
Pemuda itu mengikuti kata hatinya berjalan menuju taman belakang yang sangat nyaman. Garda memberanikan diri tanpa ijin masuk ke dalam dengan tertatih-tatih.
Plak
Sebuah tangan yang penuh dengan luka lecet menepuk pundak seorang gadis yang sedang bermain di kolam ikan setelah beberapa saat melamun. Dia sungguh terlihat lebih cantik dari pada tadi.
"Secantik ini kah." Batin Garda dengan takjub mengakui bahwa gadis itu lebih cantik dari kekasihnya. (Dasar cowok yang jauh dilupakan saja yang dekat semakin dideketin).
Yasna sudah basah dengan air kolam ikan yang sedikit berbau amis. Dia tidak perduli dengan baunya itu yang penting happy.
"Au." Pekik seorang Pemuda yang luka terbukanya sedikit terkena percikan air.
"Siapa suruh ngagetin aku." Kata Yasna merasa tak bersalah.
"Mau aku temenin?" Tanya Garda keceplosan karena terpesona dengan aura gadis yang ada di depannya saat ini.
"Boleh, asal kamu tahan air dengan luka mu." Kata Yasna mengijinkan.
"Itu belum seberapa jika terjadi infeksi aku tidak bertanggung jawab. Ok!" Kata Yasna tersenyum renyah.
"Ok." Kata Garda mantap.
Sreeeet
Pemuda itu terpeleset karena lantai yang sedikit licin. Dia kesakitan hingga membuat seorang gadis merasa sangat khawatir.
Bruug
Suara seseorang yang terjatuh setelah keluar dari kolam dengan terburu-buru. Dia menimpa badan seorang pemuda yang sedang terluka.
"Haduh sudah jatuh tertimpa gadis cantik pula." Kata Garda menahan tubuh gadis itu.
Kedua mata mereka bertemu sangat lama hingga tidak mendengar kedatangan dua orang karena akan ada cinta yang datang dari mata turun ke hati. Sang Bunda dan Kakek sudah mengamati mereka sejak tadi ingin tahu interaksi antara keduanya.
"Ehem ehem." Sang Bunda berdehem hingga keduanya menatap pada asal suara.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Sang Bunda dengan intonasi rendah.
"Aaaah." Rintih seorang pemuda merasa keenakan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan pada ku?" Tanya Yasna yang tidak sadar dengan posisi tubuhnya menindih seorang Pemuda.
"Tidak salah, cepat bangun dari badan ku!" Kata Garda dengan mukanya yang sudah memerah karena malu sedangkan gadis itu masih menindih tubuhnya.
"Apa perlu bantuan untuk menyadarkan putriku?" Tanya Sang Bunda pada Kakek.
"Memangnya aku pingsan?" Tanya Yasna berusaha bangun.
"Aduh, bisa-bisa lukanya makin parah." Kata Sang Kakek ketika melihat Yasna yang berusaha bangun berkali-kali terpeleset kembali.
Gadis itu merasa grogi saat ini hingga dia yang ingin bangun terjatuh kembali. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat ini.
Garda yang saat itu sangat malu dengan kejadian baru saja tidak bisa menjelaskan apapun. Dia takut kalau Sang Bunda dan Kakek berpikiran yang tidak-tidak.
Bunda Azka melangkahkan kaki menolong Sang putri agar bisa berdiri tidak menindih Garda lagi. Kakek pada saat yang bersamaan menolong Pemuda yang sudah jatuh tertimpa gadis pula.
Keduanya berdiri bersamaan dengan topangan masing-masing. Entah kenapa Garda dalam hati sebenarnya menikmati kejadian baru saja.
Mereka berempat menuju ruang tamu berjalan perlahan karena salah satu diantara mereka tidak bisa berjalan cepat. Garda lukanya bertambah parah karena kejadian baru saja.
Ponsel yang sejak tadi diletakkan di meja ruang tamu terdapat banyak pesan yang masuk setelah ada panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak di kenal. Semua pesan itu dibaca satu persatu oleh pemuda yang ada di rumah Bunda Azka saat ini.
Semua sudah ditemukan antar ke jalan X di desa X. ~ Pinta Garda pada asistennya.
Bilang kamu yang menemukan, sembunyikan identitas ku. ~ Pintanya lagi.
Baik Tuan. ~ Balas Asisten Pribadi Garda.
Garda yang sedang menahan sakit itu menghapus semua pesan yang masuk agar identitasnya tersembunyi dengan rapi. Beberapa orang yang ada disampingnya merasa khawatir dengan keadaannya.
"Panggilkan saja Dokter Bunda." Kata seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kamu mau temenin Dia dulu." Kata Bunda yang sudah menyetujui usul Sang Putri.
"Maaf, Bunda ku sayang soal dokter dan rumah sakit aku yang jelas angkat tangan. Ok." Kata Yasna menolak.
"Maaf aku ada urusan juga." Lanjutnya untuk memperkuat alasannya.
"Kakek saja lah ya biar lebih dekat dengan Pak Dokter itu." Kata Yasna dengan nada yang tidak suka dengan dokter itu.
__ADS_1
"Kenapa sayang diakan Om kamu?" Tanya Sang Bunda saat melihat putrinya hendak pergi dari rumah.
"Tidak mau pergi bawa ponsel mu?" Tanya Seorang Pemuda yang sejak tadi melihat wajah Bunda Azka khawatir pada putrinya.
"Kalau butuh bantuan seperti tadi tanpa ponsel ini mana bisa?" Tanya Garda mengingatkan.
"Kembalikan milik ku!" Pinta Yasna segera berjalan mendekati pemuda itu.
"Tidak bisa, aku tadi kan sudah bilang menggantinya." Kata Seorang Pemuda dengan menguatkan badannya itu.
Bruuuuk
Suara sebuah badan terjatuh akibat kurang waspada menyandung kaki seorang laki-laki yang sudah tua. Yasna terjatuh pada sebuah badan yang sama.
Mata kedua orang itu bertemu untuk kedua kalinya pada hari yang sama. Keduanya merasakan tatapan yang teduh dapat menenangkan hati mereka.
Sangat lama mereka beradu mata hingga tanpa sadar kalau masih ada makhluk lain di sekitar mereka (Apa mereka juga akan beradu mulut? saksikan kelanjutan ceritanya.). Rasa sakit di tubuh pemuda itu seakan hilang akibat tertindih seorang gadis walaupun itu bukan kekasihnya.
"Eheeem eheeem." Sang Bunda batuk kecil untuk menyadarkan keduanya.
"Apa kalian berdua akan seperti itu terus?" Tanya Bunda Azka.
"Maaf Bunda kaki kakek ditaruh sembarangan." Kata Yasna berusaha bangun dari tubuh kekar yang sedang terluka itu sambil menatap wajah sang Bunda menahan rasa malu.
"Kenapa Kakek yang kamu salahkan hem?" Tanya Sang Bunda dengan sedikit mengangkat kepalanya sebentar.
"Bukannya kamu sendiri yang selalu kurang hati-hati alias ceroboh?" Tanya Bunda lanjut.
Gadis itu akhirnya berdiri sambil menunduk sebab semua yang dikatakan Sang Bunda benar adanya. Hati Sang Bunda merasa sedikit lega melihat ada perubahan emosi terhadap laki-laki pada diri putrinya.
"*Sepertinya keluarga ini juga bukan dari keluarga biasa." Batin Garda.
"Seorang Dokter tadi Bunda Azka bilang adalah salah seorang keluarganya." Lanjutnya.
"Rasa kopi itu juga sangat familiar bagi ku di sebuah kedai kopi yang terkenal di kota tapi setiap aku kesana tidak pernah melihat dia bekerja di kedai itu." Lanjutnya yang semakin tambah panjang*.
Kedua saudara kembarnya juga merasakan hal yang tidak enak dihati mereka. Pikiran mereka tertuju pada saudara mereka Garda yang pergi entah kemana tanpa sebuah kejelasan.
Axel yang sedang mengurusi seorang gadis di markasnya hari ini merasakan dengan sangat jelas kalau saudaranya sedang terluka. Daffa yang memang memiliki hubungan darah memiliki perubahan emosi yang cukup drastis.
__ADS_1
Daffa sendiri ingin menghubungi Sang kakak tetapi sebelum keluar rumah tadi pagi dia dapat menangkap sesuatu dari perilakunya. Sang kakak ingin memberikan kesempatan padanya dan tidak ingin Daffa mencari atau menghubunginya untuk sementara waktu.