
Yasna membiarkan saja ponsel itu di atas meja yang terletak di kamarnya. Benda pipih itu sejak tadi meronta-ronta ingin dibelai oleh pemiliknya.
Gadis itu sedang tidak berniat untuk menggunakan benda itu walaupun harganya sangat mahal. Merasa benda itu terus memanggilnya dia akhirnya penasaran juga.
"Berisik amat sih." Kata Yasna mengeluh.
"Hallo, Assalamualaikum." Kata gadis itu mengucapkan salam dengan orang yang ada diseberang tanpa melihat nomor atau Id pemanggilnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang wanita paruh baya.
"Maaf ini siapa ya?" Tanya Yasna.
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu pada anda." Kata Wanita paruh baya itu sopan.
"Bukan kah ini nomor Garda?" Tanya wanita itu.
"Maaf Bu mungkin ponsel kita tidak sengaja tertukar." Jelas seorang gadis.
"Baiklah kalau seperti itu. Tolong sampaikan padanya kalau saya menghubunginya." Kata Wanita Paruh Baya itu.
"Wassalamu'alaikum." Kata Wanita paruh baya itu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Yasna mengakhiri percakapan itu.
Gadis itu melihat Id pemanggil yang baru saja berlangsung. Di layar ponsel itu tidak tertera Id hanya menampilkan sederet nomor yang sangat dihapal oleh pemiliknya.
"Jadi ponsel ini tertukar." Kata Yasna dalam hati.
"Maka dari itu dia protes melulu." Lanjutnya.
Gadis itu melempar ponselnya di atas tempat tidur karena merasa geram kemudian membuang nafasnya kasar. Pada akhirnya ponsel itu diambilnya kembali dan terlihat banyak pesan yang masuk.
Gadis itu membuka ponsel yang dibawanya saat ini dan langsung menuju pada pengaturan ponsel. Dia mengaturnya pada mode sunyi senyap agar tidak terusik dengan pesan atau panggilan yang masuk.
Yasna hanya masuk pada pengaturan ponsel, dia tidak membuka pesan apapun. Dia tahu diri kalau pesan itu merupakan privasi seseorang.
Di Ibu Kota
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya setelah melakukan panggilan itu sangat heboh di kediaman utama. Di kediaman yang cukup besar itu sudah penuh dengan suara satu orang.
Sang Mama yang selalu heboh setelah kelahiran cucu kembarnya. Anak dari seorang gadis kecil yang dulu dianggapnya sebagai adik kemudian anak.
"Papa." Panggil Sang Istri dengan intonasi tinggi.
Panggilan itu berlangsung berkali-kali karena yang dipanggil sedang sibuk di ruang kerja sedangkan sumber suara sudah berbunyi dari balkon kamar. Mama melangkahkan kaki lebar menuju ruang kerja di lantai bawah.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki yang sangat tergesa-gesa menuju ruang kerja. Mama segera memutar handle pintu agar pintu itu terbuka.
"Papa tahu sekarang anak kita dimana?" Tanya Sang Istri sedikit tersulut emosi karena rasa khawatir, dan marah jadi satu.
"Di desa sayang." Jawab Sang Suami setelah menghentikan pekerjaannya dan melihat wanita yang terlihat semakin cantik itu pada usianya sekarang.
"Dia sekarang bersama siapa Pa?" Tanya Sang Istri berjalan mendekati suaminya itu.
"Garda, Sayang." Jawab Mama dengan menurunkan intonasinya.
"Mama tenang saja, mereka bertiga ada di desa." Jawab Sang Suami.
"Papa itu bagaimana jika dia bersama dengan seorang wanita pasti..." Kata Sang Istri merasa khawatir jika ketiga putranya mempermainkan seorang gadis.
Cup
Sebuah kecupan singkat di bibir selalu mampu menjadi lem untuk Sang Istri saat keduanya sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerja. Mama tahu jika itu tidak berhasil Sang Suami pasti akan melakukan lebih dari itu.
"Mama percaya kan pada kelima laki-laki dewasa di keluarga kita?" Tanya Sang Suami dengan memegang semua jari istrinya itu dengan kedua tangannya agar lebih yakin.
Sang Suami berhasil meyakinkan mama sekarang ini. Mereka berdua akhirnya terlarut dalam sebuah cerita masa lalu bersama anak-anak yang menggemaskan itu.
"Siapa gadis yang mengangkat telpon ku tadi?" Tanya Mama dalam hati setelah mereka menghentikan sadar waktu berlalu begitu cepat.
__ADS_1
"Semoga saja bukan gadis yang dulu pernah bertemu." Lanjutnya.
"Sepertinya dia gadis yang lain?" Lanjutnya dengan tersenyum.
"Atau dia gadis desa yang sederhana, tapi itu lebih baik dari pada pacarnya yang dulu kan?" Lanjutnya lagi sambil berimajinasi membayangkan seorang bunga desa.
Wanita Paruh Baya itu sadar kalau waktu sudah menjelang magrib. Dia segera keluar dari ruang kerja suaminya mempersiapkan diri untuk segera shalat magrib berjamaah bersama Sang Suami.
Papa sejak dulu memang memantau ketiga putranya itu dari jarak jauh. Laki-laki Paruh Baya itu melakukannya demi keamanan mereka.
Pengawasan itu bukan hanya pada ketiga putranya tetapi juga pada istri dan juga putrinya yang sudah berkeluarga. Kegiatan mereka tidak ada satupun yang luput dari laki-laki itu.
Berkelahi, pacaran, dan segala hal yang dekat dengan mereka semua laki-laki itu tahu semuanya. Penolakan terhadap pacar Axel dan Garda pun juga karena Sang Papa sudah menyelidiki kedua gadis itu.
Adik Bungsu jangan ditanya justru kalau masalah gadis Papa lebih percaya pada Daffa walaupun dia dekat dengan banyak mereka. Setiap masalah Sang Papa tidak pernah membela mereka justru dia berusaha untuk berbuat adil.
Di Sebuah Villa di Desa
Garda jangan di tanya dia berusaha merilekskan semua anggota tubuhnya. Ingin rasanya dia mandi sore itu juga karena badannya terasa lengket.
Mengingat luka di seluruh tubuhnya itu masih baru pasti akan terasa sangat perih. Rasa itu mungkin saja bisa ditahannya tapi dia sendiri tahu jika terkena air luka itu tidak akan segera sembuh.
"Jika aku datang menemuinya dengan kondisi seperti ini pasti Kristin akan sangat khawatir." Batin Garda.
"Jika aku kembali ke rumah utama, semua orang pasti tidak akan mengijinkan ku pergi menemui pacar ku." Lanjutnya
"Jika aku kembali ke villa kedua saudara ku pasti akan menghabisi ku." Lanjutnya.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain tinggal disini." Lanjutnya lagi.
Pemuda itu memejamkan mata meratapi nasibnya sekarang. Dia hanya bisa menunggu sampai kondisi tubuhnya yang membaik.
Terdengar suara Azan Maghrib berkumandang Pemuda itu segera keluar menuju Mushola yang dekat dari rumah Bunda Azka. Langkahnya tiba-tiba tertahan oleh sesuatu yang yang sangat tabu bagi orang desa.
Kakek yang ingin keluar munuju tempat tujuan yang sama ketika sampai di ruang tamu langkahnya terhenti sesaat. Melihat pemuda itu berbalik menuju tempat duduk yang semula dipakainya.
"Anak muda ini tadi sangat bersemangat ingin keluar seakan tahu musholanya." Kata Sang Kakek dalam hati.
__ADS_1
"Pasti dia orang sini atau mungkin punya kerabat disini." Lanjutnya berjalan perlahan mendekati Garda yang baru saja duduk di tempatnya.
Kakek menyenggol bahu Garda perlahan agar dia membuka matanya kembali setelah terpejam beberapa detik yang lalu. Pemuda itu menatap seseorang yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang redup.