
Kedua pemuda yang sekarang ada di ruang kerja sudah selesai berdiskusi tentang sesuatu (Apakah itu ya?). Mereka keluar dan dari ruangan itu tanpa sengaja Axel mendongokkan kepala melihat seseorang sedang fokus menatap sesuatu.
Axel hanya menyikut lengan Pemuda yang ada di sampingnya yaitu adiknya Garda. Dia menaikkan dagunya sedikit seakan bertanya bertanya sesuatu tanpa suara.
Sang Kakak hanya menunjukkan sebuah pemandangan yang ada di lantai atas dengan mendongokkan kepalanya. Garda sudah tahu maksut sang kakak walaupun tanpa suara.
Sebuah ruangan menimbulkan bau yang sangat harum. Di dalamnya terdapat seorang gadis yang sedang membuat sebuah kue.
Daffa ketahuan sedang mengintai gadis dari lantai atas. Kedua kakaknya berjalan menghampirinya berusaha tidak menimbulkan suara langkah kaki.
Khem Khem Khem
Axel berdehem beberapa kali tetapi tidak menyadarkan Sang Adik Bungsu yang sedang menyaksikan seorang gadis membuat sebuah kue. Mereka berdua merasa heran dengan pendengaran Daffa yang mungkin tidak bermasalah menjadi bermasalah.
"Apa Daffa memang benar-benar sedang jatuh hati pada gadis itu?" Tanya Garda dalam hati.
"Semoga saja kali ini Dia serius dengan gadis itu." Lanjutnya.
Kedua kakaknya itu tidak ingin Sang Adik melakukan semua tindakan yang melanggar etika. Khilaf dalam menentukan pilihan hidup.
"Biasa saja tapi ada yang tertarik." Kata Kak Axel yang mulanya sedang menyandarkan punggung di samping pintu masuk kamar miliknya kemudian berjalan mendekati Daffa yang sedang terhanyut dalam lamunannya.
"Apa." Kata Daffa yang tidak mendengar ucapan kakaknya karena fokus menatap gadis yang ada di bawah.
"Itu gadis dipoles sedikit juga cantik." Lanjut Garda yang baru saja menepuk pundak adiknya hingga membuatnya sadar.
"Sudah ketahuan juga masih saja mengelak." Kata Axel masih ditempat yang sama.
"Memangnya tadi kalian bilang apa?" Tanya Daffa tanpa ekspresi sama sekali untuk menutupi perasaannya.
"Kami tadi bilang kamu kalau suka sama itu cewek bilang saja, jangan sampai nyesel." Kata Axel.
"Daffa Daffa...." Kata Garda ikut mengamati gadis yang ada di lantai bawah.
"Sudah ketangkap basah masih saja mengelak." Lanjutnya.
__ADS_1
"Bukan ketangkap basah tapi ketangkap kering sama kita berdua." Kata Kak Axel menjelaskan.
"Kalau ketangkap basah waktu hujan-hujan mereka berdua bermain air hujan-hujan seperti film Bollywood di pos ronda bersama berteduh nah ketahuan sama warga digrepek deh mereka hingga dinikahin." Jelas Kak Axel lagi.
"Nah ini kan di dalam rumah cuma ada kita berdua, pakaian aja kering gitu. Mau nikahin juga harus tanya-tanya dulu sama yang bersangkutan." Lanjutnya yang sangat panjang lebar.
"Kalian urusi saja masalah kalian dulu, baru mengurusi adik kalian yang ganteng sejagat raya." Kata Daffa memegang dan menarik kerahnya sedikit ke atas. (Bukan kerah bagusnya tapi kalau kaos rumahan lingkar leher kali ya?).
"Nah ni biar tidak ketahuan, saran saja nih ya lihat dari CCTV." Kata-nya lagi.
"Tidak biasanya Kak Axel secerewet ini, terlalu banyak kata. Batin Garda.
"Bener juga kata Kak Axel." Kata Daffa dalam hati.
Mereka kembali ke kamar masing-masing yang berjajar tiga setelah anak tangga. Daffa menempati kamar tengah sedangkan tepat di sebelah anak tangga kamar Axel dan kamar yang paling jauh dari anak tangga adalah kamar Garda.
Garda tadi tidak segera menuju kamar takut mengganggu Sang Adik yang sedang melihat seorang gadis. Dia juga tahu biarpun dia lewat Daffa tidak akan terganggu konsentrasi pandangannya.
"Maaf lupa memberitahu mu kalau pasukan bocil mu tadi telpon." Kata Garda melewati Sang Adik dan menepuk pundaknya sambil lewat.
"Tanya sendiri saja pada mereka." Kata Axel sedikit jengkel mengingat pembicaraan dengan kedua bocil itu.
Mendengar jawaban dari Sang Kakak pemuda itu mengerti satu hal. Melihat saat mereka bersama selalu saja terjadi perdebatan atau pertengkaran pasti kali ini juga sama.
Daffa paling akhir masuk ke dalam kamar setelah keduanya kakaknya menutup pintu mereka. Malu rasanya jika ketangkap kering lagi.
Ceklek
Knop pintu diputar oleh seorang Pemuda yang paling akhir masuk dalam kamarnya. Dia tidak lupa menguncinya agar tidak ada yang masuk mendadak yang bisa membuatnya malu (asal gak malu-maluin ya).
Daffa mulai membuka dan melihat gadis idaman hatinya melalui CCTV. Pemuda itu mengusap mukanya dengan telapak tangan secara kasar.
Kenapa lagi itu laki-laki muda yang sedang mengintip seorang gadis dari CCTV merasa jengkel. Padahal Dia sudah melihatnya secara jelas.
"Tidak secantik seperti saat dilihat secara langsung." Batinnya Daffa merasa tidak puas dengan apa yang dilihatnya di depan mata.
__ADS_1
"Apa ini rasanya cinta? Lanjutnya.
Merasa tidak puas Pemuda itu mematikan CCTV yang terhubung dilaptopnya. Apa rencananya agar gadis itu tetap terlihat di depannya belum terpikirkan sama sekali.
Pikiran Daffa sangat buntu kali ini, mungkin karena dia memang gadis yang berbeda dari gadis lain yang mudah dirayu sebelumnya. Pemuda itu merasa tertantang untuk mendekati Hafsa yang cuek padanya.
Pemuda itu pergi meninggalkan kamarnya karena otaknya sudah tidak bisa berpikir lagi. Dia menuju kamar Kakak Sulungnya.
Ceklek
Seorang pemuda membuka pintu Sang Kakak Sulung tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu setelah keluar dari kamarnya. Dia berjalan memasuki kamar itu perlahan setelah berjalan secepat kilat dari kamarnya.
Penasaran dengan Sang Kakak sedang melakukan aktivitas apa sekarang ini Daffa berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Dia melihat Sang Kakak sedang melihat selembar foto beberapa tahun lalu bersama seorang gadis di dalam dompetnya.
Foto yang tidak asing lagi yang dulu tanpa sengaja dilihatnya saat berada di kediaman utama. Beberapa hari lalu Daffa juga sempat melihatnya di sebuah Sosmed.
”Apa ini?" Tanya Daffa merampas selembar kertas kertas kecil yang ada di tangan Sang Kakak dengan amarah yang tinggi.
"Kembalikan! "Perintahnya Sang Kakak dengan amarah karena seseorang merebut sesuatu dari tangannya.
"Kakak gak pernah cerita tentang ini gadis pada kita, tapi aku tahu." Kata Daffa dengan intonasi tinggi.
"Kenapa menyembunyikan dari kami?" Tanyanya lanjut.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Axel sambil menatap tajam Sang Adik.
"Aku tidak sengaja pernah melihatnya saat dompet mu terjatuh di kediaman utama." Jawab Daffa tak kalah ketus.
"Ceritakan pada ku siapa dia, aku bisa membantu mu." Kata Daffa menurunkan sedikit intonasi suaranya.
"Kakak sudah ketangkap kering kata mu tadi, masihkah tidak mau cerita?" Lanjutnya.
Pemuda itu mulai menceritakan gadis yang ada di dalam foto itu secara detail. Mulai dari awal ketemu hingga pada akhirnya berpisah.
Kata putus belum ada dari kedua belah pihak tetapi gadis itu meninggalkan Axel dengan alasan mengejar mimpinya. Ingin menghidupi kebutuhannya sendiri.
__ADS_1
Gadis itu selalu memandang rendah Sang Kakak. Dia hanya tahu kalau Axel hanya seorang mahasiswa dari keluarga yang sederhana dan masuk di Universitas itu karena prestasinya.