
Bunda Azka tahu temperamen pemuda yang saat ini bersama putrinya itu. Dia bisa melihat pemuda itu walaupun keras tetapi akan setia pada wanita yang dicintainya.
Bunda Azka segera kembali ke ruang kerjanya itu setelah kepergian sahabat dari Garda. Wanita itu juga memberikan kesempatan untuk keduanya saling kenal saat ini.
Ruang Tamu
Gadis itu terjatuh dalam pangkuan Garda cukup lama. Dia ingin membuktikan kalau apa yang dikatakan oleh sahabat yang dikenalkan oleh pemuda yang bersamanya saat ini adalah benar.
Yasna menatap pemuda itu juga cukup lama. Pemuda itu seharusnya merasakan sakit saat ini tetapi tidak dia sama sekali tidak merintih kesakitan.
"Duduklah lebih lama katanya tadi lelah." Kata Pemuda itu seakan mendapat kesempatan.
"Aku memang sangat lelah sejak lama." Kata Yasna setelah terdiam lama baru menyadari ada seseorang yang bersamanya.
Kedua orang itu merasa nyaman saat ini hanya rasa ego yang menguasai hati mereka. Gadis itu juga duduk dipangkuan Garda cukup lama.
Gadis itu merasa malu saat turun dari kedua pahanya. Dia langsung berdiri dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Fleshback
Di Sebuah Villa
Daffa setelah meminta gadis itu dengan susah payah untuk tidur di kamar depan yang terletak di dekat ruang keluarga tidak menyia-nyiakan kesempatan meminta gadis itu untuk melakukan sesuatu. Dia hanya ingin gadis itu selalu tepat di matanya.
"Aku meminta mu pindah ke sini untuk memenuhi janji ku pada mu." Kata pemuda itu terputus.
"Dan itu tidak gratis." Lanjutnya.
"Maksut mu?" Tanya gadis itu.
"Kamu harus...." Jawab Daffa dengan diakhiri huruf yang panjang dan kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Aku tidak mau." Kata Hafsa menolak dengan pikiran yang tidak-tidak.
"Jangan harap." Katanya.
"Kamu pikir apa?" Tanya Daffa.
"Segera masak makan siang untuk ku." Kata Daffa lagi.
"Itu otak jangan berpikir yang tidak-tidak dulu." Kata Daffa berjalan keluar dari kamar yang sekarang ditempati oleh Hafsa.
__ADS_1
Pemuda itu menuju ruang kerja untuk mengerjakan sesuatu. Ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat ini.
Deg
Hatinya seperti merasakan sesuatu yang tidak enak. Firasat untuk keluarga mereka jarang sekali meleset.
"Kemana kedua saudara kembar ku itu pergi sebenarnya?" Tanya Daffa dalam hati.
Niat hati ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda tetapi pikirannya sudah melayang pada kedua saudaranya. Daffa yang tidak bisa berkonsentrasi kini hanya menatap sepasang ikan yang ada dihadapannya.
Ceklek
Handle pintu dibuka oleh seorang pemuda yang pikirannya sedang kalut. Dia berjalan menuju dapur melihat seorang gadis yang memasak untuk dirinya.
Gadis itu sedang asik dengan segala macam peralatan tempurnya hingga tidak menyadari kedatangan Daffa yang sudah memperhatikannya sejak tadi. Perasaannya menjadi tenang saat melihat Hafsa yang bebas dengan semua pergerakannya saat ini.
"Semoga dia bisa mendapatkan hati Tuan Daffa." Kata Bibi saat melihat tuannya itu sedang berada di pintu dapur dalam hati.
Wanita yang sudah hampir lanjut usia itu senang jika tuannya sudah menetapkan hati pada gadis yang tepat. Hal itu juga merupakan harapan dari Tuan Besar dan Nyonya Besar.
Tuan dan Nyonya ingin ketiga putra mereka mendapatkan pasangan hidup yang baik. Setiap gadis yang dekat dengan ketiga putranya selalu saja mereka tahu walaupun tidak dikenalkan oleh mereka.
"Sejak kapan kamu ada di situ?" Tanya seorang gadis saat akan meletakkan makan siang di ruang makan.
"Sudah selesai?" Tanya pemuda itu.
"Sudah?" Jawab Hafsa singkat.
"Ada makanan yang kamu inginkan selain ini?" Tanya gadis itu sopan.
"Ada." Jawab Daffa singkat.
"Apa?" Tanya Hafsa.
"Aku ingin memakan mu." Jawab Pemuda itu dengan tatapan tajam.
Gadis itu menghentikan langkahnya mendengar perkataan Daffa baru saja. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Pemuda itu baru saja.
"Apa dia sedang baik-baik saja?" Tanya Hafsa dalam hati saat berbalik dan akhirnya menatap tajam pemuda yang sedang duduk di ruang makan.
Merasa mendapat tatapan tajam dari gadis itu Daffa meredupkan tatapannya itu. Dia akhirnya menyandarkan punggungnya pada kursi dimana dia duduk sekarang ini dengan tangan melipat di depan dada.
__ADS_1
Hafsa tidak mau dikatakan sebagai gadis yang tidak punya harga diri hingga dia menatap pemuda itu dengan tajam. Gadis itu merasa tersinggung saat ini atas ucapan Daffa baru saja.
"Aku hanya ingin makan bersama mu." Kata Daffa ingin mencairkan suasana.
"Makanan sebanyak ini aku tak sanggup menghabiskannya sendiri." Lanjutnya.
"Bibi bilang biarpun kalian keluar pasti akan makan di rumah, jadi aku masak seperti biasa." Kata Yasna mengingat perkataan wanita yang usianya sudah hampir lanjut itu.
"Benar, tapi sepertinya kali ini tidak." Kata Pemuda itu.
"Apa kamu tidak dengar tadi kakak ku bilang apa?" Tanya Daffa mengingat ucapan sang kakak.
"Dia ada urusan di kota tidak kembali dalam waktu dekat ini." Lanjutnya lagi menjelaskan.
"Kak Axel?" Tanya Daffa yang tidak membutuhkan jawaban.
"Bukannya kemarin malam kamu sudah tahu." Lanjut Daffa menebak semuanya.
"Dari mana Dia tahu aku pergi dengan Kakaknya?" Batin gadis itu saat menundukkan kepalanya.
Saat terjadi percakapan itu seseorang telah mengintai mereka. Dia merasa keduanya adalah pasangan yang cukup ideal sebab bisa saling meredam emosi pada pasangan mereka.
Saat mengungkit saudara kembarnya Daffa merasa ada sesuatu yang terjadi pada saudara kembarnya itu. Hatinya semakin tidak tenang.
Prang
Suara gelas yang berisi air putih itu tiba-tiba jatuh dan pecah menjadi serpihan. Gadis itu segera membersihkan serpihan kaca yang ada di lantai.
Terlihat darah segar keluar dari jari-jari mungil milik seorang gadis. Gadis itu menahan rasa perih yang dirasakannya.
Hafsa tidak ingin orang lain tahu setiap penderitaannya yang dirasakannya. Teman dan orang lain yang mengenalnya dia bahagia dengan harta yang berlimpah dari keluarganya itu.
Hal itu tampak dari setiap senyum yang terpancar dari wajahnya. Perih dan hatinya yang sakit apakah mereka melihat.
Pemuda itu kalah cekatan kali ini karena masih merasa hal yang tidak terasa menyenangkan dalam hati perihal saudara kembarnya. Hafsa langsung sigap membersihkan serpihan itu takut pemuda yang ada bersamanya itu terluka.
Beberapa detik Pemuda itu tersadar dia telah menjatuhkan gelas air yang terbuat dari kaca itu. Dia bukan hanya menunduk tapi berjongkok untuk ikut membersihkan serpihan kaca itu.
Tangan gadis itu dipegangnya erat saat melihat sedikit darah membekas pada salah satu serpihan kaca itu. Daffa menariknya ke ruang keluarga mencari kotak P3k yang biasa tersimpan di sana.
"Sakit?" Tanya Pemuda itu khawatir.
__ADS_1
"Maaf." Kata Daffa setelah melihat gadis itu menggelengkan kepala perlahan.
Pemuda itu langsung memeluk Hafsa dengan erat. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya hari ini.