." Kata Sang Bunda mengajak kedua orang yang baru masuk rumah.
"Makanannya sudah dingin Bunda minta maaf." Lanjutnya.
"Bunda maaf kalau saya jadi merepotkan keluarga ini." Kata Pemuda itu sopan.
"Sesama orang itu harus saling membantu." Kata Bunda memberikan nasi goreng yang masih pada wadahnya.
Mereka semua mengambil nasi goreng itu sendiri-sendiri ke dalam piring mereka sendiri-sendiri. Mereka makan dengan sangat lahap karena kejadian hari ini membuat perut mereka sangat lapar.
Kakek dan Garda menuju teras untuk berbincang-bincang usai makan malam sedangkan Yasna dan Bunda Azka membersihkan ruang makan serta mencuci semua peralatan dapur yang mereka gunakan untuk memasak.
"Bagaimana menurut mu tentang dia?" Tanya Sang Bunda saat mereka berada di Dapur.
"Maksut Bunda?" Tanya Yasna.
"Jangan pura-pura tidak tahu." Kata Bunda."
"Semua gadis seusia mu disini mereka sudah memilikinya." Lanjutnya menjelaskan pada putrinya itu.
"Jangan jadikan kisah hidup Bunda sebagai momok untuk mu." Lanjutnya lagi.
"Bagi ku dia orang asing yang baru aku kenal." Kata Yasna dengan tersenyum kecut.
"Ya sudah, antarkan kopi itu ke depan jangan sampai dingin." Kata Sang Bunda.
Bunda tahu Sang Putri tidak pernah sembarangan dalam mengenal seorang laki-laki. Dia sendiri tahu alasan Yasna berbuat seperti itu.
"Bunda maaf aku tidak bisa dekat dengan siapapun di sini selama masih banyak omongan tetangga." Kata Yasna dalam hati.
"Itulah salah satu alasan aku lari dari tempat ini menuju kota dimana tidak ada yang mengenal ku." Lanjutnya sambil melangkahkan kaki menuju teras mengantarkan dua gelas kopi.
Gadis itu langsung menuju kamar setelah meletakkan kopi tersebut di atas meja. Garda melihat setiap gerak gadis itu saat meletakkan kopi.
Kedua laki-laki itu berbincang-bincang layaknya orang tua dengan cucunya. Sang Kakek menceritakan masa mudanya sesekali juga mereka tertawa lepas.
Waktu tidak terasa sudah sangat larut tetapi seorang gadis yang berada di sebuah kamar tidak bisa memejamkan mata karena perkataan Sang Bunda tadi. Dia hanya membolak balikkan badannya di atas tempat tidurnya.
Kakek juga sudah kembali ke kamarnya meninggalkan pemuda itu sendirian di teras rumah. Dia sebenarnya ingin memejamkan mata juga tetapi indra penglihatannya tidak mau diajak berkompromi.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki berjalan menghampiri pemuda yang masih terjaga di teras rumah Bunda Azka. Dia menghampiri pemuda itu dengan langkah perlahan.
"Sudah larut kenapa belum tidur juga?" Tanya Seorang Wanita Paruh Baya setelah duduk perlahan.
"Bunda." Kata seorang pemuda melihat pada sumber suara yang terdengar merdu.
"Aku belum ngantuk." Lanjutnya.
"Bunda sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Garda.
"Aku ingin menikmati cerahnya langit malam ini." Katanya.
Hening
Hening
Hening
"Bunda senang kamu bisa terdampar di sini." Kata Sang Bunda memecahkan keheningan malam itu.
"Bunda rasa kamu pemuda yang baik." Lanjutnya.
"Dan Bunda juga tahu kamu sekarang sedang bimbang." Lanjutnya lagi.
"Pergilah ke kamar dan istirahat supaya rasa lelah mu hari ini hilang sehingga kamu bisa berpikir dengan baik." Kata Bunda memberikan sebuah nasehat.
"Apa yang dikatakan Bunda semuanya benar. Aku akan pergi ke kamar berusaha untuk tidur." Kata Pemuda itu.
Garda berdiri perlahan dan berjalan perlahan menuju kamar sementara itu. Kamar itu melewati kamar seorang gadis.
Gadis yang tidak bisa tidur itu seketika melihat sebuah bayangan seorang laki-laki baru saja melewati kamarnya. Saat melihat bayangan itu seketika itu juga dia melihat jaket kulit yang diberikan oleh Garda.
Jaket yang tergantung di dalam kamarnya diambil dari tempat semula. Benda pipih itu juga baru saja dilihatnya.
"Kenapa semua barang miliknya sekarang ada di kamar ku." Kata Yasna lirih.
"Barang-barang ini harusnya aku kembalikan." Lanjutnya.
Jaket kulit dengan aroma khas milik Pemuda itu masih terasa pada Indra penciumannya. Jaket itu terdapat sulaman tangan yang begitu bagus dan halus tertera nama sang pemilik.
Gadis itu meraba sulaman tangan itu perlahan. Dia membayangkan wajah tampan saat meraba sulaman yang ada di jaket kulit itu.
__ADS_1