Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Cepat Merasa Lelah


__ADS_3

Daffa Sang Adik Bungsu hanya diam sambil tersenyum menikmati masakan yang ada di depannya. Tidak terasa semua menu di atas meja itu hampir habis tidak tersisa.


"Lumayan enak masakan gadis ini. Aku jadi penasaran dengan dia." Kata Daffa dalam hati.


Seorang gadis merebahkan tubuhnya di sebuah tempat tidur yang ada di kamar belakang. Pasca penyembuhan setelah demam kemarin tubuhnya masih cepat merasakan lelah.


Bibi meninggalkan ketiga tuan mudanya yang sedang menikmati makan malam mereka. Wanita paruh baya itu memang selalu meninggalkan mereka disaat mereka sedang makan.


Paling penting semua kebutuhan mereka bertiga sudah tersedia disana, jika merasa kurang mereka akan memanggil wanita itu. Ketiga pemuda tampan itu juga tidak suka jika seakan semua kegiatannya itu diawasi oleh orang lain.


Seorang ART pemilik kamar itu menghampiri Hafsa yang sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Gadis ini terlihat sedang memikirkan sesuatu hingga kedatangan wanita paruh baya itu tidak diketahuinya.


"Siapa sebenarnya gadis ini, sepertinya dia bukan gadis biasa?" Tanya Bibi dalam hati.


Hafsa terperanjat langsung duduk di sisi tempat tidur setelah mengetahui pemilik kamar datang. Dia melihat seorang wanita paruh baya itu sedang memperhatikannya.


"Tidurlah kamu terlihat sangat lelah." Kata Bibi.


"Tidak apa-apa Bi, maaf merepotkan Bibi selama ini." Kata Hafsa sopan.


"Bibi senang ada teman, jadi kamu tidak perlu sungkan pada ku." Kata Bibi dengan ramah.


Gadis yang memiliki perawakan tubuh kecil, cantik, dan berambut panjang ini tidak ingin tidur lebih awal. Akhirnya dia berbincang dengan wanita paruh baya yang kini kamarnya ditempatinya.


Gadis ini ingin membantu wanita paruh baya yang selama ini sangat baik padanya. Wanita itu banyak bercerita kejadian saat dia sakit.


"Tidak sekejam lidah mereka ternyata." Batin Hafsa setelah mendengar cerita dari wanita paruh baya itu.


Ketiga Tuan Muda pemilik villa itu sudah selesai makan malam. Seorang ART yang bersama Hafsa di kamarnya kini beranjak menuju ke ruang makan setelah melihat jam dinding yang yang ada di kamarnya.


Wanita itu membersihkan meja makan setelah ketiga pemuda itu meninggalkan ruang makan. Bibi melihat semua menu masakan yang dibuat hampir habis.

__ADS_1


Hafsa sendiri mengikuti sang Bibi di belakangnya. Ia ingin membantu wanita itu walaupun dilarang tetap saja nekat melakukannya.


Bibi merasa kualahan karena Hafsa terlalu memaksa untuk membantunya. Dia takut dengan kondisi gadis ini yang masih lemah dan cepat merasa lelah.


Gadis itu memang memiliki tekat yang terlalu kuat. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Sesulit apapun akan dia jalani.


Hafsa akhirnya mencapai titik tertinggi kekuatannya hari ini. Dia terduduk di ruang makan karena kelelahan.


"Tadi sudah Bibi bilang kamu lebih baik banyak-banyak istirahat dulu saja." Kata Bibi dengan tulus.


"Sekarang badan mu lemas kan? bab Tanya Bibi.


"Untuk masak Bibi saja sudah cukup Nduk, tidak perlu kamu sendiri yang melakukannya." Lanjutnya Bibi sambil menempatkan diri duduk di sebelah gadis yang kini terkulai lemah.


Mereka bertiga pergi ke ruang olahraga untuk membakar lemak yang baru saja mereka makan. Perut mereka malam sungguh terasa sangat penuh dengan makanan.


Entah mengapa Garda sebelum mulai menggerakkan tubuhnya untuk olahraga tenggorokannya terasa kering. Dia sendiri berjalan kembali menuju dapur.


Pemuda itu melihat seorang gadis dan seorang wanita paruh baya sedang duduk di ruang makan yang sudah dibersihkan setelah dia dan kedua saudaranya makan di tempat itu. Garda hanya samar-samar mendengar percakapan mereka, akan tetapi ketika ada sesuatu percakapan yang sangat menarik dia pun mulai memasang telinganya dengan baik.


Plaak


Sebuah tepukan di bahu mengagetkan seorang pemuda yang sedang berkonsentrasi terhadap penyelidikannya. Garda terkejut dan menoleh melihat siapa yang telah membuatnya kaget.


Siapa lagi kalau bukan Daffa si adik bungsu yang selalu saja kepo dengan orang lain. Merasa lama Dia menyusul Sang kakak yang tadi hanya bilang mau mengambil air minum tak kunjung kembali.


"Alih profesi sekarang Kak?" Tanya Daffa sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh kedua pemuda itu.


"Diam, jangan berisik!" Titah sang Kakak.


"Lagi main petak umpat?" Canda Sang Adik.

__ADS_1


"Kalau naksir sama itu cewek bilang aja sekarang." Lanjutnya.


"Keburu diambil orang, baru nyesel. Aku lihat dia cewek baik-baik dan cantik lagi." Lanjut Daffa mengingat gadis itu pernah digoda oleh sahabatnya.


Kedua pemuda yang mencoba beralih profesi itu melangkahkan kaki meninggalkan tempat persembunyian mereka. Mereka kembali dengan tujuan awal mengambil air minum yang ada di dapur.


Air putih hangat yang biasa mereka minum agar lemak mereka cepat terbakar dan dikeluarkan melalui keringat. Mereka dengan sengaja membuat suara saat mengambil air.


"Tuan muda ada yang dibutuhkan?" Tanya Bibi setelah mendekat pada kedua orang kakak beradik yang kembar tidak identik.


"Tidak Bi, aku cuma mau ambil air hangat saja." Jawab Daffa yang paling ramah diantara ketiga bersaudara itu.


"Kenapa Bibi belum istirahat?" Tanya Garda.


"Baru selesai beres-beres Tuan." Jawab Bibi.


"Sudah malam, Bibi segera istirahat." Kata Daffa.


"Jangan begadang terus tidak bagus buat kesehatan." Lanjutnya.


"Itu kenapa cewek?" Tanya Garda yang melihat sejak tadi gadis itu tidak bergerak dari tempat duduknya.


"Tidak apa-apa Tuan hanya kecapean." Jelas Bibi.


"Ya udah Bi, suruh dia segera istirahat." Kata Daffa.


"Kalau tidak mau atau tidak bisa tidur di kamar belakang suruh aja tidur di kamar Kak Garda biar di grebek Papa dan Mama trus dinikahin." Canda Daffa.


"Pertama kali mungkin tidak nyenyak tidurnya tapi setelah perang pasti nyenyak." Cerocos Sang Adik.


"Sok tahu Lu." Balas Garda dengan mengalungkan serbet pada leher sang Adik.

__ADS_1


Bibi hanya diam beribu bahasa ketika mendengar perbincangan kakak beradik itu. Sebuah senyum terbit dibibirnya melihat keakraban kedua bersaudara itu.


Mereka bahkan tidak pernah bertikai terhadap berbagai hal dan sangat baik terhadap siapa saja. Hal itu lah yang membuat Wanita itu betah bekerja di villa milik Mentari kakak dari ketiga bersaudara itu.


__ADS_2